Assalamu'alikum.w.w.
Banyak persoalan kita di pemerintahan yang 'adil,
banyak suara pro dan kontra, biar kita inapkan
sejamang, kita bahas pula apa yang terugir-ugir
di hati mak Ngah mengenai persoalan nan ciat ko haa.
Soal anak dengan bini (Mengapa anak dengan bini bisa
menjadi musuh). Biar sanang pula dikira-kira
beliau.
Anak, kalau lah akan disebut juga, sayang berlebih
daripada yang lai. Soal sayang anak..., orang tua
bagaimanapun jahatnya, tetap sayang pada anaknya.
Dengarlah dendang pauh ...
Eeeeeiii....Nak kanduang si biran tulang, ubek jariah
palarai damam. Sambilan bulan sapuluah hari, badan
nan ciek manangguang duo nak eeei, takao ndak takao
dikaokan juo ma yuang eeiii, yeei yeei yeeei.
2 tahun yo nak kanduang bagantuang jo susu mandeee,
kok ndak baraia susu mande, bacarikan urang nan ka
manyusukan ndeh nak oooi. dibaduang jo dipangku nak,
jan nyo dingin badan kanduang nak oooi.
Rangik saikua indak buliah manggigik
do nak eeii yeei yeei yeei yeeeei.
Diaja mangecek jo bajalan nak nyo lakeh gadang nak
kanduang eeeii. Kok etong bajalan abak waang, bareh
lah abih ka dimakan, jo bareh basalang digadangkan
waang ma yuang eeei yeei yeei yeeii yeeeiii?.
... aaa alah tu amuah tabik aia mato awak dinyo...
Mari kito bahas,
Khalil gibran pernah bersya?ir, anak itu ibarat
anak panah, dia punya kebebasan kemana ia akan pergi.
...Aaa ini kan khalil gibran. Tapi khalil gibran ini,
dia kafir. Anehnya di kalangan orang Islam banyak pula
yang dalam pembicaraan atau tulisan mengambil kata-
kata orang kafir ini. Selama dia kafir kita tidak
boleh menjadikannya sebagai pegangan atau sandaran.
Kalau dibahas nampak kesalahanannya. Ia lupa bahwa
anak panah itu tidak akan terbang bila busur panah
tidak direntangkan. Ia lupa bahwa kemana anak panah
itu pergi bergantung kepada kemana busur panah itu
diarahkan. Sebagai orang tua, kitalah busur panah
yang akan mengarahkan anak-anak kita. Kalau diarahkan
kepada yang sasaran yang betul, maka baiklah hasilnya
tapi kalau diarahkan untuk membunuh orang yang tidak
dihalalkan membunuhnya, maka kita juga yang akan
menanggung resiko... aaa kan ....
Makanya jangan diturut khalil gibran.
Berat memang tanggung jawab pada anak. Sayang
memang sayang,.. kena dendang pauh atau rabab pesisir
kita orang tua ini yang menitikkan air mata. Tapi anak
kadang tidak mengerti. Ibu saya pernah bercerita pada
saya bagaimana sayangnya orang tua pada anak. Apa
cerita beliau ?... cuba kita dengar...
Syahdan adalah ketika itu seorang ibu yang telah
tua, lalu tinggal menumpang dengan anaknya.
(Ndeeh,...tibo di urang gaek, manumpanglah kironyo,
tibo di anak ?, lai manumpang lo inyo dulu ?). Anaknya
lelaki, tentu tinggal dengan menantu perempuan.
Day by day, hari berganti hari, rupanya jalan tidak
mulus, mula-mula menantu yang mengomel bahwa orang
tua ini menyusahkan saja. Selain payah memberi makan,
diapun mesti diurus juga. Keadaan ini masih dapat
ditahankan oleh si suami atau anak lelaki dari orang
tua itu. Lama-lama orang tua itupun lumpuh. Berjalan
sudah tidak kuat lagi. Maka bertambah-tambahlah
persoalan diantara mereka, persoalan dengan cucu
menambah ruwetnya masalah, sampai terlompat kata-kata
"Orang tua ini tak mati-mati juga". Orang tua yang
sudah tak berdaya hanya dapat menitikkan air mata.
Lama-lama sang anak sendiri tidak tahan, merasa berat
beban ditanggungnya sampai ia marah-marah dengan orang
tua itu. Lalu kemudian Orang tua itu berkata
"Kalau memang tak tertanggungkan
rasanya oleh mu nak, hantarkan lah saya ke tengah
hutan di puncak bukit itu, biar saya mati cepat
dimakan bintang buas". Mulanya si anak merasa iba
juga, tapi karena desakan isteri dan anak-anak yang
lama-lama menjadi lawannya kalau dibiarkan, maka
dapatlah keputusan mengantarkan orang tua itu ke dalam
hutan. Boleh jadi dibuatkan sebuah pondok, sampai
menemui ajalnya. Ada juga kebaikan membuatkan pondok
di hatinya tapi Setan lebih cepat memintas dan
menyuruh sedaya upaya, diantarkan juga orang tua itu.
Syahdan diberangkatkanlah orang tua itu menuju
hutan di atas puncak bukit. Karena orang tua itu
lumpuh, terpaksa digendong menuju puncak bukit. Terasa
penat anaknya olehnya menggendongnya sang ibu kemudian
berkata "Wahai anakku, kalau penat engkau, baiklah
mengaso sebentar di bawah pohon, mungkin sesudah itu
engkau
kuat mendaki sampai ke puncak, setelah itu tak ada
bebanmu lagi". Anak lelaki mendengar kata-kata itu
dan memang merasa penat, berhentilah ia di bawah
pohon. Diturunkannya orang tua itu dan ia pun
melepaskan penat. Ketika sedang mengaso terpandanglah
pohon itu sedang berbuah lebat dan telah masak.
Melihat anaknya terpana kepada buah-buahan itu, si Ibu
berkata "kalau hilang penatmu bolehlah kau panjat
pohon ini supaya dapat engkau makan". Mendengar
perkataan itu entah
bagaimana, hilang rasa penatnya dan iapun memanjat
pohon itu dan mengambil buahnya untuk dimakan,
ia lupa orang tua itu juga ingin memakan buah itu.
Lama ia berada di atas pokok sang ibu memanggilnya.
"Belum juga cukup kau makan buahnya, turunlah lagi,
hari menjelang petang, nanti lama kau sampai di
rumah". Terbayang juga kesulitan anaknya nanti oleh
orang tua itu.
... aiii lah panjang pula ni... cerita belum habis...
... ndak apalah... besok saja kita sambuang...
Wassalam
St. Sinaro
____________________________________________________
Yahoo! Sports
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football
http://football.fantasysports.yahoo.com
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________