Waalaikumsalam.Wr.Wb.

Apa nan sanak sampaikan di bawah benar adanya.

Pernyataan saya sampai keluar " sulit sekali menerima
kebenaran dari Allah ", cukup mempunyai proses
panjang.

Dari awal saya sudah mengatakan : " Silahkan ia
berpendapat apa yang ia yakini, dan saya tetap
berpendapat sebagaimana yang saya yakini, mari hargai
pendapat masing-masing ".

Hal ini sudah saya tekankan dari awal perbedaan. Namun
sang penanya terus ngotot.

Akhirnya saya katakan : " Saya ini hanyalah penyampai,
yang memberi hidayah adalah Allah SWT, karena itu
hakNya ".

Namun tetap juga keras ingin melanjutkan diskusi itu. 
Bahkan tak jarang tuduhan dan ejekan jatuh pada yang
ditanya. Dan menyinggung neraka segala. 

Padahal kalau kita mau jujur.

Andaikan saja pendapat itu Ijtihad Ulama, maka ulama
dapat balasan pahala.
Bila benar, padahalanya dua, bila salah maka dapat
pahala satu. Bukan masuk neraka. 

Darimana sang penanya berkesimpulan semacam itu, Allah
tidak pernah mengatakan ulama masuk neraka akibat
kesalahannya berijtihad itu, malah justru dapat
pahala.

Kalau mau diskusi hendaklah masing-masing mengemukakan
dalil dari Syari'at Allah, jangan atas hawa kita
sendiri, tanpa ada hujjah yang benar. Ini justru lebih
bahaya lagi.

Dan apa-apa yang saya sampaikan jelas ada dalilnya.

Kalau saja saya ikut meng IYAKAN dengan  mengatakan
sanak Wady tidak salah, maka saya membenarkan
perkataan Wady dan temannya mengatakan Al Quran bukan
100% Firman Allah, maka perkataan Luqman kepada
anaknya dikatakan bukan FIrman Allah tetapi hanyalah
perkataan seorang manusia kepada anakny. 

Maka manusia lainnya bisa berkelit untuk tidak
menjalankan hukum-hukum Al Quran, karena mereka akan
berdalih : 

" Itukan bukan firman Allah, itukan hanya perkataan
manusia lainnya kepada anaknya ( seperti kisah Luqman
), atau kepada Tuhannya ( seperti Alhamdulillah, dan
surah Al Fatihah yang ditafsirkan sebelum ini ), juga
akan timbul lagi hal-hal yang semacam itu.

Dari sini akan membahayakan ummat Islam, kalau tidak
hati-hati. Karena bisa saja orang akan berpendapat dan
mengelak dari menjalankan hukum Allah yang ada dalam
Al Quran dengan berdalih " ITU BUKAN FIRMAN ALLAH TAPI
PERKATAAN MANUSIA ".

Inilah salah satu yang saya sedihkan, sampai saya
marah, saya marah itu juga ada dalil yang
mewajibkannya, sebagaimana yang sudah saya terangkan.
Dan saya bersikeras untuk membela semua itu, karena
sudah kewajiban saya juga ummat islam lainnya.
mempertahankan kebenaran itu.

Saya kutipkan firman Allah : " Tidaklah mungkin Al
Quran ini dibuat selain Allah, akan tetapi Al Quran
membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan
hukum-hukumnya yang telah ditetapkannya, tidak ada
keraguan didalamnya, di turunkan dari ( Allah ) tuhan
semesta Alam ".( Q.S. Yunus 37 ).

Atas dasar inilah saya bersikeras mengatakan bahwa :
Al Quran 100% firman Allah ", bukan sebagaimana yang
dikemukakan oleh netter sebelumnya.

Semoga difahami. Wassalam. Rahima.



 

 



--- gusdi asdial <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalamualaikum Wrwb
> 
> Mangecek tantang agamo jo diskusi manganai kaimanan
> ko
> yo bana sangat sensitif bana, apo lai nan
> manyangkuik
> masalah ibadah, keyakinan dan lain lainnyo, kalau
> urang indak namuah sasuai pandapek jo kito jan kito
> kecekan urang tu sulik manarimo kebenaran Allah swt,
> sabab urang tu pun tuhan nyo Allah Swt juo, tapi
> mungkin caronyo lain indak sarupo jo nan kito punyo.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke