Mamak Darwin Bahar Yth,

Dalam maambiak suatu kesimpulan tantu awak sabalunnyo mancaliak dari duo mato sisi nan 
babeda. Ambo dapek pulo dari sisi nan lain. 

Cieklai kabanyakan kajadian nan bantuak iko indak mungkin ado asok kalau indak ado api 
pamatiaknyo.

Wassalam

IJZ

Koran  � Suarapublika 
Senin, 11 Oktober 2004

RESONANSI 
Koreksi dari Forum Komunikasi Ummat Islam 



Assalamu'alaikum Wr Wb.
Merujuk kolom ''Resonansi'' Ade Armando pada Republika edisi Sabtu, 9 Oktober 2004, 
halaman 12, yang berjudul ''Robohnya Gereja Ciledug'', kami dari Forum Komunikasi 
Ummat Islam Karang Tengah perlu meluruskan sumber-sumber berita yang digunakan oleh 
penulis sebagai berikut:


1. Adalah sama sekali tidak benar bahwa peristiwa tersebut (3 Oktober) secara brutal 
seperti yang digambarkan (penghancuran gereja milik Yayasan Sang Timur/YST dirobohkan 
dan dibakar di depan para suster dan jemaat dan seterusnya). Peristiwa yang sebenarnya 
terjadi adalah berupa unjuk rasa masyarakat yang dilakukan secara damai untuk 
menghentikan kegiatan-kegiatan peribadatan (yang telah dicabut izinnya). Unjuk rasa 
ini dilakukan karena pihak YST telah melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap 
kebijaksanaan pemerintah, pembangkangan terhadap teguran yang dilakukan pemerintah 
setempat, serta tidak menghiraukan peringatan-peringatan masyarakat.


2. Para pengunjuk rasa tidak memasuki kompleks (kecuali delegasi) sehingga tidak 
selembar genteng maupun kaca yang pecah, tidak setetes darah pun yang tumpah apalagi 
kebrutalan yang disebut oleh saudara penulis. Mereka tetap memelihara kegiatan ini 
berdasarkan akhlakul qarimah.


3. Melalui mediasi yang diwakili oleh camat dan kapolres, pihak Sang Timur telah 
membuat sendiri pernyataan tertulis untuk tidak melakukan lagi kegiatan peribadatan 
dan menyegel sendiri (Suster Theodora) aula sekolah yang selama bertahun-tahun telah 
dilakukan sebagai tempat kebaktian.


4. Spontanitas masyarakat dalam melampiaskan ketidakpuasannya telah diwujudkan delam 
bentuk penutupan pintu gerbang YST dengan membangun dinding karena akses jalan yang 
selama ini digunakan adalah milik Kompleks Departemen Keuangan yang perjanjiannya 
telah dikhianati.


5. Toleransi yang sebenarnya telah ditunjukkan oleh pengunjuk rasa saat itu berupa: 
kurang lebih 50 meter dari tempat pengunjuk rasa sedang berlangsung pula kebaktian 
oleh pemeluk agama Kristen Protestan tanpa sedikit pun gangguan. 


6. Unjuk rasa tersebut berlangsung di bawah koordinasi Front Pemuda Islam Karang 
Tengah dan bukan oleh Laskar Pembela Islam seperti yang disebutkan, dan walaupun 
mereka berada di sana dalam jumlah yang terbatas, hanya menjaga keamanan dari 
kemungkinan adanya pengacauan dan gangguan yang dapat menyimpangkan tujuan dari unjuk 
rasa.


Demikianlah hal ini disampaikan untuk dapat dimuat sebagai penjelasan resmi untuk 
meluruskan sumber berita yang dikutip oleh penulis karena masukan yang salah akan 
mengakibatkan rusaknya citra umat Islam. Harap redaksi dapat memuat berita ini.


Forum Komunikasi Ummat Islam
Karang Tengah





Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Seperti pernah saya tulis sebelumnya, dalam pandangan saya Aa
Gym---yang oleh Majalah TIME pernah dinisbatkan sebagai
"Santo" atau
"orang suci" --- dewasa ini adalah ikon terpenting dari
gerakan untuk
mengembalikan wajah Islam ke karakternya yang asli: sederhana, sejuk,
cerah dan mencerahkan.

Dan juga antikekerasan serta menghormati pluralitas.

Mungkin masih ada yang ingat pada kolom NAMA DAN PERISTIWA Kompas
29/2/2002 yang memberitakan kunjungan Aa Gym ke basis Kristen di
Tetana, Sulawesi Tengah pada saat permusuhan antarpenganut Islam dan
Kristen sedang memanas, dan berceramah di depan sekitar 500 jemaat
Gereja Moria yang mengikuti dengan antusias ungkapan-ungkapan bernas
yang disampaikannya. Kunjungan yang sebelumnya tidak direncanakan itu
sempat mencemaskan petugas keamanan di sana. Aa Gym menepis
kekhawatiran tersebut dengan berkata "Mereka sama-sama punya hati,
mereka semua saudara-saudara saya yang tidak mungkin bermaksud
mencelakai." 

Dan tentu masih ada pula yang belum lupa, ketika sebagian Ummat Islam
di Indonesia bereaksi berlebihan dalam menyikapi serangan pasukan
Koalisi pimpinan AS terhadap Irak---antara lain---dengan melakukan
sweeping terhadap orang asing, Aa Gym seperti dikutip Republika
26/3/2003 berseru: "Tentang sweeping, saya percaya tak mungkin
orang
Islam yang memahami Islam secara baik berbuat zalim kepada orang lain,
hanya karena warna kulit, etnis, agama. Islam adalah agama yang sangat
menjunjung keadilan, bahkan terhadap musuh sekalipun.

Karena itu tidak ada keraguan bahwa Aa Gym pasti ikut terluka atas
peristiwa yang terjadi pekan lalu, ketika segerombolan masa yang
menamakan diri "Laskar Pembela Islam" menyerang dan
menghancurkan
sebuah gereja milik Yayasan Sang Timur (YST) yang sudah berusia
sembilan tahun di Ciledug, Tangerang di depan para suster dan jemaat
yang akan mengikuti misa pagi, serta memaksa pihak gereja dan yayasan
untuk menandatangani pernyataan bahwa di tempat itu tak akan ada lagi
aktivitas peribadatan. 

Besok pagi sekitar jam 10 pagi Aa Gym akan mendeklarasikan Gema
Nusa---gerakan moral dan antikekerasan melawan filem dan tayangan TV
tidak senonoh, dan berbagai tidak maksiat seperti judi togel yang
banyak merugikan rakyat kecil tersebut di bawah Monumen Nasional,
yang diperkirakan akan dihadiri oleh minimal sebanyak 250.000 orang
seperti ketika gerakan ini dideklarasikan pertama kalinya di depan
Monumen Bandung Lautan Api di Bandung lebih kurang sebulan yang lalu.
Siangnya ba'da Dhuhur Aa Gym akan memberikan Tausiah rutin di
Masjid
Istiqlal yang paling kurang akan dihadiri oleh 100.000 jemaah serta
ditonton oleh jutaan orang karena disiarkan secara langsung oleh SCTV.
Saya berharap Aa Gym bicara dan menegaskan pada kesempatan-kesempatan
tersebut bahwa main hakim sendiri, merusak tempat ibadah, melarang
penganut lain untuk menjalankankan keyakinannya tidak merupakan ajaran
Islam, tidak dicontohkan oleh Kanjeng Nabi SAW, tidak pula oleh para
khulafurrasyidin.

(Piagam Madinah yang digagas oleh Nabi adalah salah satu bukti sejarah
mengenai hal ini. Dalam salah satu ayat dalam Al Qur'an bahkan
ditegaskan bahwa Allah melindungi Masjid, Gereja dan Synagog, di mana
nama Allah dibesarkan).

Pada sisi lain adalah sangat berlebihan kalau mengharapkan Aa Gym
seorang untuk mencegah atau mempersempit ruang bagi terjadi peristiwa
serupa di waktu yang akan datang. Sikap tegas para penegak hukum untuk
menyidik dan menyeret para provokator peristiwa tersebut ke
pengadilan. Sejauh penyidikan dan penindakan dilakukan secara
profesional, aparat penegak hukum pasti memporoleh dukungan dari Ummat
Islam---minimal dari NU dan Muhammadiyah yang merupakan dua ormas
Islam terbesar di Indonesia.

Tetapi kita tentunya tidak boleh lupa pula, bahwa radikalisme tidak
muncul begitu saja dari ruang hampa. Karena kearifan semua pihak untuk
melihat peristiwa-peristiwa semacam ini dengan jernih seperti refleksi
yang ditulis oleh pakar komunikasi Ade Armando di bawah ini sangat
diperlukan.

Sangat menyedihkan memang, saat dunia berdecak kagum melihat bagaimana
bangsa ini melakukan pilpres yang sangat lancar, demokratis dan
dewasa, kita terpaksa menyaksikan peristiwa yang memalukan ini. 

--------------------------------cut------------------------

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
vote.yahoo.com - Register online to vote today!
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke