Deal All, 

Sangat setuju, apalagi bagi profesional2 Indonesia
yang masih memiliki nilai idealisme yang
tinggi...hmmm...two thumbs up for them.... 

--- Wardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Artinya sang professor tadi kuliah di amrik pd usia
> 15 tahun yaa, hebat.
> Namun lebih hebat lagi bila bersedia kembali ke
> Indo, entah masuk LIPI atau
> Universitas, apalagi di Indo sedang digalakkan
> bibit2 muda untuk road to
> nobel dibawah asuhan seorang doktor /dosen UPH.
> Kemarin juga ada orang indonesia yang ngajar di
> Jepang- konon gajinya 25
> milyar per tahun, dan belum lama sempat memberikan
> guest lecture di
> president uni, Cikarang.
> Barangkali masih banyak orang hebat dari Indonesia
> yang mengejar peruntungan
> ke negeri orang lain, dan meski sdh mengharumkan
> nama bangsa, namun akan
> lebih nyata bila turut terlibat dalam pembangunan
> langsung bangsa yang
> sedang terpuruk ini.
> 
> > ----------
> > From:       Mirza[SMTP:[EMAIL PROTECTED]
> > Reply To:   [email protected]
> > Sent:       12 Juli 2005 10:44
> > To:         [email protected]
> > Subject:    [mm-ugm] Fw: Perofessor Termuda di AS
> ternyata WNI
> > 
> >     Professor Termuda di Amerika Serikat saat ini
> ternyata WNI
> > 
> >     Walau AS berhasil menaklukan Indonesia dengan
> hutang yang tak
> > terbayarkan, ada Ilmuwan Indonesia yang berhasil
> "mengalahkan" orang-orang
> > AS di negaranya. Ini kisahnya.
> > 
> >     Nama lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD.
> Setahun lalu, ketika
> > baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru
> besar (profesor) di
> > Lehigh University,Bethlehem, Pennsylvania 18015,
> USA. Usia yang tergolong
> > sangat belia dengan statusnya tersebut. Kini,
> ketika usianya menginjak 26
> > tahun, Nelson tercatat sebagai profesor termuda di
> universitas bergengsi
> > wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu. Sebagai
> dosen muda, para
> > mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah
> berumur. Sebab, dia
> > mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3),
> bahkan post doctoral.
> > 
> >     Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar
> dikalangan akademisi AS.
> > Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di
> jurnal-jurnal internasional.Dia
> > sering diundang menjadi pembicara utama dan
> penceramah di berbagai
> > seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara
> dalam
> > pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan
> seminar di Washington DC.
> > 
> >     Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota
> lain di AS. Bahkan,
> > dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada,
> sejumlah negara di Eropa,
> > dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga
> penemuan ilmiahnya yang
> > dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor
> nanostructure optoelectronics
> > devices dan high power semiconductor lasers. Di
> tengah kesibukannya
> > melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson
> sedang dalam proses
> > penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut
> merupakan buku teks (buku
> > wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri
> Paman Sam. Karena itu,
> > Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa
> di negeri rantau
> > tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977,
> itu sampai sekarang
> > masih memegang paspor hijau berlambang garuda.
> Kendati belum satu dekade
> > di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun
> dirinya pergi, setiap
> > ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri
> sebagai orang Indonesia.
> > Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah
> banyak tokoh kita yang malu
> > mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya. 
> > 
> >     "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Dan saya
> selalu ingin
> > melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya,
> serius. Di Negeri Paman
> > Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang
> dicap sebagai terkorup di
> > Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan
> ketekunan serta prestasi
> > kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal
> Indonesia, mimik pemuda
> > itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari
> basa-basi. "Bangsa Indonesia
> > adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang
> mampu bersaing dengan
> > bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika
> bangsa kita terus bekerja
> > keras," kata Nelson menjawab koran ini.
> > 
> >     Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah
> pasangan Iskandar
> > Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan,
> Sumatera Utara. Kedua orang
> > tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan.
> Mereka adalah lulusan
> > universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu,
> adalah master dari Ohio,
> > AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah
> lulusan Ohio State University
> > (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal
> dari lingkungan keluarga
> > berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh
> University adalah assistant
> > professor di bidang electrical and computer
> engineering. Di AS, itu
> > merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan
> tinggi. "Walaupun saya
> > adalah profesor di jurusan electrical and computer
> engineering, riset saya
> > sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan
> dan quantum electronics,"
> > jelasnya. 
> > 
> >     Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani
> kehidupannya dengan tiada
> > hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan
> riset. Tentunya, dia juga
> > menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para
> mahasiswanya. Kesibukannya
> > tersebut, jika meminjam istilah di Amerika,
> bertumpu pada tiga hal. Yakni,
> > learning, teaching, and researching. Boleh jadi,
> tak ada waktu sedikit pun
> > yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana, 24 jam
> sehari dilaluinya
> > dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa
> tak lebih dari
> > istirahat tidur 4-5 jam per hari. 
> > 
> >     Anak muda itu memang enak diajak
> mengobrol.Idealismenya
> > berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya
> profesor Amerika, sosok Nelson
> > sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana
> kesehariannya juga tak
> > aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan
> pantalon. Sekilas, dia
> > terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya serin g
> tersembunyi di balik
> > penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi,
> ketika dia mengajar atau
> > berbicara di konferensi para intelektual, jati
> diri akademisi Nelson
> > tampak.
> > 
> >     Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang
> menjadi dunianya. Dia
> > selalu peduli pada kepentingan serta dahaga
> pengetahuan para mahasiswanya
> > di kampus. Ada yang menarik di sini. Karena
> tampangnya yang sangat belia,
> > tak sedikit insan kampus yang menganggapnya
> sebagai mahasiswa S-1 atau
> > program master. Dia dikira sebagai mahasiswa
> umumnya. Namun, bagi yang
> > mengenalnya, terutama kalangan universitas atau
> jurusannya mengajar,
> > begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya
> hormat: Prof Tansu. "Di
> > semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk
> tingkat PhD tentang physics
> > and applications of photonics crystals. Di
> semester Spring 2004, sekarang,
> > saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan
> master tentang
> > semiconductor device physics. Begitulah," ungkap
> Nelson menjawab soal
> > kegiatan mengajarnya. September hingga Desember
> atau semester Fall 2004,
> > jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama
> semester itu, dia akan
> > mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied
> quantum mechanics for
> > semiconductor nanotechnology. "Selain mengajar
> kelas-kelas di universitas,
> > saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan
> post-doctoral research fellow
> 
=== message truncated ===


 
Martha Magdalena 
 
 

 



















                
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page 
http://www.yahoo.com/r/hs 
 




Tiap bulan akan dimuat pesan ber-subject "Forum MM-UGM" yang berisikan 
penjelasan mengenai Forum MM-UGM ini.
*** QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) IS OUR TRADITION *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke