Pariswisata Belum Tertata * Visit Minangkabau, Ujian Bagi Sumbar Jumat, 17-September-2004, 06:10:54 30 klik http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=750&PHPS ESSID=1a88de1c53481325d0dd564d45e0d078
Padang, Padek-Visit Minangkabau 2005 merupakan ujian bagi Sumatera Barat. Bila program tersebut sukses maka akan terjadi peningkatan kunjungan wisata ke daerah ini, sebaliknya bila gagal akan menjadi bumerang untuk pengembangan wisata Sumbar pada masa mendatang. Penilaian itu disampaikan pelaku wisata, General Manajer Hotel Bumiminang, Rizal, didampingi Emir Yahya, Direktur Pemasaran Hotel Sedona Bumiminang, dan praktisi wisata asal Malaysia yang juga Distric Manager Malaysia Airlines, Abdul Karim MD ISA dalam perbincangannya dengan koran ini di Bumiminang, Kamis (16/9). Pembenahan pariwisata Sumbar kata Rizal, ibarat tamu diundang ke rumah, sementara rumah kita basilemak peak akibat belum lahirnya sadar wisata untuk seluruh komponen, mulai dari masyarakat, pemerintah hingga pelaku wisata. Akibatnya, muncul sejumlah masalah yang lahir dalam bentuk ketidakteraturan sistem layanan taksi, ketidaksiapan layanan masyarakat pedagang hingga penyedia penginapan. Sementara, penataan kawasan wisata pun tidak siap, mengakibatkan sejumlah kawasan wisata semrawut dan penuh dengan praktek yang menimbulkan ketidaknyamanan wisatawan. "Bila kondisi internal ini tidak dibenahi, wisata Sumbar akan berjalan lamban. Tanpa kenyamanan, ditawari gratis pun wisatawan enggan, apalagi cost tak terduga yang muncul dari tukang parkir, tukang WC yang menimbulkan image buruknya citra pariwisata Sumbar," ungkapnya. Bila sadar wisata ini tidak diosialisasikan menjelang hadirnya tahun kunjungan tersebut, putera Padangpanjang yang sudah berpengalaman dalam dunia wisata di sejumlah daerah ini pepsimis wisata Sumbar akan berkembang. Sebab, maunya wisatawan berkunjung tak cukup dengan keindahan alam saja, tetapai bagaimana kenyamanan dan sarana prasarana yang tersedia. Bila sosialisasi tak dilakukan, dan semua komponen dirangkul untuk satu visi dalam memajukan dunia wisata maka program yang diluncurkan hanya akan menghamburkan dana. "Benahi dulu di dalam, baru kita jual pariwisata kita ke luar," ujarnya. Sikap memprihatinkan masyarakat akibat belum sadar wisata ini, diamatinya, melahirkan kebiasaan aji mumpung dan hanya berorientasi kepada keuntungan bisnis jangka pendek, tak sedikit dalam prakteknya melukai wisatawan yang berkunjung ke Sumbar. Mulai dari permainan tarif, sehingga pengunjung harus berhadapan dengan layanan taksi, penginapan dan sarana belanja yang belum memadai. Privacy wisatawan, terutama kalangan asing pun kadang terganggu karena kebiasaan sebahagian masyarakat menonton gerak-gerik turis. "Bukannya masyarakat kita tak mau menerima wisatawan, tetapi kita belum satu visi seperti apa dalam pembangunan dunia wisata. Harus ada sosialisasi sadar wisata dan penjelasan bahwa pariwisata itu akan menimbulkan multi plier effect," ulasnya. Sedangkan program pemerintah, dinilai masih cenderung hanya mengejar promosi keluar dan menggelar sejumlah iven tanpa memperlihatkan program sistematis dan konsisten terhadap masalah kesadaran masyarakat ini. Padahal, kondisi tersebut membutuhkan sosialisasi dan pendidikan kepada masyarakat, akan multiplier effect wisata. Sejumlah pelatihan, mulai dari armada taksi, pedagang souvenir hingga jajaran penyedia penginapan disarankan sebagai salah satu langkah sosialisasi dan pembinaan. Di samping menempatkan dalam pendidikan formal di sekolah. "Gerakan wisata ini harus gerakan kompak masyarakat, dimulai dengan rasa memiliki mereka akan layanan wisata. Ini akan menjadi basis bergeraknya wisata Sumbar sekaligus membutuhkan cost tinggi, tutur mantan GM Hotel Nuansa Maninjau ini seraya mengaku optimis, bila ini myang dilakukan maka prospek wisata akan semakin baik ke depan. Rizal juga melihat sejumlah program pemerintah, seperti akan dilakukan Festival Minangkabau dan Visit Minangkabau Year 2005, belum menjawab kebutuhan program wisata Sumbar. Sebab program ini belum diiringi dengna kerjasama masyarakat secara menyeluruh, dan minimnya kesiapan Sumbar menjadi tuan rumah. Akibatnya, dikhawatirkan hanya akan mengecewakan tamu dan berpeluang menggoreskan kesan kurang memuaskan di Sumbar. "Belum terlambat untuk memahami kelemahan dua program penting wisata itu. Mulai dari sosialisasi, persiapan kesadaran masyarakat supaya program ini tidak mubazir," sarannya. Putra Padangpanjang ini membedah, dari sejumlah kawasan wisata di Sumbar, Bukittinggi memiliki daya tarik relatif tinggi dan mejadi tujuan wisata utama di Sumbar. Namun, kondisi ini masih terancam ditinggalkan bila kota tersebut tidak melakukan pembenahan terus menerus dan melahirkan berbagai inovasi. Sementara Padang , masih memperlihatkan geliat belum optimal sehingga cenderung menjadi kota transit untuk Sumbar. Pelayanan di Bandara Bukan hanya Rizal dan Emir yang prihatin dengan wisata Sumbar. Praktisi wisata asal Malaysia Abdul Karim MD ISA membeberkan pula sejumlah masalah wisata Sumbar. "Baru keluar dari pintu kedatangan bandara saja ada kesan yang kurang baik, seperti pelayanan taksi yang kurang terkoordinir," ungkap Encik Karim. Pengakuannya, Sumbar memang memiliki alamnya yang sempurna untuk pariwisata. Sekaligus, memiliki ketergantungan sangat tinggi untuk mendapatkan kesejahteraan dari pariwisata, sementara kekayaan material alam Sumbar belum terlihat. Keindahan sempurna dilahirkan dalam bentuk laut, pantai, pegunungan, danau dan agro wisata. Namun, keindahan ini belum cukup untuk memuat Sumbar mutlak dipilih wisatawan. "Patut dipahami, untuk menumbuhkannya tourisme industry dibutuhkan kerjasama masyarakat dan pemerintah daerah. Buat komitmen antara agen transportasi, rumah makan dan tempat belanja. Sadari juga, tindakan satu orang yang tak benar, bisa merusak image wisata itu," tuturnya. Membandingkan dengan Malaysia, diakuinya Sumbar memiliki pesona alam tak tertandingi. Namun, perjalanan panjang Malaysia dari tahun 70-an untuk menata wisatanya, dimulai dari program sistematis. Program ini dipandu dengan ikon bertahap hingga mencapai ikon "Malaysia, Truly Asia. Ikon ini tidak sekedar ikon, tapi dilahirkan dalam konsep terpadu, disosialisasikan ke seluruh jajaran masyarakat hingga mendapat dukungan penuh dari masyarakat, insan wisata dan program pemerintah di Malaysia. "Ini yang perlu ada di Sumbar," ungkapnya. Ia mengingatkan, Sumbar jangan membiasakan diri dengan melahirkan slogan wisata seperti Festival Minangkabau atau Visit Minangkabau year 2005, bila tak mendapat dukungan penuh masyarakat dan pelaku wisata. Sebab, ketika tamu datang tapi mereka mendapatkan ketidaksiapan masyarakat. Wisatawan akan kecewa dan memiliki image tak sedap tentang Sumbar. Resikonya, mereka dan relasinya akan berpikir dua kali untuk datang kembali ke Sumbar. (Tim Padek ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

