Assalamualaikum Wr. Wb.,
Parmisi ka Palanta manaruihkan pandapek bapak ko, satuju pak jo
pamikirannyo, tapi baa maakai supayo anak2 tu namuah lalok dan baraja di
Surau/masajik, sadangkan dirumahnyo ado yang lalok jo kasua ampuak, jo
AC, ado TV dlsb, he he batanyo kok ka Palanta.
Sakian, wass, syb.


Ketika Fungsi Surau Sudah Jauh Bergeser
* Bastiam: Babaliak ka Surau Solusinya 
Oleh admin padek 1 
Rabu, 01-Juni-2005, 10:34:15 3 klik   
 
 
Surau terbukti ampuh menciptakan seorang intelektual. Faktanya, sebagian
besar tokoh besar yang dilahirkan Sumatera Barat merupakan produk surau.
Sebut saja Hamka, Hatta, dan sejumlah toko nasional dari Sumbar lainnya
dibesarkan oleh lingkungan surau. Lalu bagaimana sekarang? 
 
 


SEJARAH membuktikan, surau (termasuk mesjid) sangat besar andilnya dalam
memajukan pendidikan di Ranah Minang. Pendidikan di surau dulunya
termasuk lengkap. Di surau, para murid tidak hanya didik mengaji, tapi
juga ilmu lainnya. Antara lain belajar silek (silat), pidato, belajar
adat, pantun dan lainnya. Sehingga tidak heran, generasi muda Minang
dulunya tidak hanya terkenal pintar mengaji tapi juga pintar basilek,
berpidato, mengerti persoalan adat. Anak Minang, terutama yang laki-laki
wajib hukumnya belajar dan tidur di surau. 

Tidak hanya itu, surau dijadikan segala pusat kegiatan di kampung.
Musyawarah adat, musyawarah nagari dan kegiatan kampung lainnya
dipusatkan di surau. "Pendeknya, apapun kegiatan yang bentang kampung,
dirancang di surau," sebut Letkol Drs Bastiam, Apt, MM, kepada koran
ini, kemarin. 

Lewat pendidikan surau, Sumbar mampu menciptakan intelektual handal.
Putra Minang disegani di kancah nasional, bahkan dunia tidak hanya
karena ilmunya tapi juga ketaatannya kepada agama dan adat yang mereka
dapatkan selama belajar di surau. 

Namun sekarang, tidak dapat dipungkiri, fungsi surau di Ranah Minang
sudah jauh bergeser. Surau tidak lagi dijadikan sebagai tempat melakukan
pusat aktifitas di desa, jorong dan nagari. Jangankan untuk melakukan
pusat kegiatan, ada surau yang tidak dipergunakan dalam menjalankan
shalat lima waktu. "Jangan heran, sekarang sudah susah mencari orang
untuk membacakan doa. Bahkan, untuk mencari orang yang bisa azan sudah
mulai langka. Sungguh-sungguh memperihatinkan," lanjut putra Kabupaten
Agam kelahiran Matua, 13 Februari 1962 itu. 

Persoalan tersebut, lanjut Calon Bupati Agam dengan nomor urut 1 yang
berpasangan dengan Yosiano Moechtar itu, tidak bisa dibiarkan
berlarut-larut. Jika tidak, bukan tak mungkin Islam di negeri ini hanya
tinggal merek. Kembali ke pola pendidikan surau (babaliak ka surau),
merupakan solusi tepat untuk mengatasi persoalan ini. Cuma, babaliak ka
surau dimaksud haruslah dikemas dengan pola baru. Soalnya, untuk
menyuruh anak-anak sekarang untuk tidur di surau tidak mungkin lagi. 

"Sekarang, khusus untuk pendidikan di surau, yang mesti kita perkuat
adalah sumber daya manusia (SDM). Kualitas tenaga pendidik yang
ditempatkan di surau mesti digenjot. Konsewensinya, kita juga mesti
memperhatikan kesejahteraan mereka. Berikan gaji yang manusiawi terhadap
guru di surau. 

Sebab, walau bagaimanapun guru juga manusia. Mereka butuh materi untuk
hidup," sebut Perwira Menengah TNI yang saat ini bertugas di Mabes TNI
itu seraya menambahkan, sebenarnya kita sudah memiliki modal untuk itu.
Sumbar memiliki banyak Madrasah dan IAIN yang berbasiskan pendidikan
agama. (jig) 
 


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke