Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Saya punya artikel yang saya pikir cukup bagus, tapi sumbernya saya
rahasiakan yah!

Kalaulah harus putus asa Rosululloh SAW dan para sahabat layak putus
asa karena mereka menghadapi lahan da'wah yang tandus dan terjal.
Meski secara fisik bangsa Qurays hidup, namun hakikatnya mereka mati.
Kebenaran telah menjadi barang asing yang harus dienyahkan dan
kerusakan adalah hobi yang tidak bisa ditinggalkan. Bagaimana tidak,
khomer, judi, zina dan pembunuhan yang merupakan sumber kerusakan
dijadikan aqidah lekat dalam kehidupan. Namun di bawah timbunan lumpur
kedurhakaan tersimpan tambang keimanan nan menakjubkan. Kerja keras
tak kenal lelah, kecintaan yang dalam, kesabaran panjang dan
pengorbanan besarlah yang bisa mengangkatnya menjadi nilai tambang
yang mahal.  Kondisi umat manusia dibelahan bumi manapun pada hari itu
tidak berbeda prilaku, mereka tersesat dalam gelapnya jahiliyah.
Justru Rosululloh dan para sahabat menjadi tertantang diri untuk
membuktikan janjinya, bahwa mereka siap menjadi pahlawan sejati.

Putus asa, menganggap mereka ahli kesesatan, calon penghuni neraka dan
tak mungkin diperbaiki, bukan solusi bagi umat. Kami da'i bukan qodhi
yang mehakimi begitu nilai yang tertanam dalam sanubari para As
Saabiquunal Awwaluun. Mereka faham diri bahwa mereka menyeru umat
kepada kenikmatan, andaikan di awal waktu mereka mendapat perlawanan
pastilah di akhirnya mereka akan mendapat sambutan. Namun mereka sadar
bahwa da'wah tidak akan terasa nikmat bagi objek da'wah sebelum sang
da'i menikmatinya. Bermodalkan kebersihan hati, optimisme yang tak
kenal kata frustasi, semangat yang berkobar-kobar dan kerja yang tak
mengenal lelah membuat mereka mampu menikmati beban–beban da'wah.
Semakin besar tantangan da'wah, penikmatan mereka terhadap da'wah
semakin besar. Tidakkah kita melihat ungkapan nikmat Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah ketika menghadapi beragam ujian dalam jalan da'wah ? :
"Dipenjara kholwat, diusir rihlah dan dibunuh syahid sebagai syuhada".
Luapan robbani, getaran semangat, tajamnya keikhlasan, dan kenikmatan
yang terhunjam, membuat hancur karang kejahiliyahan.

Bagaimana jadinya andai para Da'i putus asa, mudah menghukumi dan
enggan membuka komunikasi, karena sudah menyimpulkan bahwa umat tak
kan pernah kembali ke jalan hidayah. Maka bisa dipastikan umat tak kan
pernah mendapat pencerahan iman, mereka tetap dalam kesesatan. Sejarah
pun tak kan pernah mencatat nama besar para du'at yang berjuang di
medan laga. Kebenaran lambat laun terkubur karena dia hanyak milik
segelintir orang. Sadarlah kita kini jadinya, kenapa Allah  SWT
memberikan motivasi besar kepada kita di balik tantangan kedurhakaan
para pendosa. Ketika kita berani menghadapi mereka kita bisa mengambil
setidaknya dua manfaat besar dari mereka, yaitu ma'dzirotan dan taqwa.
Namun ketika kita tidak berani berlaga menghadapi mereka maka
kebinasaan segera mendatangi kita. Bacalah firmanNya dalam surat Al
A'rof : 164

"Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa
kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab
mereka dengan azab yang Amat keras?" mereka menjawab: "Agar Kami
mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya
mereka bertakwa."

Bisa jadi kita tidak mengkafirkan saudara kita sesama muslim atau
tidak membid'ahkan mereka, karena kita memahami itu bukan fikroh
ikhwah. Namun bisa jadi kita mengurung diri dan memutuskan silatur
rahim. Kita lebih dekat dengan  masyarakat si "Ana" dan si "Antum"
tapi kita jauh dengan masyarakat "Gua" dan "Elu". Jangankan berjabat
tangan bertegur sapapun tidak. Betapa para akhwat jika bertemu sesama
mereka begitu hangat terasa. Mereka bisa cipika-cipiki (cium pipi
kanan-cium pipi kiri) namun ketika ketemu dengan Ikhwit (Perempuan
tidak berjilbab) jangankan cipika-cipiki, jabat tangan atau tegur
sapa, sekedar senyumpun tidak. Masyarakat menilai indah betul akhlaq
dan iman mereka, namun masyarakat hanya bisa menelan ludah karena
mereka sadar -bahwa mereka tak pernah merasakan semua kenikmatan tersebut.

Lebih repot lagi sebagian da'i tanpa sadar menyimpulkan bahwa
masyarakat memang sesat dan sulit untuk bisa diperbaiki. Ketika
bertemu dengan mereka yang ada antipati, tak ada usaha tak ada sapa
karena semua dianggap tak kan memiliki makna. Sadar atau tidak ada
sebagian orang menjadikan da'wah elitis dan tertutup, padahal
perbaikan tak kan pernah ada tanpa keterbukaan dan komunikasi.
Ketinggian nilai yang kita miliki sering membuat sebagian kita
menuntut pada orang lain bahwa mereka harus memahami kita. Padahal
sebuah pergerakan dianggap sukses manakala bisa memahami orang lain
dan mampu menghimpun mereka dibawah kendali pergerakan, bukan minta
difahami. Rosululloh SAW mendorong kita agar membangun jembatan hati
dengan masyarakat meskipun berisiko. Beliau bersabda : "Orang yang
bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka, itu lebih baik
daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar
atas gangguan mereka".

Memang berat terasa ketika kita harus berkomunikasi dengan orang yang
tidak satu fikroh. Namun fahamilah oleh kita bahwa mereka masih
memiliki hati mulia yang memungkinkan bagi tumbuh suburnya pohon iman.
Ketika Imam Syahid Hasan Al Banna merasakan keprihatinannya yang
mendalam tentang problematika umat beliau menemui Syaikh Azhar. Beliau
berkata : "Saya mengenal mereka di kedai-kedai kopi, di masjid-masjid,
dan di jalan-jalan, saya melihat nilai keimanan masih ada dalam dada
mereka. Namun kelalaian kita telah menyebabkan mereka menjadi santapan
kaum atheis dan liberalis". Apa komentar kita ketika melihat ribuan
pemuda harapan bangsa berseragam sama orange "Jack Mania" dengan
berjuta perilaku yang sangat asing bagi kita ?  Laisa minna, manusia
sesat, min ahli naar atau inilah ladang besar pahala yang menjanjikan.
Komentar inilah yang akan menentukan pensikapan kita terhadap mereka.
Prihatin memang melihat tampilan dan tampang mereka, laki atau
perempuan sama liar. Namun ketika kita perhatikan secara mendalam
terkadang terlontar dari lisan mereka : " Ya الله Ya 
Robbi" ya
ternyata memang mereka masih memiliki hati.

Tak berbeda dengan mereka ada sekelompok anak muda tergabung dalam
club motor, Jakarta Jupiter Club mereka menamakan dirinya. Hari-hari
mereka adalah hari hura-hura, laki perempuan berbaur dalam kegelapan
malam menyelusuri jalan mengikuti selera murahan, Tak ada guna tak ada
manfaat namun sungguh mereka merasa nikmat. Namun Raja (Sebutan untuk
ketua mereka) tersentuh fikroh da'wah, meskipun baru ngaji
keinginannya menyebar da'wah begitu tinggi. Ditengah malam yang gelap
disebuah lapangan bola dikumpulkan seluruh anak buahnya dan
diundangnya seorang ustadz untuk memberi tausiyah, tidak kurang dari
empat ratus orang hadir pada acara tersebut. "Kalau elu-elu pada capek
terus terang gua lebih capek dari elu semua, karena gua mikirin
elu-elu pada". : Begitu sang "Raja" mengawali pembukaannya. "Kalau
elu-elu pada pusing terus terang gua lebih pusing, makanya hari ini
gua bawa ustadz biar kita kagak pusing. Elu tau sound systim kita
rusak gua gak pengin suara ustadz juga rusak gara-gara elu pada
ngomong. Elu dengerin ustadz ceramah, jangan ada yang ngomong kalo elu
ngaku gua jadi Raja" : Demikian sang raja memukadimahi acaranya.

Tidak disangka sang "Raja" jalanan semuanya diam mendengarkan ceramah
sang ustadz, suasana hening dan khsuyu' menyelimuti mereka. Menjelang
akhir ceramahnya sang ustadz memberikan muhasabah, sebagian mereka
larut dalam suasana muhasabah bahkan sebagian  di antara mereka
menangis sesegukkan. Ya Allah ternyata mereka masih memiliki hati,
namun kami telah salah menghukumi.

Kirim email ke