Title: Message

Dear Fellow Alumni,

 

Saya meneruskan analisis melalui e-mail (dari sobat saya Pak Hasan yang berpengalaman di airlines) tentang kemungkinan penyebab kecelakaan pesawat Lion Air flight JT 538 di Solo.

 

Barangkali, telah banyak kita baca tentang berbagai teori kemungkinan terjadinya kecelakaan pesawat tersebut seperti: pilot telah berusaha untuk mencoba “take-off” lagi setelah pesawat menyentuh landasan (terbukti dari parahnya kerusakan pesawat), kemungkinan rem pesawat blong, sampai adanya genangan air di landasan, dll.

 

Tentu saja semuanya itu baru kemungkinan, sampai diperoleh hasil analisis dari black box! Dan, apapun alasan terjadinya kecelakaan tersebut, analisis dari Pak Hasan diharapkan dapat menambah wawasan kita.

 

Salam,

GS

 

NB. Maaf bagi temans alumni (FE, FH, MM) yang telah menerima dan membaca e-mail tersebut, khususnya anggota HCI.

 

 

-----Original Message-----
From: Hasan M Soedjono

Sent: Wednesday, December 01, 2004 6:50 PM
 

 

Hello sobat-sobat,

 

Aku di SMS oleh Ryan, minta saya ikut posting di milis AKI-OOT mengenai kemungkinan penyebab musibah flight JT 538.  Banyak juga teman dan saudara yang tanya pada saya, dan sebenarnya saya ini tahu apa?  Dulu sewaktu di Sempati-pun saya "buta" operasi penerbangan.  Tapi saya tidak buta "common-sense", jadi -- berangkat dari segala kekurangan ilmu, izinkan saya coba juga deh merespons topik ini.

 

Seperti dikatakan pakar penerbangan dan mantan ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi, Prof. Oetaryo Diran, kecelakaan penerbangan tidak mudah untuk disimpulkan terlalu dini.  Analisa black box yang paling menentukan.  (BTW, seperti pada halnya di proses identifikasi DNA yang komprehensif, analisa black box juga belum bisa dilakukan di Indonesia.  Bahkan, kalau tak salah, di kawasan Asia, hanya Australia yang punya sertifikasi interpretasi kotak hitam.  Dan prosesnya memerlukan waktu bulanan.

 

Banyak kejadian yang belum tuntas, antara lain Silk Air di Palembang, sekitar 10 tahun lalu. Padahal indikasinya sangat kuat bahwa pesawat sengaja dibuat menukik dan "nungsep" ke dalam tanah, karena Captain-nya secara klinis terbukti "suicidal" (dan pas sedang punya banyak masalah pribadi, saat kejadian) dan air brake di set pada tombol "off" [yang common sense mengatakan seharusnya "on"].   Padahal, black box ada, dan isi rekaman sudah banyak yang tahu.  And tokh, "vonis" belum terbit juga.  Jadi, prinsipnya, akan terlalu gegabah kalau kita (yang belum sehebat orang lain) mencoba memberikan vonis akhir yang prematur.

 

Having said that, secara nalar, bagi saya, ada empat kemungkinan yang rasional.

 

1. Pertama, pilot error.  Meski mayoritas hasil investigasi di dunia menunjuk pada human error (bukan hanya pilot), namun justru aspek ini sangat memerlukan waktu untuk membuktikannya.  Jadi, tidak lazim bila suatu analisa awal (yang credible, anyway) akan langsung merujuk pada pilot error.  Dan selama kotak hitam belum dianalisa, tidak ada manfaatnya untuk membahas hal ini, karena semua upaya berandai-andai bisa salah 180 derajat oleh pembuktian nantinya.

 

2. Weather.  Kalau di Indonesia (dan negara lain seperti India, Cina, Mesir, Brazil, Nigeria, dll)  -- aspek ini yang paling sering disitir otoritas penerbangan setempat sebagai penyebab.  Hanya saja pembuktian bahwa bad weather adalah penyebab tidak semudah itu diterima masyarakat yang skeptis.  Misalnya, kalau sudah ketahuan ada badai, kenapa pesawatnya masuk juga ke dalam weather system tersebut?  Setahu saya, semua penerbangan wajib membuat standard operating procedures yang jelas, mengenai kapan menghindar, dan kapan boleh masuk.  Dalam manual suatu airline, kriteria penggerak utama adalah safety, dan kedua adalah penghematan cost.  Namun, kebijakan masing-masing airline bisa agak berlainan, mengenai faktor-faktor apa yang akan men-trigger keputusan terus atau balik.  Antara lain, kesiapan alat navigasi, kelayakan pesawat (apakah sewaktu berangkat semua alat berfungsi normal, dlsb), parahnya cuaca yang akan dihadapi  (dan kapan persisnya cuaca buruk tersebut akan datang), baik tidaknya peralatan navigasi di bandara tujuan dan bandara alternatif, dlsb.  Ada aturan yang sifatnya standar secara internasional, dan ada yang lokal, dan ada yang hanya diberlakukan oleh suatu maskapai tertentu.  Meski variatif, yang penting, SOP-nya harus ada pada semua airline, khususnya mengenai "weather".  Di sini, selain pemerintah, juga para maskapai harus sudah siap.

 

Juga bisa diketahui pembicaraan antara awak kokpit dengan menara pengawas udara, seperti "kalau weather tidak memungkinkan, bagaimana bisa terjadi kesepakatan tower dengan cockpit untuk masuk juga?"  Tapi percuma berspekulasi mengenai ini, tanpa menganalisa kotak hitam.

 

Nah, kalau weather masih juga dijadikan biang keladi, maka yang masuk akal adalah weather system yang dikenal sebagai "micro weather system" yang sifatnya sangat seketika dan sangat lokal.  Pembuktian hal yang satu ini adalah hal yang paling susah dari semua faktor, karena umumnya perlu melibatkan koroborasi dari saksi mata yang berbobot.  Micro systems seperti "sudden down draft" atau "sudden tail wind" adalah hal yang paling ditakuti oleh para pilot.  Mungkin karena dampaknya yang begitu fatal, dan munculnya yang begitu "angin-anginan" (heh, heh, excuse my pun).   Justru micro weather systems adalah bagian yang paling sering disimulasikan [ketika harus "recurrent license", dan ... paling sering menjadi salah satu penyebab pilot tidak lulus ujian pembaharuan SIM-nya (alias CPL -- Commercial Pilot License -- dan Aircraft Type Rating).  Kahumas Lion Air saya lihat di TV mensitir kemungkinan "Wind Tail" (P.S. Kita perlu maklumin' kelas bahasa Inggrisnya si kahumas Lion Air deh, karena seharusnya dia bilangnya "Tail Wind" -- apalagi, dia kan tidak menyebut "Attendant Cabin", "Port Air", atau "Belt Safety" -- ha, ha, ha).

 

3. Equipment failure.  Di sini ada dua subsistem pesawat yang berfungsi sebagai rem.  Yang pertama adalah landing gear (terutama kualitas ban dan kualitas rem).  Yang kedua adalah "air brakes" yang berangkat dari teknik membuat mesin jet (pancar gas) berubah arah daya geraknya dari "mendorong" pesawat ke depan menjadi "menarik" pesawat ke belakang.  Dalam keadaan bad weather yang moderat-pun kedua sistem deselerasi tadi digunakan.  Meski banyak pertanyaan akan disorot ke arah ini, saya pribadi cenderung kurang sependapat akan tudingan (yang bakal merebak muncul sebentar lagi) bahwa Low Cost Carrier mengorbankan safety, dan ini semua adalah dampak dari kebijakan tariff bebas.  Kalau sempat, saya akan coba jelaskan di akhir email ini.  Tapi kalau tidak, ya, to be continued deh.  Soalnya aku ada acara halal-bihalan, nih.  Mudahnya begini, meskipun saya dengar kasus overshoot di Indonesia hampir dua kali sebulan (dan dalam musim hujan akan sekali seminggu frekuensi insiden tersebut), tetapi hanya satu kali saya dengar ada overshoot pada saat udara cerah (itupun, landasannya masih basah dari hujan yang baru saja berlalu).  Kalau equipment failure, seharusnya, kasus overshoot pada saat clear weather dan dry runway lebih sering muncul, tapi nyatanya kan tidak?

 

4. Runway failure.  Salah satu fungsi runway adalah untuk bisa memberikan tempat mendarat yang memadai (dalam artian kerasnya landasan, tingkat friksi landasan, lebar landasan, panjang landasan, dan alat bantu navigasi) bagi semua pesawat dengan kecepatan maksimum tertentu, berat pesawat (payload) tertentu, panjang/lebar badan pesawat tertentu, dan dengan prosedur mendarat yang tertentu, pula. 

 

Untuk suatu kasus overshoot, maka faktor friksi landasan nominal selayaknya menjadi sorotan yang ikut diprioritaskan.  Kalau jadwal pemeliharaan landasan kurang memerhatikan tapak bekas ban (dari ribuan pendaratan sebelumnya), maka akumulasi karet bekas ban yang melekat pada landasan dengan sendirinya akan mengurangi "friction factor" nominal dari landasan tersebut.

 

Yang lebih kerap lagi, terutama seputar kasus "overshoot on landing", adalah sistem irigasi dan drainase yang kurang baik, sehingga meski sekilas air di permukaan tampak banyak tapi tipis, ternyata dari ilmu fisika bisa dibuktikan adanya gejala "aqua-plane" atau "aqua-planning".  ["Plane di sini bukan "airplane" melainkan arti kedua dari "plane" yakni "bidang", atau "permukaan"].  Pada gejala aqua-plane tersebut, maka dampak dari air [bercampur tanah, debu, karet tapak ban, oli, dan avtur] yang menggenang  -- meski sangat tipis -- di permukaan landasan pacu, mencegah terjadinya kontak yang "positif" antara ban dari roda pesawat pada saat landing, dengan permukaan beton landasan pacu yang seharusnya kasar.  Malah, semua roda pesawat seolah meluncur  -- macam ice skating -- di atas suatu "aqua-plane" yang koefisien friksinya nyaris nol.  Kalau kita pernah ambil Physics 101, kita akan tahu bahwa tidak ada ban [semulus apapun], rem [sepakam apapun], dan engine reverse-thruster [sekuat apapun] yang dapat menghentikan benda bergerak di atas permukaan dengan koefisien friksi nol.

 

Susahnya, penanggung jawab runway adalah BUMN [kalau operator bandara adalah PT PAP I dan II], atau Ditjen Perhubud sendiri, bagi landasan yang belum dialih- operasikan.  Dengan kata lain, main stake holdernya adalah pemerintah sendiri, dan tidak mudah bagi seorang Dirjen Perhubungan Udara atau Dirut PT PAP untuk mengakui bahwa semenjak Krismon, anggaran untuk pemeliharaan irigasi, drainase, dan melapis ulang runway hanya tersedia dalam jumlah yang terbukti [secara mahal dan tragis] terlalu minim.

 

Kalau saya boleh meramal, bila temuan black box adalah normal, maka semua pihak akan sepakat menyalahkan "weather" [khususnya "micro-weather system"], dan dalam bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan, tanpa banyak berita, PAP dan pemerintah akan diam-diam merehabilitasi semua landasan pacu utama.

 

Jadi saya sependapat dengan Bung Oke yang mengharap bahwa seyogyanya, kalau memang bukan "salahnya" maskapai, janganlah si maskapai yang dijadikan korban [baik dari sudut asuransi kerugian, maupun dari pengurangan jumlah penumpang yang loyal].  Lain halnya, kalau bisa dibuktikan bahwa maskapai punya salah, misalnya standard flight-operations procedures perusahaan yang terlalu "liberal" dalam menyikapi "bad weather", dlsb.

 

Hanya saja, kalau perilaku konsumen [baca:penumpang] di Indonesia tidak banyak bedanya dengan consumer behavior di Amerika Serikat, maka saya khawatir akan nasib new entry carriers di Indonesia. Sekitar 15 tahun yang lalu, ketika para domestic carriers seperti American Airlines, United, TWA, Delta merajai pasar transportasi udara domestik di Amerika, muncul suatu airline yang jauh lebih murah dari lainnya bernama ValuJet [atau ValuAir? -- saya lupa].  Perusahaan ini berkembang pesat, menjadi buah bibir masyarakat [saat itu], sangat profitable [bahkan sedang bersiap IPO, kalau tidak salah].  Namun, memang "angin" keberuntungan tidak menyertai mereka, karena suatu ketika salah satu DC-9 [kebetulan sama pabriknya dengan MD-82 yang di Solo] celaka dan semua awak dan penumpang tidak terselamatkan.  Meski, kemudian terbukti dengan resmi, ilmiawi, dan tuntas bahwa memang salahnya adalah pada bad weather, namun semua media meliput "Sang Primadona" jauh lebih banyak dari biasanya.  Load factor ValuJet ikut "crash landing" dalam beberapa hari saja, dan tidak pernah bisa "recover".  Dan akhirnya perusahaan tak terselamatkan juga.

 

Nasib Pan Am yang namanya pernah sinonim dengan Angkutan Udara Global semenjak tahun 20-an, juga mengalami nasib yang sama sebagai dampak kasus Lockerbie, Scotland 20 tahun lampau.  Memang, ternyata kecelakaan tersebut adalah ulah teroris, tetapi karena zaman itu pembuktiannya memerlukan waktu yang lama, sedangkan meng-cancel reservasi hanya memerlukan beberapa detik, maka tamatlah riwayat Pan Am, dalam waktu kurang dari setahun setelah Lockerbie.  Konsumen terlanjur memvonis: bahwa Pan Am (yang memang saat kejadian sedang terlilit hutang besar) pesawatnya mulai "berjatuhan" dari udara.

 

Hari ini saya dapat berita dari salah satu anggota milis auri bahwa PAX [passengers] Lion Air di semua bandara sekitar 60 sampai 70 persen pindah atau urung. 

 

Sebetulnya saya pribadi menilai bahwa para konsumen-lah yang kurang "fair", tapi siapa yang bisa menyalahi pasar?  Yang bisa dilakukan business enterprise apapun adalah untuk menyikapi, menyiasati, dan perlahan merubah pasar, tetapi pasar tidak pernah bisa disalahkan -- apalagi disuruh ganti rugi.  Padahal ini semua nantinya ujung-ujungnya adalah "liability" [asuransi penumpang, asuransi awak pesawat, asuransi pesawat itu sendiri, dan biaya rehabilitasi landasan pacu di puluhan bandara]. 

 

Oh dear, Adam Smith, sometimes you are so cruel -- even to honest businesses!

 

Sekali di Oedara, tetap di Oedara!

-hms-

 

P.S. Kalau saya boleh kasih saran, alangkah baiknya CEO Lion Air segera memberikan statement ke pasar.  Jangan hanya humas saja. Meski tidak harus mampu menjawab mengenai apa yang terjadi, tetapi pesannya harus mampu memulihkan rasa percaya pasar.  Silahkan menggunakan analisa di atas (tetapi di-"encer"-kan agar lebih diplomatis vis a vis GOI/Government Of Indonesia].  Mungkin kalau musibah dialami Garuda atau Merpati tidak selalu memerlukan sang CEO, karena meski tidak adil, tetapi saya kira pasar tidak akan "lari" dari Garuda atau Merpati, kalau kemarin adalah pesawat Garuda atau Merpati.  Salah satu "enaknya" jadi BUMN, 'kali ya?

 

 


Yahoo! Groups Links

·         To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/harvard-club-indonesia/
 

·         To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
 

·         Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.




Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke