Industri Kerajinan Tanah Datar
 

Wilayah barat Tanah Datar berbatasan dengan Kota Padang Panjang yang berkembang cukup 
pesat. Kegiatan ekonomi di Kota Padang Panjang langsung berdampak pada Kecamatan 
Sepuluh Koto dan Batipuh. Aktivitas perekonomian kedua kecamatan tersebut bertopang 
pada perdagangan komoditas hasil pertanian dan industri kecil kerajinan. Begitu pula 
pengaruh Kota Sawahlunto di selatan yang berbatasan dengan Kecamatan Padang Ganting 
dan Lintau Buo. Masyarakat di Kecamatan Rambatan, Lima Kaum, Tanjung Emas, Sungayang, 
dan Sungai Tarab terkena imbas kegiatan ekonomi di Batu Sangkar.


Pertumbuhan perdagangan besar dan eceran yang menyerap 20.196 tenaga kerja mencapai 
3,4 persen. Pertumbuhan sektor industri 2,8 persen tiap tahun sejak tahun 1998 ikut 
mendorong perdagangan yang bertumpu pada produk industri kerajinan. Dari 7.832 unit 
usaha industri kecil, terdapat 567 unit usaha pertenunan dan sulaman menjamur di Tanah 
Datar. Tenunan Pandai Sikek adalah salah satu maskot kerajinan tangan Tanah Datar. 
Dalam satu jam, penenun merajut 880 helai benang sepanjang dua cm. Selendang kain 
songket berukuran 160 x 35 cm diselesaikan dalam waktu dua bulan.

Selendang kain songket Pandai Sikek kualitas nomor satu dihargai Rp 1,5 juta. 
Sementara, kualitas kelas dua Rp 800.000 dan kualitas paling rendah (nomor tiga) Rp 
600.000. Selain karena proses penenunan yang makan waktu lama, bahan baku pun, berupa 
benang emas, masih diimpor dari India. Bahan baku lainnya, seperti benang sutra dan 
katun sudah dapat dibeli di pasar lokal, terutama di Padang. Kegiatan usaha 
perdagangan dengan komoditas pertanian dan industri kerajinan ini terpusat di jalur 
lintas Sumatera dan obyek wisata seperti Kecamatan Sepuluh Koto, Pariangan, serta ibu 
kota kabupaten. 

 

Kabupaten Tanah Datar yang dikelola dengan mengadopsi pola manajemen perusahaan 
menunjukkan kemajuan. Dalam kurun waktu tiga tahun terjadi peningkatan pendapatan asli 
daerah (PAD). Pada tahun 2000, pemasukan PAD Rp 1,7 miliar. Dua tahun kemudian naik 
menjadi Rp 11,3 miliar. Tahun 2003 PAD ditargetkan menyumbang kas daerah sekitar Rp 15 
miliar, di mana 60 persen berasal dari kutipan retribusi dan pajak daerah, dan sisanya 
dari bunga cash management. Perolehan ini menjadi tidak berarti kalau tingkat 
kesejahteraan  masyarakat tidak terangkat. Sebab, seluruh perolehan keuangan tersebut 
harus dikembalikan lagi kepada kepentingan masyarakat.


Aritasius Sugiya/Litbang Kompas 



Sampono Sutan (55+)





 

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke