Sekedar forward- barangkali ada dari pertamina yang bisa bantu clarify,
----------------------------------------
Kemarin teman saya memuji-muji pom bensin baru Shell di Karawaci. Kata
dia kualitasnya benar2 bagus dan high-grade dibandingkan dengan produk
Pertamina, mesin langsung terasa tarikannya kencang.
Menurut dia lagi, Shell Karawaci baru menjual dua varian yakni Shell
Super (ron 92) dengan harga Rp 5,700/liter dan Shell Super Extra (ron
95) dengan harga Rp 5,900/liter. Shell V-Power dengan ron 97 saat ini
belum dipasarkan.
Sebagai konsumen, saya menyambut gembira kehadiran Shell. Waktu di
Kuala Lumpur, selama 4 tahun saya selalu mengisi di jaringan pom
bensin Shell. Meskipun kadang2 mengisi di Caltex, Esso dan Petronas,
akhirnya saya selalu balik lagi ke Shell. Kualitas fuel bagus, kaca
dilap bersih, aki dicheck - semua dilakukan saat kita mengisi. Kalau
drive malam, kadang2 kita ditawarin Nescafe gratis.
Di luar Indonesia (Malaysia, Thailand, Spore), Shell menjual 2
varian : Unleaded (hijau) dengan ron 92 dan V-Power (merah) dengan ron
97. Pom2 bensin lainnya juga rata2 hanya menjual dua varian ini.
Hanya Pertamina yang menyiasati subsidi dengan menghadirkan premium
yang memiliki ron 85-90. Benar2 low grade. Makanya walaupun dulu
diberatkan oleh harga Pertamax (sekarang hampir tak ada bedanya), saya
berpikir2 ratusan kali untuk men-spec-down BBM mobil kesayangan ke
Premium dengan cara penyetelan, piggyback dll itu. Wong untuk mengisi
Pertamax saja sebenarnya mobil yang dikondisikan untuk ron minimal 92
itu sudah bisa diibaratkan menelan makanan tidak bergizi, apalagi jika
dispec-down ?!
Di Malaysia, BBM masih disubsidi. Oleh karena itu kita bisa membeli
Shell-Unleaded dengan ron 92 pada harga RM 1.37 (eqv. Rp 3,500) per
liter. Barang sejenis dengan kualitas lebih jelek kita beli di
Indonesia dengan harga Rp 5,700 ! Jadi apa tidak bullshit semua pledoi
Pertamina dan pemerintah bahwa dengan kenaikan 100% lebih ini kita
masih salah-satu yang memiliki subsidi terbesar di dunia ?
Ataukah subsidi itu diberi akal2an siluman di kualitas produk;
Pertamina menghasilkan low grade fuel/premium kemudian mencoba pass-
off itu sebagai produk dengan grade lebih tinggi ? Apalagi selama ini
Pertamina TIDAK PERNAH TRANSPARAN dalam membeberkan perhitungan biaya
produksi dan besarnya subsidi. Jika rakyat pada akhirnya membayar
murah untuk barang jelek, kemana hilangnya yang namanya subsidi yang
jumlahnya selalu digembar-gemborkan itu ?! Terus-terang dengan harga
Rp 4,500/liter, saya meragukan bahwa premium masih disubsidi.
Pasal 33 menyatakan bahwa sumber daya yang penting dan berkaitan
dengan hayat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Selama ini
pemerintah telah menerjemahkan menguasai = memiliki; hasilnya adalah
BUMN yang berkaitan dengan kelangsungan hidup sehari2 rakyat jatuh ke
tangan segelintir birokrat yang terkait erat dengan penguasa untuk
dieksploitasi demi keuntungan pribadi, kroni dan kelompoknya. Rakyat
sebagai shareholders atas resources justru tidak menikmati benefit
yang maksimal dari pengelolaan tsb.
Saya kira rakyat setuju bahwa BBM harus naik, tapi kenaikan BBM
setinggi langit melebihi kemampuan daya beli rakyat seperti kemarin
adalah pembebanan segala ketidak-becusan dan mismanagement asset
penting seperti Pertamina ke bahu orang2 kecil.
Bertahun2 yang lalu, saat perbatasan Entikong-Tebedu dibuka; jika
hendak menyetir sendiri ke Sarawak - kita harus mengisi fuel-tank kita
full, karena pom bensin sulit ditemui di sepanjang Pontianak-Entikong.
Tapi begitu kita masuk Tebedu, pom bensin bertebaran di setiap
interval 5-10 km. Pom bensin Shell dan Petronas yang luas, meterannya
akurat, lengkap, bersih dengan toilet kinclong, air dan angin gratis
serta minimart cantik. Kebalikan 180 derajat dari pom bensin Pertamina
yang pakai meteran kuda, sempit, jorok, berlubang2, toiletnya bau
(kalaupun ada).
Jika downstream industri migas kita tidak diputuskan untuk
diliberalisasi pada tahun 2001 (melalui UU Migas No.22/2001), yang
akan dimulai Nov 2005 ini; sampai mati kita akan dipaksa untuk
menikmati mediocre services dari Pertamina. Karena akan masuknya gas
station asing inilah maka Pertamina akhirnya berbenah diri selama 3
tahun terakhir sehingga kita bisa merasakan peningkatan kualitas dari
SPBU Pertamina yang good, but not good enough dibandingkan dengan
kualitas pom bensin Shell, Caltex, Phillips-Conoco dll di luar negeri
karena masih ada saja praktek2 timbangan/meteran tidak akurat,
pengoplosan Pertamax dll.
Konsep pengelolaan SPBU Pertamina juga berbeda dengan gas station yang
dikelola perusahaan minyak asing. Investasi untuk SPBU Pertamina
hampir 100% disediakan oleh investor, sementara birokrat2 Pertamina
hanya melelang penunjukan/izin ke pembayar tertinggi dengan segala
hanky-pankynya. Ongkos yang harus dibayar adalah pengawasan
yang 'sudah dikondisikan' dengan oknum2 Pertamina dengan buntutnya
yang dirugikan adalah konsumen; pada saat investor SPBU main pencak-
silat seenak udelnya untuk mendapatkan laba dan pengembalian investasi
setinggi mungkin.
Gas station asing umumnya sangat menjaga kualitas, karena sejatinya di
free-market - kelebihan satu gas station dibanding yang lainnya adalah
di kualitas service, wong barang yang dijual sama dengan harga sama.
Konsep yang dipakai Shell di Malaysia, semua investasi pom bensin
ditanggung oleh Shell. Setelah itu Shell akan mentenderkan
pengoperasian pom bensin ke pihak kedua. Calon pengelola harus
menyediakan bond minimum senilai yang diminta Shell untuk mengcover
nilai inventory fuel yang ada di station, plus minimum working capital
yang diminta Shell. Umumnya untuk bond perlu disediakan RM 100,000-
250,000 sementara working capital RM 10,000-50,000 tergantung ukuran
pom bensin dan jumlah lanes.
Pengelola gas station akan mendapat, misalnya RM 0.50/liter fuel yang
dijual, plus keuntungan dari pengoperasian minimart serta service2
lainnya seperti quick oil-change, car-wash, dll.
Biasanya kontrak dengan pengelola sifatnya pendek, extendable tiap 2
tahun; sehingga kalau ada operator ngga beres dan tidak sesuai
standard Shell, tinggal diputus saja kontraknya. Dengan demikian
kualitas pelayanan Shell tetap terjaga.
Jadi konsumen dihadapkan pada choices dan yang untung akhirnya adalah
mereka. Shell Country Manager Bob Moran mengatakan bahwa Shell
berkomitmen membangun 400 gas station di Indonesia dalam 8 tahun. Di
masa depan, saya berharap melihat melihat logo kerang keemasan Shell
di setiap tempat strategis dan dekat rumah.
Sementara Pertamina, parasit yang tak membawa kemaslahatan, live up to
it or die.
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
| Undergraduate business schools | Business school essay | Business school and education |
| Top business schools | Best business schools | Business school minnesota |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "mm-ugm" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
