Da Tasril, dan dunsanak netter semuanya.

Saya bukan bermaksud membela da Sutan, karena saya
sering mendapatkan postingan beliau nadanya begitu.
Saya sendiri pernah dibilang saat kami adu pendapat
tentang " Syariat Islam, kalau tidak salah", karena
salah faham saja, sampai da Sutan bilang kesaya
kira-kira begini bunyinya : " Aneh yah, memang
beginilah kalau diskusi dengan yang muda-muda ini".

Sungguh saya ngak sakit hati kala itu, bahkan lucu,
dan mengerti, bahwa memang begitulah gaya da Sutan.
Melihat postingan-postingan beliau dalam "berceramah"
tentang agama, saya ingat ustadz-ustadz saya dulu. "
Tuan...tuan..dst..."

Akhirnya saya bisa memahami dan mengerti karakter dan
gaya serta jiwa seseorang, dan itu tidak pernah saya
permasalahkan.

Tiga point yang pertama dari keanehan yang da Sutan
sampaikan, saya kira benar adanya, hanya cara
penyampaiannya saja kali masing-masing persepsi kita
memandang dengan perbedaan.

Pada point terakhir, memang sedikit "keras, dan
menyakitkan", kata-kata koq kita yang tua-tua ini "iri
pada yang muda mentah".

Disinilah sebagai seorang wanita yang punya perasaan
halus, cukup sedih dikatakan iri tersebut, yang saya
menyadari sekali tidak akan mungkin bundo Nismah
sampai iri semacam itu pada saya. Tetapi seketika itu
juga saya teringat, begitulah pedihnya atau
lukanya(kemungkinan, saya tidak tahu hati seseorang),
disaat bundo Nismah juga pernah mengatakan tentang
salah seorang perempuan netter disini iri pada netter
lainnya, padahal saya juga mengetahui bahwa perempuan
itu tidaklah mungkin sampai iri begitu.

Nah, disinilah ada baiknya jangan sampai kita
berburuksangka pada orang lain, mari sama-sama kita
usahakan membuang jauh-jauh budaya "buruk sangka" itu.

Kapan majunya orang Minang ini, terutamanya diri kita
sendiri, kalau budaya buruksangka, curiga lebih
mendominasi, dan bersemayam didada, di hati dan jiwa
kita?. Kenapa kita tidak berusaha keras menghilangkan
budaya yang sangat bertentangan dengan ajaran islam
kita itu? Bukankah masalah memanage hati ini lebih
diutamakan ketimbang kita harus beramal
sebanyak-banyaknya, sementara hati kita masih diisi
dengan penyakit curiga dan buruksangka itu?

Da Tasril, sebagai orang yang masih muda, masih
mentah, masih menginginkan bimbingan yang dari tua dan
berpengalaman, contoh tauladan yang baik, dari para
ninik mamak, bundo-bundo sangat-sangat menentukan
sikap para generasi muda-muda semacam saya
ini.Walaupun saya tidak mengerti akan Adat istiadat,
tetapi faham akan adab.

Jalan diampek keceknyo nan mandaki, manurun, mandata,
melereng, tentu saya lihat dari  kata-kata yang
tua-tua disini. Saya hanya tahu agama, belum mengerti
adat Minang. Hanya mendengar saja, tanpa ada bacaan
sedikitpun, tentu suatu keheranan bagi saya bila yang
dijadikan panutan melakukan hal yang sama. 
Cobalah kita perhatikan bagaimana balasan bundo Nismah
seperti dibawah ini, apakah ini yang menjadi panutan
saya yang muda-mentah ini?

Haa haa anda Sutan Sinaro adalah seorang pemuja Rahima
ya Alhamdulillah 
ambo
tidak iri dengan kehebatan ustaz yang anda bilang ini.
Semoga Alllah 
SWT
mengutuk orang yang berburuk sangka. Silakan menulis
sebanyak-banyaknya 
di
surau  bundo sebagai sesepuh menginginnkan ke khas an
Minang yang 
selalu
kita pertahankan.  Mano Lembang Alam mano Bandaro
Labiah tolonglah isi
dengan kebudayaan kita yang hampir punah.

Kata-kata balasan sampai menuduh seseorang atau
berburuksangka dengan lelaki muslim lainnya sebagai
"pemuja", dan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan
dari kita muslimah pada muslim lainnya yang sangat
keras "MENGUTUK", orang-orang yang berburuksangka,
padahal tanpa disadari kita melakukannya, atau pernah
juga melakukannya, atau akan melakukannya.

Setahu saya kata-kata kutukan hanya tertuju untuk
orang Yahudi, orang menyogok dan disogok, orang yang
mengikis giginya, sanggul rambut, kikis alis mata dan
sebagainya. Tidak untuk muslim kepada muslim lainnya.
Kata-kata inikah sebagai panutan yang harus saya lihat
dari yang tua-tua. Tolonglah kaum yang tua-tua juga
memberikan contoh tauladan yang baik bagi saya, atau
kami yang muda-muda ini, nasehatilah kami, tetapi
berikanlah pada kami contoh tauladan yang bisa kami
pegang. 

Tetapi begitulah sangka baik lebih mendominasi, karena
agama lebih terpatri dihati, saya tetap mengatakan "
Yah,..begitulah manusia, memang ada salah, khilaf, dan
memang begitulah adanya manusia didunia ini".

Demikian, sekali lagi bukan maksud membela da Sutan
Sinaro, tetapi melihat memang ada "keanehan" disana.

Wassalamu'alaikum. Rahima (36 thn), yang masih muda,
mentah dalam segala hal, dan tetap membutuhkan
bimbingan dari para generasi tua bimbingan yang lurus,
contoh tauladan yang baik dan benar.



--- Tasril Moeis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Iyo bana sabana aneh kini ko mak st. Sinaro.
> Nan labiah aneh pulo kok pak Ustadz kami bukan no
> mandingin kan suasana tapi
> sato pulo ma agiah bensin. Aaaa batambah gadang lah
> api tu mak Sutan.
> 
> Tan Ameh



                
__________________________________________ 
Yahoo! DSL – Something to write home about. 
Just $16.99/mo. or less. 
dsl.yahoo.com 


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke