Assalamulaikum WW Pak Ridwan dan Yulhenri yang bijak.
Betul pak Ridwan, kita harus bilang apa yang tidak disukai kepada para wisatawan yang datang itu sebelum mereka datang ketempat kita. Jangan nanti, karena mereka dianggap menyimpang menurut kaca mata kita, malah dimusuhi, aatau diperlihatkan muka masam ke mereka. Pada hal modal utama parawisata adalah "senyum" sebelum objek lainnya. Ini juga pengalaman ditempat kerja, kalau dikanytor serah terima jabatan, sering hanya diserahkan begitu saja. Hanya ada surat serah terima yang tidak berlampiran apa-apa. Tapi kalau diduniaku dulu, diateh ikan basi, serah terima harus detail dan dicek. Malah ada jabatan yang membutuhkan serah terima sampai dua sampai empat minggu, tergantung kerumitan tugas. Kalau seandainya, setiap tamu yang datang, diadakan standard penerimaan, kalau dapat si petugas diharuskan memegang �chek� list, akan menjadikan si tamu merasa diperhatikan dan mengatahui segala sesuatu yang dilarang didaerah tertentu. Jadi si petugas jangan hanya menunggu ditanya dulu oleh situris. Kalau mau memoto mereka menanya baru dijawab. Bagaimana kalau mereka lupa menanya, tahunya kita menganggap dia lancang langsung dimusuhin oleh orang sekampung kan barabe. Contoh yang sangat gambalang, pernah terjadi, sepasang muda-mudi (bule), yang mungkin dikota besar merupakan hal yang biasa. Tapi didesa adalah tabu. Misalnya si cewek pakai baju senteng, sahinggo tampak daerah pusat, juga pakai bupati juga. Dan berciuman di pinggir jalan. Sudah itu dimusuhi orang sekampung, dan ada yang sampai diusir, bagaimana coba. Bagaimana seandainya setiap petugas di garis depan, mempunyai cek list dan diharuskan memberikan apa-apa saja �yang terlarang setempat�. Apa lagi situris itu sudah mengetahui jauh sebelumnya, akan bagus sekali. Kalau perlu disediakan jilbab gratis buat mereka kalau mau kekampung. Jangan se-kalikali menganggap situris itu sudah mengerti karena ada di �Tourist Guide Book�, mungkin saja mereka belum membaca, malah mungkin tidak ada di guide book yang mereka pakai. Sehingga bisa melahirkan salah anggapan dan menghadiahkan situris �muka masam, alias cemberut, bagaimana jadinya image wisata didaerah kita? Wass. WW St.P >-----Original Message----- >From: [EMAIL PROTECTED] >[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Ridwan M. >Risan > >Wa 'alaikum salam wr wb., >Yulhendri dan sanak lainnya yth., > ...................kud.......................... > >Namun apakah bisa kita dalam waktu cepat melindung kita semua dengan >kemampuan berfikir dan bersikap bijak dalam menerima pengaruh itu semua? >Tentunya jawabannya adalah tidak, karena bagaimana bisa kita >memahami budaya >kita dan budaya luar secara luas dalam waktu yang cepat? Orang >yang mengerti >kata "budaya secara luas" saja masih tidak banyak diantara kita. Jadi ini >yang saya kira yang dimaksud pak Darul, bahwa kita perlu melakukan sesuatu, >atau mengatakan sesuatu kepada orang lain apa yang tidak kita sukai. Tolong >koreksi pak Darul, apabila saya keliru. > >Kita tentunya bisa mengatakan kunjungilah kami, tempat kami "cantik dan >bersih". Untuk menjaga "kecantikan dan kebersihan" itu agar dapat anda >nikmati selamanya, tolong untuk tidak melakukan hal ini dan hal itu. Saya >kira apabila kita lakukan dengan baik, kita sampaikan hal ini dengan baik >dan benar, dan dilakukan dengan jelas dan tegas. Semua orang akan >menghargai >dan akan tertarik untuk mengetahui dan menikmatinya. > >Wassalam, >Ridwan > > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

