----- Original Message -----
From: "darul" <[EMAIL PROTECTED]>


| Assalaamu'alaikum W W.
|
| Alhaamdulillah, kami kami alah dapek jatah 20 buku dari penerbit dan kini
| tingga 12 buku. Sia nan ingin mamasan capek lah manunjuak, "first come
first
| serve". Harago buku resmi adolah Rp. 52,900 ditambah ongkos kirim nan
| tacantum di www.tikijne.co.id; kalau ka dilabiahkan untuak managemen fee
dan
| packing rancak bana, bia usahoko bisa langgeng.
|
| Wassalaamu'alaikum W W.
| Darul Makmur
|
| ----- Original Message -----
| From: "john navis" <[EMAIL PROTECTED]>
|
|
| Novel ini benar-benar membuat saya terkesan. tidak hanya menyajikan
sebuah
| petualang sejarah tetapi juga penemuan identitas. saya ingin  berbagi
| pendapat tentang novel Negara Kelima ini di mailing list ini.
|
|
|   "undang-undang  tarimo tariak baleh, kok palu babaleh palu, nan tikam
| babaleh jo tikam, hutang  ameh baia jo ameh, hutang padi baia jo padi,
| hutang kato baia jo kato"
|         Kutipan itu bukan  berasal dari sebuah buku Tambo atau buku adat
| Minangkabau lainnya. Saya,  -seorang putera Minangkabau yang lahir dan
| dibesarkan di Bukittinggi dan baru  dua belas tahun merantau di Jakarta-
| justru mendapatkannya dari sebuah novel  terbitan Serambi di akhir tahun
| 2005, berjudul Negara Kelima. Sebuah novel yang  menurut pengamat/kritikus
| sastra dari UI, Maman S Mahayana,
|         "menjanjikan  ketegangan yang tiada habis, mengalir deras,
| berkelok-kelok, penuh kejutan,  spekulatif, penuh intrik dan narasinya
yang
| tidak terduga"
|         Sungguh ironis,  tiga perempat dari umur ini saya habiskan di
ranah
| Minang, tetapi persentuhan  dengan sejarah, perjalanan adat dan lika-liku
| perjalanan budaya Minangkabau  baru saya dapatkan dari novel setebal lebih
| dari lima ratus halaman ini.  Beragam perasaan muncul pada saat saya
membaca
| novel ini, ketakjuban yang  membuncah-buncah, kebanggaan yang meluap-luap
| dan terkadang juga perasaan melo berisi kesedihan dan kerinduan yang
tidak
| terjelaskan oleh kata-kata. Hingga pada akhirnya saya merasa, Minangkabau
| bukan sekedar ruang budaya dimana saya dilahirkan. Tetapi lebih dari itu,
| Minangkabau adalah sebuah identitas diri. Dan identitas hanya bisa
ditemukan
| lewat penelusuran dan pemahaman sejarah.
|         Ide dari novel ini menurut  saya sangat jenius dan boleh dikatakan
| sangat-sangat provokatif. Negara kelima  dimulai dengan rentetan
pembunuhan
| di Jakarta yang diduga melibatkan sebuah  kelompok yang beberapa waktu
| belakangan juga melakukan cyberteror. Dalam beberapa kemunculannya,
kelompok
| ini menyerukan  sebuah tuntutan.
|                     Bubarkan Indonesia
|                     Bebaskan Nusantara
|                     Bentuk Negara Kelima
|         Simbol piramid dengan  belahan diagonal yang ditemukan pada mayat
| menjadi penghubung rangkaian cerita  dalam teka-teki. Simbol itu,
| sebagaimana penjelasan dalam novel, berasal dari  masa sebelas ribu enam
| ratus tahun yang silam. Pada kitab Timaues and Criteas  karangan Plato,
| simbol itu disebut Pillar Orichalcum, berasal dari satu  material yang
| nilainya melebihi apapun kecuali emas pada masa Atlantis. Lalu  cerita itu
| berlanjut pada pemecahan misteri guna mengungkap pelaku sebenarnya.
|          Keterlibatan empat orang sejarawan Indonesia  lulusan Sorbonne
| dalam menggagas teori keberadaan Atlantis di kepulauan  Nusantara
disajikan
| dengan argumen dan teori yang meyakinkan sekaligus menarik.  Ide dan
gagasan
| dari novel ini mengalir deras dalam upaya pemecahan teka-teki  yang keluar
| dari mulut dua orang yan dituduh terlibat dalam Kelompok Patriotik
Radikal
| (Keparad). Pencarian identitas nusantara, tampaknya itu yang menjadi
| gagasan utama dari pengarang novel ini. Dan medium dari pencarian
identitas
| ini  adalah sebuah jalinan sejarah dengan menjadikan Minangkabau sebagai
| mediumnya.
|
|         Lantas, bagaimana ES Ito,  pengarang muda yang menyembunyikan
| identitasnya- ini menyajikannya secara apik,  cerdas dan memukau?
|
|         Kitab dialog Timaeus and Critias,  -satu-satunya sumber tertulis
| yang menyebutkan keberadaan benua Atlantis,  dikarang oleh Plato pada
| kisaran tahun 360 SM. Pada kisaran tahun yang sama,  Aristoteles menjadi
| murid Plato. Kelak setelah Plato meninggal, Aristoteles  pindah ke Pella.
| Ibukota Macedonia. Menjadi mentor dari Aleksander Yang Agung.  Motif
| penaklukan separuh dunia yang dilakukan oleh Aleksander menjadi
pertanyaan
| menarik yang diajukan oleh ES Ito. Sebuah pertanyaan yang ia jawab
|  sendiri -lewat tokoh Profesor Duani Abdullah- dengan meyakinkan. Bahwa
| penaklukan Aleksander terkait dengan upaya pencarian Nusantara kuno,
sebuah
| cerita yang ia dapatkan dari Aristoteles.
|         Maka kemudian, kita pun  dibuat kaget, bagaimana plot sejarah dari
| satu belahan dunia dengan belahan  dunia lainnya bisa terhubung dengan
masuk
| akal. Timaeus and Critias Plato  kemudian terhubung dengan Tambo Adat Alam
| Minangkabau. Sebuah cerita mengenai  asal usul nenek moyang orang Minang
| yang mampu menjelaskan kenapa penaklukan  Aleksander berakhir di anak
benua
| India. Cerita tambo pun kemudian mengalir  lewat mulut seorang Tukang Kaba
| yang terpaksa merantau di Bekasi, karena ia  tidak lagi dihargai di
kampung.
|         Pararelitas negara Atlantis  sebagaimana gambaran Plato dalam
| Timaeus and Critias dengan Minangkabau sesuai  cerita kaba, sungguh
menarik.
| Mulai dari pembentukan hukum Minangkabau dari  simumbang jatuah,
| sigamak-gamak, tarik baleh hingga munculnya Tuah Sakato.  Hukum-hukum itu
| diperinci lagi menjadi adat nan dibuhua mati dan adat nan  dibuhua sintak.
| Pembentukan hukum dan otonomi tiap nagari di Minangkabau  membuat Eva
Duani,
| salah satu protagonis dalam cerita itu bergumam,
|          "Minangkabau adalah Welfare state, idaman  Plato. Persis seperti
| otonomi tiap negeri yang diperintah oleh sepuluh raja  Atlantis"
|         Penyajian cerita tambo dalam novel Negara  Kelima ini mengingatkan
| saya pada novel karangan Gus tf Sakai, Tambo Sebuah  Pertemuan (Grasindo
| tahun 2000). Bila pada novel Gus tf Sakai itu saya  merasakan sebuah
| perasaan rendah diri dan inferioritas -yang entah menjadi ciri  dari
Sakai-,
| maka pada Negara Kelima saya merasakan sebuah semangat yang  meluap-luap.
| Sebuah masa lalu yang gemilang, dan sekarang tinggal menjadi  puing. Gus
tf
| Sakai dalam karyanya tampak mewakili kepengecutan dan  inferioritas urang
| awak pasca PRRI.  Sedangkan ES Ito dalam penyampaian tambo-nya mewakili
| sebuah semangat muda yang  terlepas dari kelamnya penindasan PRRI oleh
| Jakarta.
|         Jalinan cerita tambo itu membantu  protagonis dalam memecahkan
| teka-teki kelompok radikal. Menyajikan fakta-fakta  bagaimana Darmasraya
| menjadi sentral peradaban Nusantara pada masa itu.         Pengarang
| mengungkap fakta pendirian  Sriwijaya oleh Dapunta Hyang yang berasal dari
| Darmasyara sesuai keterangan  pada prasasti Kedukan Bukit. Enam abad
| kemudian, Darmasraya juga berperan dalam  pembentukan peradaban Majapahit
| lewat pengiriman Dara Petak dan Dara Jingga.  Dengan berani penulis
| memaparkan sebuah realitas semangat tribalisme Jawa  kuno di dalam istana
| Majapahit hingga misteri  kematian Jayanegara yang ber-ibukan Darmasraya
| sebagaimana tertulis dalam sumber  Pamancangah.
|
|         Pencarian Identitas!
|         Itulah tema sentral yang saya lihat dari  Negara Kelima. Pencarian
| sebuah identitas nasional yang berbasiskan identitas  kultural daerah.
Kita
| bisa membacanya lewat pengungkapan asal usul tokoh utama,  Inspektur Timur
| Mangkuto. Ia menyebut dirinya berasal dari daerah Kamang.  Dengan cerdas,
| identitas ini terungkap dalam dialog antara Timur Mangkuto  dengan
Profesor
| Duani Abdullah yang berisi sinisme.
|         "Hee..Hee", Profesor Duani Abdullah tergelak mendengar  nama
tempat
| itu, "Kamang!, Negeri para pemberontak yang justru dilupakan  sejarah
| bukan?"
|         Lewat  dialog ini Timur Mangkuto bisa mengingat kembali sejarah
| pemberontakan  kampungnya. Terutama peristiwa Perang Kamang (pemberontakan
| belasting) pada 15  Juni 1908 -sebuah peristiwa yang menurut Indra Jaya
| Piliang bisa disamakan  dengan riwayat revolusi Amerika yang dimulai
dengan
| tuntutan tidak ada pajak  tanpa perwakilan (lihat Seratus Tahun Bung
Hatta,
| penerbit Kompas)-. Sebuah  kisah sejarah yang tidak pernah dimasukkan oleh
| Jakarta sebagai bagian dari  sejarah nasional.
|         "Sejarah tidak adil, bukan?", Lanjut Profesor Duani Abdullah,
| "Sebagian  daerah diagung-agungkan, sebagian besar malah dilupakan. Semua
| untuk  kepentingan politik dan penguasa. Aku bisa membayangkan, Kamang-mu
| itu sekarang  tidak lebih dari daerah yang diisi oleh manusi kerdil yang
| dilupakan dari  sejarah pemberontakannya.
|         Sinisme serupa muncul dalam dialog lainnya.  Ketika dua orang anak
| muda menelusuri jejak PDRI di Halaban dan Bidar Alam.  Mereka menyebut dua
| negeri itu dengan sebuah ungkapan tajam,
|          "Negeri yang dikalahkan oleh manipulasi sejarah!"
|         Sinisme dan pencarian  identitas yang bercampur aduk mempermainkan
| emosi saya. Walaupun gagasan besar  dari novel ini adalah sebuah identitas
| sejarah nusantara tetapi jelas kelihatan  ES Ito, pengarang novel ini,
| menjadikan Minangkabau sebagai mediumnya. Model  ideal dari sebuah
| masyarakat demokratis pada masa lalu.
|         Membaca Negara Kelima  seolah-olah melihat kembali kelahiran
| identitas Minangkabau. Ada satu semangat  besar yang dimiliki oleh ES Ito.
| Suatu semangat yang tidak lagi dimiliki oleh  novelis-novelis kontemporer.
| ES Ito mengangankan sebuah perubahan tanpa harus  menghilangkan akar
| identitas.
|         Negara Kelima tampaknya  harus dibaca oleh siapa saja yang berada
| pada simpang jalan pencarian  identitas. Dan ES Ito, pengarang muda itu
| mewakili sebuah semangat muda yang  tengah bangkit kembali. Semoga kelak
ia
| tidak menjadi bagian dari seniman yang  disebut Rendra sebagai seniman
salon
| yang hanya bersenandung tentang anggur,  wanita dan rembulan.
|



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke