Seperti pernah saya tulis sebelumnya, dalam pandangan saya Aa Gym---yang oleh Majalah TIME pernah dinisbatkan sebagai "Santo" atau "orang suci" --- dewasa ini adalah ikon terpenting dari gerakan untuk mengembalikan wajah Islam ke karakternya yang asli: sederhana, sejuk, cerah dan mencerahkan.
Dan juga antikekerasan serta menghormati pluralitas. Mungkin masih ada yang ingat pada kolom NAMA DAN PERISTIWA Kompas 29/2/2002 yang memberitakan kunjungan Aa Gym ke basis Kristen di Tetana, Sulawesi Tengah pada saat permusuhan antarpenganut Islam dan Kristen sedang memanas, dan berceramah di depan sekitar 500 jemaat Gereja Moria yang mengikuti dengan antusias ungkapan-ungkapan bernas yang disampaikannya. Kunjungan yang sebelumnya tidak direncanakan itu sempat mencemaskan petugas keamanan di sana. Aa Gym menepis kekhawatiran tersebut dengan berkata "Mereka sama-sama punya hati, mereka semua saudara-saudara saya yang tidak mungkin bermaksud mencelakai." Dan tentu masih ada pula yang belum lupa, ketika sebagian Ummat Islam di Indonesia bereaksi berlebihan dalam menyikapi serangan pasukan Koalisi pimpinan AS terhadap Irak---antara lain---dengan melakukan sweeping terhadap orang asing, Aa Gym seperti dikutip Republika 26/3/2003 berseru: "Tentang sweeping, saya percaya tak mungkin orang Islam yang memahami Islam secara baik berbuat zalim kepada orang lain, hanya karena warna kulit, etnis, agama. Islam adalah agama yang sangat menjunjung keadilan, bahkan terhadap musuh sekalipun. Karena itu tidak ada keraguan bahwa Aa Gym pasti ikut terluka atas peristiwa yang terjadi pekan lalu, ketika segerombolan masa yang menamakan diri "Laskar Pembela Islam" menyerang dan menghancurkan sebuah gereja milik Yayasan Sang Timur (YST) yang sudah berusia sembilan tahun di Ciledug, Tangerang di depan para suster dan jemaat yang akan mengikuti misa pagi, serta memaksa pihak gereja dan yayasan untuk menandatangani pernyataan bahwa di tempat itu tak akan ada lagi aktivitas peribadatan. Besok pagi sekitar jam 10 pagi Aa Gym akan mendeklarasikan Gema Nusa---gerakan moral dan antikekerasan melawan filem dan tayangan TV tidak senonoh, dan berbagai tidak maksiat seperti judi togel yang banyak merugikan rakyat kecil tersebut di bawah Monumen Nasional, yang diperkirakan akan dihadiri oleh minimal sebanyak 250.000 orang seperti ketika gerakan ini dideklarasikan pertama kalinya di depan Monumen Bandung Lautan Api di Bandung lebih kurang sebulan yang lalu. Siangnya ba'da Dhuhur Aa Gym akan memberikan Tausiah rutin di Masjid Istiqlal yang paling kurang akan dihadiri oleh 100.000 jemaah serta ditonton oleh jutaan orang karena disiarkan secara langsung oleh SCTV. Saya berharap Aa Gym bicara dan menegaskan pada kesempatan-kesempatan tersebut bahwa main hakim sendiri, merusak tempat ibadah, melarang penganut lain untuk menjalankankan keyakinannya tidak merupakan ajaran Islam, tidak dicontohkan oleh Kanjeng Nabi SAW, tidak pula oleh para khulafurrasyidin. (Piagam Madinah yang digagas oleh Nabi adalah salah satu bukti sejarah mengenai hal ini. Dalam salah satu ayat dalam Al Qur'an bahkan ditegaskan bahwa Allah melindungi Masjid, Gereja dan Synagog, di mana nama Allah dibesarkan). Pada sisi lain adalah sangat berlebihan kalau mengharapkan Aa Gym seorang untuk mencegah atau mempersempit ruang bagi terjadi peristiwa serupa di waktu yang akan datang. Sikap tegas para penegak hukum untuk menyidik dan menyeret para provokator peristiwa tersebut ke pengadilan. Sejauh penyidikan dan penindakan dilakukan secara profesional, aparat penegak hukum pasti memporoleh dukungan dari Ummat Islam---minimal dari NU dan Muhammadiyah yang merupakan dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Tetapi kita tentunya tidak boleh lupa pula, bahwa radikalisme tidak muncul begitu saja dari ruang hampa. Karena kearifan semua pihak untuk melihat peristiwa-peristiwa semacam ini dengan jernih seperti refleksi yang ditulis oleh pakar komunikasi Ade Armando di bawah ini sangat diperlukan. Sangat menyedihkan memang, saat dunia berdecak kagum melihat bagaimana bangsa ini melakukan pilpres yang sangat lancar, demokratis dan dewasa, kita terpaksa menyaksikan peristiwa yang memalukan ini. Wassalam, Darwin =========================================================== Robohnya Gereja Ciledung Oleh : Ade Armando Republika, Sabtu, 09 Oktober 2004 Salah satu tantangan yang harus dihadapi pemerintahan baru adalah hubungan antarumat beragama. Saya mendengar kabar pekan lalu sebuah gereja yang sudah berusia sembilan tahun di Ciledug, Tangerang, dihancurkan massa. Mereka yang menyerang menamakan diri Laskar Pembela Islam. Gereja milik Yayasan Sang Timur (YST) itu dirobohkan dan dibakar di depan para suster dan jemaat yang akan mengikuti misa pagi. Pihak gereja dan yayasan dipaksa menandatangani pernyataan bahwa di tempat itu tak akan ada lagi aktivitas peribadatan. Alasan para penyerang: YST telah melakukan upaya Kristenisasi yang meresahkan penduduk setempat. Kristenisasi, sebagaimana Islamisasi, adalah masalah serius. Baik umat Kristen maupun Islam merasa memiliki kewajiban untuk menyebarkan jalan kebenaran. Dalam konteks ini, penghalangan atas penyebaran agama justru dipandang sebagai kejahatan. Dalam sejarah Islam yang panjang, ada banyak cerita bahwa umat Islam terpaksa menghunus pedang bukan untuk memaksa orang berpindah agama melainkan karena dihalang-halangi tatkala hendak menyebarkan kebenaran Islam. Konsekuensi logis dari sikap itu adalah bahwa umat Islam juga seharusnya menghormati pihak lain yang hendak menyebarkan kebenaran dalam versi mereka. Lagi-lagi sejarah Islam menunjukkan betapa banyak penguasa Islam yang mengizinkan atau bahkan melindungi rumah peribadatan agama lain berdiri megah. Kalaupun di Arab Saudi misalnya tak ada gereja, itu karena sikap khas negara itu dan bukan merupakan cerminan umum sikap umat Islam di seluruh dunia, di sepanjang waktu. Jadi, apakah sebaiknya kita marah dengan kasus Ciledug? Petama-tama, tentu saja aksi-aksi semacam itu harus ditolak. Namun, mengingat ini merupakan kasus yang berulang, akan lebih baik bila kita berusaha memahami mengapa ada kemarahan yang begitu besar. Bukan untuk memberi pembenaran, melainkan untuk menemukan cara untuk menekan serendah mungkin hasrat menghancurkan itu. Di satu sisi, sumber kemarahan itu bisa saja adalah corak pemahaman agama yang sempit. Sebagian umat Islam memang percaya bahwa berpindah agama adalah bentuk kemurtadan yang bisa diganjar dengan hukuman mati. Karena itu, setiap upaya untuk mempengaruhi orang Islam meninggalkan agamanya dianggap sebagai sebuah kejahatan. Konsekuensi logisnya: Kristenisasi sama sekali tidak bisa ditoleransi. Bila ini sumbernya, penghancuran demi penghancuran tak akan bisa dicegah. Kalau ini yang jadi masalah, solusi utamanya cuma satu: pencerahan penafsiran agama. Tapi saya percaya, bukan itu yang terutama merupakan sumber kemarahan. Saya percaya, mayoritas umat Islam di negara ini tak menganut cara pandang semacam itu. Yang jadi soal, metode penyebaran agama yang dilakukan sebagian organisasi Kristen pun tampak sangat berpotensi menyulut kegeraman. Bahkan, kalangan Islam moderat pun kerap marah. Salah satu cara yang paling terasa tidak etis adalah dengan memanfaatkan kemiskinan penduduk. Kalau gereja membantu ekonomi masyarakat setempat tanpa ada tambahan bujuk-rayu atau bahkan persyaratan tertentu, mungkin masalahnya akan jauh lebih sederhana. Begitu pula dengan pendidikan. Sikap banyak kelompok dan tokoh Kristen dalam menyikapi RUU Pendidikan tahun lalu misalnya memperkuat kecurigaan orang bahwa dalam tujuan pendidikan yang diselenggarakan lembaga-lembaga Kristen/Katolik yang seharusnya mulia tersebut terdapat muatan kental Kristenisasi. Bayangkan, para penentang itu terutama menyerang habis ketentuan dalam RUU yang sekadar mewajibkan anak didik memperoleh pendidikan agama yang sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi, marilah kita berharap tak akan ada lagi gereja dibakar atau dirobohkan. Untuk itu, kita harus mendorong presiden baru dan pemerintah baru menempatkan isu tersebut sebagai salah satu prioritas utama. Dan kita bersama-sama terlibat di dalamnya. ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

