Waduuuh, mantaab uni.... cukup panjang lebar malah puanjang
banget..he..he.he..
Semoga tulisan uni ini bermanfaat dan dihitung sebagai amal ibadah. Amiiin
----- Original Message -----
From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, November 10, 2004 9:43 PM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Fenomena kuliah di dalam negeri


> Wa'alaikumsalam.Wr.Wb.
>
> Hmmm....sudah lama saya perhatikan diskusi masalah
> Fenomena kuliyah DN ( Dalam negeri ) dan LN ( Luar
> negeri ini ).
>
> Mungkin disini saya yang masih sangat muda dalam dunia
> pendidikan ( saya cuman baru mengajar 1 tahun tok,
> walau pegawai sdh 5 thn, karena saya banyak di
> tugaskan belajar di LN saja ), ingin memberi pendapat
> sesuai dengan apa yang saya rasakan dan amati sepintas
> saja, tidak keseluruhan terjun kelapangan. Jadi
> pendapat ini sifatnya sangat subjektif.
>
> Saya bisa mengerti apa nan disampaikan oleh sanak kita
> Zulfikri. Bisa jadi karena beliau ini melihat
> dosen-dosennya atau dari universitas lain, yang
> kebetulan sebagaimana yang disampaikan sanak Zul
> tersebut, melihat fenomena tammatan LN cenderung
> bersifak kapilatis atau mungkin yang dimaksud banyak
> berfikiran bebas, seperti orang kapitalis, atau
> Eropah, Amerika dan semacam itu.
>
> Saya bisa mengerti ini dan memang melihat dan
> mendengar langsung realita semacam ini. Saya sudah
> dari dulu memang mendengar istilah " Cuci otak ini ".
>
> Dari sudut lain, sanak Z mengatakan bahwa segi ilmu
> itu sifatnya " bebas nilai ".
>
> Saya setuju itu. Karena sesuai dengan hadist
> rasulullah SAW yang sangat terkenal dikalangan kita
> ummat Islam begini bunyinya : Uthlubul'ilma walau
> bisshini " ( Tuntutlah ilmu itu walau kenegeri China
> sekalipun ).
>
> Jadi pada dasarnya, menuntut ilmu apa saja, dan kita
> mempelajari apa saja di perbolehkan oleh agama islam (
> sesuai pula dengan perintah dari Allah SWT pada ayat
> yang pertama kali turun " Iqra" ( Bacalah ).
>
> Maksudnya bacalah apa saja yang bermanfaat asal dengan
> dimulai nama Allah. baca, pelajari  apa saja dari ilmu
> itu dan dari negeri mana sajapun. Asal jangan sampai
> lupa kaitkan dengan nama Allah, pasti kita akan
> selamat. Pasti kita tidak akan terikut gaya barat yang
> lebih cenderung kapitalis dan sebagainya itu.
>
> Dan sebaiknya justru bila kita mempelajari akan suatu
> ilmu ada baiknya mempelajarinya kenegeri asalnya.
> Alias pelajarilah ilmu itu keakar-akarnya supaya ngak
> tanggung-tanggung. Lihat dari negeri mana ilmu itu
> bersumber, cari sampai kesana.
>
> Ulama zaman dahulu, Ibnu Sina ( kedokteran ), Ibnu
> Rusd ( matematika, Aljabar ), dan masih sangat banyak
> yang lainnya, mereka itu dalam menuntut ilmu sampai
> berjalan keberbagai negeri lain.
>
> namun kita lihat apakah mereka terpengaruh dengan
> ajaran atau adat dari negara yang mereka kunjungi
> itu..? Saya kita tidak !. Semua ini karena apa..?
> Mereka sudah punya dasar agama yang kuat, walau mereka
> pelajari ilmu Antariksa sekalipun dari negara Amerika,
> Ilmu obat-obatan tradisionil , yang berasal dari
> tetumbuhan mereka banyak berdagang sekaligus belajar
> di negeri China itu.
>
> Tapi apakah mereka terpengaruh..? Tidak,..malah
> merekalah yang membawa kaum ditempat mereka belajar
> itu kearah mereka, mereka ajarkan Islam dinegeri itu,
> sementara mereka pulang selain bawa hasil dagangan ,
> ilmu dari negara tersebut sekaligus mengajak mereka
> mengenal Islam. Subhanallah !
>
> Itu realita kebanyakan ilmuwan islam zaman dahulu
> kala. Sekarang kita lihat realita ilmuwan atau
> agamawan kita zaman sekarang, apakah semacam itu..?
>
> Ini semua tergantung kepribadian masing-masing yang
> mana kepribadian itu tergantung dari milieunya,
> didikan dari kecil, keluarganya, juga masyarakat yang
> dipergaulinya sehari-hari.
>
> Kalau saja didikannya dari kecil sudah mantap,
> keluarganya orang yang taat beragama, lingkungan yang
> di jalaninya selama ini adalah lingkungan baik, taat
> beragama, dan tidak arogan, kemanapun ia dicampakkan,
> kenegeri antah berantah dan kapitalis tak kenal tuhan
> sekalipun ia akan teguh pada prinsip dirinya, tak
> terpengaruh gaya barat yang serba bebas dalam banyak
> hal.
>
> Saya punya teman di Jepang, dosen di Unand dan sedang
> ambil program doktoral bagian Pertanian di jepang itu,
> memang mengakui betapa berat menghadapi problema
> pergaulan sex bebas dinegara jepang itu, namun ia
> mencoba tetap bertahan, lagian dalam dirinya sudah
> punya dasar agama yang kuat.
>
> Beliau juga mengakui dalam pendidikan di Indonesia
> masalah sarana dan prasarana ini sangat minim sekali.
> labor-labor semacam di negara lain sulit didapatkan di
> Indo, sehingga sangat sulit mengajarkan mahasiswa ilmu
> yang diperdapatnya di negara asing tersebut.
>
> lantas bagaimana solusi dari fenomena pendidikan kita
> yang semakin tepuruk dari negara lain, jangankan dari
> negara yang sudah maju itu, dari negara yang dulunya
> sama-sama termasuk negara berkembang saja kita sudah
> kalah.
>
> Kita memang kalah dari malaysia, padahal dulu mereka
> banyak yang menuntut ilmu dinegara Indonesia.
>
> Tapi ketahuilah wahai saudara-saudara ku sekalian,
> pada hakikatnya dari segi kecerdasan otak masyarakat
> Indonesia yang berpendidikan jauh lebih cerdas
> ketimbang dari negara lain seperti malaysia,
> Singapore, Brunai, Thailand, Philiphina, dan lainnya
> itu. Sungguh sepanjang saya mengenal orang-orang Asia
> lainnya seperti Jepang itu juga di Mesir ini, saya
> melihat otak orang-orang Indonesia jauh lebih encer.
>
> Hanya saja kita bangsa Indonesia ini banyak terbuai,
> banyak malasnya, banyak santai tidak tahu arti dari
> nilai waktu itu. banyak berfoya-foya, gaya hidup mewah
> padahal kemewahan hasil hutang yang dipakai, beda
> dengan negara malaysia, mereka hidup hemat, rajin,
> tahu nilai waktu itu. Disitu letak kelemahan kita.
>
> Solusi menurut saya :
>
> 1 ) Di dirikan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Tammatan
> Luar negeri di Indonesia itu yang mana mungkin
> tepatnya berpusat di jakarta, atau dimana saja yang
> mudah dijangkau oleh berbagai daerah, sehingga kalau
> ada diskusi , seminar dan pertemuan untuk membicarakan
> masalah negara Indonesia dan fenomena pendidikannya
> dari berbagai bidang dapat sama-sama di rembukkan,
> untuk mencapai satu kata mufakat demi kemajuan
> pendidikan dimasa yang akan datang, bila bertemu dalam
> suatu pertemuan ang memang sudah direncanakan dengan
> matang.
>
> 2 ), Silahkan saja belajar ke LN asal benar-benar
> kalau belajar itu tepat sesuai dengan asal sumber dari
> ilmu itu. jangan pula belajar agama perginya ke
> Amerika, yah itu sudah salah kaprah, masak belajar
> agama ke Amerika sana..? belajar Islam sampai
> keakar-akarnya yah di Timteng ini, terutama di Al
> Azhar universitas Islam tertua, atau di Timteng
> lainnya.
>
> Belajar ilmu teknologi, pergilah ke negara barat sana,
> namun sebelum pergi kesana bekali dulu ilmu bela diri
> ( bukan ilmu karate yang saya maksudkan disini tapi
> ilmu bela diri yang sifatnya tidak akan merusak otak
> dan pikiran kita )
>
>
> Belajar ilmu kedokteran, ilmu pertanian dan sebagainya
> itu silahkan kalau ada kesempatan pergilah kenegara
> asalnya, asal syaratnya  bekali dulu ilmu bela diri
> itu, agar kita tak terbawa pemikiran gaya kapitalis
> yang liberal itu.
>
>
> 3 ), Kalau sudah punya bekal " Ilmu bela diri  ",
> cobalah banyak-banyak ikuti internet yang ada di
> Indonesia, bergaullah dengan masyarakat Indonesia yang
> ada di dunia maya itu, karena ini pengaruhnya cukup
> besar sekali dalam perasaan cinta bangsa atau daerah
> itu sendiri.
>
> Dengan cara komunikasi dengan orang-orang yang ada di
> Indo itu, kita dapat mengetahui apa kehendak bangsa
> kita dari kita yang belajar di LN itu, mereka maunya
> apa dari kita..?
>
> Dan orang-orag yang ada di Indopun jangan merasa
> minder dengan mereka -mereka yang tammatan LN, dekati
> mereka, jangan ada rasa kesal, iri, atau buruk sangka
> pada mereka, manusia itu kalau didekati akan baik koq.
> Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta ,
> jangan di jauhi, maka ia akan semakin jauh.
>
> Lihat aja kucing, dielus-elus ia mengikuti, patuh dan
> sayang pada tuannya, cobalah kalau dinjak kaki kucing
> itu, pasti  ia akan mencakar kita, meski kita tuannya
> sekalipun. Kucing ngak peduli, yang penting  ia sakit
> diinjak kakinya,maka secara spontan pula ia akan
> mencakar orang yang menginjak itu.
>
> Itu saja kucing yang ngak berakal, apalagi manusia
> yang berakal, punya harga diri dan perasaan, maka nya
> cobalah siapa saja yang tammatan LN itu kita dekati,
> kita pergauli ia dengan baik, saya kira manusia
> bagaimanapun jahatnya ia punya perasaan sayang dan
> cinta juga koq..? Allahua'lam kalau manusia yang sudah
> terkunci mati, mata hatinya.
>
> Sebagai pengalaman saya mengajar setahun kemaren di
> BKT, saya juga menyesalkan mengapa tammatan IAIN di
> Indo itu yang  akan S2, dan sudah tahunan mengajar di
> sekolah itu, koq masih belum mampu menjadi seorang
> guru yang benar-benar lihai dalam mendidik muridnya..?
>
> Saya heran kala itu pada beberapa orang guru, yang
> ketika akan mengajar muridnya besok, malamnya baru
> lihat buku dan kamus untuk mengajarkan materi itu pada
> muridnya. wah..saya kaget ..masak guru mempelajari
> dulu materi itu dan baru lihat kamus..?
>
> Saya rasa sebagai seorang guru, atau dosen, hendaklah
> benar-benar sudah menguasai betul materi itu, kalau
> pun melihat buku-buku atau kamus, hanya sekedar
> sebagai bahan tambahan saja, bukan benar-benar baru
> ingin mempelajari isi buku tersebut.
>
> Bagaimana akan mengajarkan siswa, sementara sang dosen
> atau guru, baru saja malam memahaminya..?
>
> Ini dikarenaka apa,..? Karena selama pendidikannya di
> universitas itu  ia sangat tergantung dan terfokus
> pada apa yang diajarkan guru atau dosennya saja, dan
> tatkala menulis skrpsi ia lebih suka menyalin, atau
> menciplak diktat dosen yang lama, atau siswa yang
> lama.
>
> Ini belajar yang salah menurut saya, seharusnya sang
> siswa sudah terbiasa dari masa siswanya banyak
> belajar, dan baca  buku-buku lain, tidak terfokus pada
> apa yang diajarkan dosen atau guru disekolah aja.
>
> Begitu juga bidang eksakta dan pelajaran yang
> membutuhkan eksprimen-eksprimen di lapangan, butuh
> analisis langsung , harus sering ke labor buat
> penelitian itu, keluar lapangan, saya kira di negara
> maju seperti Jepang sudah cukup hebat dalam hal ini.
>
> 4 ), Nah untuk mengikuti metode praktek langsung
> seperti dinegara maju ini maka universitas-universitas
> di Indo itu yang harus di pikirkan oleh kita
> masyarakat Indo juga, yang konglomerat, yang kaya,
> lebih utamanya adalah pemerintah yang lebih besar dan
> punya potensi untuk ini, lebih memikirkan ke hal
> semacam ini dan memenuhi peralatan pembelajaran di
> sekolah atau universitas seperti yang ada di LN.
>
> 5 ), Saya kira soal tenaga dosen , kita ngak kalah koq
> dari LN. Kita punya dosen-dosen yang hebat. Cuman
> yah..karena merek aterbiasa hidup makmur dinegara lain
> itu, pas tiba pulang di Indo, tidak dihargai, digaji
> sedanya, bahkan sering kurang, akhirnya kan ia
> mikir,..ngapain pulang kalau toh sudah capek-capek
> sekolah di LN, jadi orang melarat juga..?
>
> Ilmu sih ilmu harus di sumbangkan pada negara kita,
> tapi mereka itu juga butuh hidup lebih layak lagi
> bukan ?
>
> Saya kira fenomena yang dihadapi oleh mereka yang
> belajar di LN itu, pada dasarnya sama yang saya
> rasakan. Mereka yang di LN itu, pada hakikatnya cinta
> Indonesia, cinta negara sendiri, tapi bagaimana ia
> hidup kalau ia selalu dimusuhi, atau diirikan oleh
> masyarakat sekelilingnya, teman sejawat, teman
> kerjanya, saling menjatuhkan.
>
>
> Maaf mungkin ini terjadi pada orang lain kali, yang
> saya sendiri, alhamdulilah masyarakat ditempat saya
> tinggal sangat menyayangi saya, termasuk para preman
> pemuda di kampung itu, menjaga dan menghormati saya,
> begitupun teman-teman kerja saya sendiri, ngak ada
> yang iri koq, meski ada, pada mulanya tapi setelah
> saya dekati, saya baiki, semua pada sayang, dan malah
> membantu saya, saya cuman menduga, bisa saja itu
> terjadi pada orang lain, karena merasa di sisihkan
> dari teman-teman yang ada di kantor tempat ia
> mengajar, karena ia dari LN, mana sifat arogannya juga
> ada, sedikit-sedikit bilang kalau saya di USA, Di
> Jepang dan di german di Marocco, atau di mana saja
> begini--begitu..
>
>  Iyah..saya ngerti orang jadi gondok semua, tapi
> cobalah, kalau kita bersikap positive thinking saja
> pada orang tersebut. Dan coba ajak diskusi bagaimana
> penyelesaiannya, jangan malah di musuhi atau di
> sisihkan dari teman-teman lainnya, malah tambah arogan
> lagi ia, percayalah itu. Kucing aja kalau di injak
> mencakar kan..?
>
> Cobalah saling mengambil solusi terbaik dari fenomena
> pendidikan Indonesia kedepan itu agar lebih maju
> bagaimana ?
>
> Saya kira ngak ada salahnya orang-orang belajar ke LN
> mana sajapun, asalkan bekali dia " Ilmu bela diri tadi
> ". ( Ilmu Agama, rasa cinta kampung, negara dan tanah
> airnya )
>
> saya aja,.kalau saya mampu anak-anak saya akan saya
> kuliyahkan ke LN, tapi tetap didikan kebangsaannya
> saya masukkan ia SD, SMP, SMA di pendidikan Indonesia.
> Anak2 saya meski di Mesir, tetap mereka belajar
> sebagaimana apa yang dipelajari oleh orang-orang yang
> ada di Indo.
>
> Hanya kelebihan dan tambahan anak-anak saya, mungkin
> dari segi bahasa atau pergaulan dari banyak negara,
> mereka sudah terbiasa, bahwa hidup iini banyak
> perbedaannya, beda agama, bangsa, daerah adat
> istiadat, makanan tatacara, dan segala macamnya itu,
> sehingga pemikirannya jauh lebih luas, akan jelas
> berbeda dengan anak-anak yang ada kelebihan dan
> kekurangannya.
>
> Bukankah sudah dikatakan dalam pepatah " jauh berjalan
> banyak dilihat lama hidup banyak dirasa ".
> Allah berfirman : " Maka berjalan lah kamu di
> permukaan bumi Allah ini ".
> Dengan banyak berjalan, bukan arti kata sekedar
> raun-raun atau foya-foya habiskan duit saja, tapi
> berjalan dalam menuntut ilmu baik itu ilmu Formal,
> atau non formal, maka kita jauh lebih dewasa dalam
> menilai sesuatu.
>
> Mungkin ini saja dulu, silahkan ditanggapi kalau ada
> yang kurang setuju, akan lebih saya jelaskan lagi.
>
> Wassalam. Rahima. Lc ( 35 ),
>
>
> Kampung ayah kalimantan Tengah, kampung ibu kamang
> Hilir Bukittinggi. saya lahir di P. Siantar, besar di
> Siantar, masa remaja di Padang Panjang, dewasa di
> Mesir, menikah sama orang Pitalah, Pdg panjang, semua
> bermacam ragam , tidak pada satu tempat saja,
> berbeda-beda hidup dan kehidupan saya, bergaul dengan
> orang jahat, orang baik, berbagai daerah dan berbagai
> negara, berpemikiran liberal,dan fundamentalis,
> ekstrim, dan segala macamnya, namun semua saya hadapi,
> dan mencoba mengerti prinsip dan sikap mereka, namun
> tetap tak segemingpun dari pergaulan itu melemahkan
> prinsip hidup saya pribadi.
>
> Selagi saya mampu berdakwah akan saya lakukan, selagi
> saya mampu untuk mengatakan kebenaran dari Allah dan
> rasulNya, akan saya lakukan itu semua demi Allah saja.
> Tapi tetap saya tak punya hak dan kuasa untuk memberi
> hidayah pada siapapun, atau memaksakan kebenaran yang
> saya yakini pada orang lain.
>
> Biarkan aja, yang man atugas saya dah tersampaikan,
> tinggal kita lagi yang mempertanggung jawabkan
> perbuatan kita masing-masing. namun hubungan baik ,
> saya tap jaga siapun orangnya, kafir sekalipun,
> sayatetap biasa dari segi pergaulan, tapi segi akidah
> dan agama, saya akan teguh sebagaiman saya.
>
>
> Sebagai manusia zoon social, zoon politicon, akan
> bersikap baik terus, bila salah minta maaf, sebagai
> sesama muslim hubungan silaturahmi akan tetap saya
> pelihara.
>
>
> Bagimu adalah pendapatmu, bagiku juga pendapatku.
> bagimu agamamu, bagiku juga agamaku. Mau ikut saya
> silahkan, tak ikut juga tak apa, namun saya tak akan
> mengikuti ajaranmu. Itu saja. Saya kalau jalan ngak
> suka belok-belok lurus aja, karena tujuan saya cuman
> satu aja, jalan shirathal mustaqim, buat menuju Allah.
>
>
>
>
> --- Z Chaniago <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Assalamu'alaikum WW
> >
> > Mamanda Rangkayo Mulie...
> >
> > Lai ambo pahamo prolog dari Mamanda...., tetapi nan
> > ambo bahas adolah hanya
> > solusi dan mamanda tawarkan......okay...
> >
> >
>
>
>
> __________________________________
> Do you Yahoo!?
> Check out the new Yahoo! Front Page.
> www.yahoo.com
>
>
>
> ____________________________________________________
>
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ------------------------------------------------------------
> Tata Tertib Palanta RantauNet:
> http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
> ____________________________________________________


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke