Waalaikumsalam.Wr.Wb. Dik Amrios dan ikhwan semuanya. benar apa yang disampaikan.
Jelas hutang berhutang itu ada dalam islam. Tokh..dalam surah Albaqarah, yang merupakan ayat terpanjang itu berbicara mengenai masalah hutang.Jadi bukan tidak ada dalam islam hutang piutang itu. Hanya saja sebagaimana yang saya ceritakan sebelumnya, begitu banyak diantara kita(terutama kaum ibu-ibu, maaf,.ini realita yang saya saksikan sendiri, banyak sekali yang suka, atau doyan berhutang, membeli barang dengan kredit, atau ansuran, saya paling tidak suka cara ini, lebih baik bersabarlah!, padahal hal tersebut bukanlah kebutuhan yang mendesak). Itu yang pertama. Yang kedua tidak ada dalam Islam itu hutang yang akhirnya pembayarannya dilipat gandakan. itu namanya riba. benarlah kalau begitu kemasan riba zaman sekarang sudah dikemas dengan rapi sekali, dan kita tidak sadar akan hal ini. Sebagaimana yang sudah disinyalir oleh Rasulullah SAW, : " kelak akan datang suatu zaman, dimana saat itu tak ada satu orangpun yang tidak makan riba didalamnya ". ( Semoga saat itu bukan zaman sekarang, bukan zaman kita, kalau ia berarti saya dan kita semua kena didalamnya, naudzubillahi mindzalik). Yang ada dalam islam adalah syistem bagi hasil. Memang sulit yah,.siapa sih yang mau rugi, semua mau untung. Tetapi begitulah kondisi zaman sekarang, kalau tidak bersifat qanaah, akan terbawa arus. Yang ketiga, untuk taraf hutang tinggi (negara, maksudnya), sudah terlalu repot sekali merubahnya. Dan mungkin permasalahan ini sejujurnya, saya sendiri pernah membawakan sebuah drama, dimana drama tersebut saya sendiri berperan menjadi bapaknya, dan teks kata-katanya saya tulis sendiri, dalam hal ini saya banyak menyinggung pejabat, pemerintah langsung didepan mata saya, melalui kata-kata dan drama yang saya lakonkan itu( berapa bulan yang lalu, ada foto dan cdnya)drama yang kami lakonkan bersama teman-teman masalah hutang negara ini, dimana pejabat kita banyak yang boros, besar pasak dari tiang, bagaimana ibu-ibu di RT, pejabat yang banyak pesta sana-sini, dimana kita memperlihatkan pada negara lain kondisi yang lux, tapi sayangnya semua fasilitas yang dipakai adalah hasil hutang. Dan ini yang saya tidak setujui sekali, saya lakonkan itu langsung menyindir pejabat yang hadir, tapi dikemas dengan kemasan yang menggelitik hati dan membuat kocak (tertawa terbahak-bahak orang dibuatnya, kata-kata dan intonasi saya lucu, gaya Batak, kata-katanya manis kedengaran, tapi mengena tujuan, dan benar adanya, sadar apa isi yang saya sampaikan kala itu, alhamdulillah setelah itu pejabat2 tersebut sering tersenyum saja, serta mencoba untuk menjelaskan bahwa fasilitas ini milik pribadi bukan duit negara, saya jadi ketawa sendiri, ternyata lelucon drama saya termakan oleh mereka, itulah pejabat kita.). Terkadang secara pendekatan keras tidak bisa, mungkin pendekatan serius tapi santai kali baru termakan, bahwa betapa negara kita sudah hancur-hancuran dengan hutang berjibun. Itu untuk negara, sementara untuk kehidupan pribadi RT, saya kira, pandai-pandai kitalah berhutang, selagi kita bisa menahan lebih baik sabar. Bukankah dalam do'a kita di suruh berdoa agar terhindar dari orang yang suka berhutang?. Mungkin tidak percaya kali, bahwa pertama-tama menikah, kehidupan kami sangat-sangat sulit. Untuk bekerja ke Saudi sebagai temus saja, suami terpaksa pinjam duit, dan ini saya sendiri yang meminjam pada teman saya, padahal ortu saya mampu membiayai kami, tapi saya merasa malu untuk itu, saya siap menikah, berarti siap dengan segala resiko yang ada, sakit ditanggung bersama, karena tokh..saya pilih beliau bukan karena harta, tapi karena agama dan kepribadiannya, jadi semiskin apapun hidup saya dengan tabah dan senang hati menerimanya. Tapi apakah kondisi prihatin ini membuat saya pesimis memandang hidup, dan hutang tiap saat. Tidak!,.saya tidak mau membiasakan diri untuk berhutang. Cukuplah saat-saat itu, selagi kita bertekad baik, dan yakin pada kekuasaan Allah, Allah akan menolong kita " Wamayyataqillaaha yaj'allahu makhrajan wayarzukuhu minhaisu layahtasib ", Barang siapa yang beraqwa pada Allah, Allah akan membrikannya jalan keluar dan memberikan padanya rzeki dari pintu yang tidak disangka-sangka. Dan saya yakin firman Allah : " Allah tidak akan merubah suatu kaum, kalau kaum itu sendiri yang tidak merubah nasibnya ". Itu dasar prinsip kehidupan saya dalam menuju kemajuan. Kita berbicara negara, tentu tak lepas dari peran RT kita masing-masing dalam menata kehidupan, terutama masalah financial ini. Hendaknya janganlah kita terbawa arus dan zaman, serta kalah dengan kondisi morat-marit itu. Sulit saya menjelaskan agar marilah kita sama-sama menghindari berhutang, kalaupun terpaksa, diusahakan jangan ada unsur riba, atau bunganya, biar berkah hidup ini dunia dan akhirat. Kalau kita simpan duit di bank konvensional, dengan terpaksa sekali, usahakan walau banyak bunga yang ditawarkan, lebih baik tidak usah diambil, serahkan saja pada yang membutuhkannya. Sebaiknya kita menyimpan duit di Bank Syari'ah, kalau benar-benar tidak ada jalan lain, yah,.silahkan saja di Bank konvensional. Lebih baik menjaga diri dari riba dan mendapati keberkahan dalam hidup, ketimbang kita terpengaruh dengan bunga dan riba yang tanpa kita sadari. Memang sulit dan serba susah dengan kondisi zaman sekarang ini. Tapi apakah kita harus kalah dengan zaman? Wassalam. Rahima. --- Amrios Amsyar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalaamualaikum Wr wb > > > > Uni Rahima, ambo cubo ikuik saketek, Kebetulan ambo > pernah baraja ilmu > ekonomi saketek, konsep murabahah atau bagi hasil > itu ado dlm agamo Islam > umumnyo dipakai di Bank Syariah. Tapi bagaimana bagi > hasilnya itu tergantung > dari kesepakatan antara kita, dan TIDAK ADA PAKSAAN > dan yg merasa TERPAKSA. > Kemabali kepada Negara kita ini. Bobrok nya ekonomi > kita bukan tergantung > dari hutang yg kita ambil melainkan adalah > penggunaan hutang tersebut. > Maksudnya hutang yg kita terima adalah untuk > pembangunan tapi kenyataannya > tidak (berbeda dari sebagaimana mestinya). Dan > kemudian lagi hutang yg kita > terima tersebut banyak yg tidak efektif (penelitian > Pak > Soemitrodjojohadikusomo mengatakan bahwa 40 % dari > total utang mengalami > kebocoran). Jadi bisalah kita bayangkan jumlahnya. > Hutang dalam suatu sisi > bias menjadi bahan baker dlm ekonomi, dan juga > sebaliknya. Saya yakin > Khadijah dan Abu Bakar As Sidiq waktu melakukan > perniagaan pernah melakukan > kegiatan hutang piutang. Jadi kalo manuruik ambo > hutang itu buliah tapi > pergunakanla utk sebagaimana mestinya misalnya utk > Investasi, bukan utk > foya-foya atau tindakan konsumsi. > > > > Semoga ado manfaat, mohon maaf ambo jiko ado nan > salah. > > > > Wasssalam > > Ajo Amrios Amsyar __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

