Berikut ini saya kutip pidato Kwik Kian Gie pada salah
satu acara. Isinya tentang keprihatinan tentang
kondisi bangsa kita saat ini. 

Bagi yang peduli semoga bisa mengambil manfaat dan
memantapkan langkah dalam memajukan bangsa. Bagi yang
tidak peduli dengan nasib bangsa ini, semoga menjadi
peduli ...

Agak panjang memang. Karena cukup banyak fakta dan
informasi di dalamnya. semoga tidak malas membacanya
:P

-----------------begin of kutipan---------------------

yang intinya yalah adanya
perasaan gelisah, gamang, galau tentang kehidupan
berbangsa dan
bernegara kita  dewasa ini, 60 tahun setelah Indone
sia merdeka dari
penjajahan dan  Republik Indonesia sebagai Negara
Kesatuan berdiri
atas dasar
falsafah  negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945.
>
> UUD 1945 telah diamandemen menjadi bentuknya yang
sudah sama-sama
kita ketahui. Kalangan sangat luas dalam tubuh bangsa
kita diliputi oleh
> perasaan galau dan prihatin tentang amandemen ini;
tidak karena kita
semua men-sakralkan UUD 1945, tetapi caranya
mengamandemen yang
terburu-buru dan tidak terlepas dari intervensi oleh
dan untuk
kepentingan pihak-pihak  asing.
>
> Tentang terancamnya keutuhan NKRI, kecuali kemelut
yang sudah terjadi
di mana-mana, kita semua dikejutkan dengan bunyinya
pasal demi pasal
MOU antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka.
Halaman 2 harian
Kompas pagi ini mengutip Gus Dur yang antara lain
mengatakan : ".... saya
juga  takut karena yang berunding saja namanya Gerakan
Aceh Merdeka".
>
> Para Hadirin ya ng saya hormati,
>
> Benarkah keprihatinan, kegamangan dan kegaulauan
kita tentang
kehidupan bernegera dan berbangsa kita ? Ataukah kita
hanya mengada-ada ?
>
> Marilah kita melakukan refleksi tentang apa jadinya
dengan negara
bangsa kita setalah 60 tahun merdeka ? Izinkan saya
mengajukan 8 buah
pertanyaan reflektif yang fundamental kepada diri kita
sendiri sebagai berikut :
>
> 1. Kemandirian
>
> Apakah kita dalam bidang kemandirian mengurus diri
sendiri, yaitu
mandiri dan bebas merumuskan kebijakan-kebijakan
terbaik buat diri sendiri
> mengalami kemajuan atau kemunduran ? Apakah de facto
yang membuat
> kebijakan dalam segala bidang bangsa kita sendiri
atau bangsa lain
beserta lembaga-lembaga internasional ?
>
> 2. Peradaban dan kebudayaan
>
> Dalam bidang peradaban dan kebudayaan, terutama
dalam bidang tata
nilai, mental dan moralitas, apakah setelah 60 tahun
merdeka dari penjajahan
> lebih maju atau lebih mundur ? Benarkah Bung Hatta
yang sejak puluhan
> tahun yang lalu sudah mengatakan bahwa korupsi mulai
menjadi
kebudayaan kita. Benarkah kalau sekarang dikatakan
bahwa KKN sudah
"mendarah daging" dan merupakan gaya hidup bagian
terbanyak elit
bangsa kita ?
>
> 3. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
>
> Apakah setelah 60 tahun merdeka bangsa kita unggul
dalam bidang
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ?
Dibandingkan dengan zaman
penjajahan, kemampuan kita menggunakan ilmu
pengetahuan dan teknologi
yang diciptakan oleh bangsa-bangsa lain memang boleh
dikatakan cukup
up to date. Tetapi  yang dimaksud apakah ilmu
pengetahuan itu temuan
kita sendiri, dan apakah teknologinya ciptaan oleh
bangsa kita sendiri
? Ataukah harus membeli  dengan harga sangat mahal
dari bangsa-bangsa
lain ?
>
> 4. Persatuan dan kesatuan
>
> Apakah persatuan dan kesatuan bangsa kita lebih
kokoh atau lebih
rapuh ?
> Referensi yang dapat kita gunakan adalah amandemen
UUD 1945. Bentuk
dan  praktek otonomi daerah, baik dalam bidang
pengelolaan administrasi
negara  maupun dalam bidang keuangannya. Gerakan Aceh
Merdeka beserta
cara penanganannya. Aktifnya gerakan Papua Merdeka di
dunia
internasional.
> Konflik antar etnis dan antar agama yang cukup keras
walaupun belum
di  banyak wilayah RI. Hilangnya Sipadan dan Ligitan.
Digugatnya Ambalat.
>
> 5. Pertahanan dan keamanan
>
> Apakah dalam bidang pertahanan dan keamanan, kondisi
kita semakin
kuat atau semakin lemah. Referensinya adalah
persenjataan dan alat-alat
perang yang kita miliki, dikaitkan dengan kemampuan
serta prospeknya
untuk  membeli di kemudian hari.
>
> Apakah reformasi tidak terlampau meminggirkan
kedudukan dan peran TNI
> sampai melampaui batas-batas yang membahayakan
negara ?
>
> 6. Tempat dan kedudukan bangsa kita dalam pergaulan
internasional
>
> Dalam pergaulan antar bangsa dan dalam kaitan
keanggotaan kita dalam
> organisasi-organisasi internasional, apakah bangsa
kita mempunyai tempat  dan kedudukan yang lebih
terhormat ataukah lebih terpuruk ?
>
> 7. Kemakmuran yang berkeadilan
>
> Tidak dapat disangkal bahwa pendapatan nasional per
kapita meningkat
sejak kemerdekaan sampai sekarang. Namun seperti
diketahui, pendapatan
nasional tidak mencerminkan pemerataan maupun keadilan
dalam menikmati
pendapatan nasional.
>
> Referensi yalah bandingannya dengan negara-negara
lain yang setara
dalam tahapan pembangunannya. Jumlah angka
pengangguran yang masih
tinggi.  Kemiskinan yang sudah menjurus pada busung
lapar dan mati
kelaparan. Piramida yang tajam sebagai gambaran
perusahaan berskala
besar dan usaha kecil menengah (ukm).
>
> 8. Keuangan negara
>
> Keterbatas an dalam infra struktur, pendidikan,
pelayanan kesehatan,
> penyediaan public utility oleh pemerintah disebabkan
karena keuangan
> negara yang boleh dikatakan sudah bangkrut, ataukah
atas dasar
prinsip  (semacam ideologi) bahwa pemerintah haruslah
sesedikit mungkin
bekerja,  dan sebanyak mungkin produksi dan distribusi
barang dan jasa
apa saja  sebaiknya diserahkan kepada swasta; the best
government is
the least  government ?
>
> Para Hadirin Yth.,
>
> Karena malam ini sifatnya melakukan refleksi, kita
tidak perlu  menelusurinya sampai memperoleh jawaban
yang jelas. Namun demikian
rasanya  sudah dapat dipastikan bahwa semua jawaban
dari 8 pertanyaan
krusial  tersebut menjurus pada arah yang negatif.
>
> Dengan demikian, sadar atau tidak, bangsa kita sejak
lama telah
mengalami  keterpurukan atau malaise.
>
> Berlanjutkah malaise itu sampai saat ini, dan kapan
dimulainy a ?
>
> Dalam mencari jawabannya, izinkan saya sekarang
mengutip observasi
dari  seorang wartawan terkemuka berkewarganegaraan
Australia yang
bermukim di  Inggris, yaitu John Pilger yang membuat
film dokumenter
tentang
Indonesia dan juga telah dibukukan dengan judul : "The
New Rulers of the
World". Dua orang lainnya adalah Prof. Jeffrey
Winters, guru besar di North
Western University, Chicago dan Dr. Bradley Simpson
yang meraih gelar
Ph.D. dengan Prof. Jeffrey Winters sebagai
promotornya. Yang satu
berkaitan dengan yang lainnya, karena beberapa bagian
penting dari
buku John Pilger
mengutip temuan-temuannya Jeffrey Winters dan Brad
Simpson.
>
> Sebelum mengutip hal-hal yang berkaitan dengan
Indonesia, saya kutip
> pendapatnya John Pilger tentang Kartel Internasional
dalam
penghisapannya terhadap negara-negara miskin. Saya
kutip :
>
> "Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian
terbesar dari kami
yang  hidup di belahan utara dunia, cara perampokan
yang canggih telah
memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke
dalam program
penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan,
yang membuat
kesenjangan antara  kaya dan miskin semakin menjadi
lebar. Ini
terkenal dengan istilah "nation building" dan "good
governance" oleh
"empat serangkai" yang mendominasi  World Trade
Organisation (Amerika
Serikat, Eropa, Canada dan Jepang),
dan triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF dan
Departemen Keuangan AS)
yang  mengendalikan setiap aspek detil dari kebijakan
pemerintah di
negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka diperoleh
dari utang yang
belum terbayar, yang memaksa negara-negara termiskin
membayar $ 100 juta
per hari kepada para kreditur barat. Akibatnya adalah
sebuah dunia, di
mana elit yang lebih sedikit dari satu milyar orang
menguasai 80 %
dari  kekayaan seluruh umat manusia."
>
> Saya ulangi sekali lagi parag raf yang sangat
relevan dan krusial,
yaitu yang berbunyi :
>
> "Their power derives largely from an unrepayable
debt that forces the
> poorest countres...." atau "Kekuatan negara-negara
penghisap
didasarkan atas utang besar yang tidak mampu dibayar
oleh
negara-negara target penghisapan."
>
> John Pilger mengutip temuan, pernyataan dan
wawancara dengan Jeffrey
> Winters maupun Brad Simpson. Jeffrey Winters dalam
bukunya yang
berjudul "Power in Motion" dan Brad Simpson dalam
disertasinya mempelajari
> dokumen-dokumen tentang hubungan Indonesia dan dunia
Barat yang baru
saja menjadi tidak rahasia, karena masa kerahasiaannya
menjadi
kadaluwarsa.
>
> Saya kutip halaman 37 yang mengatakan : "Dalam bulan
November 1967,
> menyusul tertangkapnya 'hadiah terbesar', hasil
tangkapannya dibagi.
The Time-Life Corporation mensponsori konperensi
istimewa di Jenewa yang
dalam waktu tiga hari merancang pengambi l alihan
Indonesia. Para pesertanya
> meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di
dunia, orang-orang
seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi
Barat diwakili :
> perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General
Motors, Imperial
Chemical Industries, British Leyland, British American
Tobacco, American
Express, Siemens, Goodyear, The International Paper
Corporation, US
Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto
yang oleh
Rockefeller
disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".
>
> "Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan 'the
Berkeley Mafia',
> karena beberapa di antaranya pernah menikmati
beasiswa dari
pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di
Universitas California di Berkeley.
> Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan
hal-hal yang
> diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan
butir-butir yang
> dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan
: .. buruh m urah
yang melimpah..cadangan besar dari sumber daya alam
... pasar yang besar."
>
> Di halaman 39 ditulis : "Pada hari kedua, ekonomi
Indonesia telah
dibagi, sektor demi sektor. 'Ini dilakukan dengan cara
yang spektakuler' kata
> Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern
University, Chicago,
yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk
gelar doktornya, Brad
Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi.
'Mereka
membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu
kamar, jasa-jasa
di kamar lain, industri  ringan di kamar lain,
perbankan dan keuangan
di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase
Manhattan duduk dengan
sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan
yang dapat
diterima oleh mereka dan
para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin
korporasi besar ini
> berkeliling dari satu meja ke meja yang lain,
mengatakan : ini yang
kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada
dasarnya merancang infra
> struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya
tidak pernah
> mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana
modal global duduk
> dengan para wakil dari negara yang diasumsikan
sebagai negara berdaulat dan  merancang persyaratan
buat masuknya investasi mereka ke dalam
negaranya sendiri.
>
> Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga
di Papua Barat
(Henry
> Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium
Eropa mendapat nikel
Papua
> Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar
dari bauksit
Indonesia.
> Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan
Perancis
mendapat
> hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan
Kalimantan. Sebuah
> undang-undang tentang penanaman modal asing yang
dengan buru-buru
> disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini
bebas pajak untuk
lima
> tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali
dari e konomi
Indonesia
> pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia
(IGGI), yang
> anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat,
Canada, Eropa,
Australia
> dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan
Bank Dunia."
>
> Hadirin Yth.,
>
> Kalau kita percaya John Pilger, Brad Sampson dan
Jeffry Winters,
sejak
> tahun 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi
(plundered) dengan tuntunan
oleh
> para elit bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu
berkuasa.
>
> Setelah itu sampai meledaknya krisis ekonomi di
tahun 1997 yang
disusul
> dengan depresi yang cukup hebat, kondisi moneter dan
kepercayaan
Indonesia
> hancur. Rupiah merosot nilainya dari Rp. 2.400 per
dollar menjadi Rp.
> 16.000 per dollar. Kepercayaan dunia internasional
maupun para
pengusaha
> Indonesia sendiri merosot sampai nol. Dalam kondisi
seperti itu
Indonesia
> sebagai anggota IMF mengg unakan haknya minta
bantuannya, yang
diberikan
> dalam bentuk Extended Fund Facility atau yang lebih
terkenal dengan
> sebutan program Letter of Intent.
>
> Pada akhir pemerintahan Megawati sebuah badan
evaluasi independen di
dalam
> tubuh IMF yang bernama Independent Evaluation Office
mengakui bahwa
IMF
> telah melakukan banyak kesalahan.
>
> Di Indonesia, kesalahan yang paling mencolok yalah
dengan ditutupnya
16
> bank tanpa persiapan yang matang dengan akibat BLBI
sebesar Rp. 144
> trlyun, Obligasi Rekapitalisasi Perbankan sebesar
Rp. 430 trilyun
beserta
> kewajiban pembayaran bunganya dengan jumlah Rp. 600
trilyun, atau
seluruh
> beban menjadi Rp. 144 trilyun BLBI, Rp. 430 trilyun
Obligasi Rekap.
dan
> minimal Rp. 600 trilyun beban bunganya, atau
keseluruhannya Rp. 1.174
> trilyun. Kalau kurs dollar AS kita ambil Rp. 10.000
per dollar,
jumlah ini
> ; ekuivalen dengan 117,4 milyar dollar AS.
>
> Dari Obligasi Rekap yang Rp. 430 trilyun dan melekat
pada bank-bank
yang
> semula 100 % dimiliki oleh pemerintah dijual kepada
pemodal swasta,
> terutama asing dengan harga murah, tetapi di
dalamnya masih
mengandung
> tagihan kepada pemerintah dengan jumlah uang yang
luar biasa besarnya
itu
> tadi.
>
> Hadirin Yth.,
>
> Buat saya, masih merupakan pertanyaan besar, apakah
semua utang dalam
> negeri yang diciptakan oleh IMF beserta
kroni-kroninya itu sebuah
> kesengajaan ataukah sebuah kebodohan ? Besarnya
utang dalam negeri
yang
> diciptakan dalam hitungan minggu jumlahnya lebih
besar dari utang
luar
> negeri yang diakumulasi selama 32 tahun.
>
> Adapun utang luar negeri pemerintah, saldonya pada
saat ini sekitar
80
> milyar dollar AS, tetapi selama 32 tahun jumlah yang
telah dibayarkan
> ber jumlah sekitar 128 milyar dollar AS.
>
> Apa lanjutan dari Konperensi Jenewa di tahun 1967 ?
Di tahun itu juga
> dibentuk IGGI, sebuah perkumpulan antar negara kaya
yang kegiatannya
> memberi utang kepada pemerintah Indonesia. Utang ini
banyak
> persyaratannya. Kebanyakan hasil utang harus dipakai
untuk membeli
barang
> dan jasa dari perusahaan-perusahaan negara pemberi
utang. Harganya di
mark
> up. Indonesia mendapatkan barang dan jasa dengan
harga yang
kemahalan.
> Sekitar 80 % uang tunainya hasil utang mengalir
kembali ke
negara-negara
> pemberi utang menurut perhitungan oleh Bappenas.
Utang bertambah
terus,
> demikian juga bunganya. Seperti telah saya katakan
tadi, jumlah utang
dan
> bunga yang sudah dibayar sekitar 182 milyar dollar
AS, dan saldonya
> sekarang masih sekitar 80 milyar dollar AS.
>
> Liberalisasi perbankan dan dampaknya
>
> Sekitar 20 0 bank bermunculan dalam waktu singkat
atas dasar Paket
> Kebijakan Oktober (PAKTO) tahun 1988 yang
membolehkan siapa saja
> mendirikan bank dengan modal disetor sebesar Rp. 10
milyar. Bank-bank
ini
> didirikan, dimiliki dan dikelola oleh para pedagang
besar yang sama
sekali
> tidak mempunyai latar belakang perbankan. Dana
masyarakat yang
> dipercayakan disalah gunakan dengan cara memakainya
untuk membiayai
> pendirian perusahaan-perusahaannya sendiri dengan
mark up. Maka bank
sudah
> kalah clearing. Tetapi Bank Indonesia ketika itu
bukannya menghukum,
> malahan memberikan fasilitas yang dinamakan
Fasilitas Diskonto I.
Setelah
> itu masih kalah clearing lagi. Oleh BI juga masih
dilindungi dengan
> memberikan Fasilitas Diskonto II. Akhirnya toh tidak
tertolong
sehingga
> bank-bank tersebut di-rush. Untuk menghentikannya,
pemerintah
menyuntik
> dana yang dinamakan Bantuan Likwi ditas Bank
Indonesia (BLBI) sampai
jumlah
> sekitar Rp. 144 trilyun. Setelah mengauditnya, BPK
menyatakan sekitar
90 %
> tidak
> dapat dipertanggung jawabkan.
>
> Setelah gejolak perbankan reda, ternyata  sangat
banyak bank rusak
berat.
> Pemerintah menginjeksi dengan surat utang negara
yang dinamakan
Obligasi
> Rekapitalisasi perbankan (Obligasi Rekap.) sampai
jumlah Rp. 430
trilyun
> dengan beban bunga sebesar Rp. 600 trilyun.
Bank-bank ini menjadi
milik
> pemerintah. Terus dijual dengan harga murah, padahal
di dalamnya
masih ada
> tagihan kepada pemerintah yang besar. Sebagai
contoh, BCA dijual
dengan
> nilai sekitar Rp. 10 trilyun, tetapi di dalamnya ada
tagihan kepada
> pemerintah (Obligasi Rekap) sebesar Rp. 60 trilyun.
Jadi pembeli
membayar
> Rp. 10 trilyun, dan langsung mempunyai surat utang
negara sebesar Rp.
60
> trilyun. Beban bunga per tahun dari Rp. 60 trilyun
ini selama belum
> dilunasi besarnya melebihi hasil penjualan yang Rp.
10 trilyun.
>
> Dampaknya pada besarnya beban utang pemerintah, baik
utang luar
negeri
> maupun dalam negeri untuk tahun anggaran 2006
sebesar Rp. 140,22
trilyun,
> yaitu beban bunga sebesar Rp. 76,63 trilyun dan
cicilan utang
pokoknya
> sebesar Rp. 63,59 trilyun. Jumlah ini pengeluaran
terbesar setelah
> keseluruhan pengeluaran pemerintah pusat dan
pemerintah daerah, baik
rutin
> maupun pembangunan.
>
> Menuju ke arah liberalisasi mutlak
>
> Sejak Republik Indonesia berdiri sampai tahun 1967
tidak pernah ada
> rincian konkret dari ketentuan pasal 33 UUD 1945
yang bunyinya :
"Barang
> yang penting bagi negara dan cabang-cabang produksi
yang menguasai
hajat
> hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk
> sebesar-besar kemakmuran rakyat."
>
> Penjabaran yang konkret sampai bisa menjadi
peraturan tidak pernah
ada
> sampai tahun 1967, yaitu yang tertuang dalam UU no.
1 tahun 1967
tentang
> Penanaman Modal Asing.
>
> Saya kutip pasal 6 ayat 1 yang berbunyi :
"Bidang-bidang usaha yang
> tertutup  untuk penanaman modal asing secara
pengusahaan penuh ialah
> bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai
hadjat hidup
rakyat
> banyak sebagai berikut :
>
> a. pelabuhan-pelabuhan;
> b. produksi, transmisi dan distribusi tenaga listrik
untuk umum;
> c. telekomunikasi;
> d. pelajaran;
> e. penerbangan;
> f.  air minum;
> g. kereta api umum;
> h. pembangkitan tenaga atom;
> i. mass media. "
>
> UU tersebut sekaligus menentukan bahwa kepemilikan
asing dalam
> cabang-cabang produksi tersebut tidak boleh lebih
dari 5 %.
>
> Setahun kemudian , UU no. 68 mengulangi lagi
kata-kata krusial dari
pasal
> 33 UUD tersebut, lengkap beserta rincian konkretnya
dari
cabang-cabang
> produksi dari a sampai dengan i yang persis sama
dengan UU no. 1
tahun
> 1967, tetapi asing sudah boleh memiliki 49 %.
>
> Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1994 mengulangi
lagi kalimat
krusial
> dari UUD 1945, yang juga dilengkapi dengan rincian
konkret dari
> cabang-cabang produksi a sampai dengan i. Tetapi
dalam PP tersebut
> ditentukan bahwa asing boleh memiliki, menguasai,
mengelola sampai 95
%.
>
> Belum lama yang lalu, Menko Perekonomian Aburizal
Bakrie
menyelenggarakan
> apa yang dinamakan Infra Struktur Summit. Dalam
kesempatan itu beliau
> mengumumkan bahwa Kabinet Indonesia Bersatu
membolehkan asing
memiliki 100
> % dari cabang produksi apa saja.
>
> Tidak lama setelah itu Meneg BUMN juga
menyelenggarakan apa yang
dinamakan
> BUMN Summit, yang mengumumkan bahwa pada dasarnya
pemerintah tidak
> dibenarkan memiliki unit usaha. Maka privatisasi
akan dijalankan
terus.
> Bukan semata-mata karena pemerintah perlu uang,
tetapi atas dasar
prinsip
> dan school of thought.
>
> Pengadaan infra struktur tidak lagi oleh pemerintah
dengan pendanaan
dari
> pajak, tetapi diserahkan kepada pemodal swasta yang
akan mengambil
> keputusan membangun infra strutkur atau tidak atas
dasar perhitungan
> rugi/laba. Maka pengguna infra struktur akan
dikenakan bayaran yang
> dinamakan tol, dan harganya harus dapat memberi
keuntungan yang
memadai
> kepada investornya. Sedikit banyaknya, kenyataan ini
akan memberi
andil
> dalam membuat ekonomi Indonesia menjadi high cost
economy.
>
> Rakyat Indonesia harus membayar BBM dengan harga
yang ditentukan oleh
New
> York Mercantile Exchange (NYM EX). Maka harga BBM
dinaikkan secara
drastis.
> Dasarnya UU Migas yang menentukan bahwa harga BBM
ditentukan oleh
> mekanisme pasar. Mahkamah Konstitusi berpendapat
bahwa ketentuan
tersebut
> bertentangan dengan pasal 33 UUD kita. Tetapi
diabaikan oleh
pemerintah
> tanpa ada yang berdaya.
>
> Hadirin Yth.,
>
> Last but not least, benarkah sinyalemen John Pilger,
Joseph Stiglits
dan
> masih banyak ekonom AS kenamaan lainnya bahwa
utanglah yang dijadikan
> instrumen untuk mencengkeram Indonesia ?
>
> Dalam rangka ini, izinkankanlah saya mengutip buku
yang
menggemparkan.
> Buku ini ditulis oleh John Perkins dengan judul :
"The Confessions of
an
> Economic Hitman", atau  "Pengakuan oleh seorang
Perusak Ekonomi".
Buku ini
> tercantum dalam New York Times bestseller list
selama 7 minggu.
>
> Saya kutip sambil menterjemahkannya ke dalam bahasa
I ndonesia sebagai
> berikut.
>
> Halaman 12 : "Saya hanya mengetahui bahwa penugasan
pertama saya di
> Indonesia, dan saya salah seorang dari sebuah tim
yang terdiri dari
11
> orang yang dikirim untuk menciptakan cetak biru
rencana pembangunan
> pembangkit listrik buat pulau Jawa."
>
> Halaman 13 : "Saya tau bahwa saya harus menghasilkan
model
ekonomterik
> untuk Indonesia dan Jawa". "Saya mengetahui bahwa
statistik dapat
> dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan,
termasuk apa yang
> dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang
dibuatnya."
>
> Halaman 15 : "Pertama-tama saya harus memberikan
pembenaran
> (justification) untuk memberikan utang yang sangat
besar jumlahnya
yang
> akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsutan
di mana John
Perkins
> bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya
(seperti Bechtel,
> Halliburton, Stone & ; Webster, dan Brown & Root)
melalui penjualan
> proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan
konstruksi. Kedua,
saya
> harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman
tersebut (tentunya
> setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah
dibayar), agar
negara
> target itu untuk selamanya tercengkeram oleh
kreditornya, sehingga
negara
> pengutang (baca : Indonesia)  menjadi target yang
empuk kalau kami
> membutuhkan favours, termasuk basis-basis militer,
suara di PBB, atau
> akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya."
>
> Halaman 15-16 : "Aspek yang harus disembunyikan dari
semua proyek
tersebut
> yalah membuat laba sangat besar buat para
kontraktor, dan membuat
bahagia
> beberapa gelintir keluarga dari negara-negara
penerima utang yang
sudah
> kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing.
Dengan demikian
> ketergantungan keuangan negara pener ima utang
menjadi permanen
sebagai
> instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari
pemerintah-pemerintah
penerima
> utang. Maka semakin besar jumlah utang semakin baik.
Kenyataan bahwa
beban
> utang yang sangat besar menyengsarakan bagian
termiskin dari
bangsanya
> dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa
sosial lainnya
selama
> berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam
pertimbangan."
>
> Halaman 15 : "Faktor yang paling menentukan adalah
Pendapatan
Domestik
> Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar
terhadap
pertumbuhan
> PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek
yang harus
dimenangkan,
> saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang
bersangkutan akan
> membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB."
>
> Halaman 16 : "Claudia dan saya mendiskusikan
karakteristik dari PDB
yang
> menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi
walaupun hanya
> menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki
perusahaan jasa
publik,
> dengan membebani utang yang sangat berat buat
rakyatnya. Yang kaya
menjadi
> semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin.
Statistik akan
> mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi."
>
> Halaman 19 : "Sangat menguntungkan buat para
penyusun strategi karena
di
> tahun-tahun enam puluhan terjadi revolusi lainnya,
yaitu pemberdayaan
> perusahaan-perusahaan internasional dan
organisasi-organisasi
> multinasional seperti Bank Dunia dan IMF."
>
> Bab tiga khusus tentang Indonesia dengan judul :
"Indonesia,
pelajaran
> buat Penghancur Ekonomi".
>
> Halaman 21 : "Prioritas dari kebijakan luar negeri
Amerika Serikat
yalah
> supaya Suharto melayani Washington seperti yang
dilakukan oleh Shah
Iran.
> AS juga mengharapkan bahwa Indonesia akan menjadi
model buat
negara-negara  di sekitarnya. Washington mendasarkan
sebagian dari
strateginya pada asumsi bahwa manfaat yang diperoleh
dari Indonesia
akan mempunyai dampak positif pada seluruh dunia
Islam, terutama di
Timur Tengah yang eksplosif.
> Dan kalau itu tidak cukup, Indonesia mempunyai
minyak. Tidak
seorangpun yang mengetahui dengan pasti tentang
besarnya dan kwalitas
dari cadangan minyaknya, tetapi para akhli seismologi
sangat antusias
tentang
> kemungkinan-kemungkinannya."
>
> Halaman 28 : "Akhirnya kepada kami diberikan
keanggotaan dari Bandung
Golf
> & Racket Club yang ekslusif, dan kami bekerja dalam
kantor cabang
Bandung
> dari Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN),
perusahaan listrik yang
> dimiliki oleh pemerintah."
>
> Dari sanalah John Perkins dengan Tim-nya beroperasi,
yang didukung
> sepenuhnya oleh para anak bangsa yang menjadi
pengkhianat terhadap
rakyat dan bangsanya sendiri.
>
> Hadirin Yth.,
>
> Kelompok ekonom yang terkenal dengan nama teknokrat
dengan sebutan
The Berkeley Mafia tidak pernah absen mengendalikan
ekonomi Indonesia
sejak tahun 1967 menjalankan tugas apa saja yang
diperintahkan oleh Kartel
IMF, sambil terus menerus menakut-naukti Presidennya
sendiri.
>
> Hanya dalam periode ketika Gus Dur menjabat sebagai
Presiden RI
mereka sama sekali tidak mempunyai perwakilan di dalam
pemerintahan. Maka
dengan berbagai cara dan tekanan akhirnya berhasil
membentuk Dewan Ekonomi
> Nasional dan Tim Asistensi pada Menko EKUIN. Untung
dampaknya tidak
besar atau boleh dikatakan nihil sama sekali.
>
> Namun sayang bahwa sejak Ibu Megawati menjabat
sebagai Presiden,
kendali ekonomi jatuh ke tangan Berkeley Mafia lagi,
yang sekarang kendali
serta kekuasaannya bertambah mutlak.
>
> Kondisi Politik, Pertahanan, Keamanan dan kesatuan
NKRI
>
> Saya tidak mempunyai pengetahuan dan kompetensi
berbicara dalam
bidang ini.
> Namun saya kebetulan mengetahui bahwa Gus Dur
mempunyai hubungan yang sangat baik dan komunikasi
yang intensif dengan Jenderal Ryamizard
Ryacudu beserta para Jenderal lainnya, sehingga buat
NU bukan hal yang
sulit memperoleh gambaran yang lengkap tentang kondisi
HANKAMNAS.
>
> IPOLEKSOSBUD
>
> Tentang kondisi dalam bidang IPOLEKSOSBUD dan
pertanyaan apakah dalam bidang inipun kita sedang
terpuruk, saya kira NU sendiri adalah
akhlinya.
>
> PENUTUP
>
> Sebagai penutup, apa yang harus kita lakukan dan
peran apa yang dapat
> dimainkan oleh NU ? Jelas bahwa cengkeraman dan
kerusakan sudah
mencapai taraf yang tidak dapat dibelokkan ke arah
perbaikan tanpa gerakan
yang  massif, yang menyadarkan seluruh rakyat
Indonesia dengan maksud
> menyatukannya.
>
> Negara bangsa kita boleh miskin dan boleh sangat
terpuruk. Namun
kalau rakyat seluruhnya bersatu padu, tidak ada
kekuatan dengan
persenjataan yang secanggih apapun yang dapat
mengalahkannya. Contohnya adalah
Vietnam,  Korea dan mungkin Irak. Contoh yang sekarang
gilang gemilang
kedudukannya dan hanya bermodalkan kesatuan dan
persatuan yang kokoh
adalah China,
yang mungkin disusul oleh India.

--------------------end of kutipan---------------------

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke