Terbaca dari RUU tersebut bahwa orang-orang yang ngotot menggolkan RUU ini
adalah orang2 yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu dan birahi..! sampai
hal2 kecil yang masyarakat normal tidak merasa itu mengundang birahi akan
dikontrol... betul2 munafik dan menghancurkan budaya Indonesia

ayo kita LAWAN!


2008/9/17 Adhi Sarwanto <[EMAIL PROTECTED]>

>   kalau dipikir2, siapa aja sih yg ngotot membikin UU ini?
> hhhmmmm....munafik was started by 'them' in grand scale.
>
> --- On *Sun, 9/14/08, imam <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> From: imam <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [nonamanis] Sungguh Memualkan
> To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
> Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
> Date: Sunday, September 14, 2008, 10:54 PM
>
>   Di sebuah koran gurem, saya membaca  RUU Pornografi akan segera
> ditandatangani. Di TVOne saya membaca budayawan Bali kembali menolak RUU
> 'porno' ini. Saya pikir, penolakan itu wajar. Saya yakin, mayoritas publik
> menyetujui adanya Porn Act, supaya tidak ada kerancuan tentang definisi
> porno. Supaya tidak ada lagi perempuan yang membawa nama negara berlaga di
> ajang bergengsi dunia malah dihujat kelompok anarkis. Supaya tidak ada lagi
> model yang berfoto secara profesional di majalah dewasa malah dituding
> porno. Tapi bukan dengan RUU 'porno' yang isinya amburadul begini.
>
> Seorang rekan dari milis tetangga menyebut DPR saat ini sudah tidak punya
> kredibilitas untuk bicara soal 'moralitas', bicara soal 'mengatur moral
> rakyat dari pornografi'. Toh muka DPR sendiri sudah coreng moreng dengan
> beragam skandal, dari skandal korupsi hingga skandal seks. Eloknya,
> pembahasan RUU Pornografi ditunda hingga terpilihnya DPR baru nanti dengan
> harapan publik akan mendapat RUU Pornografi yang lebih cerdas.
>
> Pornografi berasal dari bahasa Yunani yang secara garis besar berarti
> gambar yang merefleksikan pelacuran. Mengingat arti dasarnya itu, di
> negara-negara maju gambar bugil seorang model sama sekali tidak dimasukkan
> dalam konten pornografi melainkan konten dewasa. Ada beda mendasar antara
> pornografi dan konten adult. Pornografi bersifat menjijikkan karena
> berkonotasi pelacur, sementara konten adult adalah konten terhormat yang
> legal dikonsumsi oleh konsumen yang telah memenuhi umur tertentu. Tidak
> heran, jika banyak selebriti top dunia (atlet, artis, model, singer) yang
> enjoy berbugil di salah satu majalah paling bergengsi di dunia itu. Tidak
> heran pula, jika banyak tokoh-tokoh kelas berat dunia yang bangga mengisi
> rubrik wawancara di majalah pria terbesar di dunia itu.
>
> Sementara di sini, definisi pornografi sangatlah hipokrit. Swimsuit one
> piece di majalah dewasa saja dituding porno. Aroma kemunafikan amatlah
> kental. Banyak orang yang ringan mulut di depan publik menyumpahi
> konten-konten sensual, padahal dalam hati senangnya bukan main. Tangan satu
> ditunjukkan di depan menuding-nuding porno, sementara tangan lain
> disembunyikan di belakang punggung memegang majalah dewasa. Tidak heran bila
> seorang budayawan menempatkan sifat munafik di peringkat pertama sifat
> bangsa ini. Sungguh memualkan.
>
> Wassalam
>
>
>  
>



-- 
http://www.facebook.com/people/Radhita_Widyatama/718178498

"there is no school like the old school..!" - the incredibles (2004)

Kirim email ke