Khutbah Wukuf Arafah
Oleh: Abdullah Gymnastiar 

Haji yang mabrur adalah haji yang menjadi teladan dalam akhlaq. Setidaknya kita 
ingat fa laa rofasa, wa laa fusuqo, wala jidala fil hajj. Seorang haji yang 
mabrur jangan pernah terlintas dalam fikiran dan perkataan yang menjurus kepada 
perbuatan nista dan zina, Naudzu billahi min dzalik. 

Bagaimana mungkin orang yang dimuliakan Allah dihadapan malaikat lalu dia 
berkata zina, berfikir zina dan melumuri tubuhnya dengan perbuatan zina. Adalah 
haji yang terkutuk jika ia melumuri dirinya dengan perbuatan nista. Jauhilah 
apapun yang mendekatkan kita kepada zina. 

Tidak pernah orang menjadi senista-nista mahluk kecuali diantaranya adalah 
pezina. Sukakah kalau anak-anak kita dizinahi orang lain? Sukakah kalau istri 
kita dizinahi orang lain? Sukakah kita kalau orang tua kita dizinahi orang 
lain? Jauhi sekuat tenaga saudaraku. Dan berhati-hatilah terhadap perbuatan 
fasik. Menipu, berdusta, serakah, maling, korupsi itu adalah 
perbuatan-perbuatan fasik. 

Pastikanlah pulang dari tanah suci ini, tidak pernah rela mulut kita nodai 
dengan dusta. Dusta tidak akan pernah memuliakan kita sama sekali, dusta adalah 
penjara yang membuat kita tidak pernah merdeka menjadi manusia. 

Ketidak jujuran tidak akan mendatangkan apapun selain membuat kita menjadi 
mahluk yang tidak pernah bahagia. Tidak ada lagi kefasikan saudaraku, pastikan 
anda disini menjadi orang yang jujur, berkata jujur dan bersikap jujur. Biarlah 
orang menghina kita, yang penting kita tidak hina karena ketidak jujuran. 

Saudara-saudaraku sekalian, mulut adalah seperti moncong teko yang hanya 
mengeluarkan isinya. Apa yang ada didalam isinya akan keluar. Jika didalam 
berisi kopi akan keluar kopi, jika didalam bening maka keluar akan bening dan 
kalau didalam manis maka keluar akan manis. Tutur kata mencerminkan siapa diri 
kita. Semakin kasar, semakin kotor semakin tidak bermutu, menunjukkan siapa 
diri kita. Maka pastikanlah seorang haji yang mabrur, menjadi teladan didalam 
memilih kata dan sikap. 

Perkataan seseorang menentukan nilai pribadinya. Nabi Muhammad SAW adalah 
seorang yang berbicara dengan fasih, benar, sedikit, bermakna dan bernilai. 
Sepatutnya seorang haji yang mabrur sangat memilih kata yang akan dilontarkan 
dan tidak ada lagi bagi kita kegemaran menjadi orang yang berdebat mengumbar 
emosi dan memprovokasi. 

Seorang haji mabrur benar-benar akan menjaga dirinya agar tidak menjadi bagian 
dari masalah, tetapi menjadi bagian dari penyelesaian masalah. Untuk apa dengan 
teman dikantor kita saling menyakiti dengan kata-kata yang mengiris. Pastikan 
seorang haji menjadi teladan dalam berkata yang baik atau diam. 

Bersambung


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke