Sutan Sinaro wrote:
Co Iko Ridha, Mak Lembang dan dunsanak kasadonyo.
Nan pernah ambo danga...
" Wa talqiinu mustahabbun.."
(al hadits)
Talqin tu sunat....
Mak Sutan Sinaro, berkenaan talqin dijelaskan Syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullah:
"Talqin diajarkan saat seseorang, sudah berada di ambang kematian. Ia
ditalqin dengan kalimat : “La ilaha illallah” sebagaimana yang
dikerjakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat pamannya Abu Thalib
hendak meninggal."
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1370&bagian=0
Sedangkan setelah kubur ditimbun, dijelaskan oleh Syaikh Ali Hasan Ali
Abdul Hamid, di antara hal-hal yang disunnahkan adalah
"Berdiri di kubur sambil mendoakan dan memerintahkan kepada yang hadir
supaya mendoakan dan memohonkan ampunan juga. (Inilah yang tersebutkan
di dalam sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, adapun talqin yang
banyak dilakukan oleh orang-orang awam pada zaman ini maka hal itu tidak
ada dalil landasannya di dalam sunnah)."
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=486&bagian=0
Contoh talqin yang bid'ah adalah:
"Talqin dengan kata-kata : "Wahai fulan ....." jika datang kepadamu dua
malaikat .... dst"
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=568&bagian=0
Bid'ah memang ada yang punya 'dalil' namun tetap saja bid'ah. Misalnya
sholat adalah ibadah yang disyari'atkan. Namun ketika seseorang
mengkhususkan sholat 4 raka'at pada setiap Rabu malam pukul 11.00 karena
menganggap bahwa waktu itu bernilai 'lebih' maka ia telah membuat-buat
ibadah baru.
Allahu Ta'ala a'lam.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________