|
Menurut saya, ada kemungkinan cara
bicara/menanya ke Presiden bisa2 lain dgn apa yg dikemukakannya ke
wartawan Gatra;
sebab dia agaknya tahu bahwa Presiden tidak
berkenan/marah, makanya waktu ber-bincang2 dgn wartawan "redaksi &/atau
nadanya" mungkin dibuat lain lah.
Jangan terkecoh antara substansi
pertanyaan (yg sangat mungkin bagus & benar=bahwa di India biaya sekolah
murah, nggak ada lift etc etc) dgn caranya mengemukakan
pertanyaannya.
SBY dikenal pemikir dan hati2 dlm
mengemukakan/bicara.
GS, angkatan 6/E/A-MM-UGM-Jakarta
----- Original Message -----
Sent: Friday, January 06, 2006 2:49
PM
Subject: [mm-ugm] Fw: Pertanyaan Tylla
kepada Presiden SBY konon membuat SBY marah
Made D Widyantara <[EMAIL PROTECTED]>
menulis:
Wawancara Tylla Subijantoro: Saya Tidak
Menjelekkan Bangsa
TYLLA Subijantoro, mahasiswi S-2 ilmu hukum
Universitas New Delhi, India, tiba-tiba mencuri perhatian. Pertanyaan
Tylla kepada Presiden Yudhoyono konon membuat SBY marah. "Saat
berdialog dengan masyarakat Indonesia di India, ada warga yang sejak
mulai bicara sampai selesai menjelek-jelekkan negeri kita dan memuji
luar negeri. Saya menyesalkan," kata SBY di Tanah Air.
Apa
yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada pertemuan 23 November lalu itu?
Berikut petikan perbincangan Tylla dengan Basfin Siregar dari
Gatra:
Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa
sendiri? Saya tidak terima dibilang menjelek-jelekkan bangsa!
Yang saya jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya membandingkan kebijakan
Pemerintah India dengan SBY. Saya lihat Pemerintah India memberi
subsidi gede banget untuk pendidikan. Adalah salah pemerintah kalau
pendidikan di Indonesia makin nggak
terjangkau!
Berapa uang kuliah Anda di India? Untuk
program S-2 dua tahun, saya cuma bayar US$ 600, sekitar Rp 6 juta. Itu
sudah all-in, sudah admission fee dan tuition fee
. Tinggal mikir biaya hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama
dengan di Jakarta. Uang US$ 600 itu pun karena saya foreigner
yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu dipakai buat subsidi
warga India asli. Kalau orang India yang kuliah, setahun bayarnya cuma
700 rupee, sekitar Rp 40.000.
Bagaimana dibandingkan dengan
biaya di Indonesia
? Tahun
lalu, saya mendaftar program notariat. Untuk semester pertama saja
habis Rp 50 juta.
Anda kaget ketika SBY
marah? Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan saya.
Melainkan karena waktu SBY ngasih penjelasan, eh, saya malah
bisik-bisik ke teman. Saya bilang, ''Ah, SBY mau ngomong apa,
nyatanya anaknya disekolahin ke luar negeri juga. Berarti dia
setuju pendidikan di luar negeri bagus.''
Reaksi SBY
bagaimana? SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget. Baru
sekali sekolah di luar negeri, kok, sudah sombong banget. Soalnya, SBY
bilang bahwa dia sudah sembilan kali sekolah di luar negeri, dan
pendidikan di Indonesia nggak jelek. Tapi kenyataannya, di
ranking dunia, pendidikan Indonesia kan nggak
masuk?
Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri
bagaimana? Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk,
manggut-manggut minta maaf. Terus saya perhatikan lagi. Tapi saya
bisik ke teman itu cuma beberapa detik aja kok. Sepanjang
sebelumnya saya juga memperhatikan penjelasan SBY.
Seperti
apa jawaban SBY waktu menjawab pertanyaan Anda? Ya pokoknya
pemerintah sudah bekerja, bahwa pendidikan di Indonesia tidak jelek.
Pendidikan di luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang lebih
jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus waktu menjawab soal
buku-buku murah, SBY bilang kalau pemerintah juga sudah menyiapkan
content (materi) untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa
kepake untuk sekian generasi. Teknis begitu. Itu kan
nggak nyambung dengan apa yang saya
sampaikan.
Seperti apa subsidi pendidikan di India?
Di sini, buku murah luar biasa, bahkan buku-buku impor karena
pemerintah memberi subsidi kertas! Selain itu pemerintah juga bikin
kerja sama dengan penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar
buku-buku mereka bisa dicetak di India , jadi bisa dijual lebih murah.
Buku-buku kuliah saya, kalau dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma
Rp 10.000. Kalau di Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp 2,5 juta
untuk beli buku saja. Dan karena subsidi kertas itu, harga langganan
koran juga murah. Saya itu langganan satu koran , satu majalah berita
semacam Gatra, dan satu majalah wanita. Nah, untuk langganan
tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110 rupee, atau sekitar Rp
22.000. Selain itu di India, pelajar dapat fasilitas kartu abonemen
yang harganya cuma 50 rupee, atau sekitar Rp 10.000, yang berlaku
selama empat bulan. Dengan kartu pas itu, selama empat bulan kita bisa
gratis naik bis pemerintah jurusan apa aja. Mau keliling-keliling
Delhi juga boleh. Meski bisnya bobrok, tapi nyaman. Berhentinya juga
cuma di halte. Kartu abonemen itu selain untuk pelajar, juga dikasih
untuk pegawai negeri, tentara, orang jompo dan physically
disabled (orang cacat). Itu untuk transportasi.
Tidak
takut dianggap melebih-lebihkan India ? Lho, justru karena saya
cinta bangsa Indonesia, saya ingin pemerintah belajar kepada India ..
Orang Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya, pemerintah tidak
bisa memfasilitasi pendidikan murah. Para insinyur di India mampu
bersaing untuk masuk di Microsoft. Sedangkan di Indonesia hanya
beberapa orang saja yang beruntung. Maka tolonglah pemerintah bikin
agar pendidikan itu affordable.
Tapi, pendidikan di
Indonesia kan ada juga bagusnya? Kalau mau jujur,
infrastrukturnya lebih bagus. Di kampus sudah ada lift, whiteboard
, pakai OHP. Kalau di sini enggak. Naik dari lantai I ke
lantai IV masih manual, masih pakai kapur tulis, terus nggak
ada AC. Tapi, kalau kualitas content-nya, kita
kurang.
Kalau pengajarnya bagaimana? Kalau di India
enaknya, dosen-dosen itu bisa dihubungi kapan saja. Kayak Amartya Sen,
peraih nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private session,
masih dilayanin. Nggak susah. Bahkan presidennya sendiri, Abdul
Kalam, dia juga mengajar, dan masih bisa ditelepon! Saya pernah bareng
mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam. Saya lihat Abdul Kalam
itu dikritik mahasiswanya yang orang India , ditunjuk-tunjuk gitu, dia
nggak marah kok. Masih santai aja.
Setelah pertemuan
dengan SBY itu, apakah Anda ditegur, misalnya oleh orang KBRI?
Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang ribut itu justru
pegawai negeri (dari Indonesia) yang tugas belajar ke
India. Mereka pada marah. Dibilangnya saya itu anak itik
yang baru keluar dari induknya, kaget. Padahal saya kan juga bukan
baru pertama kali ke luar negeri. Sebelumnya saya kan juga sempat ikut
summer course atau homestay gitu. Tapi kan
nggak kompatibel kalau membandingkan Indonesia dengan
negara-negara maju. Makanya dibandingin dengan India
.
|
|
Best
Regards,
Made D. Widyantara
__________________________________________________ Apakah Anda
Yahoo!? Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik
terhadap spam http://id.mail.yahoo.com
Sudahkah Anda mengunjungi http://www.kagama-mm.com/ hari ini?
*** THE TRADITION OF QUANTITY (Oops. We meant QUALITY) ***
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|