On Mon, 13 Mar 2000, Johansyah, Tengku wrote:
>       IMW:
> >    terpenuhi).
> > 
>       TSW:
>       Berarti sistem penerimaan mahasiswa di Universitas Gunadarma harus
> secepatnya diperbaiki. Bukanlah dengan cara sistem test MC (multiple choice)
> saja layaknya test IQ, melainkan dengan beberapa test lagi. Mungkin juga

Sebetulnya tulisan saya harus dibaca sebagai "parodi".. malah justru saya
mempertanyakan.. apakah benar.. Universitas yang membuat suatu seleksi
yang SUPER KETAT, itu berfungsi sebagai Universitas.. (khan artinya si Uni
itu memilih siapa yang bisa dididik....?????)

Bukankah tugas UNi tersebut itu harus mendidik siapa saja... khan gampang
saja kalau cuma "pilih-pilih" yang pintar saja... orang pintar dan
terseleksi tidak usah susah-susah diajar donk..he.he.he.

Dengan kata lain saya tidak terlalu "respect" terhadap Uni yang membuat
SARINGAN terlalu ketat, dan lalu mengclaim bahwa Uni tersebut memiliki
sistem pendidikan lebih baik, karena lulusannya "pintar-pintar"... lha..
"SARINGAN" awalnya sudah berbeda... koq... 8-).  

Saya cuma mikir kalau semua "UNI" menerapkan sistem seperti itu.. gimana
nasib lulusan SMA yang "Biasa-biasa" saja... dimana mereka akan
kuliah...???  Tentunya mereka cenderung akan berkumpul dengan yang
"selevel".. dan sulit sekali terjadi "induksi pengetahuan".


>       Nah, kalo yang lebih baik lagi caranya. Hanya tinggal cara penilaian
> di UG harus segera diperbaiki. Penilaiannya haruslah secara objektif. Sebab
> setahu saya, sistem pemberian nilai di UG cukup beda. Bisa jadi mahasiswa A

Harap dibaca.. tulisan saya...seperti berikut ini...

- Sistem Ujian apapun.. sebetulnya tidak merupakan "jalan terbaik".  Pada
pandangan lain bahkan sistem ujian yang terlalu sulit ini sebetulnya
hanyalah mencoba "melarikan" tanggung jawab Universitas dari kewajiban
sebagai pendidik.  Artinya Uni hanya melakukan tugas sebagai "PENYARING".
Memang Ujian ini melakukan tugas "punishment dan reward".

Justru itu Ujian itu hanyalah part kecil dari penilaian Uni...8-)

> bidang research. Agar mahasiswa yang memang bernilai plus tadi memiliki
> kesempatan mengembangkan nalar dan idenya. Sehingga dapat mengangkat derajat
> perguruan tinggi itu  sendiri dan juga mahasiswanya. Siapa tahu mereka itu
> adalah bakal calon profesor muda di Indonesia. :))

Lho.. saya jadi bertanya.. yang penting itu apa bagi masyarakat luas ..?
(bukan bagi PT nya itu...lho)

- "Derajat dan nama Perguruan Tinggi" (alias nama dan gengsi PT)
- "Derajat mahasiswa PT".. (yang mana...?)
- Mahasiswa yang makin pintar...8-)

Sebagai contoh banyak ilmuwan yang jempolan yang tergolong tidak "lolos
saringan" ketika Kuliah.. .(saya bukan ilmuwan jempolan.. dan waktu kuliah
sayapun sempat mendapat nilai D dua kali..he.he.h). Nah kalau sistem
saringan seperti itu diterapkan mungkin saya nggak sempat ngambil gelar
Doktor...8-)

Kalau saya lebih suka yang harus dijaga itu adalah "Mahasiswa Indonesia
yang lebih pintar"... 8-). Tidak penting apakah PT A jadi turun
derajatnya, (misal karena lulusan pintar PT A "memilih" jadi dosen di PT
B), Khan yang penting "mahasiswa" (dalam ruang lingkup umum) yang
diuntungkan.

Kalau kita berfikir yang penting "menjaga derajat PT A", tentunya kasus
beberapa lulusan pintar PT A yang "lari" jadi dosen di PT B (yang
kebetulan masih baru) dianggap sebagai hal yang buruk.  Tetapi kalau kita
anggap dari sisi mahasiswa Indonesia secara keseluruhan maka tindakan
"lulusan PT A" itu sebagai hal yang positif.

>       Inilah kondisi masyarakat yang masih gila gelar! Bahkan rela
> menghabiskan jutaan er-pe cuma untuk membeli gelar. Masih dalam ingatan
> saya, seorang dosen di Universitas jenderal Sudirman Purwokerto. Beliau

Nah justru itulah... 8-) kalau malah Universitas membuat situasi yang
"kondusif" dengan membatasi seperti itu.. bukannya malah membuat orang
"gila gelar..:".8-)

>       Perlu dikembangkan dalam cara berpikir kita kayaknya nich Bli..
> Seperti apa kata Suhu saya waktu ujian masuk di VTC-Siemens, bahwa semua
> orang itu pandai dan pintar. Dan tiada yang bodoh. Hanya bidangnya mungkin
> tidak tepat! Yang ada adalah mereka terlalu dipaksa harus bisa, agar bisa

Justru itu... kalau sistem SARINGAN lebih dominan (artinya masa depan,
kelulusan mahasiswa hanya ditentukan oleh UJIAN yang sulit).. maka dia
mengalami "PEMBATASAN" untuk mencari bidangnya yang tepat.

Bisa saja si A "diluluskan".. (saat itu semua mencemooh), tapi setelah 5
tahun dia bekerja di bidang yang dia sangat "pas" dan menjadi "brillian".
(kebetulan syarat dia bekerja di bidang itu harus sarjana... ).  Nah
apakah keputusan "meluluskan" si A itu sebagai hal yang kurang baik atau
"baik"...??

Saya cuma ingin mengajak berfikir dari sisi lain dari suatu "problem"..
masalah benar atau salah.. itu silahkan dipilih oleh masing-masing
pribadi.

IMW


* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke