Deal All, Basically, Saya sangat setuju dengan Made yang membandingkan Pendidikan di India dengan Pendidikan di Indonesia, yang sama2 negara berkembang, sehingga comparable...tidak bisa langsung dibandingkan dengan negara2 maju dimana subsidi pemerintah berjalan konsisten dengan Prinsip-prinsip yang ada di Good Corporate Governance...jika dibandingkan dengan sesama negara berkembang saja, content pendidikan di Indonesia kalah bersaing, apalagi dengan negara2 maju???
Kalau dari pendapat saya pribadi, Pendidikan di Indonesia masih mahal, dan sangat mahal....Karena cycle yang ada terlibat di dalamnya, biaya pendidikan sebelumnya bagi dosen untuk bekal mereka mengajar kemudian, biaya hidup yang harus mereka tanggung saat mereka kuliah dulu, tawaran2 mengajar dari kampus yang menggiurkan yang diperoleh dari menaikkan biaya kuliah mahasiswanya terutama S2 dengan dalih bahwa biaya kuliah yang dikenakan di S2 juga untuk subsidi biaya kuliah S1 yang tidak mencukupi dari pemerintah yang banyak di'sunat' untuk 'upeti' meja2 birokrasi pendidikan yang dilalui....mengapa meja2 tersebut harus ada 'upeti'?? karena para birokrat pendidikan juga mengandalkan tambahan pendapatan untuk mencukupi biaya hidup mereka yang konon kurang memadai, belum lagi para supplier2 infrastruktur pendidikannya yang juga terlibat dalam proyek pendidikan yang katanya 'turut mencerdaskan kehidupan bangsa'......hmmmmm.... yang kasihan adalah, anak2 bangsa yang berbakat dan berintelligence tinggi tapi belum 'ditemukan' oleh para pendidik yang terlalu sibuk mengatur/membagi jam mengajar di berbagai tempat mengajar....sehingga waktu untuk berkonsultasi atau mempertanyakan hasil ujian pun sangat....sangat...sulitnya minta ampyuuunnn....:)) sehingga pada akhirnya, bisa dibayangkan, pendidikan di Indonesia adalah mahal, bahkan sangat mahal..... --- mdharmaw <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Made D Widyantara <[EMAIL PROTECTED]> > menulis: > > > Wawancara > Tylla Subijantoro: Saya Tidak Menjelekkan Bangsa > > > TYLLA Subijantoro, mahasiswi S-2 ilmu hukum > Universitas New Delhi, India, tiba-tiba mencuri > perhatian. Pertanyaan Tylla kepada Presiden > Yudhoyono konon membuat SBY marah. "Saat berdialog > dengan masyarakat Indonesia di India, ada warga yang > sejak mulai bicara sampai selesai menjelek-jelekkan > negeri kita dan memuji luar negeri. Saya > menyesalkan," kata SBY di Tanah Air. > > Apa yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada pertemuan > 23 November lalu itu? Berikut petikan perbincangan > Tylla dengan Basfin Siregar dari Gatra: > > Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa sendiri? > Saya tidak terima dibilang menjelek-jelekkan bangsa! > Yang saya jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya > membandingkan kebijakan Pemerintah India dengan SBY. > Saya lihat Pemerintah India memberi subsidi gede > banget untuk pendidikan. Adalah salah pemerintah > kalau pendidikan di Indonesia makin nggak > terjangkau! > > Berapa uang kuliah Anda di India? > Untuk program S-2 dua tahun, saya cuma bayar US$ > 600, sekitar Rp 6 juta. Itu sudah all-in, sudah > admission fee dan tuition fee . Tinggal mikir biaya > hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama dengan di > Jakarta. Uang US$ 600 itu pun karena saya foreigner > yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu > dipakai buat subsidi warga India asli. Kalau orang > India yang kuliah, setahun bayarnya cuma 700 rupee, > sekitar Rp 40.000. > > Bagaimana dibandingkan dengan biaya di Indonesia ? > Tahun lalu, saya mendaftar program notariat. Untuk > semester pertama saja habis Rp 50 juta. > > Anda kaget ketika SBY marah? > Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan saya. > Melainkan karena waktu SBY ngasih penjelasan, eh, > saya malah bisik-bisik ke teman. Saya bilang, ''Ah, > SBY mau ngomong apa, nyatanya anaknya disekolahin ke > luar negeri juga. Berarti dia setuju pendidikan di > luar negeri bagus.'' > > Reaksi SBY bagaimana? > SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget. Baru > sekali sekolah di luar negeri, kok, sudah sombong > banget. Soalnya, SBY bilang bahwa dia sudah sembilan > kali sekolah di luar negeri, dan pendidikan di > Indonesia nggak jelek. Tapi kenyataannya, di ranking > dunia, pendidikan Indonesia kan nggak masuk? > > Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri bagaimana? > Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk, > manggut-manggut minta maaf. Terus saya perhatikan > lagi. Tapi saya bisik ke teman itu cuma beberapa > detik aja kok. Sepanjang sebelumnya saya juga > memperhatikan penjelasan SBY. > > Seperti apa jawaban SBY waktu menjawab pertanyaan > Anda? > Ya pokoknya pemerintah sudah bekerja, bahwa > pendidikan di Indonesia tidak jelek. Pendidikan di > luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang lebih > jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus waktu > menjawab soal buku-buku murah, SBY bilang kalau > pemerintah juga sudah menyiapkan content (materi) > untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa kepake untuk > sekian generasi. Teknis begitu. Itu kan nggak > nyambung dengan apa yang saya sampaikan. > > Seperti apa subsidi pendidikan di India? > Di sini, buku murah luar biasa, bahkan buku-buku > impor karena pemerintah memberi subsidi kertas! > Selain itu pemerintah juga bikin kerja sama dengan > penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar > buku-buku mereka bisa dicetak di India , jadi bisa > dijual lebih murah. Buku-buku kuliah saya, kalau > dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma Rp 10.000. > Kalau di Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp 2,5 > juta untuk beli buku saja. Dan karena subsidi kertas > itu, harga langganan koran juga murah. Saya itu > langganan satu koran , satu majalah berita semacam > Gatra, dan satu majalah wanita. Nah, untuk langganan > tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110 > rupee, atau sekitar Rp 22.000. Selain itu di India, > pelajar dapat fasilitas kartu abonemen yang harganya > cuma 50 rupee, atau sekitar Rp 10.000, yang berlaku > selama empat bulan. Dengan kartu pas itu, selama > empat bulan kita bisa gratis naik bis pemerintah > jurusan apa aja. Mau keliling-keliling Delhi juga > boleh. Meski bisnya bobrok, tapi nyaman. > Berhentinya juga cuma di halte. Kartu abonemen itu > selain untuk pelajar, juga dikasih untuk pegawai > negeri, tentara, orang jompo dan physically disabled > (orang cacat). Itu untuk transportasi. > > Tidak takut dianggap melebih-lebihkan India ? > Lho, justru karena saya cinta bangsa Indonesia, saya > ingin pemerintah belajar kepada India .. Orang > Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya, > pemerintah tidak bisa memfasilitasi pendidikan > murah. Para insinyur di India mampu bersaing untuk > masuk di Microsoft. Sedangkan di Indonesia hanya > beberapa orang saja yang beruntung. Maka tolonglah > pemerintah bikin agar pendidikan itu affordable. > > Tapi, pendidikan di Indonesia kan ada juga bagusnya? > Kalau mau jujur, infrastrukturnya lebih bagus. Di > kampus sudah ada lift, whiteboard , pakai OHP. Kalau > di sini enggak. Naik dari lantai I ke lantai IV > masih manual, masih pakai kapur tulis, terus nggak > ada AC. Tapi, kalau kualitas content-nya, kita > kurang. > > Kalau pengajarnya bagaimana? > Kalau di India enaknya, dosen-dosen itu bisa > dihubungi kapan saja. Kayak Amartya Sen, peraih > nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private > session, masih dilayanin. Nggak susah. Bahkan > presidennya sendiri, Abdul Kalam, dia juga mengajar, > dan masih bisa ditelepon! Saya pernah bareng > mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam. Saya > lihat Abdul Kalam itu dikritik mahasiswanya yang > orang India , ditunjuk-tunjuk gitu, dia nggak marah > kok. Masih santai aja. > > Setelah pertemuan dengan SBY itu, apakah Anda > ditegur, misalnya oleh orang KBRI? > Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang ribut > itu justru pegawai negeri (dari Indonesia) yang > tugas belajar ke India. Mereka pada marah. > Dibilangnya saya itu anak itik yang baru keluar dari > induknya, kaget. Padahal saya kan juga bukan baru > pertama kali ke luar negeri. Sebelumnya saya kan > juga sempat ikut summer course atau homestay gitu. > Tapi kan nggak kompatibel kalau membandingkan > Indonesia dengan negara-negara maju. Makanya > dibandingin dengan India . > > > > > > > > > > > Best Regards, > Made D. Widyantara > > > __________________________________________________ > Apakah Anda Yahoo!? > Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki > perlindungan terbaik terhadap spam > http://id.mail.yahoo.com Martha Magdalena __________________________________________ Yahoo! DSL Something to write home about. Just $16.99/mo. or less. dsl.yahoo.com Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini? *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
