Saya kirimkan sebuah renungan relektif yang menyentuh hati yang saya ambil dari 
bilik Elza Taher dari Web site Solok-Selatan.com
   
  Ikra Z Dinnata
   
     
  Tak Ingin (lagi) Kaya
   
   
              Salah satu cita cita saya sejak kecil adalah menjadi kaya, punya 
jabatan yang terhormat serta keluarga yang bahagia.  Cita cita itu tertanam 
tidak hanya karena saya sudah bosan didera kemiskinan hidup dikala kecil, tapi 
juga doktrin yang ditanamkan oleh lingkungan dan orang-tua. Pesan agar saya 
rajin belajar supaya kelak punya pangkat dan penghasilan, adalah pesan yang 
terus terngiang di telinga saya dan terus diucapkan setiap kali bertemu mereka. 
Saya masih ingat, setiap kali waktu makan tiba, ‘amak’ menyuruh kami agar makan 
bersama sama dalam satu meja dengan nasi dan lauk yang sudah dijatah dalam 
piring masing masing. Belakangan baru saya sadar itulah cara agar kami semua, 
sembilan bersaudara, mendapat jatah sesuai porsi masing masing-masing. Kalau 
makannya tidak bersamaan, nanti akan ada yang tidak dapat jatah.  
  Ketika saya pergi merantau cita cita terus terpelihara. Saat mulai memasuki 
masa kuliah, setiap melihat sepasang orang  duduk di rumah yang mewah atau 
melihat mobil berkeliaran di jalan raya; timbul pertanyaan di hati saya; apakah 
kelak saya akan sampai kesana? Sungguh bahagia dan beruntung bila kelak saya 
dapat menikmati hidup dengan materi yang berlimpah. Menjadi kaya adalah 
ideologi dan tujuan hidup saya waktu itu.  Tapi ketika waktu terus berjalan, 
dan sampai kini saya belum juga jadi orang kaya,  kekayaan itu tetap seksi dan 
sensual tapi tidak seseksi dulu lagi. Di wajah kekayaan itu saya melihat banyak 
banyak bisul dan borok. Kekayaan itu ternyata hanya indah jika dilihat dari 
jauh, seperti kita melihat bukit dan pegunungan. Karena itu saya tidak lagi 
ngotot menjadi kaya. Saya akhirnya sampai pada kesimpulan antara miskin dan 
kaya terdapat persamaan; sama sama memelihara ketakutan. Jadi, apa bedanya kaya 
dan miskin. Jika orang miskin takut akan kelaparan, orang kaya takut
 kenikmatan hidupnya menjadi hilang. Dalam pergaulan hidup  banyak ditemui 
keluarga  kaya yang hidupnya penuh dengan penderitaan dan tragedi. Juga banyak 
oang miskin yang hidupnya berlimpah kekayaaan. Jadi, kekayaan bukan faktor 
penentu kebahagiaan seseorang.
  Perubahan pandangan hidup tentang kekayaan itu terjadi setelah saya mengalami 
suatu pengalaman dramatis yang tidak akan saya lupakan. Sekitar tiga tahun 
lalu, seorang sehabat yang sudah saya anggap orang tua sendiri meninggal dunia. 
Harta kekayaannya melimpah. Apa yang terjadi?. Baru saja dokter memutuskan 
bahwa slang akan dicabut dan pasien akan dinyatakan meninggal satu jam 
kemudian; bau bau busuk mulai bertebaran di-antara keluarga. Yang mereka 
bicarakan bukan bagaimana mengubur dan berdoa untuk orangtua mereka melainkan 
bagaimana warisan dibagai secara adil menurut versi masing masing. Tanpa malu 
malu pada mayat yang terbaring rapat keluarga digelar dengan agenda khusus; 
pembagian warisan. Disitulah saya melihat tragedi kehidupan yang meluluhkan.  
Harta yang diperebutkan itu dicari sang orangtua sepanjang hidupnya demi untuk 
kedamaian hidup anak-anaknya. Harta yang dicari itu demi  cintanya pada sang 
anak; karena ingin anaknya kelak punya jaminan hidup. Anak anaknya adalah buah
 cintanya yang paling dalam. Ternyata buah cintanya itu bukan menimbulkan 
kebahagiaan dan kedamaian tapi malah menimbulkan dendam dan kebencian diantara 
sesama anak anaknya.
  Pengalaman adalah guru kehidupan yang paling berguna.  Pengalaman itu 
mengajarkan saya untuk berhenti menempatkan kekayaan sebagai ukuran 
keberhasilan hidup. Juga karena itulah saya tak ingin  membagi warisan harta 
kepada anak saya kelak melalui kekayaan. Bagi saya warisan hidup paling berguna 
adalah keteladanan hidup, dengan menyayangi anak penuh ketulusan dan keihlasan. 
Inilah yang ingin diwariskan kepada anak-anak agar cinta anak kepada kita lebih 
panjang dari umur badan kita. Kekayaan memang bisa menghantarkan manusia pada 
hidup bahagia, tapi bukan jaminan  untuk bahagia. Bahkan kekayaan ternyata 
menjadi ancaman bagi kebahagiaan seseorang. Kekayaan ternyata menimbulkan 
kompleksitas baru dalam hidup. Secara manusiawi, semakin banyak seseorang 
memiliki sesuatu yang tidak benar benar ia butuhkan makin kompleks dan makin 
rumit hidup ini. Seorang wanita jika hanya punya satu dua pakaian untuk ke  
pesta maka waktu yang ia butuhkan untuk berdandan dan pilihan baju mana yang 
akan
 dipakai lebih cepat. Tapi makin banyak baju yang ia punyai, makin banyak 
sepatu yang ia punyai makin banyak pula waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan 
baju mana yang akan dipilih dan dipakai. Setelah dipakai ia kemungkinan masih 
tergoda untuk menggantikan dengan yang lain yang dirasa lebih cocok. Lalu, jika 
sepatu juga tak cocok ia akan mengganti dengan yang lain.  Jadi makin banyak 
pilihan alternatif yang ditawarkan dalam hidup, makin terasa komplek dan rumit 
hidup ini.  
  Pada saat menulis kolom ini, malam tengah larut, sebagian mayarakat tengah 
bersiap menyambut datangnya ibadah haji 1426 H. Tiga juta umat Islam tengah 
menuju Padang Arafah. Ada yang merayakannya dengan memukul bedug sambil   
mengumandangkan puji-pujian kepada-Nya, tapi ada juga yang merayakannya dengan 
dzikir dan tafakur.  Saya mencoba melakukan renungan, kontemplasi terhadap 
hidup yang sudah saya lalui. Tiba tiba saya tercenung. Ternyata impian saya  
dulu, sudah tercapai, bahkan jauh lebih mewah dari yang saya bayangkan. Tuhan 
sudah memberi apa yang selalu saya doakan. Apa yang sekarang saya punya; mobil, 
rumah dan keluarga adalah impian yang sejak dulu saya angankan. Makan daging 
yang dulu cuma setahun sekali, kini bisa setiap hari. Jadi ;surga itu; impian 
itu,  sekarang sudah diraih, tapi kenapa saya selalu merasa belum sampai, belum 
cukup? 
  Benar kata ahli psikologi, manusia mempunyai jenjang kebutuhan yang tak 
pernah berhenti.  Manusia adalah mahluk yang tak pernah merasa puas dengan apa 
yang telah dicapainya. Kebutuhan baru akan terus muncul. Perjalanan mencari 
harta kekayaan, kata seorang kolumnis terkenal, Gede Prama, adalah  perjalanan 
yang takkan pernah selesai (finish). Tak ada orang yang menyatakan ‘cukup’ 
terhadap kekayaan yang sudah ia dapatkan. Ketika mendapatkan apa yang 
diinginkan, muncul lagi keinginan untuk memiliki yang lain, demikian 
seterusnya, ibarat kucing mengejar ekornya, tak ada puasnya.  Apalagi manusia 
mempunyai kecenderungan untuk memiliki apa yang ia tidak punya. Dan ketika  ia 
mendapatkan apa yang diinginkan, apa yang didapatnya itu tidak lagi berharga, 
sehingga melihat yang lain yang belum ia miliki sebagai sesuatu yang menarik, 
dan ingin dimilikinya. 
  Di perayaan Idhul Adha  1426 H ini, saya harus merevisi pandangan hidup saya. 
Saya tak ingin lagi menempatkan materi sebagai  ukuran utama kebahagiaan hidup. 
Alangkah rendahnya mahluk ciptaan-Nya dengan derajat tertinggi menggantungkan 
kebahagiannya pada materi. Al-Qur’an mengatakan “Supaya kamu tidak bersedih 
karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan 
kepadamu”.  Inilah doktrin hidup yang ingin saya jalani kini, yang dalam bahasa 
kaum sufi disebut hidup zuhud, hidup menerima apa adanya.. Di kampung dulu saya 
banyak bertemu orang hidup zuhud. Guru di sekolah, garin di masdjid dan kiyahi 
di surau  adalah orang yang hidup zuhud, hidup menerima dan mensyukuri apa 
adanya. Hidup itu adalah  sesuatu yang indah, karena itu saya ingin enjoy 
menikmatinya. Sayup sayup saya mendengar suara nyanyian indah;  Labaik 
Allahummalabaik, labaik kala syari ka  labaik, innal hamda wa ni’mata 
lakawalmulk laa syariikalak….
   
   
  Pondok Cabe 10 Januari 2006
   
   
  Elza Peldi Taher
  [EMAIL PROTECTED]
  Solok-selatan.com  


                
---------------------------------
 Nouveau : téléphonez moins cher avec Yahoo! Messenger ! Découvez les tarifs 
exceptionnels pour appeler la France et l'international.Téléchargez la version 
beta.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke