Kenapa sampai terjadi korupsi..?

Assalamualaikum.Wr.Wb.

Ini bukan diambil dari buku. Tapi pengalaman dan
analisa yang sifatnya subjectif saja.

Kenapa sih di Indonesia korupsi itu sudah menjadi
darah daging bangsa kita ?

Mungkin dari pengalaman pribadi saya yang bekerja di
instansi pemerintahan, khususnya Depag, juga suami
yang juga bekerja di instansi pemerintahan, khususnya
kedutaan, dimana melihat ponakan-ponakan yang bekerja
di perpajakan, BUMN, dan lainnya, saya melihat korupsi
itu terjadi akibat memang sudah system borokrasi kita
yang mengajak kesana. Kecuali bagi mereka yang kuat
imannya, tidak akan terpengaruh sama sekali dengan
ajakan tersebut, serta lobang-lobang atau tempat basah
istilah kerennya.

Pengalaman ayah saya seorang  Kepala bagian di
Kehutanan, juga abang ipar saya kepala bagian juga
dikehutanan, kakak kandung saya yang memegang jabatan
yang paling terpenting di BUMN yaitu sebagai
Bendahara. Ponakan saya yang memegang jabatan penting
juga di Perpajakan(kata orang tempat banyak duitnya).

Apa komentar mereka :

Ayah saya : “ mengatakan, kalaulah tidak ingat Allah,
ingat darah yang mengalir ditubuh anak-anak ayah akan
menjadi darah yang haram, mungkin bisa jadi dengan
tahunan memegang jabatan kepala kantor ini, ayah bisa
korupsi dan kita bisa jadi kaya raya, tak seperti
sekarang ini yang hidup sangat sederhana, syukurnya
ibu kalian membantu mencari nafkah, punya kedai nasi
yang sangat laris, karena masakan Padang, juga
anak-anak ayah tidak banyak permintaannya, maka
teraturlah kehidupan, sehingga boleh dikatakan cukup
dan sedikit istimewa 
Betapa banyaknya justru jabatannya dibawah ayah, namun
dari bidang yang lain, sudah punya mobil mewah, rumah
bertingkat dsbgnya”.Semua kemewahan darimana
didapatkan, mereka bawahan padahal mereka tak punya
kerja sampingan, tak pula ada harta warisan ortunya..?
itulah kata ayah saya.

Apa lagi koment kakak ipar saya : “ Kalau abang
sih,.karena punya dua anak, kakakmu bekerja, mana
abang sudah terbiasa hidup sederhana, sehingga untuk
korupsi itu malas, duit haram katanyakan..? (kebetulan
abang saya bukan orang agama, tapi beliau insinyur
pertanian saja, yang sangat rajin mengolah tanah
disekitar rumah mertuanya, rumahnya sendiri,
benar-benar terpraktekkan ilmu pertaniannya, walau ia
memegang jabatan kepala kantor bagian kehutanan, bukan
bekerja dibidang pertanian itu sendiri, tapi ilmu
agama yang sedikit diamalkannya)

Apa komen kakak kandung saya (pr) : “ Ima,.tahu ngak
ima, betapa beratnya memegang jabatan bendahara di
tempat kakak bekerja ini. Masing-masing orang sengaja
kasih duit sogokan agar bisa kakak melepas duit sekian
puluh juta untuk mereka pergi kelapangan dengan ajuan
dana melebihi kebutuhan yang semestinya. Pantasan saja
disana-sini terjadi kerusakan, korupsi, karena
kongkang lingkong antara Bos, Bendahara dan pegawai
itu sendiri , syukurlan ayah kita pernah bilang “
Jangan sampai darah yang mengalir ditubuh anak-anak
kalian setetespun berasal dari harta yang haram “, 

“ kakak ingat sekali pesan almarhum ayah itu, padahal
kalau dipikir-pikir biaya RT benar-benar banyak
tergantung dari kakak, bukan suami kakak, (suami
beliau PNS biasa saja, seorang guru), jadi gaji lebih
besar kakak kandung saya itu ketimbang gaji suaminya
sendiri. Gaji suami mungkin sekitar 1, 5 juta lebih,
kalau kebetulan banyak ngajar sana-sini, sementara
gaji kakak saya itu lebih dari 5 juta ditahun 89,
entahlah kalau sekarang berapa, saya tidak tahu, tapi
tahun itu segitu banyaknya untuk ukuran Indo yang
tinggal didaerah saat itu cukup lumayan tinggi.

Apa koment ponakan saya yang bekerja di Perpajakan : “
Tante ima,.gimana saya tidak korupsi, masak kita yang
capek-capek pungutin pajak ke toko-toko, dan lain2nya
itu,.kemudian dikirim ke Pusat ( APBN), eh…ngak
tahunya enak-enak saja yang nikmati hasilnya untuk
jalan ke LN para aparat pemerintahan, DPR.MPR, DPRD?
Enak saja, kita yang capek pungutin duit, mereka yang
cuman hongkang=hongkang kaki, duduk didepan komputer
sambil menghisap rokok chatting di internet dan
lainnya yang menikmati hasil duit tersebut..? 

Saya heran, ponakan saya yang baru bekerja, baru
menikah sudah punya mobil mewah, punya rumah dsbgnya,
kami yang sudah bekerja puluhan tahu di LN lagi,
dikedutaan yang gajinya dollaran, mana saya juga
bergaji, baru memiliki rumah sederhana, itupun belum
memenuhi syarat rumah yang sebenarnya, baru dimiliki
setelah 10 thn lebih bekerja. Karena rumah yang
sebenarnya bagi saya adalah di Sumbar, bukan di Sumut.

Saya cuman menasehatinya : “ Ingat duit itu haram, dan
kamu tahu itu duit haram, emang kita jadi cepat
kayanya, tapi api neraka menunggu kedatangan kita, itu
saja, tante ngak akan banyak omong”. Itulah yang saya
sarankan berapa tahun sebelum saya kembali ke Kairo
lagi.

Sekarang lihat comen suami saya : “ Ima,.kalau uda
memikirkan, kenapa uda ngak mau korupsi dikantor ini,
padahal jalannya banyak, karena system itu yang
mendukung, ima tahu sendiri, salah satu  janji
pernikahan kita dulu apa yang ima syaratkan : Uda ngak
boleh kasih ima dari harta yang haram, kalau dikasih
juga, ima akan minta cerai pada uda, dan uda ngak mau
kehilangan ima. Sudah dapat burung merak yang bulunya
indah, masak harus dilepas, diganti dengan burung
perkutut, burung gereja yang bulunya jelek.

Kedua, uda lebih takut akan penghisapan diakhirat
kelak, yang mana kalau kita korupsi didunia, kita
nikmati hasilnya tapi cuman sebentar aja, akibat yang
kita terima diakhirat berpuluh juta tahun menahan
siksa api neraka itu, ngeri uda membayangkannya.

Ketiga : Karena istri uda, ima orangnya tidak banyak
menuntut, tahu agama, lagian kalaupun uda pensiun
kelak, uda percaya ima bisa mencari duit dengan baik,
itu sebabnya uda mempersiapkan ima, mengkuliyahkan
ima, selain agar ima benar-benar bisa mengisi waktu,
bisa menambah keluasan ilmu ima, juga kelak anak-anak
uda tidak terkatung-katung nasibnya, karena ibunya
bekerja, bisa cari duit. Kuliyah dan kerja ima itu
bukan untuk kemaslahatan uda pribadi, kalau uda, sudah
terbiasa hidup prihatin, jadi tukang cendolpun uda tak
malu asalkan duit halal, namun uda menginginkan
anak-anak dan ima bernasib lebih baik lagi, makanya
uda harus membekali ima dengan ilmu, karena dengan
ilmu harta gampang didapat, tapi bila dibekali dengan
harta, harta habis dengan apalagi dicari duit, kalau
ilmu tak ada, dan ini yang buat orang cepat ambil
jalan pintas, korupsi, bekerja apa saja walaupun haram
disadat terus asal bisa dapat duit. Dan uda tak mau
itu terjadi pada ima dan anak-anak kelak kalau uda
tidak ada.

Apa komentar saya, kenapa tidak mau korupsi sekecil
apapun bentuknya : “ Kalau saya, takut saja siksa api
neraka itu, karena saya tahu sekali hidup didunia
bagaikan lamhatilbasar, sekejap mata saja, akhirat itu
lebih utama ketimbang dunia “ Wallaaakhiratu
khairullaka minal uulaa “. Lagian membiasakan diri
hidup qanaah, puas dengan apa yang diberikan Allah
ta’ala, hidup apa adanya, ngak terbiasa
bermewah-mewahan, kalau ada duit yah..disyukuri,
dengan duit dicari ilmu pergi melihat kekayaan alam,
itu sebabnya saya suka rihlah, berjalan dipersada muka
bumi Allah ini, menambah kekuatan iman saya, dimana
selalu ingat didalam harta kita ada hak faqir miskin,
jadi jangan dimakan mentah-mentah untuk diri dan
keluarga saja, harus tetap dikeluarkan zakat,
shadaqahnya tiap bulan secara teratur, tiap ada
kesempatan atau ada waktu diinfaqkan, mungkin infak
inilah kelak yang menolong kita dari dosa-dosa kita
yang sejibun banyaknya ketika hidup didunia ini. Itu
saja.

Dan sekarang kita lihat, kenapa koq di Indonesia,
khususnya jajaran pejabatnya korupsi itu sangat
membudaya, kenapa..?

Mungkin :1) Karena systemnya yang sudah membikin hal
sedemikian, atau mendukungnya.
2), Ketidakpuasan atas gaji, dikarenakan tuntutan
biaya hidup yang tinggi, semua serba mahal di Indo
itu, sementara kalau gaji suami saja dihandalkan akan
kurang, mana anaknya banyak lagi. Apalagi kalau istri
yang banyak 
3 ) Kekurang iman yang ada didalam jiwanya, walaupun
ia tahu agama sekalipun
4) Ia tak melihat kebawah tatkala memandang pada
harta, tetapi melihat keatas, melihat yang lebih kaya
darinya, bukan yang miskin. Jadi untung menyaingi
hidup yang diatas itu, ia lakukanlah korupsi.
5), Kurangnya ketegasan aparat pemerintah serta para
ulama dalam hal ini. 
6) dllnya

Melihat fenomena masyarakat, serta penyakit yang
melanda Indonesia, dulu, dan kini, tentu ada obatnya.
Apa obatnya..?

Berikan obat sesuai dengan penyakitnya. Sakit mata,
jangan dikasih obat salep kulit. Dan berikan sesuai
kadar dosis sipenyakit.
 Kalau yang korupsi kecil-kecilan, dikasih juga dosis
yang rendah, kalau korupsi besar-besaran, maka obatnya
juga dalam dosis yang tinggi.

==Kalau system yang salah, maka robahlah systemnya
==Kalau ketidakpuasan akan gaji yang rendah karena
kebutuhan mahal, maka tugas pemerintah menaikkan gaji,
dan meredam kenaikan-kenaian  barang, atau BBM.

==Kalau kurang iman, sering-seringlah banyak dzikir,
banyak shalat malam, pertebal dengan shalat yang
khusyuk, dalami betul agama itu secara baik, terutama
lihat-lihatlah ayat yang disebutkan Allah akan hari
pembalasan, dan siksaan memakan harta orang lain
dengan batil. Korupsi itu memakan harta orang
lain(orang banyak lagi) dengan bathil.

==Kalau selalu melihat keatas, ingatlah yang dibawah
kita ada lebih parah lagi nasibnya, sering-seringlah
kekaki lima, kekolong jembatan, kekampung-kampung yang
miskin dsbgnya

== Kalau dulu kurang tegas sikap pemerintah, maka
sekaranglah dipertegas, kalau pejabatnya pula yang
korupsi, maka rakyatnyalah yang harus bertindak
mengingatkan, jangan bosan untuk mengingatkan dan
mengkritik pemerintah kalau itu baik.
Dengan ulamanya, ulamalah yang harus tegas, berkumpul
satu sama lain, saling bekerjasama dalam memberantas
korupsi, jangan ngmong doank korupsi haram-korupsi
haram, tapi diri sendiri juga korupsi. 

Kenapa korupsi bisa terjadi pada diri manusia..?
Karena kekurang puasan dirinya terhadap pemberian
Allah, merasa dunia ini adalah nihayah(akhir) dari
kehidupan. Betapa indahnya kalau sekolah-sekolah
gratis, paling tidak meminimalisir korupsi, walaupun
tidak bisa hilang sama sekali, karena penyakitnya
sudah penyakit parah, penyakit tahunan istilah
langitnya.

Kalau kita bayangkan kondisi zaman Rasulullah dan para
sahabat, boleh dikatakan mereka tidak ada yang hidup
bermewah-mewahan, apakah rasulullah miskin, apakah
sahabat miskin..? Tidak,.mereka kaya. Lihatlah Saidina
Utsman, Abdurrahman bin’auf, Abu Bakar, Umar dan
lain-lainnya, radhiallahuan’hum.

Wassalam. Rahima


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke