Subhaanal Llaah. Sungguh menyentuh cerita nyata tersebut. Sulit menemukan orang sebagai Emang penjual bakso tersebut. Jauh berbeda dengan orang yang mampu (betul-betul mampu) dimana penghasilan sehari-harinya bukan untuk makan, tapi untuk menumpuk harta, tidak ada terpikir untuk mereka memikirkan orang miskin. Sebuah cerita yang patut menjadi teladan. Mudah-mudahan perbuatan Emang tersebut banyak ditiru oleh orang kaya dan juga orang yang setengah kaya. Satu hal mengenai definisi mampu dan tidak mampu. Banyak orang yang dari dulunya sampai sekarang tetap jadi peminta-peminta/pengemis, padahal dia ada harta yang cukup banyak. Definisi ini adalah sangat tepat, bahwa ukuran mampu seseorang adalah dirinya sendiri yang menilai. Wassalaamu 'alaikum Wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.
2009/1/22, agus supriadi <[email protected]>: > > Subhanallah..tukang bakso yang tekun dan konsisten dengan perencanaannya. > > 2009/1/21 Dee Na <[email protected]> > >> Assalamu'alaikum Wr. Wb. >> >> Cerita bagus ..... >> >> ** >> ------------------------------ >> >> *Jawaban Sederhana Penuh Makna* >> >> >> Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus >> tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang >> belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu >> menyertai di setiap sore di musim hujan ini. >> >> Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara >> tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka >> keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso >> setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ? >> >> "Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku >> menjawab. >> >> Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ... >> >> Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya >> membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu >> disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue >> semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. >> >> "Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan? Barangkali >> ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang >> bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, >> Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi >> hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita >> penyempurnaan iman ". >> >> "Maksudnya.....?", saya melanjutkan bertanya. >> >> "Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan >> sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut : >> >> 1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup >> sehari - hari Emang dan keluarga. >> >> 2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk >> melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang >> bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang >> ukuran sedang saja. >> >> 3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan >> agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang >> mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya >> yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di >> setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan >> sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun >> menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah >> haji. >> >> Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh >> sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang >> memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum >> tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan >> seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. >> >> Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang >> bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk >> memiliki kemampuan dalam biaya....". >> >> Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal >> mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak >> RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. >> >> *Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan >> untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri >> sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia >> tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", >> maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan >> memberi kemampuan pada kita".* >> >> "Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso". >> >> >> >> >> > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu "Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected] ------------------------------------------------------------------------------------------------------ Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian satu-per-satu. ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi http://groups.google.com/group/mediamusliminfo Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan http://www.kisahislam.com -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
