mas dodo.
 
saya hampir pada satu asumsi makna kritik pasca dan setelah orba, ternyata betul kata Arief Budiman bahwa kartun itu mirip-mirip para punakawan, juga Alm. Mbah Mangunwijaya bilang, Kartun itu ibarat kincir angin, dimana ia bisa menyejukan suasana yang tiba-tiba panas menjadi dingin lewat satir-satirnya.
saya juga melihat bahwa kartun sekarang cenderung lebih emosional dibanding sebelum reformasi, mungkin karena rebutan teriak. setuju nggak. kalo kartun zaman orba lebih berani dari era reformasi, bagaimanapun juga hantu breidel saat itu sangat sakti mandarguna, jadi mereka para kartunis meski mengeluarkan jurus "halimunan" supaya nggak keliatan, nah .. kalo sekarang beda ... gimana tuh ?!!
 
tabik

dodo karundeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Mun,

Jaman orba kartunis harus berhati-hati untuk menampilkan opininya, karena
takut kalau pihak penguasa tersinggung -- bisa-bisa koran atau majalah
tempat dia bekerja bisa dibredel. Jadi mereka para kartunis punya mekanisme
pertahan sendiri, dengan motto yang sering didengung-dengungkan oleh para
kartunis jaman Pram, GM Su, dan para penguasa yaitu "Ngono ya ngono tapi ya
ojo ngono" (begitu ya begitu tapi jangan begitu). Jadilah muncul gambar
kartun yang penuh tepo seliro (tenggang rasa). Para kartunis yang berkreasi
jaman orba sudah terlatih untuk pintar bermain akrobat guna menghindari
pihak yang sangat otoriter alias mau menang sendiri. Nah pasca orba, kita
sekarang bisa mengekspresikan diri dengan bebas. Tapi mungkin, masih ada
sisa trauma jaman orba, dan kebebasan terkekang terlalu lama, pendidikan
yang mengajarkan berpikir sangat seragam, sehingga para kartunis lagi harus
mengejar ketinggalan. Boro-boro mau tau apa itu "semiotika"??? Kartun mereka
bisa dimuat di koran atau majalah aja, itu sudah seneng.

Salam, semoga skripsi cepet jadi mas.

dk



From :  Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]>

Perkenelken Saya member baru milist Pakarti, saya
bukan kartunis atau orang yang njago gambar, tapi saya
seneng lihat gambar-gambar yang dibikin oleh kartunis.

Saya sedang mempreteli gambar-gambar kartun pasca orde
baru jadi skripsi. saya bedah gambar karun dengan
semiotika, mana yang lebih berani kartun zaman orde
baru atau zaman reformasi, melihat dari konteks sos,
bud, pol-nya 

Saya pengin tau dari para kartunis, apa yang
membedakan kartun pasca orde baru dan pada masa orde
baru dari ekspresinya, lebih berani mana ?

tabik, maturnuwon

_________________________________________________________________
FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now!
http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
What would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer in the arts today at Network for Good.
--------------------------------------------------------------------~->


Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/pakarti/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

SPONSORED LINKS
Comic strip


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke