Pak Agung,

Wah, ternyata ada juga ya alumni FE Undip di milis MM ini. Kebetulan saya
dulu kuliah di FE Undip yang di Jl. Erlangga, bukan di Kampus Tembalang
(seperti sekarang ini), dan lulus tahun 1987. Senang bertemu anda di sini.

Syukurlah jika e-mail tersebut ada manfaatnya, karena memang di sinilah kita
dapat saling bertukar informasi dan menambah wawasan. Ngomong-ngomong,
bukannya Pak Tri (ketua Kagama MM) bekerja di Garuda ya... mungkin saja
beliau punya "confidential information" mengenai peristiwa Lion Air
tersebut; paling tidak sebagian bisa diceritakan di sini.

Terus terang, saya sudah lupa bagaimana caranya mendaftar menjadi anggota
milis FE-UNDIP-ALUMNI. Jadi kalau e-mails anda ini ditujukan ke banyak
alamat (seperti di bawah), barangkali semuanya "bounce back" kecuali untuk
alamat [EMAIL PROTECTED] (alamatnya Pak Hasan, mantan Dirut Sempati).

Atau silahkan dicoba diklik alamat ini, siapa tahu bisa?!

* To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/FE-UNDIP-ALUMNI/


Take care,
GS



-----Original Message-----
From: Agung turanto [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, December 06, 2004 11:14 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [mm-ugm] OOT: Kemungkinan penyebab kecelakaan JT 538


Infomasi & analisis yang sangat Bagus Pak, menambah
wawasan Saya. Terima kasih.

Oh ya Pak, kalo boleh saya juga ingin tahu/daftar
untuk keanggotaan milis di FE UNDIP (saya alumni lulus
tahun 2000).


Regards,

Agung Turanto
BNI - Investor Relations


--- Gatot Soemartono <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Dear Fellow Alumni,
>
> Saya meneruskan analisis melalui e-mail (dari sobat
> saya Pak Hasan yang
> berpengalaman di airlines) tentang kemungkinan
> penyebab kecelakaan pesawat
> Lion Air flight JT 538 di Solo.
>
> Barangkali, telah banyak kita baca tentang berbagai
> teori kemungkinan
> terjadinya kecelakaan pesawat tersebut seperti:
> pilot telah berusaha untuk
> mencoba "take-off" lagi setelah pesawat menyentuh
> landasan (terbukti dari
> parahnya kerusakan pesawat), kemungkinan rem pesawat
> blong, sampai adanya
> genangan air di landasan, dll.
>
> Tentu saja semuanya itu baru kemungkinan, sampai
> diperoleh hasil analisis
> dari black box! Dan, apapun alasan terjadinya
> kecelakaan tersebut, analisis
> dari Pak Hasan diharapkan dapat menambah wawasan
> kita.
>
> Salam,
> GS
>
> NB. Maaf bagi temans alumni (FE, FH, MM) yang telah
> menerima dan membaca
> e-mail tersebut, khususnya anggota HCI.
>
>
> -----Original Message-----
> From: Hasan M Soedjono
> Sent: Wednesday, December 01, 2004 6:50 PM
>
>
> Hello sobat-sobat,
>
> Aku di SMS oleh Ryan, minta saya ikut posting di
> milis AKI-OOT mengenai
> kemungkinan penyebab musibah flight JT 538.  Banyak
> juga teman dan saudara
> yang tanya pada saya, dan sebenarnya saya ini tahu
> apa?  Dulu sewaktu di
> Sempati-pun saya "buta" operasi penerbangan.  Tapi
> saya tidak buta
> "common-sense", jadi -- berangkat dari segala
> kekurangan ilmu, izinkan saya
> coba juga deh merespons topik ini.
>
> Seperti dikatakan pakar penerbangan dan mantan ketua
> Komisi Nasional
> Keselamatan Transportasi, Prof. Oetaryo Diran,
> kecelakaan penerbangan tidak
> mudah untuk disimpulkan terlalu dini.  Analisa black
> box yang paling
> menentukan.  (BTW, seperti pada halnya di proses
> identifikasi DNA yang
> komprehensif, analisa black box juga belum bisa
> dilakukan di Indonesia.
> Bahkan, kalau tak salah, di kawasan Asia, hanya
> Australia yang punya
> sertifikasi interpretasi kotak hitam.  Dan prosesnya
> memerlukan waktu
> bulanan.
>
> Banyak kejadian yang belum tuntas, antara lain Silk
> Air di Palembang,
> sekitar 10 tahun lalu. Padahal indikasinya sangat
> kuat bahwa pesawat sengaja
> dibuat menukik dan "nungsep" ke dalam tanah, karena
> Captain-nya secara
> klinis terbukti "suicidal" (dan pas sedang punya
> banyak masalah pribadi,
> saat kejadian) dan air brake di set pada tombol
> "off" [yang common sense
> mengatakan seharusnya "on"].   Padahal, black box
> ada, dan isi rekaman sudah
> banyak yang tahu.  And tokh, "vonis" belum terbit
> juga.  Jadi, prinsipnya,
> akan terlalu gegabah kalau kita (yang belum sehebat
> orang lain) mencoba
> memberikan vonis akhir yang prematur.
>
> Having said that, secara nalar, bagi saya, ada empat
> kemungkinan yang
> rasional.
>
> 1. Pertama, pilot error.  Meski mayoritas hasil
> investigasi di dunia
> menunjuk pada human error (bukan hanya pilot), namun
> justru aspek ini sangat
> memerlukan waktu untuk membuktikannya.  Jadi, tidak
> lazim bila suatu analisa
> awal (yang credible, anyway) akan langsung merujuk
> pada pilot error.  Dan
> selama kotak hitam belum dianalisa, tidak ada
> manfaatnya untuk membahas hal
> ini, karena semua upaya berandai-andai bisa salah
> 180 derajat oleh
> pembuktian nantinya.
>
> 2. Weather.  Kalau di Indonesia (dan negara lain
> seperti India, Cina, Mesir,
> Brazil, Nigeria, dll)  -- aspek ini yang paling
> sering disitir otoritas
> penerbangan setempat sebagai penyebab.  Hanya saja
> pembuktian bahwa bad
> weather adalah penyebab tidak semudah itu diterima
> masyarakat yang skeptis.
> Misalnya, kalau sudah ketahuan ada badai, kenapa
> pesawatnya masuk juga ke
> dalam weather system tersebut?  Setahu saya, semua
> penerbangan wajib membuat
> standard operating procedures yang jelas, mengenai
> kapan menghindar, dan
> kapan boleh masuk.  Dalam manual suatu airline,
> kriteria penggerak utama
> adalah safety, dan kedua adalah penghematan cost.
> Namun, kebijakan
> masing-masing airline bisa agak berlainan, mengenai
> faktor-faktor apa yang
> akan men-trigger keputusan terus atau balik.  Antara
> lain, kesiapan alat
> navigasi, kelayakan pesawat (apakah sewaktu
> berangkat semua alat berfungsi
> normal, dlsb), parahnya cuaca yang akan dihadapi
> (dan kapan persisnya cuaca
> buruk tersebut akan datang), baik tidaknya peralatan
> navigasi di bandara
> tujuan dan bandara alternatif, dlsb.  Ada aturan
> yang sifatnya standar
> secara internasional, dan ada yang lokal, dan ada
> yang hanya diberlakukan
> oleh suatu maskapai tertentu.  Meski variatif, yang
> penting, SOP-nya harus
> ada pada semua airline, khususnya mengenai
> "weather".  Di sini, selain
> pemerintah, juga para maskapai harus sudah siap.
>
> Juga bisa diketahui pembicaraan antara awak kokpit
> dengan menara pengawas
> udara, seperti "kalau weather tidak memungkinkan,
> bagaimana bisa terjadi
> kesepakatan tower dengan cockpit untuk masuk juga?"
> Tapi percuma
> berspekulasi mengenai ini, tanpa menganalisa kotak
> hitam.
>
> Nah, kalau weather masih juga dijadikan biang
> keladi, maka yang masuk akal
> adalah weather system yang dikenal sebagai "micro
> weather system" yang
> sifatnya sangat seketika dan sangat lokal.
> Pembuktian hal yang satu ini
> adalah hal yang paling susah dari semua faktor,
> karena umumnya perlu
> melibatkan koroborasi dari saksi mata yang berbobot.
>  Micro systems seperti
> "sudden down draft" atau "sudden tail wind" adalah
> hal yang paling ditakuti
> oleh para pilot.  Mungkin karena dampaknya yang
> begitu fatal, dan munculnya
> yang begitu "angin-anginan" (heh, heh, excuse my
> pun).   Justru micro
> weather systems adalah bagian yang paling sering
> disimulasikan [ketika harus
> "recurrent license", dan ... paling sering menjadi
> salah satu penyebab pilot
> tidak lulus ujian pembaharuan SIM-nya (alias CPL --
> Commercial Pilot
> License -- dan Aircraft Type Rating).  Kahumas Lion
> Air saya lihat di TV
> mensitir kemungkinan "Wind Tail" (P.S. Kita perlu
> maklumin' kelas bahasa
> Inggrisnya si kahumas Lion Air deh, karena
> seharusnya dia bilangnya "Tail
> Wind" -- apalagi, dia kan tidak menyebut "Attendant
> Cabin", "Port Air", atau
> "Belt Safety" -- ha, ha, ha).
>
> 3. Equipment failure.  Di sini ada dua subsistem
> pesawat yang berfungsi
> sebagai rem.  Yang pertama adalah landing gear
> (terutama kualitas ban dan
> kualitas rem).  Yang kedua adalah "air brakes" yang
> berangkat dari teknik
> membuat mesin jet (pancar gas) berubah arah daya
> geraknya dari "mendorong"
> pesawat ke depan menjadi "menarik" pesawat ke
> belakang.  Dalam keadaan bad
> weather yang moderat-pun kedua sistem deselerasi
> tadi digunakan.  Meski
> banyak pertanyaan akan disorot ke arah ini, saya
> pribadi cenderung kurang
> sependapat akan tudingan (yang bakal merebak muncul
> sebentar lagi) bahwa Low
> Cost Carrier mengorbankan safety, dan ini semua
> adalah dampak dari kebijakan
>
=== message truncated ===




__________________________________
Do you Yahoo!?
All your favorites on one personal page  Try My Yahoo!
http://my.yahoo.com






Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION ***
Yahoo! Groups Links











------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/ExDolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke