Ini berita lamo dari Kompas.
Kiro-kiro bisa ndak yahh??? Pemda awak (Sum-bar) bisa mamintak atau
menduplikasikan Naskah Klasik Minang nan ratusan jumlahnyo ko untuak di baok
ka kampuang untuak diketahui oleh anak kamanakan nan semakin hari semakin
jauh dengan sejarah dan adat-istiadat Minang??

Sangek disayangkan???
Ataukah ado dunsanak nan ado keinginan untuak maambiak atau maminjam pusako
niniak moyang awak nan tak ternilai harganya ini???
------------------------

490 Naskah Klasik Minangkabau Tersimpan di Leiden

Padang, Kompas
Sebanyak 490 naskah klasik Minangkabau, atau Sumatera Barat tempo dulu, kini
masih tersimpan di Universiteit Bibliothek Leiden, Belanda. Naskah tersebut
tidak bisa dibawa ke Sumatera Barat karena belum ada museum yang
representatif, yang bisa menyelamatkan naskah-naskah yang sudah melapuk itu.

Namun demikian, di Ranah Minangkabau sendiri masih terdapat banyak naskah
lainnya yang disimpan oleh perorangan atau kaum sebagai pusaka tinggi.
Sayangnya, naskah klasik yang umumnya berupa tambo dan kaba itu sulit
diminta untuk disimpan di museum.

Kenyataan itu diungkapkan ahli sastra Minang Universitas Andalas, Padang,
Adriyetti Amir, menjelang digelarnya simposium internasional "Masyarakat
Pernaskahan Nusantara (Manassa)" pada 28-31 Juli mendatang. "Terbatasnya
kajian-kajian tentang Minangkabau karena referensi yang ada di Sumbar atau
di Indonesia sangat terbatas. Sedang untuk ke Belanda, memerlukan biaya
besar," katanya di Padang, Sabtu (23/6).

Dikemukakan, daerah yang memiliki naskah klasik Minangkabau yang patut
dikaji antara lain di Pariaman (naskah Nazam, Nabi Bercukur), Sawahlunto
(tambo Silsilah Raja-raja), Padang Panjang (dengan Pariangannya), dan
Pesisir Selatan. Pusat penulisan naskah klasik Minang pada masa lampau
adalah di surau, karena di suraulah berlangsungnya proses belajar.

"Tambo-tambo klasik Minangkabau tersebut merupakan saksi kecendekiaan dan
kearifan pemikiran masyarakat kala itu. Untuk itu, perlu dikaji nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya, seperti nilai kultural dan religi
masyarakatnya," tambah Adriyetti Amir.

Simposium internasional ke-5 yang digelar di Padang itu, demikian Adriyetti
yang juga ketua panitia pelaksana, diarahkan pada pengkajian naskah yang
lebih mendalam, serta mencari upaya untuk mengapungkan pemikiran dan
kearifan yang dikandung oleh suatu naskah. Karena naskah merupakan saksi
kecendekiaan dan kearifan masyarakat pemiliknya.

Hal itu disadari karena kecenderungan selama ini naskah nusantara dijadikan
"ajang penerapan" teori-teori yang datang dari Barat, Eropa atau Amerika.
Akibatnya, nilai-nilai kultural dan religi yang dikandung sebuah naskah
tidak terungkapkan secara semestinya.

Oleh karena itu, simposium yang digelar di Universitas Andalas, Padang, itu
akan mengangkat tema penelitian naskah Nusantara dari sudut pandang
kebudayaan Nusantara. Simposium diharapkan nantinya dapat menghasilkan suatu
teori dan metode penelitian naskah, khususnya naskah Nusantara.

Beberapa ahli yang akan tampil sebagai narasumber, yaitu Dr Roger Tol dan
Suryadi (Universitas Leiden), Prof Dr Edy Sedyawati dan Prof Sapardi Djoko
Damono (Universitas Indonesia, Jakarta), Dr Noriah Mohamet (Malaysia), Prof
Dr Awang bin Ahmad dan Dr Ampuan Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah (Brunei
Darussalam), serta Adriyetti Amir dan M Yusuf (Universitas Andalas, Padang).
(nal)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke