IMW:
> Caranya :
> 
> -  Bikin seleksi yang ketat untuk masuk Universitas itu, sehingga
>    akan tersaring dengan sendirinya mahasiswa yang "pinter-pinter". 
>    (sesuai pepatah Jawa.. bibit, bebet, bobot.. syarat bibit telah
>    terpenuhi).
> 
        TSW:
        Berarti sistem penerimaan mahasiswa di Universitas Gunadarma harus
secepatnya diperbaiki. Bukanlah dengan cara sistem test MC (multiple choice)
saja layaknya test IQ, melainkan dengan beberapa test lagi. Mungkin juga
plus dengan wawancara (kalau perlu pake bahasa Inggris). Cuma muncul
pertanyaan, siapkah para panitia penerimaan mahasiswa baru untuk melayani
test wawancara tersebut. Apalagi tahun yang lalu UG menerima lebih dari
10ribu mahasiswa baru. :))

        IMW:
> -  Dalam perjalanan pemberian perkuliahan dari tahun pertama hingga
>    saat terakhir kelulusan... bikin "Ujian" yang sulit-sulit
>    lulusnya.  Jika perlu kalau gagal dan IP rendah langsung di DO (tidak
>    boleh melanjutkan sehingga tidak bisa lulus).  Dengan cara ini tentunya
>    yang dapat lulus sampai akhir adalah mereka yang "bibit"-nya baik, dan
>    "tabah" serta lolos seleksi di tiap ujian.  Hukum Darwin akan berlaku
>    "Seleksi alam".
> 
        TSW:
        Nah, kalo yang lebih baik lagi caranya. Hanya tinggal cara penilaian
di UG harus segera diperbaiki. Penilaiannya haruslah secara objektif. Sebab
setahu saya, sistem pemberian nilai di UG cukup beda. Bisa jadi mahasiswa A
yang memiliki kepandaian dan berbakat mendapatkan nilai buruk hanya karena
di dalam kelasnya masih banyak yang lebih pandai dan berbakat. Namun ada
pula mahasiswa B yang pas-pasan, atau bahkan minus, mendapatkan nilai yang
lebih baik dari mahasiswa A yang pandai dan berbakat tadi, hanya karena di
kelasnya masih lebih banyak yang lebih rendah dari pada mahasiswa B tadi.

        IMW:
> -  Supaya mahasiswa tetap "memilih" Uni tersebut dan tidak pindah ke Uni
>    lainnya.  Bikin "beayanya" rendah, dan fasilitasnya lengkap sehingga
>    para mahasiswanya merasa "sangat beruntung" berada di Uni tersebut, dan
>    mati-matian mempertahankan diri agar tidak Drop Out.  Jadi walau
> seburuk
>    apapun sang dosen mengajar dan ujiannya tak berhubungan, tetap aja
>    sang mahasiswa belajar "mati-matian" agar lulus.  Soal darimana biaya
>    dapat itu urusan belakang (untungnya kadang ada subsidi dari
>    pemerintah)
> 
        TSW:
        Nah idealnya memang seperti ini!!! Sudah adakah di Indonesia?? Kalo
menggunakan politik perusahaan di negeri Jepang, memang akan menjadi lebih
baik. Jadi bila si A sudah bergabung dengan perusahaan X, bila ingin pindah
ke perusahaan B maka segala pengalamannya akan hangus dan akan dihitung
mulai dari 0 (NOL). Sebab yang dinilai lebih adalah pada kesetiaan pada
suatu instansi.

        --deleted--

        IMW:
> - Bukankah tugas pendidikan membuat orang yang bodoh jadi "pintar" (bukan
>   cuma menyaring orang pintar).  Kalau begitu apa bedanya Uni dengan
>   saringan. 
> 
        TSW:
        Tapi pikiran saya sedikit berbeda nich Bli... Hal ini tetap
diperlukan guna membangun satu institusi dalam perguruan tinggi tersebut di
bidang research. Agar mahasiswa yang memang bernilai plus tadi memiliki
kesempatan mengembangkan nalar dan idenya. Sehingga dapat mengangkat derajat
perguruan tinggi itu  sendiri dan juga mahasiswanya. Siapa tahu mereka itu
adalah bakal calon profesor muda di Indonesia. :))

        IMW:
> - Bagaimana nasib "calon mahasiswa" lainnya yang kebetulan tidak pintar
>   sehingga tidak masuk seleksi..?? Apakah mereka harus berhenti dan 
>   tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi, padahal masyarakat
>   masih begitu "menuntut" adanya gelar.
> 
        TSW:
        Inilah kondisi masyarakat yang masih gila gelar! Bahkan rela
menghabiskan jutaan er-pe cuma untuk membeli gelar. Masih dalam ingatan
saya, seorang dosen di Universitas jenderal Sudirman Purwokerto. Beliau
ingin sekali mengajar dan mengamalkan ilmunya. Hanya karena terhambat oleh
gelar, akhirnya beliau beli gelar. Dan setelah sekian lamanya mengajar dan
menghasilkan banyak lulusan, barulah tercium. Walhasil... Pemecatan dan
tuntutan di pengadilan yang beliau terima.

        IMW:
> - Bagaimana nasib mahasiswa yang termasuk tidak pintar, apakah mereka
>   tidak perlu diajak menjadi pintar, sehingga dibiarkan saja tidak lolos
>   seleksi alami menjelang lulus.  Padahal mereka diharapkan dapat lulus
>   atau bertambah pintar...??
> 
        TSW: 
        Perlu dikembangkan dalam cara berpikir kita kayaknya nich Bli..
Seperti apa kata Suhu saya waktu ujian masuk di VTC-Siemens, bahwa semua
orang itu pandai dan pintar. Dan tiada yang bodoh. Hanya bidangnya mungkin
tidak tepat! Yang ada adalah mereka terlalu dipaksa harus bisa, agar bisa
dipandang baik oleh masyarakat. Misal: ada seseorang berbakat di bidang
seni, tetapi dalam pandangan orang tuanya dan masyarakat sekitarnya bakat
tersebut rendah adanya. Dan anak tersebut dipaksa untuk bisa matematika dan
statistik. Walhasil... ??? Inilah yang harus dikembangkan dalam cara pandang
masyarakat Indonesia..!!! Petani kita sebenarnya lebih pintar dan pandai
daripada kita lho Bli... Belum tentu kita bisa menuntun kerbau agar bisa
membajak sawah... :))

        Satu lagi yang perlu ditekankan, bilamana kita dituntut harus bisa
di segala macam bidang bagi saya suatu yang mustahil, kecuali kalo kita
diberikan karunia oleh "TUHAN". Dan hanya "TUHAN"-lah yang bisa melakukan
segala macam pekerjaan!!! 

        TUHU SIH WINENGKU
        mailto:[EMAIL PROTECTED]

* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke