Saya kira pakaian bukanlah identitas yang menunjukkan kafir 
tidaknya seseorang, walaupun dalam beberapa parameter tolak 
ukur, dari berpakaian juga bisa dilihat beriman tidaknya seseorang
tapi tidak mutlak sama sekali dan masih bisa diperdebatkan.
Di tanah arab sana, juga banyak yang kafir, tapi mereka juga
memakai pakaian yang mirip dengan kaum muslimin di sana.
Lalu apa bisa dibilang bahwa kaum muslimin disana meniru-niru
cara berpakaian orang kafir ? Sementara tuntunan agama telah
menjelaskan bahwa fungsi berpakaian adalah menutup aurat.
Saya kira kita jangan mempersulit apa yang dibolehkan oleh
agama hanya karena kekhawatiran adanya beberapa orang yang
berpakaian karena ikut-ikutan.

Kira-kira lima enam tahun lalu, seseorang pernah memberikan
presentasi di depan jama'ah, dan melontarkan pemahaman agar
kaum muslimin menghindari memakai dasi karena meniru-niru
orang barat, padahal sementara itu dia memberikan ceramah
dengan proyektor dan laptop (yang nota bene juga dari barat).

Dasar kita sebenarnya sudah jelas, kegunaan pakaian adalah
menutup aurat dari segi ibadah, dan proporsional kegunaannya
dari segi muamalah.

wassalaam
Ronald




On 7/5/05, Ahmad Ridha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Maksudnya begini, Pak. Kadang seorang muslim menggunakan suatu produk
> (termasuk pakaian) yang menjadi ciri atau kebiasaan orang kafir hanya
> karena ikut-ikutan mereka. Padahal produk tersebut tidak jelas
> kegunaannya. Nah, saya mencontohkan dasi karena dasi merupakan aksesori
> yang menjadi ciri kelengkapan pakaian orang-orang kafir. Dari sejarahnya
> dasi mulai populer berasal dari Eropa sekitar abad ke-17. Disebutkan
> juga kalau pada Cina kuno dan Romawi kuno juga ada semacam aksesori kain
> di leher. Penggunaannya sendiri ditujukan untuk menunjukkan status
> sosial atau keanggotaan dalam suatu kelompok.
> 
> http://en.wikipedia.org/wiki/Necktie
> http://www.twilightbridge.com/hobbies/festivals/father/necktie.htm
> http://www.shop-usa.info/TIE_HISTORY/tie_history.html
> 
> Namun di sini bukanlah berarti mengharamkan benda bernama 'dasi'. Yang
> perlu dihindari adalah perbuatan 'ikut-ikutan dan menyerupai' orang
> kafir tanpa manfaat yang jelas.
> 
> Contoh lain yang lebih jelas adalah cara makan dengan pisau di tangan
> kanan dan garpu di tangan kiri hanya karena mengikuti table manner orang
> kafir. Selain menyerupai mereka, cara ini juga buruk karena melanggar
> larangan makan dengan tangan kiri. Tentunya di sini bukan melarang benda
> garpu dan pisau namun di sini penggunaannya yang tidak tepat. Sendok dan
> garpu jelas manfaatnya namun jangan sekadar karena ikut-ikutan.
> 
> Salah satu hikmah dari menjauhi penyerupaan dengan orang kafir adalah
> agar jelas bagi kita saudara-saudara sesama muslim. Islam telah
> memberikan beberapa ketentuan dalam hal pakaian dan penampilan. Hal ini
> penting karena ada beberapa adab yang berbeda antara sesama muslim
> dengan antara muslim dan orang kafir (mis. salam).
> 
> Allahu Ta'ala a'lam.
> 
> Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
> 
> --
> Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
> (l. 1980M/1400H)
> 
> 
> 
> 
> _____________________________________________________
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ------------------------------------------------------------
> Tata Tertib Palanta RantauNet:
> http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
> ____________________________________________________
>

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke