--- taufikmalin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum wr wb
> Bismilahirrhamanirrahiim.
> Alhamdulillah, sanang bana hati ambo kalau ado urang
> nan mambari patunjuk, pandapek, komen2 (komen dalam
> bahas mingnyoo apoo? Mhm patunjuk dr dunsanak2 nan
> tahu)).manganaii tulisan2 ambo. Karano akan
> batambah ilmu ambo. Tarimo kasih banyak sdr Rahima.
> semoga Allah menambahkan rahmatNya kepada sdr.
> Rahima.
>
> Kalau badiskusi tantang hadist2 iyoo indak akan
> habiah habiah sampai hari kiamat, sebab semanjak
> mulai pangumpuian hadist2 sudah mulai ado nan pro
> dan kon. Maa nan bana, sahih,tidak sahih, lemah,
> malah ado pulo nan hadist2 palsu.dll. karano Nabi
> tampek batanyoo nan pasti banaa sudah tidak ado
> laii.
Walau rasulullah SAW telah tiada, bukankah peninggalan
beliau ada, beliau akan "hidup" selamanya buat kita,
dengan kehidupan ajaran-ajaran yang ditinggalkan
beliau melalui hadist-hadistnya.
Rasulullah bersabda : " Aku meninggalkan pada kamu
akan dua hal, jika kamu berpegang kepada keduanya,
maka kamu tidak akan pernah sesat selamanya, yaitu
AlQuran dan Assunnah".
{Ulama2 banyak puloo golongannyoo.
Dalam sebuah hadist yang kira-kira begini artinya : "
Kelak manusia akan berpecah belah dan berselisih
pendapat, maka peganglah oleh kamu pendapat ahli
sunnah, karena ahli sunnah lebih tahu akan
hadist-hadist dan sejarah rasulullah dan para sahabat
".
> Kalau di baco al Quran, sebagai pedomahidup muslim
> dan sebagai tali Allah sebagai pegangan kita seperti
> barikut dibawah ini.
>
> (1).Yaa Tuhan ku sesungguhnya kaumku menjadikan Al
> quran ini suatu yang tidak diacuhkan"
> (QS.25;30).(2).(mereka sudah banyak beriman kepada
> buku2 lainnya).
maksud ayat diatas "Diacuhkan manusia akan hukum-hukum
yang ada dalam AlQuran. tetapi manusia berpegang pada
hukum-hukum selain hukum AlQuran".
Manusia bisa saja berpegangan pada buku lainnya, asal
tetap bersumber pada AlQuran dan Assunnah, karena
buku-buku lain(tafsir tentunya), sudah jelas banyak
perubahan, namanya juga penafsiran. tetapi dalam
penafsiran inipun manusia bisa berpegang pada
syarat-syarat yang tertentu pula.
Bukankah Allah sudah berfirman : "Didalam AlQuran itu
ada ayat-ayat yang jelas dan ada yang samar-samar".
Dalam menafsirkan ayat-ayat yang masih samar itulah
diperlukan adanya penafsiran. Dan penafsiran
dibutuhkan pedoman pada Rasulullah, dan ini tentu
melalui hadist-hadist beliau. Makanya tidak gampang
untuk jadi ahli tafsir, harus tahu bahasa Arab, harus
tahu tafsir, grammar, fiqh, ushul fiqh dsbgnya. Semua
ini agar menjaga tidak terjadinya penyimpangan.
Jelas donk, tidak bisa diterima logika yang sehat,
kalau kita menerima penafsiran AlQuran dari orang yang
tidak tahu bahasa Arab?
Bagaimana kita bisa mempercayai penafsiran seseorang
tentang kandungan AlQuran, sementara ia sendiri tidak
tahu bahasa AlQuran tersebut? Penafsiran dari orang
semacam ini yang perlu dipertanyakan. Bukankah Allah
sudah berfirman : " Maka tanyakanlah pada yang
ahlinya,jika kamu tidak mengetahuinya ".
Maka kepada perkataan apakah selain
> Al Quran ini mereka akan beriman?QS.77;50.(3)(kita
> boleh beriman hanya kepada Al quran saja, tidak
> boleh kepada buku2 lain selain al quran)
Allah berfirman : " Ta'atilah Allah dan RasulNya ".
Maka apabila kamu berselisih kembalikanlah urusan itu
hanya pada Allah dan RasulNya. (Dua hal, bukan AlQuran
saja, tetapi hadist juga harus diimani, tapi jelas
hadist yang shahih, jangan pakai hadist lemah, yang
sanak taufik pakai selama ini kebanyakan saya lihat
hadist lemah, bahkan palsu).
Maka apakah
> mereka tidak mem perhatikan Al Quran ? Kalau kiranya
> Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
> mendapat pertentangan yang banyak di
> dalamnya.QS.4;82.(Karano hadist2 yang diperhatikan,
> makonyoolah banyak tajadi perbedaan2 dalam masarakat
> islam)
Jangankan menafsirkan hadist, penafsiran dalam AlQuran
saja bisa beda. Jadi bukan perbedaan itu terjadi
karena manusia hanya memperhatikan hadist sajo, tetapi
memang Allah sudah ciptakan manusia punya kepala sama
tapi pendapat beda. Hanya saja dalam perbedaan
penafisran itu harus memegang pada pedoman AlQuran dan
Sunnah juga. Ayat itu satu sama lain bisa saling
mendukung, jadi jangan lihat satu ayat, lupakan ayat
lain.
(4).Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al
> quran dan sesungguhnya Kamilah benar benar
> memeliharanya (QS.15;9).(selain dari Al Quran Allah
> tidak akan jamin kebenarannya, apakah itu buku2
> hadist, riwayat2, buku2 sejarah, dll, mungkin sahih
> mungkin tidak sahih.)
Makanya lihat shahih tidaknya, kalau lemah ngapain
diambil?
>
> Kalau kito bapadoman kapado tali Allah, mungkin
> kesalahan indak banyak, tapi kalau bapadoman kapado
> hadits2, itulah nan tajadii, pertikaian pandapek
> antaro ulama2.(antaro ambo joo sdr Rahima , antaro
> Jemaat tablikh joo Ahmandiah, Syiah joo sunni dll)
>
> Jadi awak sebagai urang awam, bukan batambah
> keyakinan kepado perawi2 nan alah maraso bajaso
> banyak mangunpuaikan hadist itu, tapi batambah ragu2
> sajoo maa nan bantuii, maa nan sahih dan tidak
> sahih.
Makanya ditanya sama yang ahlinya, jangan tanya sakit
gigi pada dokter kulit, apalagi sama ahli mesin,
jangan asal taklid buta.
Kalau ingin tahu hadist itu lemah, atau palsu,
shahihnya, silahkan dichek dari rentetan perawinya,
silahkan dilihat nashnya bertentangan apa tidak dengan
AlQuran?
kalau kita tidak percaya dengan hadist rasulullah SAW,
itu namanya kita ingkar sunnah, bukankah Allah sudah
katakan ta'ati Allah dan rasulNya?
FirmanNya lagi, jika kamu benar-benar mencintai Allah,
maka ikutilah aku(Muhammad), Allah akan mencintai
kamu, Jaminan apa lagi yang lebih sah, selain dari
perintah Allah ini akan hadist?(tentu sekali lagi
harus hadist shahih).
>
> Apokah Sdr Rahima nan balajar di Cairoo nan banaa?
> atau ulama2 dari Jammat Tabligh yang ahli2 Hadist
> itu yang banaa?.
Disini yang perlu dilihat benar, dilihat manuscripnya
yang asli tulisan tangan sipenulis pertama. Dan yang
perlu jangan salah terjemahan, karena dekat sekali
penulisan antara " Tis'ata 'asar dengan tis'in fil
miah "( Sembilan belas dengan 90% ). Jangan jangan
yang salah adalah penterjemahnya.Saya tak menemukan
kata 90% itu, yang saya temukan hanyalah 19-9
Sebab hadits nan ambo tulih itu
> ambo ambiek dari buku2 yang dicetak oleh Jemaat
> Tabligh.
Bisa jadi salah cetaknya, atau salah terjemahannya,
bukan lihat buku aslinyakan, bukan lihat yang tulisan
Arabnyakan, tetapi yang dilihat terjemahan?
Karano ambo indak panah batamu joo Sdr
> Rahima dan joo panulih buku2 hadist itu, baacaro
> manguji maa nan banaa diantaro kadunyoo. Mungkin
> penjalasan Sdr. Rahima banaa barangkali, tapi joo
> apo diuji? kalau ameh nan palsu bisa diuji, tapi
> kalau maauji hadist2 baa caronyo. Bulehkan percaya
> saja kapado panulih?
Saya tidak minta agar omongan saya ini dipercaya atau
tidak, saya bisa memperlihatkan pada sanak Taufik
tulisan asli, tetapi bisakah sanak taufik
memperlihatkan pada saya tulisan asli dalam bahasa
Arabnya?,
Gampang, ngak perlu saya harus diundang ke Amrik, atau
dimana sanak berdiam,ntar susah pula menyediakan tiket
bagi saya(kalau mau sediakan juga, wah,.. terimakasih
banyak, saya terima tawaran itu,untuk sekedar itu
doank, huahaha..).
Sekarang sudah zaman canggih, insyaAllah, kalau mau
saya bisa scan itu hadist dalam bahasa Arabnya, dan
kirim kesanak taufik, dengan catatan kita saling
mengirimkan buktinya, saya dikirim juga dalam asli
Arabnya, kalau yang ada disanak terjemahan, kita
pertanyakan, mana yang lebih benar, yang asli atau
yang diterjemahkan? .
Ini kalau ingin mengecek kebenaran. Ngak harus emas
murni 24 karat atau 18 karat saja yang bisa dibuktikan
asli atau tidaknya?
Apakah hadist dalam bahasa Inggris yang lebih
dipercaya atau dalam bahasa Arab? So pasti yang
Arabkan, karena aslinya hadist itu dari bahasa Arab,
rasulullah SAW orang Arab,AlQuran juga bahasa Arab?
>
> Kalau kito baco 3 tali Allah (firman2) diatas, jaleh
> banaa di awak bahwa yang akan dijagoo oleh Allah
> sampai akhir zaman hanyoo Al quran sajo. Selain dari
> padoo itu, Allah tidak akan menjamin kebenaran2
> buku2 yang lain ciptaan manusia.
Hadist rasulullah bukan hanya ciptaan manusia, itu
juga berasal dari Allah. Sebab jaminan Allahpun ada
untuk hadist(yang shahih ini), " Wamaayantiqu
anilhawa, inhuwa illaawahyuyuuha, dan tidaklah
Muhammad itu berbicara dari hawa nafsunya saja, tetapi
semua berasal dari wahyu Allah yang diwahyukan
padanya).
Sayangnya saja manusia tidak mempelajari mana hadist
shahih dan palsu. Asal ceplok saja, kayak goreng telor
ceplok, ngak disharing dulu, ini telor ayam kampung
atau ayam Eropah, ayamnya busuk atau masih segar?
manusia kan punya akal untuk mensharing, apa gunanya
akal diberikan oleh Allah, kalau tidak untuk itu?
>
> Manyinggung tentang difinisi "cinta' mungin setiap
> ahli bahasa akan berbedo bedo. Tasarah kapado
> pambacolah mangartikan kata kata "cinto". sdr
> Rahima sudah memberikan penjelasannya sesuai dengan
> ilmunya.
Karena konteks yang diberikan pada cinta kemaren
menyamakan cinta antara muslim dan non muslim, itu
saja. Bukankah sudah jelas firman Allah yang saya
sampaikan kemaren?
Ini sekaligus jawaban untuk uni Ben
Beda, kalau kita berteman, kemudian bercinta dengan
non Muslim, lihat tujuannya, apakah kita ingin non
muslim itu masuk islam, wah..ini bagus, tapi kalau
kita pula yang terbawa, kita jadi murtad bagaimana?
Makanya masalah cinta ini, dan cinta itu pada
hakikatnya datang setelah ada ikatan yang sah.
Bukankah Allah sudah berfirman: " Dan dari tanda-tanda
kekuasaannya pada kamu menciptakan dari jenis kamu
sendiri berpasang-pasangan(menikah), yang demikian itu
agar kamu saling berkasih sayang, saling mencintai..".
Jadi konteks ayat diatas menandakan bahwa Cinta datang
setelah adanya ikatan yang sah. Dalam Islam hanya ada
saling kenal mengenal sebelum pernikahan.
Ayat diatas bukan terbalik, dengan adanya kasih sayang
dan cinta diharapkan kelak kamu akan menikah. Bukan
begitu redaksi ayatkan? tetapi sebaliknya, menikah
dulu baru ada cinta?
Allah tidak pernah mematikan rasa kagum, sayang atau
cinta yang ada dihati manusia, karena itu sudah fitrah
dari sononya, ngak bisa kita menghindarinya, dan ngak
bisa dipaksakan, namun dalam hal ini Allah sudah kasih
jalan yang benar, agar cinta itu tepat dan benar,
hendaklah dengan nikah.
Kalau dengan non Muslim, harus masuk dulu lelakinya
jadi muslim, baru bisa nikah,karena kita tahu sendiri,
perempuan muslim tidak boleh menikahi lelaki
musyrik/kafir, begitupun sebaliknya. harus beriman
dulu pada Allah, makanya benar adanya cinta hakiki
sesama manusia YANG DIBENARKAN OLEH ALLAH, setelah
adanya ikatan yang sah.
Kalau cinta yang tidak dibenarkan oleh Allah, itu
terserah masing-masing pihak saja. Karena kita kemaren
bercerita dalam konteks cinta muslim dan non muslim.
Makin banyak badiskusi dgn hati nan lapang,
> pikiran janih, saling hormat menghormati, dengan
> kasih sayang, pasti banyak hikamah2nyoo. Sebagaimana
> Allah bersabda di 49:11.
>
> Bagaimana pun juga pandapek Rahima sangat sangat
> ambo hargai sekali. Tarimokasih.Wassalamu'alaikum wr
> wb.
Terimakasih dan mohon maaf.
Wassalam. Rahima.
>
> Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________