Tajuk Rencana : Sumbar dan Pilpres http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=651
Kamis, 16-September-2004, 04:47:50 0 klik Tanggal 20 September semakin dekat.Pertanda waktu bagi rakyat untuk memilih pemimpin bangsanya tinggal menghitung hari. Di Sumatera Barat, hingga kemarin gema Pilpres putaran II ini terkesan biasa-biasa saja. Tak ada heboh-heboh. Apakah itu pertanda masyarakat Sumatera Barat tak respons? Mencermati kondisi lapangan, pertanyaan terhadap situasi yang berkembang agaknya bukan soal respons atau tidak respons. Namun, penyebabnya lebih pada situasi. Misalnya, tidak adanya kegiatan kampanye yang melibatkan orang banyak. Sebagaimana kampanye-kampanye Pilpres putaran I atau kampanye legislatif. Seperti diketahui, untuk Pilpres II, kedua pasang kandidat lebih diarahkan pada penajaman visi. Dan, kampanyenya sebagaimana diwadahi KPU hanya ada di televisi dengan audiensi yang terbatas. Di Sumatera Barat, berdasarkan data KPU Sumbar, jumlah pemilih tercatat 2.0912 orang. Jumlah ini sedikit berkurang dibanding dengan Pilpres I. Ketika itu, pemilihnya mencapai 2.0928 orang. Berkurangnya jumlah pemilih di antaranya karena ada yang pindah ke daerah lain, termasuk tamatan SLTA yang mendapat kesempatan kuliah di perguruan tinggi luar Sumatera Barat. Menyangkut jumlah pemilih, dibanding dengan daerah lain, suara Sumatera Barat tak begitu signifikan. Artinya, tak bisa dibanding dengan suara di provinsi di Pulau Jawa. Namun demikian, satu suara dalam sebuah pesta yang bernama pemilu bernilai sangat penting. Apalagi, berdasarkan pengamatan sementara "perang" kedua kubu capres diperkirakan berjalan ketat dan alot. Kalau menang, ya menang tipis. Sebaliknya yang kalah ya kalah tipis. Dalam situasi begini, sekali lagi satu suara benar-benar sangat berharga. Mengapa penting menggunakan hak pilih? Itu adalah hak politik. Sebagai anak bangsa meski secara emosional kedua pasang capres tidak ada yang berasal dari Minang, tapi sumando dan pasumandan, namun merekalah pada saat sekarang yang menjadi kandidat. Dengan demikian, kita wajib melaksanakan hak pilih. Terlepas apakah keberadaan para capres dan pasangannya menjadi kebutuhan bangsa hari ini apa tidak, yang jelas mereka telah melewati proses pemilihan secara demokrasi sejak awal. Siapapun yang terpilih kelak, akan menentukan arah perjalanan bangsa. Sebab, berbeda dengan kepemimpinan periode sebelumnya yang dibekali GBHN oleh MPR, sekarang GBHN-nya adalah visi dan misi yang diusung para capres dan wapres. Selanjutnya, yang perlu kita stressing menyambut 20 September, jangan ada golput di antara kita. Mengapa itu kita garisbawahi? Nama putra-putri Sumatera Barat telah terpahat dalam tinta emas perjuangan bangsa. Mereka-putraputri-Minang telah ikut mendirikan negara ini. Adalah tanggung jawab kita sebagai pewaris untuk melanjutkannya, mengisi dan mengawal republik ini. Hanya memilih, bukan? Tak ada paksaan, tanpa ada tekanan. Masyarakat Sumatera Barat jangan sampai masuk golongan putih. Itu namanya kita telah kehilangan hak pilih. Bahkan seolah-olah kita tak berdaya? Cukuplah kasus korupsi berjemaah wakil-wakil rakyat yang telah membuat langit mendung di negeri ini. Ke depan, mari kita tangkap secara cerdas proses pemilihan pemimpin bangsa kali ini, sebagai upaya membangkitkan kembali "roh" putraputri Minang ke kancah politik nasional. *** ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

