Assalaamu'alaikum W W.

Apa ya memang di Indonesia ini kekurangan lapangan kerja ya? Dapatkah kita
merobah sudut pandang terhadap pekerjaan itu? Pasar sayur terbuka, tapi
orang Sumbar tak sanggup
mengadakannya. Kenapa?, karena anak petani tidak ada yang sekolah pertanian
dan dengan sungguh-sungguh ingin mengembangkan hasil taninya (orang tuanya)
susuai yang diminta oleh pasar. Kini pasar modern telah (cendrung)
menghendaki makanan hasil pertanian organik. Tanpa pupuk kimika dan tanpa
racun serangga. Kapan petani kita dapat dibuat mengerti tentang ini? Kenapa
ya pakguru sejak 35 tahun terakhir ini kami didik untuk memakai pupuk kimia,
pada hal dulu (era 60an dan sebelumnya) kakek nenek kami tidak pernah
memakai pupuk kimia untuk tanamannya? Kini petani sudah sangat tergantung
dengan pupuk kimia yang hasilnya sudah kurang disenangi oleh yang menyadari
betapa menjaga kesehatan itu adalah sangat penting. Kini petani sudah
berhasil dibawa ke sistim yang dimonopoli (ketergantungan) kepada pupuk
kimia. Salah anak didikkah, salah gurukah, salah siapa? Salah kita semua.

Kini mengertikah kita bahwa ini adalah salah?

Wassalaamu'alaikum W W.
Darul Makmur

........... salah = kurang benar

----- Original Message -----
From: "Z Chaniago" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, August 15, 2005 3:24 PM
Subject: RE: [EMAIL PROTECTED] mangingek baliak awal mulo milis RN


Assalamu'alaikum WW

Untuak Mak Darul.......dan it may concern...
mohon maaf untuak nan indak concern....


ssslllllbbbbbb...... yo cinam baliek usao iko......
ayo ...tunggu akan kito cubo di Sumbar untuak maisi pasa S'pore....

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/15/metro/1977500.htm

"Lettuce" Sukabumi untuk Selada di Jakarta

Sayuran selada untuk salad, seperti lettuce romain, lettuce baby romain,
lettuce red coral, dan green oak yang sebelumnya hanya dikenal sebagai daun
selada atau sla, asal luar negeri alias diimpor, kini sudah bisa dihasilkan
di negeri sendiri.

Saat ini memang masih terbatas, belum begitu banyak produk kami terserap
pasar. Baru hotel-hotel berbintang di Jakarta dan supermarket. Kami tiap
minggu baru memasok sekitar 500 kg secara kontinu. Rencana ke depannya, kami
akan meningkatkan jumlah pasokan ke sejumlah supermarket, kata Jaya Sukamto
(41), perintis petani sayur yang menanam bahan "salad" itu di Sukabumi, Jawa
Barat. Harga jual sayuran hidroponik itu termasuk lumayan. Setiap
kilogramnya mencapai sekitar Rp 35.000.

Keempat jenis sayuran yang biasa digunakan untuk bahan "salad" kini ditanam
di daerah pedesaan Sukabumi, tepatnya di perbatasan dengan Kabupaten Bogor.
Memang, benihnya masih berasal dari Belanda dan Australia.

Budidaya sayuran lettuce di Sukabumi ini dilakukan dengan cara bercocok
tanam tanpa tanah atau hidroponik alias tanpa media tanah. Khusus untuk
lettuce ini, budidaya hidroponik merupakan usaha pionir yang dilakukan
seorang importir dan mitra kerjanya sejak enam tahun lalu. Adapun tanaman
jenis tomat dan sayuran lainnya telah lama dibudidayakan petani di daerah
Jawa Barat dan Jawa Timur dengan metode hidroponik.

"Krisis ekonomi atau krisis moneter yang melanda Indonesia tujuh tahun lalu
menggugah saya untuk berupaya memproduksi sendiri sayuran salad yang selama
ini kami impor. (Apalagi) belum ada yang mengembangkannya. Saya jadi
tertantang untuk bekerja melakukan sesuatu yang belum pernah dikerjakan
orang lain," kata Jaya awal pekan lalu.

Jaya mulai menanam lettuce pada tahun 1988 ketika nilai rupiah terus
merosot, sementara dollar AS terus membubung. Dengan kondisi seperti itu,
biaya mengimpor sayuran menjadi sangat mahal. Padahal, meski sedang dilanda
krisis, kebutuhan akan salad tetap saja tinggi. Artinya, peluang pasar untuk
sayur-sayur bahan salad itu juga cukup besar.

Setelah mengumpulkan informasi dari sana-sini, termasuk dari pemasok sayur
dan daging di Australia, pada bulan April 1998 berangkatlah Jaya ke Thailand
untuk berguru dan melihat kebun sayur "salad" bersama dua mitra kerjanya.
Dia ajak pula Augustinus Ngateman (40), lulusan SPMA Kanisius, Ambarawa,
yang belum lama bergabung dengannya.

"Di Thailand, kami meninjau beberapa kebun petani, penanam beberapa jenis
sayuran yang tumbuh bagus dengan menggunakan teknik hidroponik. Maka saya
pikir di Indonesia yang iklimnya relatif sama dengan Thailand sayuran itu
pasti bisa juga ditanam. Langsung kami pelajari mendalam, juga
mempertanyakan peralatan yang dipergunakan," katanya.

Pulang dari Thailand, Jaya kemudian menantang stafnya yang sudah mempunyai
pengetahuan tentang hidroponik itu untuk mulai melakukan percobaan.

Augustinus yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan pengolah hasil
pertanian di Jawa Tengah itu lalu melakukan penelitian. "Setelah melakukan
percobaan sejak akhir bulan April 1998 sampai akhir 1998 di Desa Babakan
Jaya, Kecamatan Sukabumi, yang potensi airnya cukup bagus, akhirnya awal
tahun 1999 sudah mulai memproduksi dan sudah bisa dipasarkan awal tahun
2000," katanya.

Dari 10 jenis lebih yang diuji coba, akhirnya dipilih untuk dikembangkan
empat jenis yang potensi pasarnya bagus, yakni lettuce romain, lettuce baby
romain, lettuce coral, dan green oak, sebagai bahan dasar salad untuk
pelengkap hidangan resto.

Tanaman sayuran

Augustinus berpendapat, budidaya tanaman sayuran "salad" asal impor dengan
sistem hidroponik di Indonesia dapat dikembangkan asalkan potensi air
sebagai pengganti tanah cukup. Yang tak kalah penting, pemberian nutrisi
yang cukup takarannya dan tepat waktu.

Nutrisi diberikan sesuai dengan kebutuhan dan umur tanaman. Bercocok tanam
dengan sistem hidroponik ini bebas pestisida sehingga relatif cukup kecil
dari serangan hama dan penyakit. Syaratnya, petani harus telaten
menanganinya. Debit air yang dialirkan ke meja tempat tumbuh sayuran itu
harus tepat, begitu pula pemberian nutrisinya jangan sampai kelebihan.

"Juga harus waspada bila hujan turun. Air hujan yang tanpa nutrisi itu, bila
tercampur (air media tanaman) akan memengaruhi kadar nutrisinya. Karena itu,
bila turun hujan, kami harus segera menguras air hujan itu," tutur
Augustinus.

Usia panen sayuran salad ini, menurut Augustinus, rata-rata tujuh minggu
atau 49 hari. Benih sebelum ditanam disemai dulu selama 14 hari di dalam
"rumah kaca" dengan media arang. Setelah itu baru dipindahkan ke meja tanam,
selama lima minggu atau 35 hari.

"Setelah lima minggu di meja tanam itu, boleh dipanen," kata Augustinus yang
menjadi penanggung jawab kebun yang dibantu tiga tenaga lapangan.

Untuk menjaga kualitas hasilnya, panen dilakukan pada petang hari guna
menghindari terik matahari. Setelah dikemas, hasil panen dimasukkan ke dalam
lemari pendingin dengan suhu rata-rata delapan derajat Celsius.

Adapun luas lahan budidaya salad hidroponik di Sukabumi itu hanya sekitar
1.600 meter persegi. Di dalamnya ditempatkan belasan meja. Pada setiap meja
terdapat delapan pipa yang masing-masing mempunyai 78 lubang untuk
mengalirkan air dengan jarak antara 20-25 cm. Dengan demikian, setiap meja
terdapat 624 tanaman. Setiap pipa dialiri air dengan debit sekitar satu
liter per detik.

Usaha budidaya salad hidroponik ini, menurut Jaya bersama Gideon Sulistio
dan Parlin S, untuk memenuhi kebutuhan hotel dan konsumen akan sayuran impor
yang lebih murah. Sebagai pengusaha minuman, daging, ikan, dan sayuran
impor, Jaya memanfaatkan jaringan kerjanya ke hotel dan supermarket besar.
Jaya berangan-angan menyusul kesuksesan beberapa petani hidroponik di
Lembang, Bandung, khususnya hasil budidaya tomat beef yang disukai orang
Jepang. "Saya optimistis bisa meningkatkan omzet penjualan sayur ini," kata
Jaya. (FX Puniman)
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

>From: "darul" <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Assalaamu'alaikum W W.
>
>Handakno awakko harus manyadari bahasa nan tatap diduniako adolah
>"perubahan". Jadi indak ado bagai masalah untuak barubah doh, harus
>disasuaikan jo kabutuhan.
>
>Tapi ado takana ciek, apo RN ko cuma untuak kongkow-kongkow sajo. Urang
>sipit, kongkow maasiakan usaho. Potensi awak gadang, apo iyo ka nyik sayo
>sajo kongkow RNko? antahlah.
>
>Wassalaamu'alaikum W W.
>Darul Makmur
>






Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke