Wa'alaikum salam wr wb., Pak Darul dan sanak lainnya Yth. Saya teruskan kembali, latihan brain storming dengan judul seandainya kita lahirkan kembali RI tercinta ini. Berikutnya yang ingin saya usulkan untuk tidak kita lakukan seperti yang telah kita lakukan adalah, tidak serta-merta me- Nasionalisasi Perusahaan Belanda. Yang lebih tepat adalah tetap membiarkan sebagian milik (saham) perusahaan tersebut milik pendirinya, dan sebagian dari sahamnya menjadi milik Pemerintah. Hitungannya (justifikasinya) adalah anggap saja mereka membangun dari harta yang dikumpulkan pada saat penjajahan, kemudian ada upaya mereka yang membuat harta tersebut menjadi perusahaan yang berkembang.
Misalnya Pemerintah memilki 55% dan Mereka memiliki 45%. Pemerintah menjadi Komisaris, Mereka menjadi direksi. Mereka menjalankan usaha sesuai dengan aturan yang dibuat Pemerintah selayaknya sebagai regulator, mereka menjalankan usaha sebaik mungkin agar dapat menghasilkan keuntungan. Setelah perusahaan untung, Pemerintah memperoleh hasil dari pajak dan dari deviden perusahaan. Perusahaan berkembang ekonomi Negara juga berkembang. Sehingga dengan demikian dari sekian ratus Perusahaan Belanda yang waktu itu di-BUMN-kan akan tetap berkembang, dan tidak ada perusahaan Belanda yang mendadak mati karena ditinggal dan tidak dikelola oleh Pemerintah. Perusahaan Kereta Api akan terus berkembang, memperpanjang rel nya di Indonesia, peruhaan Listrik akan terus berkembang memperbesar jaringnya tidak hanya di kota besar tetapi terus kepelosok. Kenapa bisa berkembang karena memang di operasikan dengan benar oleh orang-orang yang mendirikan dan memahami perusahaannya. Perusahaan dikembangkan dengan lebih profesional, lebih transparant, ada yang bertindak sebagai direksi, ada yang bertindak sebagai komisaris atau pengawas. Korupsi tidak meraja lela, pegawai bekerja lebih profesional, penggajian dan kenaikan pangkat berdasarkan kinerja (pay for performance). Wassalam, R Sampono Sutan (55+) ----- Original Message ----- From: "DM" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Saturday, January 15, 2005 7:21 PM Subject: [RantauNet Ekonomi] Seandainya kita proklamirkan lagi RI > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Minang butuh tindakan nyatamu. Bersinergilah, sailia samudiaklah. Bangun Minang dalam segala bidang. Ayo maju .. maju. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > > Assalamulaikum WW > > > Kini, otonomi. Otonomi sesungguhnya adalah setiap daerah menjadikan dirinya > sebagai pusat pembangunan. Mengembangkan diri menjadi daerah yang swasembada > malah surplus. Setelah surplus maka mereka memberi iyuran ke pusat supaya > kesatuan dan persatuan Indonesia berdiri teguh. Menjadikan daerahnya sebagai > pusat pembangunan berarti memanfaatkan potensi dan posisi daerah untuk > menjadikan daerah tersebut kuat secara ekonomi. Tidak lagi menjadi daerah > terkebelakang atau terpencil karena jauh dan agak kurang perhatian dari > Jakarta. Sebagai contoh terbelakang karena memposisikan diri berpusat dan > terpusat ke Jakarta. Meulaboh merasa dirinya dibawah Banda Aceh, Banda Aceh > dibawah Jakarta. Jakarta memandang Banda Aceh kurang penting karena jauh > diujung barat, dst. > > Begitu juga dengan Sumbar, yang berlokasi di ujung barat Indonesia dan > dibelakang bukit barisan, sehingga pembangunannya kurang perhatian dari > pusat yang memusatkan perhatiannya membangun Jawa, Jawa dan Jawa. Dipihak > lain, pada sesungguhnya setiap keadaan di muka bumi ini akan menciptakan > equilibriumnya sendiri, dengan segala keadaan yang ada didaerah tersebut > (Sunatullah). Jika sesuatu daerah telah terbiasa menjadikan dirinya survive > dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka daerah tersebut tidak akan > menjadikan dirinya tergantung kepada pihak lain (equilibrium). > > Kini bagaimana, disaat otonomi yang digalakkan, seharusnya Sumbar > memposisikan dirinya sebagai center (pusat) pembangunan. Dengan menjadikan > dirinya pusat pertumbuhan, maka pandangannya harus diarahkan untuk > memanfaatkan potensi ekonomi yang ada didalam dan disekitar daerah ini > (Porter). Coba perhatikan letak geografis Sumbar di peta bumi, maka > sesungguhnya pembangunannya diarahkan untuk: > > Pertama, karena Padang adalah satu dari dua ibukota Provinsi yang terletak > di Barat Bukit Barisan. Padang adalah kota terbesar dan memiliki infra > struktur serta letak geografis yang terbaik dibanding kota lainnya di Barat > Bukit Barisan. Dengan keadaan begini, seharusnya objektif pembanguan Sumbar > mengarah kepada pusat pertumbuhan ekonomi daerah yang berlokasi di Barat > Bukit Barisan tersebut. > > Kedua, letak Padang (ibukota Sumbar) adalah paling ujung Indonesia, diujung > Barat. Padang (Sumbar) dapat memposisikan dirinya sebagai "a front gate to > reach phenomenal Melayu". Jika anda mau melihat Melayu (Malay) sesungguhnya, > maka mulailah perjalanan anda dari Minangkabau International Airport (MIA). > Dengan ini diharapkan Bundo Air (bagaimanalah khabarnya kini), atau > penerbangan lain membuka jalur penerbangan Colombo-MIA- Jakarta-Bali, New > Delhi-MIA- Singapore-Bali, Amsterdam-MIA-Singapore-Bali (kapan ya mimipi ini > jadi kenyataan). Asal kita mengucapkan ini bisa, dan mencurahkan perhatian > dan pembangunan untuk dapat membisakannya, maka niscaya nanti akan bisa. > Kamu pasti bisa. > > Ketiga. Dengan memposisikan Sumbar sebagai pusat pertumbuhan, secara > regional maka Padang harus mebuka dan menggenjot hubungan dengan pasar yang > amat besar India, Srilangka, Bangladesh, Pakistan dsk. Janganlah hanya > selalu berfokus ke Jakarta, Riau dan Singapore. Coba bangun objektif > menjadikan Sumbar sebagai pusat perdagangan regional, sebagai saudara, adik, > anak atau cucu dari Singapura. Buka mata lebar-lebar bahwa dilepas pantai ke > Barat itu masih ada negeri, malah asal usul nenek moyang orang Minang > (Allahualam), negeri yang berpenduduk No. 2 terbesar dunia, India. Sadari > sebenarnya kita jauh dengan India karena ulah penjajah. Karena India, > Malaysia, Singapura dijajah Inggris, mka India dekat ke Malaysia dan > Singapura. Dan Indonesia dijajah Belanda, jadilah kita Inlander seperti > katak dibawah .................. > > Infrastruktur penopang poin pertaman sudah ada Teluk Bayur, penopang poin > Kedua telah ada MIA. Dan infrastruktur penopang poin Ketiga harus digagas > pembangun pelabuhan kualitas internasional terpadu didaerah Terusan, Pesisir > Selatan. Karena Teluk Bayur telah tidak layak disebut sebagai pelabuhan > internasional, apa lagi pelabuhan ini adalah berlokasi diujung Barat > Nusantara. Kapal pelayaran internasional yang akan mampir kesana mempunyai > draft 13 s/d 17 meter. Sedang Teluk Bayur cuma 9.50 m. > > Sanggupkah kita memproklamirkan objektif pembangunan yang menjadikan Sumbar > sebagai pusat pertumbuhan ekonomi? Janganlah lagi berpikir subjektif, dengan > menganggap saya hanya duduk berkuasa 5 tahun. Tapi harus objektif memandang > jauh kedepan. Setelah objektif tersebut dicanangkan, maka semua pihak > berpacu untuk berprestasi mencapainya. Mulai dari orang tua, guru, pemimpin > dari Walinagari sampai ke Gubernur bahumembahu menyuarakan, kita pasti bisa. > Kita malu selalu bertangan dibawah, meminta DAU dan DAK. Seharusnya sebagai > daerah otonomi kita yang memberi iyuran ke pusat. Seperti kita > berorganisasi. Negara adalah organisasinya daerah otonomi. > > Wasalamulaikum WW > St.P (51+) > Pemimpi. > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

