Title: RE: [mm-ugm] OOT- Msh seputar Pertamina

Salut bung Okky yang dg elegan menerima kritik. Mohon dimaklumi bahwa terlampir adalah suara pelanggan yang memang keras dan tajam. Barangkali kita ambil positif-nya saja, bahwa sekasar2nya pelanggan tersirat adanya kepedulian.

Salam,

    ----------
    From:   [EMAIL PROTECTED]:[EMAIL PROTECTED] on behalf of okky hartadi[SMTP:[EMAIL PROTECTED]
    Reply To:       [email protected]
    Sent:   30 Nopember 2005 8:47
    To:     [email protected]
    Subject:        RE: [mm-ugm] OOT- Msh seputar Pertamina

    Terimakasih atas kritik dan saran bagi PERTAMINA,
    tetapi mungkin menurut saya ada kata-kata yang lebih
    sopan dan lebih baik serta membangun dari hanya
    sekedar mengumpat, khususnya bagi orang2 terdidik
    seperti kita semua, terimakasih

    OKKY R. HARTADI
    PERTAMINA UNIT PEMASARAN III
    Jl. Kramat Raya 59, Jakarta Pusat
    Telp. 021-31992191

    --- Prayudha Moelyo <[EMAIL PROTECTED]>
    wrote:

    > Infomasi yang sangat baik dan bermanfaat, membuka
    > mata kita untuk
    > mengetahui banyak hal ttg BBM. Tetapi mungkin tidka
    > cukup membuka mata
    > Pemerintah dan Pejabat yang berweang untuk
    > membenahinya.

    > Pertamina. Perusahaan Tamak Minyak Nasional..Tamak
    > Korupsi, Tamak
    > Subsidi, Tamak Kolusi, Tamak Koneksi, dst, dst.

    > Prayudha Moelyo
    > Commercial Agribusiness Unit
    > Jl. HR. Rasuna Said Kav. X-0 lt. 17
    > Jakarta
    > telp. 021.25517000 ext. 7143   fax. 021. 2525579
    > -----Original Message-----
    > From: [email protected]
    > [mailto:[email protected]] On Behalf
    > Of Wardoyo
    > Sent: Tuesday, November 29, 2005 8:18 AM
    > To: [email protected]
    > Subject: [mm-ugm] OOT- Msh seputar Pertamina

    > Sekedar forward- barangkali ada dari pertamina yang
    > bisa bantu clarify,
    > ----------------------------------------
    > Kemarin teman saya memuji-muji pom bensin baru Shell
    > di Karawaci. Kata
    > dia kualitasnya benar2 bagus dan high-grade
    > dibandingkan dengan produk
    > Pertamina, mesin langsung terasa tarikannya kencang.
    >
    > Menurut dia lagi, Shell Karawaci baru menjual dua
    > varian yakni Shell
    > Super (ron 92) dengan harga Rp 5,700/liter dan Shell
    > Super Extra (ron
    > 95) dengan harga Rp 5,900/liter. Shell V-Power
    > dengan ron 97 saat ini
    > belum dipasarkan.
    > Sebagai konsumen, saya menyambut gembira kehadiran
    > Shell. Waktu di
    > Kuala Lumpur, selama 4 tahun saya selalu mengisi di
    > jaringan pom
    > bensin Shell. Meskipun kadang2 mengisi di Caltex,
    > Esso dan Petronas,
    > akhirnya saya selalu balik lagi ke Shell. Kualitas
    > fuel bagus, kaca
    > dilap bersih, aki dicheck - semua dilakukan saat
    > kita mengisi. Kalau
    > drive malam, kadang2 kita ditawarin Nescafe gratis.
    > Di luar Indonesia (Malaysia, Thailand, Spore), Shell
    > menjual 2
    > varian : Unleaded (hijau) dengan ron 92 dan V-Power
    > (merah) dengan ron
    > 97. Pom2 bensin lainnya juga rata2 hanya menjual dua
    > varian ini.
    > Hanya Pertamina yang menyiasati subsidi dengan
    > menghadirkan premium
    > yang memiliki ron 85-90. Benar2 low grade. Makanya
    > walaupun dulu
    > diberatkan oleh harga Pertamax (sekarang hampir tak
    > ada bedanya), saya
    > berpikir2 ratusan kali untuk men-spec-down BBM mobil
    > kesayangan ke
    > Premium dengan cara penyetelan, piggyback dll itu.
    > Wong untuk mengisi
    > Pertamax saja sebenarnya mobil yang dikondisikan
    > untuk ron minimal 92
    > itu sudah bisa diibaratkan menelan makanan tidak
    > bergizi, apalagi jika
    > dispec-down ?!
    > Di Malaysia, BBM masih disubsidi. Oleh karena itu
    > kita bisa membeli
    > Shell-Unleaded dengan ron 92 pada harga RM 1.37
    > (eqv. Rp 3,500) per
    > liter. Barang sejenis dengan kualitas lebih jelek
    > kita beli di
    > Indonesia dengan harga Rp 5,700 ! Jadi apa tidak
    > bullshit semua pledoi
    > Pertamina dan pemerintah bahwa dengan kenaikan 100%
    > lebih ini kita
    > masih salah-satu yang memiliki subsidi terbesar di
    > dunia ?
    > Ataukah subsidi itu diberi akal2an siluman di
    > kualitas produk;
    > Pertamina menghasilkan low grade fuel/premium
    > kemudian mencoba pass-
    > off itu sebagai produk dengan grade lebih tinggi ?
    > Apalagi selama ini
    > Pertamina TIDAK PERNAH TRANSPARAN dalam membeberkan
    > perhitungan biaya
    > produksi dan besarnya subsidi. Jika rakyat pada
    > akhirnya membayar
    > murah untuk barang jelek, kemana hilangnya yang
    > namanya subsidi yang
    > jumlahnya selalu digembar-gemborkan itu ?!
    > Terus-terang dengan harga
    > Rp 4,500/liter, saya meragukan bahwa premium masih
    > disubsidi.
    > Pasal 33 menyatakan bahwa sumber daya yang penting
    > dan berkaitan
    > dengan hayat hidup orang banyak harus dikuasai oleh
    > negara. Selama ini
    > pemerintah telah menerjemahkan menguasai = memiliki;
    > hasilnya adalah
    > BUMN yang berkaitan dengan kelangsungan hidup
    > sehari2 rakyat jatuh ke
    > tangan segelintir birokrat yang terkait erat dengan
    > penguasa untuk
    > dieksploitasi demi keuntungan pribadi, kroni dan
    > kelompoknya. Rakyat
    > sebagai shareholders atas resources justru tidak
    > menikmati benefit
    > yang maksimal dari pengelolaan tsb.
    > Saya kira rakyat setuju bahwa BBM harus naik, tapi
    > kenaikan BBM
    > setinggi langit melebihi kemampuan daya beli rakyat
    > seperti kemarin
    > adalah pembebanan segala ketidak-becusan dan
    > mismanagement asset
    > penting seperti Pertamina ke bahu orang2 kecil.
    > Bertahun2 yang lalu, saat perbatasan Entikong-Tebedu
    > dibuka; jika
    > hendak menyetir sendiri ke Sarawak - kita harus
    > mengisi fuel-tank kita
    > full, karena pom bensin sulit ditemui di sepanjang
    > Pontianak-Entikong.
    > Tapi begitu kita masuk Tebedu, pom bensin bertebaran
    > di setiap
    > interval 5-10 km. Pom bensin Shell dan Petronas yang
    > luas, meterannya
    > akurat, lengkap, bersih dengan toilet kinclong, air
    > dan angin gratis
    > serta minimart cantik. Kebalikan 180 derajat dari
    > pom bensin Pertamina
    > yang pakai meteran kuda, sempit, jorok, berlubang2,
    > toiletnya bau
    > (kalaupun ada).
    > Jika downstream industri migas kita tidak diputuskan
    > untuk
    > diliberalisasi pada tahun 2001 (melalui UU Migas
    > No.22/2001), yang
    > akan dimulai Nov 2005 ini; sampai mati kita akan
    > dipaksa untuk
    > menikmati mediocre services dari Pertamina. Karena
    > akan masuknya gas
    > station asing inilah maka Pertamina akhirnya
    > berbenah diri selama 3
    > tahun terakhir sehingga kita bisa merasakan
    > peningkatan kualitas dari
    > SPBU Pertamina yang good, but not good enough
    > dibandingkan dengan
    > kualitas pom bensin Shell, Caltex, Phillips-Conoco
    > dll di luar negeri
    > karena masih ada saja praktek2 timbangan/meteran
    > tidak akurat,
    > pengoplosan Pertamax dll.
    > Konsep pengelolaan SPBU Pertamina juga berbeda
    > dengan gas station yang
    > dikelola perusahaan minyak asing. Investasi untuk
    > SPBU Pertamina
    > hampir 100% disediakan oleh investor, sementara
    > birokrat2 Pertamina
    > hanya melelang penunjukan/izin ke pembayar tertinggi
    > dengan segala
    > hanky-pankynya. Ongkos yang harus dibayar adalah
    > pengawasan
    > yang 'sudah dikondisikan' dengan oknum2 Pertamina
    > dengan buntutnya
    > yang dirugikan adalah konsumen; pada saat investor
    > SPBU main pencak-
    > silat seenak udelnya untuk mendapatkan laba dan
    > pengembalian investasi
    > setinggi mungkin.
    > Gas station asing umumnya sangat menjaga kualitas,
    > karena sejatinya di
    > free-market - kelebihan satu gas station dibanding
    > yang lainnya adalah
    > di kualitas service, wong barang yang dijual sama
    > dengan harga sama.
    > Konsep yang dipakai Shell di Malaysia, semua
    > investasi pom bensin
    > ditanggung oleh Shell. Setelah itu Shell akan
    > mentenderkan
    > pengoperasian pom bensin ke pihak kedua. Calon
    > pengelola harus
    > menyediakan bond minimum senilai yang diminta Shell
    > untuk mengcover
    > nilai inventory fuel yang ada di station, plus
    > minimum working capital
    > yang diminta Shell. Umumnya untuk bond perlu
    > disediakan RM 100,000-
    > 250,000 sementara working capital RM 10,000-50,000
    > tergantung ukuran
    > pom bensin dan jumlah lanes.
    > Pengelola gas station akan mendapat, misalnya RM
    > 0.50/liter fuel yang
    > dijual, plus keuntungan dari pengoperasian minimart
    > serta service2
    > lainnya seperti quick oil-change, car-wash, dll.
    >
    === message truncated ===



                   
    __________________________________
    Yahoo! Music Unlimited
    Access over 1 million songs. Try it free.
    http://music.yahoo.com/unlimited/




    ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
    Put more honey in your pocket. (money matters made easy).
    http://us.click.yahoo.com/F9LvrA/dlQLAA/cosFAA/ExDolB/TM
    --------------------------------------------------------------------~->

    Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
    *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
    Yahoo! Groups Links

    <*> To visit your group on the web, go to:
        http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

    <*> To unsubscribe from this group, send an email to:
        [EMAIL PROTECTED]

    <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
        http://docs.yahoo.com/info/terms/
     





Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke