Assalamulaikum WW Pak Ridwan memulai dengan seandainya ibukota RI di Banjarmasinkan. Saya ingin menyinggung Indonesia di jadikan negara yang mempunyai daerah otonomi sebenarnya. Otonomi sebenarnya adalah setiap daerah memandang dirinya sebagai center dari pembangunannya, bukan sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Sebaiknya saya terlebih dahulu menyinggung bila memposisikan diri sebagai bagian dari Indonesia, maka daerah menganggap dirinya adalah kepanjangan tangan dari pusat. Selalu menunggu segala sesuatu dari pusat. Sampai-sampai banyak daerah yang berbangga dengan meletakan tangannya dibawah, dengan alasan daerahnya tidak mampu alias miskin. Setiap tahun berlomba menengadahkan tangan untuk mendapat DAU dan DAK yang lebih besar. Pada hal tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah (Al Islam). Kini, otonomi. Otonomi sesungguhnya adalah setiap daerah menjadikan dirinya sebagai pusat pembangunan. Mengembangkan diri menjadi daerah yang swasembada malah surplus. Setelah surplus maka mereka memberi iyuran ke pusat supaya kesatuan dan persatuan Indonesia berdiri teguh. Menjadikan daerahnya sebagai pusat pembangunan berarti memanfaatkan potensi dan posisi daerah untuk menjadikan daerah tersebut kuat secara ekonomi. Tidak lagi menjadi daerah terkebelakang atau terpencil karena jauh dan agak kurang perhatian dari Jakarta. Sebagai contoh terbelakang karena memposisikan diri berpusat dan terpusat ke Jakarta. Meulaboh merasa dirinya dibawah Banda Aceh, Banda Aceh dibawah Jakarta. Jakarta memandang Banda Aceh kurang penting karena jauh diujung barat, dst. Begitu juga dengan Sumbar, yang berlokasi di ujung barat Indonesia dan dibelakang bukit barisan, sehingga pembangunannya kurang perhatian dari pusat yang memusatkan perhatiannya membangun Jawa, Jawa dan Jawa. Dipihak lain, pada sesungguhnya setiap keadaan di muka bumi ini akan menciptakan equilibriumnya sendiri, dengan segala keadaan yang ada didaerah tersebut (Sunatullah). Jika sesuatu daerah telah terbiasa menjadikan dirinya survive dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka daerah tersebut tidak akan menjadikan dirinya tergantung kepada pihak lain (equilibrium). Kini bagaimana, disaat otonomi yang digalakkan, seharusnya Sumbar memposisikan dirinya sebagai center (pusat) pembangunan. Dengan menjadikan dirinya pusat pertumbuhan, maka pandangannya harus diarahkan untuk memanfaatkan potensi ekonomi yang ada didalam dan disekitar daerah ini (Porter). Coba perhatikan letak geografis Sumbar di peta bumi, maka sesungguhnya pembangunannya diarahkan untuk: Pertama, karena Padang adalah satu dari dua ibukota Provinsi yang terletak di Barat Bukit Barisan. Padang adalah kota terbesar dan memiliki infra struktur serta letak geografis yang terbaik dibanding kota lainnya di Barat Bukit Barisan. Dengan keadaan begini, seharusnya objektif pembanguan Sumbar mengarah kepada pusat pertumbuhan ekonomi daerah yang berlokasi di Barat Bukit Barisan tersebut. Kedua, letak Padang (ibukota Sumbar) adalah paling ujung Indonesia, diujung Barat. Padang (Sumbar) dapat memposisikan dirinya sebagai "a front gate to reach phenomenal Melayu". Jika anda mau melihat Melayu (Malay) sesungguhnya, maka mulailah perjalanan anda dari Minangkabau International Airport (MIA). Dengan ini diharapkan Bundo Air (bagaimanalah khabarnya kini), atau penerbangan lain membuka jalur penerbangan Colombo-MIA- Jakarta-Bali, New Delhi-MIA- Singapore-Bali, Amsterdam-MIA-Singapore-Bali (kapan ya mimipi ini jadi kenyataan). Asal kita mengucapkan ini bisa, dan mencurahkan perhatian dan pembangunan untuk dapat membisakannya, maka niscaya nanti akan bisa. Kamu pasti bisa. Ketiga. Dengan memposisikan Sumbar sebagai pusat pertumbuhan, secara regional maka Padang harus mebuka dan menggenjot hubungan dengan pasar yang amat besar India, Srilangka, Bangladesh, Pakistan dsk. Janganlah hanya selalu berfokus ke Jakarta, Riau dan Singapore. Coba bangun objektif menjadikan Sumbar sebagai pusat perdagangan regional, sebagai saudara, adik, anak atau cucu dari Singapura. Buka mata lebar-lebar bahwa dilepas pantai ke Barat itu masih ada negeri, malah asal usul nenek moyang orang Minang (Allahualam), negeri yang berpenduduk No. 2 terbesar dunia, India. Sadari sebenarnya kita jauh dengan India karena ulah penjajah. Karena India, Malaysia, Singapura dijajah Inggris, mka India dekat ke Malaysia dan Singapura. Dan Indonesia dijajah Belanda, jadilah kita Inlander seperti katak dibawah .................. Infrastruktur penopang poin pertaman sudah ada Teluk Bayur, penopang poin Kedua telah ada MIA. Dan infrastruktur penopang poin Ketiga harus digagas pembangun pelabuhan kualitas internasional terpadu didaerah Terusan, Pesisir Selatan. Karena Teluk Bayur telah tidak layak disebut sebagai pelabuhan internasional, apa lagi pelabuhan ini adalah berlokasi diujung Barat Nusantara. Kapal pelayaran internasional yang akan mampir kesana mempunyai draft 13 s/d 17 meter. Sedang Teluk Bayur cuma 9.50 m. Sanggupkah kita memproklamirkan objektif pembangunan yang menjadikan Sumbar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi? Janganlah lagi berpikir subjektif, dengan menganggap saya hanya duduk berkuasa 5 tahun. Tapi harus objektif memandang jauh kedepan. Setelah objektif tersebut dicanangkan, maka semua pihak berpacu untuk berprestasi mencapainya. Mulai dari orang tua, guru, pemimpin dari Walinagari sampai ke Gubernur bahumembahu menyuarakan, kita pasti bisa. Kita malu selalu bertangan dibawah, meminta DAU dan DAK. Seharusnya sebagai daerah otonomi kita yang memberi iyuran ke pusat. Seperti kita berorganisasi. Negara adalah organisasinya daerah otonomi. Wasalamulaikum WW St.P (51+) Pemimpi. ----- Original Message ----- From: "Ridwan M. Risan" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Saturday, January 15, 2005 5:15 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Seandainya kita proklamirkan lagi RI Dalam acara training manajemen, dalam upaya untuk membangkitkan kreatifitas kita agar dapat melakukan hal-hal yang lebih baik, kita sering diajak untuk melakukan "brain storming". Ada sebuah cara dalam "brain storming" untuk bisa berfikir bebas untuk melakukan hal yang berbeda dengan cara dilahirkan kembali. Sehingga dengan cara ini kita akan melakukan hal-hal yang lebih baik dan meninggalkan hal-hal yang kurang baik atau yang buruk yang pernah kita lakukan. Dengan cara ini kita akan belajar dari pengalaman, atau belajar dari sejarah - untuk skala bangsa dan negara. Hal yang sama dapat kita lakukan terhadap bangsa dan negara tercinta ini. Misalnya untuk RI, apa yang akan kita lakukan apabila kita cukup mempunyai wewenang untuk mengarahkan RI sejak kemerdekaannya. Atau apabila kita bermimpi menjadi orang no1 atau no2 atau no ke...., tetapi masih mempunyai kesempatan untuk mempengaruhi agar RI tidak melakukan ini tetapi melakukan itu, apa yang akan kita lakukan berbeda? Saya akan memulai dengan ibukota, Jakarta hanya akan menjadikan sebagai ibu kota untuk selama 10 tahun dan selanjutnya memilih tempat lain yang lebih sentral. Saya akan memilih Banjarmasin atau Batam sebagai kelanjutannya. Apa sebab?, karena Jakarta lokasinya tidak sentral, terletak pada pulau Jawa yang relatif kecil dibanding pulau lainnya dan pulau ini sudah cukup banyak dikembangkan Belanda sebelumnya. Dengan ber-ibu kota Banjarmasin, Kalimantan yang luas akan berkembang lebih baik. Kenapa tidak sebuah kota di Sumatra? Karena Sumatra tidak sentral, dan karena Sumatra relatif lebih baik dari Kalimantan. Jadi Sumatra akan memacu dirinya sendiri tanpa perlu mempunyai ibukota negara. Tapi Sumatra kan, sumber daya alamnya lebih kaya dan sumber daya manusianya pun lebih baik dari Kalimantan?. Betul, karena itu saya melihat Sumatra akan jauh lebih baik untuk dapat maju dibanding Kalimantan, dan bahkan akan lebih baik dari Jawa untuk mempercepat pembangunannya. Jadi dengan cara ini, RI sudah punya tiga pulau yang berkembang dengan baik. Ada yang akan mencoba dengan hal atau topik lain yang lebih menarik? Silahkan diteruskan. Wassalam, Ridwan M Risan Sampono Sutan (55+) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

