kalau dipikir2, siapa aja sih yg ngotot membikin UU ini? hhhmmmm....munafik was 
started by 'them' in grand scale.

--- On Sun, 9/14/08, imam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: imam <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [nonamanis] Sungguh Memualkan
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, September 14, 2008, 10:54 PM







Di sebuah koran gurem, saya membaca  RUU Pornografi akan segera ditandatangani. 
Di TVOne saya membaca budayawan Bali kembali menolak RUU 'porno' ini. Saya 
pikir, penolakan itu wajar. Saya yakin, mayoritas publik menyetujui adanya Porn 
Act, supaya tidak ada kerancuan tentang definisi porno. Supaya tidak ada lagi 
perempuan yang membawa nama negara berlaga di ajang bergengsi dunia malah 
dihujat kelompok anarkis. Supaya tidak ada lagi model yang berfoto secara 
profesional di majalah dewasa malah dituding porno. Tapi bukan dengan RUU 
'porno' yang isinya amburadul begini.

Seorang rekan dari milis tetangga menyebut DPR saat ini sudah tidak punya 
kredibilitas untuk bicara soal 'moralitas', bicara soal 'mengatur moral rakyat 
dari pornografi'. Toh muka DPR sendiri sudah coreng moreng dengan beragam 
skandal, dari skandal korupsi hingga skandal seks. Eloknya, pembahasan RUU 
Pornografi ditunda hingga terpilihnya DPR baru nanti dengan harapan publik akan 
mendapat RUU Pornografi yang lebih cerdas.

Pornografi berasal dari bahasa Yunani yang secara garis besar berarti gambar 
yang merefleksikan pelacuran. Mengingat arti dasarnya itu, di negara-negara 
maju gambar bugil seorang model sama sekali tidak dimasukkan dalam konten 
pornografi melainkan konten dewasa. Ada beda mendasar antara pornografi dan 
konten adult. Pornografi bersifat menjijikkan karena berkonotasi pelacur, 
sementara konten adult adalah konten terhormat yang legal dikonsumsi oleh 
konsumen yang telah memenuhi umur tertentu. Tidak heran, jika banyak selebriti 
top dunia (atlet, artis, model, singer) yang enjoy berbugil di salah satu 
majalah paling bergengsi di dunia itu. Tidak heran pula, jika banyak 
tokoh-tokoh kelas berat dunia yang bangga mengisi rubrik wawancara di majalah 
pria terbesar di dunia itu.

Sementara di sini, definisi pornografi sangatlah hipokrit. Swimsuit one piece 
di majalah dewasa saja dituding porno. Aroma kemunafikan amatlah kental. Banyak 
orang yang ringan mulut di depan publik menyumpahi konten-konten sensual, 
padahal dalam hati senangnya bukan main. Tangan satu ditunjukkan di depan 
menuding-nuding porno, sementara tangan lain disembunyikan di belakang punggung 
memegang majalah dewasa. Tidak heran bila seorang budayawan menempatkan sifat 
munafik di peringkat pertama sifat bangsa ini. Sungguh memualkan.

Wassalam 














      

Kirim email ke