Kalau harus menjelaskan kesan dari fenomena tarbiyah dalam satu kata
saja, saya akan menggunakan kata kunci : “sederhana”. Ya, tarbiyah
memang sebuah proses yang sangat sederhana, bersahaja, apa adanya, dan
begitu mudah untuk dipahami. Tidak ada rahasia macam-macam, tidak ada
resep khusus, tidak ada tips dan trik beraneka ragam yang bisa
diajukan. Tarbiyah memang semestinya tetap sederhana.

 

Kalau
Anda membaca risalah-risalah dakwah Hasan al-Banna, niscaya tidak akan
Anda temukan pembahasan yang berat-berat, meliputi pembicaraan semacam
filsafat, pemikiran dan semacamnya. Segala yang disampaikannya
sederhana dan mudah dipahami. Tapi mungkin memang itulah kunci
suksesnya.

 

Rasulullah saw. sendiri menjalankan proyek
dakwahnya dengan sangat sederhana. Apa yang tidak bisa dipahami? Tuhan
itu hanya satu, karena itu lupakan segala ketergantungan pada yang
lain. Kembali pada ajaran tauhid Nabi Ibrahim as. yang murni, lepaskan
diri dari segala bid’ah yang dipicu oleh hawa nafsu. Tinggalkan segala
keberingasan jahiliah, berhenti membunuhi anak-anak perempuan, dan
mulailah menjadi manusia yang baik. Sisihkan sebagian rizki buat orang
lain, peliharalah kejujuran dalam kondisi apa pun. Jangan banyak
mengeluh, karena kesabaran di dunia akan dibayar mahal dan tunai di
akhirat. Bagian mana dari ajaran Islam yang sulit dipahami?

 

Para
sahabat pun merespon dakwah Rasulullah saw. dengan cara yang amat
sederhana, bahkan boleh dibilang kekanak-kanakan. Ketika mereka
mendengar perintah untuk menyisihkan sebagian rizki yang didapatnya,
mereka langsung gelisah memikirkan rizki yang mana yang sebenarnya
merupakan jatah orang lain. Saking gelisahnya sampai-sampai Abu Bakar
ra. memutuskan untuk menyedekahkan saja semua hartanya di jalan Allah.
Mereka menerima perintah apa adanya, dengan pengertian yang paling
sederhana. Demikianlah generasi terbaik.

 

Mereka yang
tidak berpunya mengadukan kegundahan hatinya pada Rasulullah saw. Jika
memang begitu besar keutamaan sedekah, maka orang-orang miskin adalah
pihak yang paling buruk nasibnya. Begitu sederhana cara mereka merespon
perintah Allah, dan sederhana pula solusinya : setiap orang tidak
dibebani melainkan menurut kemampuannya masing-masing. Banyak harta
artinya banyak kewajiban. Kalau tidak punya harta, setidaknya masih ada
tenaga dan jiwa untuk dibaktikan di jalan yang benar.

 

Datang
pula para Muslimah kepada Rasulullah saw. dengan pikirannya yang amat
sederhana. Kaum lelaki mendapatkan banyak keutamaan dengan mencari
nafkah dan jihad di jalan Allah ; lalu bagaimana nasib para Muslimah
yang memfokuskan hidupnya untuk keluarga? Rupa-rupanya Islam memang
telah mengadakan pembagian tugas yang amat jelas bagi lelaki dan
perempuan. Para Muslimah tidak dibebani kewajiban untuk mencari nafkah
dan ber-jihad karena mereka memiliki tugas yang sangat besar, yaitu
memastikan kontinuitas dakwah dengan melahirkan dan membesarkan
kader-kader handal yang akan mengharumkan bumi dengan kebaikan. Dari
merekalah lahir orang-orang besar, dan kepada mereka pulalah para
pejuang Islam mencari ketentraman hati.

 

Betapa
sederhananya cara para sahabat merespon dakwah Rasulullah saw. Mereka
mulai segala sesuatunya dengan cara yang paling sederhana. Setiap ayat
yang mereka simak dari lisan Rasulullah saw. dicerna sedapat mungkin,
dihapalkan, dipelajari, kemudian diamalkan. Mereka tidak malu melakukan
amal sekecil apa pun, karena yakin bahwa kebaikan secuil pun akan
menggunung jika dilakukan secara konsisten. Ketika melihat Rasulullah
saw. shalat, mereka pun shalat. Qiyamul lail biar dua rakaat pun tak
mengapa ; hanya hapal surah Al-Ikhlash dan An-Naas pun tak masalah.
Bahkan orang pedalaman yang mengira dirinya wajar untuk kencing di
dalam Masjid pun menerima ajaran Rasulullah saw. secara bertahap.

 

Begitulah
tarbiyah, segalanya serba sederhana. Tarbiyah bukan berarti harus
langsung berjilbab panjang, harus langsung tilawah 1 juz per hari,
harus langsung shalat Dhuha setiap hari, dan sebagainya. Satu-satunya
‘yang harus’ adalah memiliki aqidah yang benar, yaitu yang berdasarkan
tauhidullah. Kalau syarat ini sudah dipenuhi, maka ia berhak menerima
tarbiyah. Tidak perlu mencibir kekurangannya, karena justru kekurangan
pribadi itulah yang menyebabkan tarbiyah itu urgen bagi setiap Muslim.

 

Akhir-akhir
ini saya menjumpai kader tarbiyah yang tidak lagi sederhana pikirannya.
Ketika bicara tarbiyah yang muncul dalam pikiran hanya partai. Ada
akhwat yang tadinya tidak berjilbab kini mengenakan jilbab yang
‘mencekik leher’, tapi masih juga dipandang sinis. Padahal, untuk
sebuah langkah itu saja, ia mesti menempuh banyak rintangan, termasuk
orang tua yang pikirannya masih sekuler. Ia sudah mati-matian
men-tarbiyah dirinya sendiri, tapi apa dinyana saudara-saudaranya
sendiri tidak memberi dukungan yang wajar didapatnya. Ada kader dakwah
yang memandang segala sesuatunya dengan serba apatis. Bagaimana mau
dakwah kalau objek dakwahnya tidak mau mendengar? Bagaimana mau menebar
kebaikan jika negara tidak mendukung? Bagaimana mau memperbaiki nasib
jika intelektualitas umat begitu rendah? Bagaimana umat mau diterima
doanya kalau rizkinya masih berasal dari yang haram dan syubhat?
Bagaimana mau maju kalau ekonomi umat terpuruk terus? Padahal
pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah : apa yang akan kita
dakwahkan kalau segalanya sudah serba ideal?

 

Hasan
al-Banna adalah seorang lelaki yang amat sederhana, menggunakan pola
pikir yang amat sederhana, dan memandang segala sesuatunya dengan amat
sederhana. Ia mendirikan organisasi berdasarkan konsep yang amat
sederhana, dan dengan sangat bersahajanya dipilihkanlah nama : Ikhwanul
Muslimin. Pesan dari nama ini begitu kuat namun mudah dipahami : setiap
Muslim itu bersaudara. Inilah semangat yang menjadi karakter dalam
dakwahnya. Sederhana, bukan? Memang, tapi justru yang seperti inilah
yang dulu sempat membuat kekuatan zionis ketar-ketir.

http://akmal.multiply.com/journal/item/614/Tarbiyah_Itu_Sederhana_Saja
      


      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

Kirim email ke