Kalo boleh saya menyimpulkan, case ini terkait dengan
culture di negara kita yang sudah mengakar kuat di
birokrasi kita. Mulai dari Presiden di posisi
tertinggi, hingga tingkatan lurah. Bahkan tidak hanya
di birokrasi, di lingkungan akademisi maupun di
kalangan praktisi (profesional), kondisi tersebut
masih ter- "jangkit".

Apakah kita hanya bisa pasrah karena alasan "culture"?

Saya kira tidak, bisa kita lakukan di lingkungan kita
terdekat, yaitu Diri kita sendiri. Berbicara masalah
culture berarti kita berbicara masalah Persepsi. Dari
pada kita mengeluh.. mengeluh.. mengeluh.. mengenai
kondisi negara kita, Ayo, kita mulai dari diri kita
sendiri.

Meskipun kita mungkin "merasa tidak mampu "merubah
negara kita, namun setidaknya hal yang membanggakan
jika kita mampu merubah lingkungan kita, yaitu
komunitas alumni MM UGM. Berbagai kritik dan saran
telah banyak kita lontarkan, dan mari kita mengambil
inisiatif utk memberikan pengaruh atau treatment ke
komunitas kita untuk bisa lebih baik.

Saya salut dengan beberapa senior2 kita di komunitas
Kagama, yang setidaknya memberikan pengaruh tanpa
jenuh2nya, sebagai the agent of change (meski mungkin
tanpa mereka sadari telah berperan demikian) di
komunitas kita dengan beberapa emailnya yang berisikan
knowledge yang dapat memberikan Insight ke member
komunitas kita. Pak Wardoyo dan Pak Gatot Soemartono
misalnya.

Saya membayangkan beliau dengan tingkat senioritas
sekarang tentunya dengan tingkat kesibukan namun masih
sempat memberikan "hal kecil" yang mungkin menjadi hal
besar bagi kami para junior yang masih byak perlu
belajar dari beliau.

Tinggal kami yang muda2 ini, bagaimana mau belajar
dari pengalaman beliau. Menurut saya, belajar tidak
harus sebatas pada saat kita kuliah di MM UGM. Seumur
hidup pun kita tetap pelajar bagi kehidupan. Salah
satu sisi kehidupan yang dapat kita menimbah ilmu
yaitu di komunitas kita ini.

Sekali lagi JANGAN PERNAH MENYERAH DENGAN BUDAYA......


Hasanuddin
PT. Budi Darsa
Perumahan Budi Daya Permai, Makassar
0818272559 
"To Understand is Hard. Once one understands, action
is Easy..."
Sun Yat-Sen










--- Drajad Wiryawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Hmmm...
> 
> Lucu juga ya...:)
> Kenapa kok presiden yang dipilih rakyatnya malah
> marah ditanya oleh
> yang memilihnya....lucu..lucu dan sangat lucu...
> 
> Itulah bangsa ini, bila dikritik selalu marah..
> bukannya menafsirkan maksud kata-kata yang keluar
> serta mengkaitkannya
> dengan realita yang ada tapi malah yang bertanya
> dituduh
> macam-macam...kapan mau maju  ???...
> 
> Sampai kapanpun bangsa ini tidak akan maju kalau
> pola pikir dan
> pemahaman para pengambil keputusannya tidak mau
> berubah untuk
> maju...(janganlah selalu beralasan bahwa kerjaannya
> banyak dan
> masalahnya saling berkaitan satu sama lain...karena
> anda digaji dan
> jadi seorang pemimpin memang akan mempunyai
> pekerjaan yang buanyak)
> 
> Selain itu, janganlah selalu mengatakan bahwa kita
> ini sedang dilanda
> krisis ekonomi....
> kalau semua kita lihat kebelakang dan pahami satu
> persatu permasalahan
> yang ada kita bukannya sedang mengalami krisis
> ekonomi tapi KRISIS
> MORAL !!!
> 
> Nah kapan KRISIS MORAL ini berakhir ??? ya
> tergantung dari pola pikir,
> mental dan perilaku semuanya (dalam hal ini ya si
> pengatur
> negaranya)...
> 
> salam and cheers for Made...
> 
> On 1/9/06, nena arkelaus <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> >  Deal All,
> >
> >  Basically, Saya sangat setuju dengan Made yang
> >  membandingkan Pendidikan di India dengan
> Pendidikan di
> >  Indonesia, yang sama2 negara berkembang, sehingga
> >  comparable...tidak bisa langsung dibandingkan
> dengan
> >  negara2 maju dimana subsidi pemerintah berjalan
> >  konsisten dengan Prinsip-prinsip yang ada di Good
> >  Corporate Governance...jika dibandingkan dengan
> sesama
> >  negara berkembang saja, content pendidikan di
> >  Indonesia kalah bersaing, apalagi dengan negara2
> >  maju???
> >
> >  Kalau dari pendapat saya pribadi, Pendidikan di
> >  Indonesia masih mahal, dan sangat mahal....Karena
> >  cycle yang ada terlibat di dalamnya, biaya
> pendidikan
> >  sebelumnya bagi dosen untuk bekal mereka mengajar
> >  kemudian, biaya hidup yang harus mereka tanggung
> saat
> >  mereka kuliah dulu, tawaran2 mengajar dari kampus
> yang
> >  menggiurkan yang diperoleh dari menaikkan biaya
> kuliah
> >  mahasiswanya terutama S2 dengan dalih bahwa biaya
> >  kuliah yang dikenakan di S2 juga untuk subsidi
> biaya
> >  kuliah S1 yang tidak mencukupi dari pemerintah
> yang
> >  banyak di'sunat' untuk 'upeti' meja2 birokrasi
> >  pendidikan yang dilalui....mengapa meja2 tersebut
> >  harus ada 'upeti'?? karena para birokrat
> pendidikan
> >  juga mengandalkan tambahan pendapatan untuk
> mencukupi
> >  biaya hidup mereka yang konon kurang memadai,
> belum
> >  lagi para supplier2 infrastruktur pendidikannya
> yang
> >  juga terlibat dalam proyek pendidikan yang
> katanya
> >  'turut mencerdaskan kehidupan
> bangsa'......hmmmmm....
> >
> >  yang kasihan adalah, anak2 bangsa yang berbakat
> dan
> >  berintelligence tinggi tapi belum 'ditemukan'
> oleh
> >  para pendidik yang terlalu sibuk mengatur/membagi
> jam
> >  mengajar di berbagai tempat mengajar....sehingga
> waktu
> >  untuk berkonsultasi atau mempertanyakan hasil
> ujian
> >  pun sangat....sangat...sulitnya minta
> >  ampyuuunnn....:))
> >
> >
> >  sehingga pada akhirnya, bisa dibayangkan,
> pendidikan
> >  di Indonesia adalah mahal, bahkan sangat
> mahal.....
> >
> >
> >
> >  --- mdharmaw <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >  >
> >  >
> >  > Made D Widyantara <[EMAIL PROTECTED]>
> >  > menulis:
> >  >
> >  >
> >  > Wawancara
> >  > Tylla Subijantoro: Saya Tidak Menjelekkan
> Bangsa
> >  >
> >  >
> >  > TYLLA Subijantoro, mahasiswi S-2 ilmu hukum
> >  > Universitas New Delhi, India, tiba-tiba mencuri
> >  > perhatian. Pertanyaan Tylla kepada Presiden
> >  > Yudhoyono konon membuat SBY marah. "Saat
> berdialog
> >  > dengan masyarakat Indonesia di India, ada warga
> yang
> >  > sejak mulai bicara sampai selesai
> menjelek-jelekkan
> >  > negeri kita dan memuji luar negeri. Saya
> >  > menyesalkan," kata SBY di Tanah Air.
> >  >
> >  > Apa yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada
> pertemuan
> >  > 23 November lalu itu? Berikut petikan
> perbincangan
> >  > Tylla dengan Basfin Siregar dari Gatra:
> >  >
> >  > Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa sendiri?
> >  > Saya tidak terima dibilang menjelek-jelekkan
> bangsa!
> >  > Yang saya jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya
> >  > membandingkan kebijakan Pemerintah India dengan
> SBY.
> >  > Saya lihat Pemerintah India memberi subsidi
> gede
> >  > banget untuk pendidikan. Adalah salah
> pemerintah
> >  > kalau pendidikan di Indonesia makin nggak
> >  > terjangkau!
> >  >
> >  > Berapa uang kuliah Anda di India?
> >  > Untuk program S-2 dua tahun, saya cuma bayar
> US$
> >  > 600, sekitar Rp 6 juta. Itu sudah all-in, sudah
> >  > admission fee dan tuition fee . Tinggal mikir
> biaya
> >  > hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama dengan di
> >  > Jakarta. Uang US$ 600 itu pun karena saya
> foreigner
> >  > yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu
> >  > dipakai buat subsidi warga India asli. Kalau
> orang
> >  > India yang kuliah, setahun bayarnya cuma 700
> rupee,
> >  > sekitar Rp 40.000.
> >  >
> >  > Bagaimana dibandingkan dengan biaya di
> Indonesia ?
> >  > Tahun lalu, saya mendaftar program notariat.
> Untuk
> >  > semester pertama saja habis Rp 50 juta.
> >  >
> >  > Anda kaget ketika SBY marah?
> >  > Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan
> saya.
> >  > Melainkan karena waktu SBY ngasih penjelasan,
> eh,
> >  > saya malah bisik-bisik ke teman. Saya bilang,
> ''Ah,
> >  > SBY mau ngomong apa, nyatanya anaknya
> disekolahin ke
> >  > luar negeri juga. Berarti dia setuju pendidikan
> di
> >  > luar negeri bagus.''
> >  >
> >  > Reaksi SBY bagaimana?
> >  > SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget.
> Baru
> >  > sekali sekolah di luar negeri, kok, sudah
> sombong
> >  > banget. Soalnya, SBY bilang bahwa dia sudah
> sembilan
> >  > kali sekolah di luar negeri, dan pendidikan di
> >  > Indonesia nggak jelek. Tapi kenyataannya, di
> ranking
> >  > dunia, pendidikan Indonesia kan nggak masuk?
> >  >
> >  > Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri bagaimana?
> >  > Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk,
> >  > manggut-manggut minta maaf. Terus saya
> perhatikan
> >  > lagi. Tapi saya bisik ke teman itu cuma
> beberapa
> >  > detik aja kok. Sepanjang sebelumnya saya juga
> >  > memperhatikan penjelasan SBY.
> >  >
> >  > Seperti apa jawaban SBY waktu menjawab
> pertanyaan
> >  > Anda?
> >  > Ya pokoknya pemerintah sudah bekerja, bahwa
> >  > pendidikan di Indonesia tidak jelek. Pendidikan
> di
> >  > luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang
> lebih
> >  > jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus
> waktu
> >  > menjawab soal buku-buku murah, SBY bilang kalau
> >  > pemerintah juga sudah menyiapkan content
> (materi)
> >  > untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa kepake
> untuk
> >  > sekian generasi. Teknis begitu. Itu kan nggak
> >  > nyambung dengan apa yang saya sampaikan.
> >  >
> >  > Seperti apa subsidi pendidikan di India?
> >  > Di sini, buku murah luar biasa, bahkan
> buku-buku
> >  > impor karena pemerintah memberi subsidi kertas!
> >  > Selain itu pemerintah juga bikin kerja sama
> dengan
> >  > penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar
> >  > buku-buku mereka bisa dicetak di India , jadi
> bisa
> >  > dijual lebih murah. Buku-buku kuliah saya,
> kalau
> >  > dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma Rp
> 10.000.
> >  > Kalau di Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp
> 2,5
> >  > juta untuk beli buku saja. Dan karena subsidi
> kertas
> >  > itu, harga langganan koran juga murah. Saya itu
> >  > langganan satu koran , satu majalah berita
> semacam
> >  > Gatra, dan satu majalah wanita. Nah, untuk
> langganan
> >  > tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110
> >  > rupee, atau sekitar Rp 22.000. Selain itu di
> India,
> >  > pelajar dapat fasilitas kartu abonemen yang
> harganya
> >  > cuma 50 rupee, atau sekitar Rp 10.000, yang
> berlaku
> >  > selama empat bulan. Dengan kartu pas itu,
> selama
> >  > empat bulan kita bisa gratis naik bis
> pemerintah
> >  > jurusan apa aja. Mau keliling-keliling Delhi
> juga
> >  > boleh. Meski bisnya bobrok, tapi nyaman.
> >  >  Berhentinya juga cuma di halte. Kartu abonemen
> itu
> >  > selain untuk pelajar, juga dikasih untuk
> pegawai
> >  > negeri, tentara, orang jompo dan physically
> disabled
> >  > (orang cacat). Itu untuk transportasi.
> >  >
> >  > Tidak takut dianggap melebih-lebihkan India ?
> >  > Lho, justru karena saya cinta bangsa Indonesia,
> saya
> >  > ingin pemerintah belajar kepada India .. Orang
> >  > Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya,
> >  > pemerintah tidak bisa memfasilitasi pendidikan
> >  > murah. Para insinyur di India mampu bersaing
> untuk
> >  > masuk di Microsoft. Sedangkan di Indonesia
> hanya
> >  > beberapa orang saja yang beruntung. Maka
> tolonglah
> >  > pemerintah bikin agar pendidikan itu
> affordable.
> >  >
> >  > Tapi, pendidikan di Indonesia kan ada juga
> bagusnya?
> >  > Kalau mau jujur, infrastrukturnya lebih bagus.
> Di
> >  > kampus sudah ada lift, whiteboard , pakai OHP.
> Kalau
> >  > di sini enggak. Naik dari lantai I ke lantai IV
> >  > masih manual, masih pakai kapur tulis, terus
> nggak
> >  > ada AC. Tapi, kalau kualitas content-nya, kita
> >  > kurang.
> >  >
> >  > Kalau pengajarnya bagaimana?
> >  > Kalau di India enaknya, dosen-dosen itu bisa
> >  > dihubungi kapan saja. Kayak Amartya Sen, peraih
> >  > nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private
> >  > session, masih dilayanin. Nggak susah. Bahkan
> >  > presidennya sendiri, Abdul Kalam, dia juga
> mengajar,
> >  > dan masih bisa ditelepon! Saya pernah bareng
> >  > mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam.
> Saya
> >  > lihat Abdul Kalam itu dikritik mahasiswanya
> yang
> >  > orang India , ditunjuk-tunjuk gitu, dia nggak
> marah
> >  > kok. Masih santai aja.
> >  >
> >  > Setelah pertemuan dengan SBY itu, apakah Anda
> >  > ditegur, misalnya oleh orang KBRI?
> >  > Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang
> ribut
> >  > itu justru pegawai negeri (dari Indonesia) yang
> >  > tugas belajar ke India. Mereka pada marah.
> >  > Dibilangnya saya itu anak itik yang baru keluar
> dari
> >  > induknya, kaget. Padahal saya kan juga bukan
> baru
> >  > pertama kali ke luar negeri. Sebelumnya saya
> kan
> >  > juga sempat ikut summer course atau homestay
> gitu.
> >  > Tapi kan nggak kompatibel kalau membandingkan
> >  > Indonesia dengan negara-negara maju. Makanya
> >  > dibandingin dengan India .
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >
> >  >  Best Regards,
> >  >      Made D. Widyantara
> >  >
> >  >
> >  >
> __________________________________________________
> >  > Apakah Anda Yahoo!?
> >  > Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki
> >  > perlindungan terbaik terhadap spam
> >  > http://id.mail.yahoo.com
> >
> >
> >
> >  Martha Magdalena
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >  __________________________________________
> >  Yahoo! DSL � Something to write home about.
> >  Just $16.99/mo. or less.
> >  dsl.yahoo.com
> >
> >
> >  Sudahkah Anda mengunjungi
> http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
> >  *** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant
> QUALITY) ***
> >
> >
> >
> >  ________________________________
> >  YAHOO! GROUPS LINKS
> >
> >
> >  Visit your group "mm-ugm" on the web.
> >
> >  To unsubscribe from this group, send an email to:
> >  [EMAIL PROTECTED]
> >
> >  Your use of Yahoo! Groups is subject to the
> Yahoo! Terms of Service.
> >
> >  ________________________________
> >
> 



                
__________________________________________ 
Yahoo! DSL – Something to write home about. 
Just $16.99/mo. or less. 
dsl.yahoo.com 



Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) *** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mm-ugm/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke