HARTA TUA


Pulang dari sembahyang subuh berjamaah di mesjid, Malin Basa menuju ke rumah
dunsanaknya Zainab. Hari masih gelap. Di halaman rumah dia bertemu dengan
tuo Tipah yang baru kembali dari sungai mengambil air sembahyang. Tuo Tipah
memegang senter. Mendengar bunyi langkah orang datang, diarahkannya cahaya
senter itu  kepada Malin Basa.



'Oo engkau Malin. Apa kabar yang kau bawa? Pagi subuh kelam sudah sampai kau
disini?' tanya tuo Tipah.



'Kabar biasa saja biyai,' jawab Malin Basa, mengiringi tuo Tipah menapaki
anak jenjang.



'Apa jawaban si Timah?' lanjut tuo Tipah



'Sembahyanglah biyai dulu, sebentar lagi saya jelaskan.'



'Ooo,' jawab tuo Tipah, seolah sudah tahu apa jawaban itu.



Zainab masih duduk di tikar sembahyang ketika Malin Basa masuk ke rumah.
Masih memakai tilakung dia bergegas ke dapur, menjerangkan air.



'Tergegas benar tuan tiba. Bagaimana jawab kak Timah atas pertanyaan biyai?'
tanya Zainab.



'Sebentar lagilah. Kita nantikan biyai selesai sembahyang,' jawab Malin.



Zainab masuk ke kamarnya, melepas tilakung dan merapikan rambut serta
bajunya. Tidak lupa dia menutup kepalanya dengan selendang. Setelah itu dia
kembali bergegas ke dapur membuatkan minum dan menggoreng pisang. Zainab
sangat cekatan. Hanya sekitar lima belas menit saja dia sudah selesai dengan
tiga cangkir minuman dan sepiring pisang goreng yang segera di bawanya ke
hadapan kakaknya Malin Basa yang sudah duduk berhadap-hadapan dengan ibu
mereka di tikar.



'Kenapa tiga cangkir saja kamu buat minuman? Si Saiful sebentar lagi pasti
datang. Saya melihatnya berjemaah di mesjid tadi,' ucap Malin Basa memprotes
adiknya.



'Air panas masih terjerang, tuan. Kalau dia datang akan saya buatkan lagi.
Mungkin juga dia pergi menemui Guru Rusli pagi ini. Begitu katanya kemarin,'
jawab Zainab.



'Jadi begini, Nab.' Malin Basa menukar pembicaraan. 'Sudah saya sampaikan
pertanyaan biyai pekan lalu itu ke si Timah. Sudah berunding-runding pula
kami. Akhirnya keputusannya dia tidak setuju. Katanya pula, kalau ada
rezeki, biarlah dibantu-bantunya saja biaya si Saiful sesanggupnya nanti
kalau jadi dia ke Bandung.'



'Berapa benar akan sanggup dia membantu? Sedangkan sekarang untuk ongkos
kapal ke Jawa saja entah dimana-mana uang akan diambil,' tuo Timah langsung
berkomentar.



'Iyakah Nab? Belum ada ongkos untuk tiket kapal?' Malin Basa bertanya kepada
Zainab.



'Entahlah tuan. Atau biarlah saya jual subang dan kalung saya ini. Hanya itu
satu-satunya jalan yang tampak oleh saya sementara ini. Mudah-mudahan
uangnya cukup untuk biaya dia agak sebulan disana,' jawab Zainab.



'Beginilah, juallah subang atau kalungmu saja. Jangan kedua-duanya. Saya
carikan penambahnya sesudah itu,' jawab Malin Basa.



'Huh, berapa benarlah uangnya itu. Lagi pula, orang perempuan ini perlu juga
mempunyai perhiasan agak sedikit. Ini, hanya tinggal kalung dengan subang
masih mau dijual pula. Lalu sesudah itu? Sesudah sebulan dia disana,
kalaupun cukup uang sebegitu untuk sebulan olehnya. Kemana lagi dia akan
pergi?' Tuo Tipah masih penasaran.



'Mudah-mudahan dapat pula dia jalan biyai. Mudah-mudahan ada pula rezekinya
disana. Kalaupun jadi sawah digadaikan, uang gadaian itu dibawanya ke
Bandung, kalau dia tidak pandai berusaha, sekali waktu tentu akan habis juga
olehnya. Entah kok indak begitu biyai?' ajuk Malin Basa.



Tuo Tipah terdiam beberapa saat. Beliau menyadari betul bahwa kedua anaknya
ini, bahkan termasuk menantunya, si Timah, tidak setuju dengan rencananya
menggadaikan sawah. Sudah berulangkali hal ini mereka bicarakan, selalu saja
kedua anaknya itu menolak. Alasan mereka tidak elok kita menggadaikan sawah.



Terakhir, tuo Tipah  mengusulkan agar sawah itu digadaikan ke si Timah,
istri Malin Basa. Dengan demikian hitung-hitung seperti pinjam mememinjam
sesama adik dengan ipar saja. Kalau ada rezeki entah kapan-kapan ditebus
kembali, begitu usul tuo Tipah. Soalnya beliau ingin betul agarnya cucunya
si Saiful yang selalu jadi juara di sekolah itu pergi berangkat ke Bandung
melanjutkan sekolahnya. Tuo Tipah menyadari bahwa kedua anaknya ini
sepengajian. Mereka merasa bahwa harta tua, sawah, parak dan sebagainya itu
bukanlah milik 'kita' kata mereka. Jadi kita tidak berhak menjual maupun
menggadaikannya. Lalu kenapa kalian mau juga ikut memakan nasi hasil sawah
itu? pernah tuo bertanya seperti itu. Memakan padi hasil sawah itu seperti
kita makan pemberian atau sedekah inyiak-inyiak kita seisuk. Tapi pokoknya
benar, yaitu sawah begitupun rumah gadang ini tetap milik inyik kita itu.
Bukan milik kita, jadi tidak boleh kita jual sesuka kita. Selalu begitu
jawaban kedua anaknya, Malin Basa dan Zainab.



'Sebenarnya,' kata tuo Tipah pula, 'secara adat menggadai amaupun menjual
harta adat itu boleh kalau tepat alasannya. Senyampang terjadi, rumah gadang
ketirisan, atau mayat terbujur di tengah rumah, atau gadis gedang belum
berlaki. Dalam hal seperti itu boleh harta adat dijual atau digadaikan.
Artinya, kalau jelas betul keperluannya, boleh harta itu kita manfaatkan.
Tapi kalian madar. Pengajian kalian selalu saja mengatakan bahwa harta itu
bukan milik kita bahkan tidak jelas kepemilikannya. Hanya yang membuat saya
heran, nasi hasil sawah itu mau juga kalian memakannya.'



'Iya biyai. Memakan nasinya itu ibarat kita mengambil ranting kayu di hutan.
Hutan bukanlah hutan kita, kayunya bukanlah kayu kita, bukan kita yang
menanamnya, tapi rantingnya yang patah, insya Allah ketika kita tidak ada
pilihan lagi bolehlah kita manfaatkan. Tapi hutan dan pohon kayunya tidak
boleh kita rusak. Tidak boleh kita dakwa sebagai milik kita. Dan tidak pula
untuk kita wariskan kepada anak-anak kita sebagai harta faraidh.' Malin Basa
kembali mencoba menjelaskan.



'Jadi menurut engkau sawah di Bancah itu bukan aku yang punya?' tanya tuo
Tipah.



'Biyai, bukankah biyai menyaksikan bahwa harta pusaka tinggi itu,
sawah-sawah itu dulu sepertinya dimiliki oleh tuo? Padahal juga bukan tuo
yang membelinya? Tuo, menerimanya lagi dari tuonya biyai dengan cara yang
sama? Beliau juga bukan yang membelinya. Jadi yang menerukonya mula-mula,
atau yang membelinya mula-mula sudah tidak jelas. Dan kepemilikannya hanya
seperti itu saja, hanya mengambil hasil panennya saja. Itulah yang saya
katakan, ibarat kita memakan pemberian dari inyiak Asa kita dahulu. Hanya
memakan hasilnya saja, sementara  pokoknya biarkan sajalah tetap disana.
Belum lagi kalau kita perhatikan bahwa yang ditinggalkan inyiak Asa dahulu
sudah kita bagi-bagi pula penerimaan hasilnya. Yang biyai terima hanya
sepersekian, karena bahagian lain sudah diambil pula oleh mak tuo dan etek.
Bukankah begitu biyai?' ajuk Malin Basa pula panjang lebar.



'Kenapa tidak kalian bagi saja pula menurut syarak kalau memang itu yang
terpikir oleh kalian tentang harta pusako tinggi itu?' ulas tuo Tipah agak
emosi.



'Bukankah sudah saya katakan pula biyai. Itupun tidak mungkin. Karena
kepemilikannya tidak jelas. Sawah di Bancah itu ibaratnya biyai hanyalah
sebagai penjaganya tapi bukan pemiliknya. Tentu tidak mungkin biyai wariskan
kepada kami, tidak boleh kami warisi, tidak boleh pula kami wariskan
nantinya.'



'Payah saya berbicara dengan kalian,' ucap tuo Tipah merajuk. 'Kalau mati
saya besok, apakah bukan engkau yang akan jadi pemiliknya Enab?' tanyanya
pula.



'Itu sebenarnya contoh yang rancak biyai. Ketika biyai sudah tidak ada besok
si Enab akan jadi penjaganya pula. Mana-mana anak kemenakan yang datang ke
rumah gadang ini akan disuguhinya dengan hasil sawah di Bancah itu insya
Allah. Tapi dia tidak akan mewariskan lagi tugas penjagaan sesudah itu.
Seandainya biyai sudah tidak ada, seandainya kami berdua sudah tidak ada
pula, si Saiful bukanlah yang akan jadi pewaris penjagaan hasil sawah itu.
Begitu ketentuan adat, bahwa tugas penjagaan itu turun melalui garis ibu-ibu
biarlah begitu seterusnya. Mungkin sampai hasil sawah itu semakin tidak ada
lagi artinya karena saking kecilnya pembagian sesudah kita berkembang biak
juga. Mungkin pada ujung akhir, nilai sawah pusako tinggi itu akan hilang se
ndirinya. Sebab dia tidak ditambah orang lagi. Tidak ada lagi orang meneruko
sekarang ini.'



'Sudahlah, penat saya,' kata tuo Tipah. 'Bagaimana kata kalianlah. Enab,
usahlah kau jual pula subang atau kalung kau itu. Ada uang suku emas saya
simpan sejak engkau masih gadis. Dulu maksudnya untuk penambah pembeli
sambal ketika engkau berhelat. Ketika itu tidak jadi dijual. Juallah
sekarang, pembeli tiket si Buyuang pergi merantau. Bagi saya, jadi orang
juga hendaknya si Buyuang itu. Dia itu pintar,' kata tuo Tipah berkaca-kaca.



                                                            *****


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke