Siapapun yang akan menjadi Direktur Utama Garuda,baik orang dalam maupun
tidak, yang penting orang tersebut dapat menyehatkan kinerja
Keuangan,meningkatkan kualitas pengembangan SDM dan Pelayanan Garuda,serta
mempunyai karakter pribadi yang tegas,bermoral sehingga dapat menerbangkan
Garuda secara nyaman. "Kepuasan Kami adalah Kenyamanan Anda"
----------------------------------------

Senin, 07 Februari 2005 00:00 WIB

'Orang Dalam' Diprioritaskan Pimpin BUMN Penerbangan
JAKARTA (Media): Pemerintah akan memprioritaskan 'orang dalam' untuk mengisi
jabatan direksi maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara
Airlines (Merpati).
"Kita akan memprioritaskan orang dalam Garuda dan Merpati untuk mengisi
jabatan direksi. Jika tidak ada calon yang memadai, baru mencari dari luar
perusahaan," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara Sugiharto, menjawab
pertanyaan wartawan usai peresmian 600 rumah pekerja hasil kerja sama BTN
dengan Jamsostek di Cibarusah, Cikarang, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Lebih jauh, menurut Sugiharto, sebelum direksi di kedua maskapai milik
pemerintah itu dipilih, para calon dari kedua perusahaan penerbangan
tersebut akan melalui fit and proper test. Penggantian direksi kedua BUMN
penerbangan tersebut segera dilaksanakan dengan alasan kedua perusahaan
tersebut saat ini dalam kondisi merugi.
Pekan lalu sebelum mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR
Sugiharto sempat mengungkapkan, saat ini sudah ada empat nama calon kandidat
direksi Garuda dan Merpati.
Pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri proses fit and proper test direksi
Garuda sudah dilakukan. Nama-nama calon pun sempat ke permukaan. Calon yang
paling santer disebut-sebut sebagai calon Dirut Garuda adalah Samudera
Sukardi, kakak Menteri BUMN ketika itu Laksamana Sukardi. Untuk jajaran
direksi lainnya muncul nama Handrito Hardjono untuk direktur keuangan, yang
kini menjabat Kepala Manajemen Aset Garuda. Selain itu, Daan Ahmad dari
Kepala Dinas Personalia Garuda diplot menduduki jabatan Direktur Strategis
dan Umum, dan Direktur Teknik tetap dijabat Richard BS. Sementara untuk
Direktur Operasi muncul nama Ronggo Kariawan. Semua calon tersebut merupakan
'orang dalam' Garuda. Sementara untuk jabatan Direktur Niaga rencananya akan
dijabat oleh seorang pejabat dari Bank Danamon. Belakangan nama Emirsyah
Satar mantan Direktur Keuangan Garuda yang saat ini menjabat Wakil Direktur
Bank Danamon disebut-sebut sebagai calon Dirut Garuda.
Tetapi, sejak awal menjabat sebagai Menteri BUMN, Sugiharto menegaskan akan
melakukan proses fit and proper test dari awal lagi. Hingga saat ini justru
calon direksi Merpati yang tidak banyak diungkap.
Terkait dengan seleksi calon direksi Garuda, anggota Komisi V DPR Achmad
Muqowam berpendapat, bila jajaran deputi Menteri BUMN belum diganti
kemungkinan daftar calon yang diajukan relatif sama dengan yang lalu. "Jadi
kalau mau benar-benar mendapatkan calon yang baru, ganti dahulu deputinya,"
ujar Muqowam.
Utang
Upaya mengganti direksi kedua maskapai penerbangan pelat merah itu dengan
alasan utang kedua BUMN tersebut sudah mengkhawatirkan memang masuk akal.
Saat ini saja Garuda masih menyisakan utang sebesar US$827,90 juta yang
harus lunas pada 2010. Dengan tahapan rencana pembayaran US$111,1 juta pada
2005, US$112,8 juta (2006), US$108 juta (2007), US$120,3 juta (2008),
US$122,8 juta (2009) dan US$218,7 juta (2010).
Kondisi yang cukup parah memang terjadi pada Merpati, maskapai penerbangan
yang memiliki jaringan penerbangan terkuat di Indonesia bagian timur ini
memiliki ekuitas negatif, karena kewajibannya Rp1,3 triliun. Padahal, nilai
aset yang dimiliki Merpati ditaksir paling tinggi hanya senilai Rp800
miliar.
Sementara itu, utang Merpati kepada pemerintah saat ini sebesar Rp225
miliar, utang kepada Garuda Rp246,7 miliar dan utang ke Bank Mandiri Rp230,3
miliar.
Berbagai upaya untuk menyelamatkan Merpati sempat dilakukan antara lain
dengan merintis upaya penerbitan saham baru dengan mengundang investor pada
Agustus tahun lalu. Tetapi, nyatanya upaya tersebut juga belum terealisasi.
Sebelumnya juga ada opsi agar pemerintah menyuntik dana segar Rp600 miliar
yang bersumber dari APBN atau rekening dana investasi (RDI). Tetapi, opsi
tersebut tidak juga mampu terealisasi, karena kondisi keuangan pemerintah
juga belum membaik.
Belakangan pemerintah mendesak Merpati agar segera menyelesaikan rencana
bisnisnya dalam bentuk yang lebih detail, menyusul paket rekapitalisasi BUMN
penerbangan itu oleh Komisi IX DPR.
"Begitu kita terima business plan dan Menkeu bisa setuju, pada saat itu dia
bisa melaksanakan 'strategic sales'. Dan itu tergantung Merpati," kata
Dirjen Lembaga Keuangan Departemen Keuangan (Depkeu) Darmin Nasution dalam
satu kesempatan. Tetapi, tampaknya proses persetujuan pemerintah bukan hal
yang sederhana. Nyatanya hingga saat ini pemerintah pun belum bisa membuat
keputusan soal cara penyehatan Merpati.(Ant/E-6)

----------------------------------------
Sumber: Media Indonesia Online
<http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?Id=2005020700525701>

Copyright � 2005 Media Indonesia Online. All rights reserved
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke