*PKS PARTAI TERBUKA?
*Link : http://akmal.multiply.com/journal/item/796


assalaamu’alaikum



 wr. wb.



Banyak yang terperangah mendengar salah satu 
hasil Munas ke-2 PKS yang
menyatakan PKS sebagai partai terbuka; 
terbuka untuk segala suku, latar
belakang, bahkan agama.  Selama ini,
 PKS dikenal sebagai partai Islam,
bahkan partai dakwah.  Sulit 
membayangkan suatu hari nanti PKS akan dipimpin
oleh orang-orang 
Non-Muslim.



Orang bisa larut dalam imajinasinya 
sendiri-sendiri.  Struktur PKS memang
kental dengan 'aroma’ Islam.  
Entah apa jadinya jika suatu hari nanti posisi
ust. Surahman Hidayat 
sebagai Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) digantikan
oleh seseorang 
yang nama depannya Fransiscus Xaverius, atau seorang doktor
lulusan 
sekolah teologi.  Entah bagaimana menjelaskan kepada publik jika
Majelis



 Syuro diisi dengan orang-orang Non-Muslim, sementara ”syuro” itu
sendiri



 merupakan istilah yang tak mungkin dipahami tanpa menggunakan *
worldview*



 Islam.



Paling tidak ada dua 'tikungan' yang telah 
diambil oleh PKS sebelumnya, yang
harus kita pahami bersama sebelum 
mencerna hasil Munas yang satu ini.  Pertama,
ketika dakwah mengambil
 bentuknya dalam wujud sebuah partai politik.  Ketika
hal itu 
terjadi, maka para *da’i* harus benar-benar siap mengurus negara,
mulai

 dari level tertinggi hingga yang paling rendah, baik urusan Muslim
maupun



 Non-Muslim.  Kedua, ketika parpol ini dijadikan entitas yang
menyeluruh



 yang dapat mewakili dakwah itu sendiri.  Dengan demikian, bukan
dakwah



 yang dibatasi oleh bentuk sebuah parpol, melainkan batasan-batasan
parpol



 itulah yang kita tarik seluas-luasnya sehingga memiliki daya jangkau
yang



 sesuai dengan tabiat dakwah.  Tabiat dakwah, sebagaimana penjelasan
ust.



 Surahman Hidayat dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi
swasta,



 adalah "mengakses semua dan untuk semua!"



Tidak mudah 
mengejawantahkan prinsip *rahmatan lil ’aalamiin*, yang
merupakan 
inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh ust. Surahman di atas.
Rasulullah



 saw. adalah *rahmatan lil 'aalamiin*, demikian juga agama ini,
namun
 umatnya belum tentu.  Jangankan untuk membawa kebaikan bagi umat lain,
mencukupi



 kebutuhan sendiri pun masih banyak yang belum mampu.



Kita



 belum sampai pada masa-masa seperti ketika orang-orang Nasrani dan
Yahudi



 berbondong-bondong datang ke universitas di Spanyol
 untuk menuntut
ilmu. 

 Kita belum tiba pada masa-masa ketika orang Yahudi
 meminta agar
pasukan

 Islam memasuki negerinya dan menumbangkan pemerintahan yang 100%
Yahudi,



 karena mereka tahu bahwa orang akan hidup lebih sejahtera di bawah
pemerintahan



 Islam.  Berapakah di antara para *da'i* masa kini yang mau
menyuapi 
orang tua Yahudi yang buta, renta dan bermulut kotor sebagaimana
Rasulullah



 saw. dan Abu Bakar
 ra. melakukannya dahulu?



Banyak yang 
bicara soal *rahmatan lil ’aalamiin* namun pola pikirnya masih
diliputi



 dendam.  Ketika bicara soal Yahudi dan Nasrani, maka landasan
berpikirnya



 adalah Q.S. 2:120, sehingga ia memandang mereka dengan tatapan
curiga,



 bahkan benci.  Padahal golongan Ahli Kitab adalah objek dakwah
Rasulullah



 saw. yang paling utama, karena mereka mewarisi sebagian dari
ajaran-ajaran



 para Nabi terdahulu.  Baik di Mekkah maupun Madinah,
Rasulullah
 saw.
 tak pernah canggung bergaul dengan orang-orang Yahudi dan
Nasrani.  
Mereka pun mengenalnya sebagai Al-Amin (orang yang
dipercaya).  
Sebutan
ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. telah benar-benar 
berhasil menjadi
rahmat Allah kepada seluruh alam.



Hal
 berikutnya yang harus kita pahami adalah bahwa dakwah itu sendiri 
sangat
luas spektrumnya, sebagaimana syariat Islam pun sangatlah 
luas.  Seorang
Non-Muslim yang berbuat baik tidak bisa dikatakan 
berdakwah, namun sama
sekali tidak ada larangan untuk mengajak mereka
 melakukan tugas-tugas
tertentu dalam proyek dakwah tersebut.  
Misalnya dalam hal penanganan
bencana dan pemberian pertolongan 
terhadap korban-korbannya, maka hal ini
pun termasuk dalam kerja 
dakwah, dan juga termasuk dalam tugas-tugas yang
bisa diemban oleh 
orang-orang Non-Muslim.



Meski demikian, kita juga harus 
ingat bahwa sisi lain dari masalah ini
adalah adanya  ketegasan 
mengenai hal-hal tertentu yang tak boleh ditangani
oleh Non-Muslim.  
Batasan ini tentu dapat kita pahami dengan jelas.
Sebagaimana
yang
 telah ditegaskan oleh ust. Hilmi Aminuddin, Islam adalah
identitas 
PKS<http://www.munaspks.info/files/download/dglcbu.jpg>,
dan



 identitas ini takkan diganti untuk selamanya.  Adapun dalam kerja
membangun



 negeri, maka sudah sewajarnya umat Non-Muslim turut serta.



Seputar



 'keterbukaan' PKS ini, paling tidak ada dua hal yang sangat menarik
untuk



 kita dalami bersama.  *Pertama*, jika menggunakan kaca mata politik
konvensional



 yang serba pragmatis, maka orang bisa saja menuduh bahwa isu
ini 
diluncurkan PKS sebagai sebuah *move* politik untuk mendapatkan suara
lebih



 banyak dari kalangan Non-Muslim.  Akan tetapi, fakta di lapangan
menunjukkan



 bahwa bukanlah PKS yang mencari-cari suara, melainkan kalangan
Non-Muslim



 itulah yang tertarik pada PKS.  Laman situs Gatra telah
memuat 
sebuah
artikel menarik <http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=139144>



 yang
perlu kita cermati bersama, menceritakan tentang beberapa orang
 yang
memutuskan untuk bergabung dalam gerbong PKS, meskipun mereka 
tahu betul
bahwa PKS adalah partai Islam, sedangkan mereka tidak 
beragama Islam.  Dari
sisi ini, dapat kita katakan bahwa PKS telah 
berhasil mengejawantahkan
dirinya sebagai *rahmatan lil 'aalamiin* 
(tentunya dengan segala
keterbatasan dan kekurangannya) sehingga umat
 Non-Muslim pun bisa merasakan
manfaat dari keberadaannya, bahkan 
mereka ingin terlibat di dalamnya.



*Kedua*, gelombang 
keterkejutan dan penolakan terhadap isu keterbukaan
sekarang ini 
justru menjadi argumen yang menunjukkan kesalahannya
sendiri.  Jika
orang



 mengatakan bahwa sejak Munas ke-2 ini PKS telah berubah, maka itu
artinya



 ia telah menyatakan bahwa keterbukaan PKS tidak menjadikannya
berubah. 



 Sebab, PKS sebenarnya telah terbuka sejak dulu, bahkan kader
Non-Muslim



 telah eksis sejak jamannya PK dahulu.  Jika orang-orang baru
ribut 
sekarang, setelah keberadaan kader-kader Non-Muslim diatur (dan
dibatasi)



 dalam AD/ART PKS yang terbaru, maka itu artinya mereka tidak
merasakan



 perubahan pada periode 1998-2009 yang lalu, padahal sejak
masa-masa 
itu, PK dan PKS telah memiliki kader-kader Non-Muslim.  Kekagetan
yang



 dialami oleh sebagian pihak membuktikan bahwa selama ini PKS tetap
mampu



 menjalankan agenda dakwah meskipun ada kader-kader Non-Muslim,
sekaligus



 juga membuktikan bahwa mereka yang kaget sebelumnya tidak memahami
seluk-beluk



 struktur dan jenjang kaderisasi PKS yang sebenarnya.



wassalaamu’alaikum



 wr. wb.



Other links :
http://www.munaspks.info/files/download/dglcbu.jpg
http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=139144

SMILE,    Riyand
R. Mochammad Diyandaru
IT Consultant and Trainer


      

Kirim email ke