----- Original Message -----
From: "Chandrady Raharja" <[EMAIL PROTECTED]>


Dear Marketing Leader,
Saya menemukan satu statement yang menurut saya sangat menarik dari tulisan
Mbak Angke, "If we fail..again..We keep on selling!!". Setuju
sekali...seharusnya memang kita tetap jualan. Justru seharusnya kita lebih
gencar promosi dengan adanya peristiwa ini, promosi menjadi bumper agar
pariwisata tidak terlalu lama drop, sehingga makin banyak bisnis yang
tergantung pada bidang ini yang dapat diselamatkan.
Bicara pariwisata memang berkaitan erat dengan segala hal yang intangible,
dalam hal ini produknya sendiri tidak gagal, tp faktor penunjangnya yaitu
jaminan keamanan dan keselamatan bagi calon konsumen. Bicara soal pariwisata
memang rumit karena harus melibatkan berbagai komponen dari pengusaha,
pemerintah, dan masyarakat, serta objek wisata. Mereka yang berhubungan
langsung ataupun tidak langsung dengan konsumen adalah bagian dari produk
pariwisata itu sendiri. Kegagalan dari satu komponen merupakan kegagalan
produk secara total.
Mungkin kita harus belajar dari kasus KIA yang me recall sekian ribu unit
Carnival karena kegagalan pada sistem rem, atau Toyota yang tahun lalu
pernah me recall Crown Majesta karena kegagalan produksi pada sistem ABS
nya, hal ini sengaja dilakukan KIA dan Toyota tanpa rasa bersalah dan malu
mengalami kegagalan pada produknya,... tapi mereka menunjukkan langkah yang
sangat bertanggung jawab dengan me recall semua produk yang dianggap gagal.
Percaya atau tidak, hal ini tidak mempengaruhi penjualan Toyota dan KIA.
Konsumen menganggap bahwa kegagalan dalam produksi adalah hal yang sangat
wajar, selama produsen bertanggung jawab penuh demi kepuasan konsumennya.
Kita memang tidak bisa me recall produk pariwisata, karena sebagian besar
adalah intangible, tapi paling tidak Indonesia bisa menunjukkan sikap lebih
bertanggung jawab dalam menangani masalah teroris ini, image akan kembali
membaik seiring dengan berjalannya waktu.
Seperti kata pepatah "Only time will heal", semua orang mungkin tidak akan
melupakan kejadian ini, tapi suatu saat mereka akan memaafkannya dan
menganggap bahwa hal ini bisa terjadi dimanapun di dunia, termasuk di negara
maju sekalipun. Mungkin yang menjadi tugas kita adalah mempercepat pemulihan
image agar "suatu saat" itu bisa lebih cepat datang.
Saya rasa memang pemerintah tidak perlu mengeluarkan statement apapun, tapi
menunjukkan tanggung jawab, paling tidak dengan cepat menangkap otak dari
teroris yang menyebabkan semua ini, serta mengetahui pesan dari teroris yang
melakukan pengeboman agar selanjutnya dapat lebih preventive.
Seandainya saja saya punya wewenang sebagai pemerintah,...mungkin saya akan
bikin "Visit Indonesia Year 2006" dan promosi besar - besaran dari sekarang,
seperti yang pernah kita lakukan tahun 91 dulu. Sebagian orang akan
mempermasalahkan jaminan keamanan, tapi negara manapun tidak ada yang berani
menjamin, karena teroris seperti bencana alam yang tidak dapat diramalkan.
Daripada kesempatan ini menjadi kelemahan Indonesia yang akan dimanfaatkan
oleh saingan terdekat, Malaysia, Singapore, Thailand, lebih baik kita tetap
jualan, tetap promosi besar - besaran. Kita masih punya hampir 3 bulan untuk
mempersiapkan promo dan pameran pariwisata di luar. Kalau ada orang bertanya
mengenai kejadian teroris di Bali, kita bisa menjawab bahwa Indonesia
memiliki lebih dari 13 ribu pulau dengan keindahan yang layak dijual....Bali
merupakan salah satu pulau kecil yang menjadi tujuan wisata cukup menarik di
Indonesia. Tentunya ini juga harus diiringi dengan pengembangan daerah
tujuan wisata lain di
 Indonesia yang potensial, sehingga Bali tidak menjadi satu - satunya tujuan
wisata yang paling dikenal dunia di Indonesia.
Tahun berikutnya mungkin akan dibuat promo "Pangandaran Great Sales", "Bogor
Great Sales", "Sumatra Utara Great Sales", dst.....terus jualan, sampai
Indonesia paling tidak punya 20 daerah tujuan wisata yang terkenal dan
sangat menarik bagi wisatawan asing. Sementara itu, keajaiban dan keindahan

alam Bali akan kembali menebarkan pesonanya untuk memukau para calon
wisatawan untuk kembali menikmatinya.
Any comment to share?

Chandra
www.mitrahotel.com, Your second home in Bandung
www.toyotacrowners.com, The Community of Crown,Cressida,Mark II,Camry &
Corona

Environmentally Attractive <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear teman2,
Pertanyaan bagus mengenai pemasaran pariwisata Bali
pasca bom II. Mas Eddy bilang kita jangan dulu berani
meng-claim bahwa Bali, or Indonesia in general, sudah
aman, kecuali memang udah sanggup menjamin keamanan.
Bagaimana London dan New York? Mereka adalah kota-kota
di negara-negara yang jauh lebih dipercaya soal
keamanannya. I think. Tapi, like they said, it
happened. Incidents happens. It could be everywhere.
Hampir sama dengan kekuatan mother nature, terrorist
hampir mustahil dikendalikan.
So, saya kira kita mau tidak mau, seperti mereka,
tidak perlu mengeluarkan statement aman atau tidak.
Yang terpenting ialah forward-looking resolution.
Bagaimana kita konsentrasikan konsumen / wisatawan
pada berita upaya recovery dan pengamanan. Itu saja.
Pariwisata tidak bisa disetarakan dengan consumer
product dalam hal ini. Kalau konsumen kecewa dengan
kinerja -let say- sebuah radio atau sebuah mouse, maka
producer berfikir untuk mengganti dan menarik produk
'gagal'itu dari peredaran. Can we retrieve tourism
back? Dapatkah kita menarik kembali dari peredaran
kegiatan-kegiatan bertamasya, atau sun-tanning, atau
blajar menari Bali?  Kita tahu jawabannya.
Jadi, pariwisata yang sangat-sangat potensial, juga
sangat-sangat rentan terhadap faktor eksternal. Itu
sebabnya disebut 'multifaceted' atau
'multi-dimensional'. Cara memasarkannya harus dari
pendekatan intangible product marketing. We sell
waranty. If we fail.. again.. We keep selling!!
Saya rasa salah kalau kita alihkan wisatawan ke
destinasi lain sementara meninggalkan Bali yang
kecolongan dua kali dan memberikan kesan bisa
kecolongan lagi. Just an instant opinion. Saya minta
pendapat lain dari yang lebih tahu.
Thanks.
angke.






Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke