Menyorot Kemiskinan di Negeri Petrodollar
* Pulau Kemewahan di Tengah Lautan Kemiskinan 
Padang Express, Minggu, 28-Mei-2006, 02:46:24 175 clicks
 
 
Boleh  saja  pejabat  pemerintah ngomong, tak ada lagi kantong-kantong
kemiskinan  di  daerah  yang  ngakunya Petrodollar. Kalau ada hanyalah
akibat  kemalasan  dan  pendidikan  yang rendah. Namun, fakta tak bisa
dipungkiri.  Kemiskinan  itu ada di mana-mana. Termasuk di daerah yang
dikerubungi investor kelas kakap.

Realitas itu terpampang jelas di depan mata kita. Lihat saja pendataan
penduduk  miskin  yang  dilansir  Dinas  Koperasi dan UKM Sumbar akhir
tahun lalu. Kabupaten Pasaman total Kepala Keluarga miskinnya mencapai
36  persen, atau nangkring di posisi kedua setelah kabupaten Mentawai,
saudara  bungsunya  (Pasaman Barat, Red) tak jauh beda, 29,4 persen KK
miskin.  Mirisnya,  Padang  yang  dianggap gerbang Sumbar, 21,1 persen
KK-nya miskin!

Potret  kemiskinan  itu  terhampar  di  19  kota/ kabupaten di Sumbar.
Bahkan  hasil  data terakhir yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS)
Sumbar, jumlah penduduk miskin terbilang fenomenal mencapai 30 persen.
Memang  diakui  sejumlah  kebijakan telah digulirkan pemerintah, namun
tetap  saja angka kemiskinan melambung tinggi. Beragam faktor penyebab
melangitnya   angka   kemiskinan,   selain   keterbatasan  akan  akses
pendidikan, juga akibat keterisoliran.

Ambil  contoh, potret kemiskinan yang dirasakan tujuh Jorong Terpencil
di Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Pasaman Barat yang tempatnya
persis  di  perbatasan  Sumatera Barat dengan Sumatera Utara. Penduduk
setempat   masih   bermimpi  pembangunan  menyentuh  nagarinya.  Angka
kemiskinan  kian  meruncing di daerah ini, setelah kenaikan harga BBM.
Padahal di Pasaman Barat, terdapat 19 investor kelas kakap.

Nagari  Batahan  berjarak  sekitar  340  km  dari Kota Padang Ibu Kota
Sumatera  Barat,  atau  sekitar  60  km dari Simpang Empat. Nagari ini
mengandung  potensi alam yang sangat besar. Bijih besi, timah, tembaga
adalah  potensi  alam  yang  masih  belum terjamah. Sedangkan komoditi
pertaniannya,  seperti  karet,  coklat,  kulit manis (casiavera) sudah
menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar.

Tujuh  jorong di kanagarian ini tergolong sarang kemiskinan di Pasbar,
yakni,  Jorong  Silayang Julu, Tanjung Larangan, Tamiang Julu, Tamiang
Tengah,  Sigantang,  Sawah  Mudiak  dan  Jorong Paraman Sawah. Ketujuh
jorong  ini  dihuni  sekitar  4500  jiwa. Kehidupan sehari-hari mereka
tergantung  pada  cuaca.  Bila  cuaca  panas  kehidupan  bisa berjalan
sebagaimana  biasa,  namun  bila cuaca hujan kehidupan mereka tertekan
hingga amburadul.

Tak  satu  pun  usaha yang bisa dikerjakan secara sempurna, bila hujan
telah  mengguyur  ke-7 jorong ini, sebab jalan tanah yang mereka pakai
akan  berubah  menjadi  kubangan  kerbau. Bila musim hujan, warga juga
tidak  bisa  menjalankan  profesinya  untuk memotong karet, sebab akan
berdampak fatal bagi pertumbuhan tanaman karet mereka itu.

Hasrat  masyarakat  setempat  terlepas dari belenggu kemiskinan begitu
besar.  Namun,  bagaimanapun  kerasnya masyarakat berupaya, tetap saja
tak mampu mengangkat ketertindasan yang dirasakannya. Masa depan cerah
yang  terpancar  di  pelupuk  wajah generasi muda di jorong itu, masih
sebatas  angan. Lain lagi potret kemiskinan di wilayah pesisir pantai,
Kecamatan  Tanjung  Mutiara  yang  persis berada di kawasan perkebunan
kelapa  sawit  milik  PT Mutiara Agam. Belakangan warga setempat makin
rentan  dibelit  masalah akibat makin minimnya hasil tangkapan ikan di
laut,   sementara   harga   barang   melonjak  tajam.  Termasuk  biaya
operasional melaut yang makin membubung.

Program  pemerintah  yang  berupaya  mengangkat  tingkat kesejahteraan
masyarakat pesisir dengan program PEMP. Yakni mengoptimal potensi laut
dan  agenda  lainnya  beberapa  tahun  terakhir  belum  memperlihatkan
perubahan  yang  siginifikan.  Kalau pun ada, dampaknya masih berkisar
pada upaya meringankan beban masalah.

Kondisi  lebih  memiriskan  terjadi  di Nagari Sungai Limau, Kecamatan
Sungai  Rumbai Dhamasraya. 50 persen dari 17 ribu warga nagari miskin.
Padahal,  di  daerah itu terhampar Kebun sawit milik perusahaan swasta
nasional.  Seolah keberadaan perkebunana itu tidak memberi andil lebih
terhadap  perekonomian  warga.  Warga  di nagari itu cuma bisa menjadi
buruh kebun harian dengan gaji kurang dari Rp 20 ribu.

Menilik fenomena ini, jelas membuktikan kebenaran iming-iming masuknya
investor  mampu  memberi  isyarat bergairahnya perekonomian masyarakat
setempat. Ketua DPRD Pasbar Asgul mengakui itu. Keberadaan 19 Investor
di  Pasbar  belum  bisa  membantu pembangunan di daerah setempat, baik
yang berkaitan dengan peningkatan stabilitas perekonomian, pendidikan,
maupun untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten setempat.

Sosiolog  asal  Universitas  Andalas  (Unand)  Prof Dr Damsar menilai,
maraknya angka kemiskinan di daerah yang terbilang kaya, seperti Solok
Selatan,  lebih  akibat  belum adilnya pengaturan terhadap pengelolaan
aset  masyarakat.  Berakibat  masyarakat tetap berada pada posisi yang
tidak menguntungkan.

Sisi  lain,  Ekonom  Prof  Dr  Elfindri menilai, perlu pengaturan yang
jelas  terhadap  keberadaan investor. Seharusnya masyarakat dilibatkan
dari  awal  dalam  proses  penetapan  skim  investasi.  Lahan yang ada
dijadikan  bukti keterlibatan masyarakat. Artinya, masyarakat tak lagi
hanya  dilibatkan  selaku buruh. “Mestinya, pemerintah perlu menyadari
kekeliruannya ini,” kritiknya.

* Miskin di Tengah Haparan Sawit 

Wajah  Walinagari  Sungai  Limau Abdul Azis tampak sumringah menyambut
kedatangan  rombongan di Kantor Camat Sungai Rumbai, Kamis pekan lalu.
Ia  sengaja menyambut para pejabat teras Pemkab Dharmasraya. Pasalnya,
walinagari  yang  giat  itu tidak ingin mengecewakan pejabat yang akan
berkunjung  ke  nagarinya.  Maklum,  jalan menuju nagari di perbatasan
Kabupaten  Bungo  (Jambi)  dan  Kabupaten  Solok Selatan itu tergolong
rumit dan sulit dilalui.

Dipandu mobil patroli milik Satpol PP, rombongan langsung mengelilingi
Nagari  Sungai  Limau  menempuh  jalan  baru yang dibangun dengan dana
kimpensasi  pengurangan  subsidi BBM sebesar Rp 250 juta. Dengan penuh
semangat Abdul Azis memberi penjelasan kepada Asisten I dan rombongan.
Jalan  baru  itu  panjangnya mencapai 18 Km, sebagian dibiayai oleh PT
Global   MIneral   Sejahtera   (GMS)   sebuah   perusahaan  yang  akan
mengekploitasi biji besi di kawasan itu.

Hampir  setengah  jam  waktu  diperlukan  untuk mencapai ujung nagari,
yakni  kawasan Jorong Lubuk Besar. Di sana ada perkebunan sawit plasma
PT Tidar Kerinci Agung (TKA). Kondisinya sangat memprihatinkan. Kurang
dari  50  persen  rata-rata  sawit  yang hidup tiap hektarnya. Menurut
Abdul  Azis,  kebun sawit tersebut belum dikonversi kepada masyarakat.
Hasilnya dipetik oleh PT TKA. “Masih berbuah pasir,” kata Abdul Azis.

Sejurus  kemudian  rombongan  sampai  pada lokasi ekplorasi bijih besi
yang  dilakukan  PT  GMS. Di kawasan seluas 200 hektar tersebut diduga
ada deposit bijih besi. Berdasarkan hasil penelitian PT GMS, kandungan
besi  di  tempat  itu  hampir 80 persen. Sayang, eksplorasi belum bisa
dilanjutkan lantaran ada klaim dari PT TKA. Pemkab Dharmasraya sendiri
masih  menunggu  penyelesaian  hukum  atas  klaim  yang kini ditangani
Polres Dharmasraya.

“Sebetulnya  kita  bisa  saja  memberi  izin  eksploitasi.  Kita sudah
pelajari  semua  dokumen  yang  ada.  Namun  kita  lihat  dulu  proses
hukumnya.  Mudah-mudahan  cepat  selesai,”  sebut  Kabag  Perekonomian
Adlisman.

Usai  shalat  Maghrib di mess PT GMS di Lubuk Besar, rombongan kembali
ke Jorong Sungai Limau yang merupakan ibu nagari. Setelah shalat Isya,
rombongan  menggelar  pertemuan  dengan  warga  Jorong  Sungai Lima di
masjid setempat. Ratusan orang menyesaki mesjid ukurang 20 X 20 m itu.

Berbagai  permasalahan  diungkap  dalam  pertemuan  itu,  antara  lain
kurangnya  guru  agama  di  lima SD dalam Nagari Sungai Limau, listrik
yang  belum  juga masuk kampung itu, pembinaan Penyuluh Pertanian yang
amat   minim  dan  persoalan  yang  amat  krusial  adalah  belum  juga
diperbaikinya jalan menuju nagari terisolir itu.

Ketiadaan fasilitas umum menjadi salah satu pemicu kemiskinan warga di
sana. Dari sekitar 17 ribu warga yang bermukin di nagari itu, lebih 50
persen   terkatagori  miskin.  Kebun  sawit  milik  perusahaan  swasta
nasional,  seolah  tidak  memberi  andil  lebih  terhadap perekonomian
warga. Warga di nagari itu cuma bisa menjadi buruh kebun harian dengan
gaji kurang dari Rp 20 ribu.

* Satu diantara Dua Orang Penduduk Miskin 

Wajah  kemiskinan  juga  terasa  begitu cerah di Kabupaten Pasaman, 48
persen dari 243.451 jiwa penduduk kabupaten ini terjerat dalam nyayian
kemiskinan. Dari 12 kecamatan yang berada di daerah ini, Kecamatan Dua
Koto   merupakan   daerah  termiskin  di  wilayah  Kabupaten  Pasaman.
Kemiskinan  daerah  ini  diperparah  lagi  karena  dari luas daerahnya
umumnya lahannya Hutan Lindung (HL).

Berdasarkan  catatan  Kecamatan  Dua  Koto 51 persen warganya termasuk
miskin. Sedangkan rangking kemiskinan di Kabupaten Pasaman berdasarkan
data  terakhir  kompensasi  BBM  melalui Bantuan Langsung Tunia (BLT),
Pasaman  termiskin  kedua  setelah Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan
prosentase   48   warga   Pasaman  miskin.  Artinya,  data  itu  dapat
disimpulkan bahwa jika ada dua orang warga Pasaman berjalan kaki, satu
di antaranya adalah warga miskin.

Terkuaknya  Kecamatan  Dua  Koto  selaku  kecamatan  termiskin,  cukup
mengherankan.  Pasalnya,  potensi alamnya sangat berlimpah. Seharusnya
potensi  itu  bisa  dijadikan  bernilai ekonomis. Namun, kendalanya di
wilayah  itu terdapat hutan lindung yang sangat luas. Sisi lain, hutan
budi daya yang dapat diolah untuk pembangunan ekonomi rakyat jumlahnya
sangat kecil.

Jika  ini bisa diolah, dipastikan Kecamatan Dua Koto yang termiskin di
Pasaman,  bisa  bangkit  mensejajarkan diri dengan daerah laian. Malah
sangat  terbuka  kemungkinan daerah ini bakal menjadi daerah termakmur
dan  terkaya.  Wakil  Ketua DPRD Pasaman yang juga putra Kecamatan Dua
Kota Yusrizal memprediksi demikian.

Kunjungan bupati dan wakil bupati Pasaman beserta Ketua DPRD ke daerah
Kecamatan  Dua  Koto  beberapa waktu lalu, Yusrizal mengharapkan mampu
memberi  perubahan  bagi  kebijakan  kepala  daerah.  Tujuannya,  agar
potensi alam yang kaya raya itu bisa mensejahterakan rakyat.

Hal  ini  tentunya sebangun dengan visi misi pemerintah daerah Pasaman
yakni  “Mensejahterakan masyarakat melalui sumber daya yang ada dengan
pemerintahan  yang  baik”.  Yusrizal  juga  menkritik Pemda memberikan
bukti  bukan  janji-janji.  Namun  jika  pemerintah daerah mau terbuka
untuk  berbagi  tugas dalam memperjuangkan bidang apa pun, sepantasnya
Pemkab  melibatkan  putra  daerah  Pasaman.  Pasalnya,  apa  yang akan
dilakukan  pemerintah tak akan maksimal hasilnya, jika tidak dibarengi
keikutsertaan masyarakat.

* Yang Terlindas Dihimpit Kemiskinan 

Yang  namanya kemiskinan, dimana pun akan persis sama. Beragam masalah
akan  selalu  mendatang masyarakat. Jika dibelit himpitan beban hidup,
ekonomi  dan  lingkaran  kemiskinan  yang berdampak luas bagi berbagai
aspek.

Walau  tidak masuk dalam kategori daerah miskin, di beberapa kecamatan
kabupaten   Agam   justru   memendam  masalah  kemiskinan  yang  cukup
memprihatinkan.  Terutama  di wilayah pesisir pantai. Wajah kemiskinan
terpatri nyata dalam keseharian masyarakat.

Wilayah  lainnya  yang  masuk  dalam  kategori bermasalah dalam bidang
ekonomi, justru terjadi di daerah minus potensi perkebunan, perikanan,
pertanian  dan  sumber  alam.  Sejumlah  daerah  yang rawan kemiskinan
ditemuai  di beberapa titik, seperti Palembayan, Palupuah, Lubukbasung
dan beberapa tempat lain.

Khusus   di   wilayah   pesisir  pantai,  Kecamatan  Tanjung  Mutiara,
belakangan  makin  rentan  dibelit  masalah.  Dampak  terbesar,  makin
minimnya hasil tangkapan ikan di laut, sementara harga barang melonjak
tajam, termasuk biaya operasional melaut yang makin membubung.

Program  pemerintah  yang  berupaya  mengangkat  tingkat kesejahteraan
masyarakat  pesisir dengan program PEMP, optimalisasi potensi laut dan
agenda  lainnya beberapa tahun terakhir belum memperlihatkan perubahan
yang  signifikan.  Kalau  pun ada, dampaknya masih berkisar pada upaya
meringankan beban masalah.

Ir  Helios Rynondeva, Kadinas Peperla Agam yang mengelola program PEMP
dengan   berbagai  kegiatan  menegaskan  pihaknya  sudah  menggulirkan
program. Bahkan, telah memberikan sentuhan mengesankan sesuai sasaran,
yakni  meringankan beban nelayan yang beberapa tahun terakhir dihadang
krisis.

Perubahan  dan  peningkatan  kesejahteraan  nelayan  diakuinya  justru
membutuhkan   waktu.   Ia   beserta  jajarannya  berjanji  akan  terus
mengulirkan  kegiatan. Intinya, meringankan beban nelayan. Tidak hanya
operasional  melaut, tapi juga berbagai kebutuhan harian yang harganya
di bawah harga pasar.

Kondisi serupa dihadapi kalangan petani yang beberapa waktu belakangan
dihukum  masalah tingginya harga berbagai kebutuhan pertanian, seperti
pupuk, tingginya biaya penggarapan lahan. Padahal, harga jual berbagai
komoditi perhatian justru anjlok.

Program  bantuan  pemerintah  justru  belum  memberikan dampak positif
terhadap  berbagai  kendala  yang  dihadapi  masyarakat. Kalau pun ada
program  subsidi,  kenyataannya  di  lapangan justru makin memberatkan
masyarakat petani.

Pemkab setempat bersama stakeholder termasuk lembaga pengawas yang ada
di  kabupaten  Agam,  berjanji  lebih  optimal melakukan pengawasan di
lapangan.  Terutama  perilaku  yang  makin  menjebak masyarakat miskin
dalam kungkungan kemiskinan itu sendiri.

Walau  masih  dalam  tataran wacana, namun langkah awal yang dilakukan
pemkab  Agam  dalam  pengentasan  kemiskinan  justru sangat dirasakan.
Tidak  hanya  rutinitas  kunjungan  bupati  Agam  ke  bebagai  pelosok
terpencil, untuk mendata warga yang miskin.

Pemkab  juga  fokus  dengan tahapan-tahapan program yang teroerintasi.
Walaupun    disinyalir    di   kabupaten   Agam   mayoritas   personil
pemerintahannya  masih  belum  siap.  Bahkan,  masih memposisikan diri
sebagai pencari muka, namun minus kemampuan.

* ”Tunggu Ayah Pulang Nak, Baru Kita Masak” 

Fakta  tak  bisa dipungkiri. Kemiskinan itu ada di mana-mana. Termasuk
di  daerah  kota  sekalipun, seperti Pariaman. Realitas itu terpampang
jelas  di  depan  mata, tatkala kita tolehkan pandangan ke Dusun Pasia
Sigadondong,  Desa Marunggi, Kecamatan Pariaman Selatan, yang terletak
sekitar  tiga  kilometer  dari pusat kota. Pasutri Darmansyah (39) dan
Darniati  (36)  hidup  meretas asa bersama empat orang anaknya, dengan
penghasilan pas-pasan.

Jumat  (26/5)  siang  itu,  di depan gubuk rumahnya, Darniati terlihat
termangu.  Tatapan  kedua matanya pun nanar disertai raut wajah kusam.
Tak  lama  berselang,  teriakan tangis seorang bayi pun terdengar dari
dalam   rumah.   Segera,   Darniati   menghampiri   anaknya,  kemudian
menyusuinya.  Belum  tuntas  Darniati  menyusui  si  kecil  Agusman (9
bulan),  kedua anaknya yang lain, masing-masing Fahmi (6) dan Dela (4)
pun  ikut  teriak  meminta makan. Dengan suara lembut, segera Darniati
membisikkan  jawaban  ke dekat kedua telinga anaknya itu, “Tunggu ayah
pulang sore hari untuk bawa duit, baru kita memasak, nak”.

Mendengar  jawaban  tersebut,  Fahmi  dan  Dela  pun  terdiam sejenak,
kemudian  pergi  bermain  ke belakang rumah. Sedangkan anak sulungnya,
Tesa  (9),  siswi  kelas  2  SD  14 Marunggi, siang itu tertidur lelap
diatas  lantai rumah yang sudah terlihat bolong-bolong itu. “Beginilah
nasib  kami.  Makan hanya bisa sekali dalam sehari. Itupun hanya pakai
lauk dan sayur seadanya. Suami saya hanya berpenghasilan sebesar Rp 25
ribu  setiap hari, dengan menjual bakso keliling, sedangkan saya hanya
berprofesi ibu rumah tangga,” beber Darniati.

Dikatakan  Darniati,  pasca  kenaikan  BBM  beberapa waktu lalu, hasil
penjualan  bakso  suaminya  menurun  drastis. “Kini, dalam sehari itu,
suami  hanya  bisa mendapat untung sebesar Rp 25 ribu. Sebelumnya bisa
mencapai  Rp  35 ribu. Hal itu disebabkan harga jual bahan-bahan pokok
bakso,  seperti  daging  dan  mie yang mengalami kenaikan harga secara
drastis.  Alhasil, suami hanya bisa membuat bakso dengan porsi sedikit
dan   tentunya   pula,  untung  yang  didapatkan  pun  juga  sedikit,”
terangnya.

Lanjutnya,  Darniati  mengakui,  kini  dirinya  sulit  untuk  memenuhi
kebutuhan  biaya  sekolah anak sulungnya. “Saya tak sanggup membelikan
buku tulis serta buku cetak untuk si sulung, Tesa. Saya tak tahu lagi,
dari  mana  uang  untuk hal tersebut, diambil. Penghasilan sehari-hari
suami  hanya  bisa  cukup  untuk  makan.  Terpaksa, Tesa mempergunakan
kembali  buku  tulis  kelas  satunya, yang ada beberapa diantara helai
halamannya  yang  masih  kosong.  Sementara  untuk  buku  cetak,  Tesa
terpaksa meminjam kepada teman-temannya,” ulas Darniati.

Lebih sakitnya lagi, dijelaskan Darniati, dirinya tidak mendapat kartu
kompensasi  BBM.  “Entah  kenapa,  saya  tak  tahu, kartu SLT kami tak
keluar.  Sewaktu  saya  tanya  kepada  petugas,  mereka  menjawab  itu
merupakan  kewenangan  pusat.  Sejak saat itu, kami hanya bisa pasrah,
sambil  berharap  kartu SLT kami keluar di periode selanjutnya. Namun,
tegas  kami  ungkapkan  kami  kecewa kepada petugas BPS setempat, yang
tidak  jeli  mendata warga. Sepantasnya, kami berhak mendapatkan kartu
SLT tersebut,” tandas Darniati.

Pendeknya,  jelas  Darniati,  kehidupan  keluarganya  kini benar-benar
pas-pasan.   Contohnya,   untuk   memasak  di  rumah,  Darniati  hanya
mempergunakan  kayu  bakar.  Begitupula  dengan penerangan dirumahnya,
hanya memanfatakan bola lampu 15 watt, itupun dihidupkan lepas Magrib.

Karena sesungguhnya anggaran untuk itu tak ada dalam penghasilan suami
sebesar Rp 25 ribu per hari itu,” tutup Darniati.

* Ramai-Ramai Entaskan Kemiskinan 

Upaya     pengentasan     kemiskinan     bukanlah    persoalan    baru
didegung-degungkan  ke  permukaan. Serangakaian program pun digulirkan
pemerintah.  Namun hasil akhirnya masih jauh dari harapan. Butuh upaya
komprehensif   menuntaskan  perosoalan  ini  dengan  melibatkan  stake
holders terkait.

Agaknya anggapan di atas perlu diamini, betapapun baiknya program yang
digulirkan,  tidaklah  akan  menuai  keberhasilan  tanpa keikutsertaan
semua  komponen.  Sosiolog  asal  Universitas  Andalas (Unand) Prof Dr
Damsar berpendapat, perlu dibangun kesinergisan antar elemen yang ada.
Pasalnya,  program  pengentasan  kemiskinan  menjadi  program pokok di
setiap departemen atau pun instansi pemerintah.

Persoalan   yang  terjadi  selama  ini,  kurang  terlihat  upaya  yang
komprehensif  membangun  sinergi.  Apalagi  upaya membangun koordinasi
yang  seringkali  didegung-degungkan  pemerintah,  baru  sekedar lagu,
implementasinya  di  lapangan,  tambah Damsar tetap saja masing-masing
instansi disibukkan membangun imej.

Bupati  Limapuluh  Kota,  Amri  Darwis  mengakui  upaya  pemberantasan
kemiskinan  bukan hanya tanggung jawab pemerintah, masyarakat pun ikut
memberantas kemiskinan. Artinya, masyarakat jangan begitu saja mengaku
miskin,    namun   perlu   menumbuhkan-kembangan   semangat   swadaya.
“Masyarakat  mampu,  jangan  mengaku  menjadi keluarga miskin,” sindir
Amri.

Lain  lagi  yang  dilakukan  Bupati  Pasaman  Barat  Yusuf  Lubis,  ia
mendorong  semua  pihak  berjuang mengurangi jumlah luas hutan lindung
(HL)   menjadi   hutan   produksi.   Diyakini  jika  uapya  ini  dapat
diperjuangkan, kemiskinan di Pasaman Barat berubah total. “Kondisi ini
sebenarnya  tak  bisa  dibiarkan terus-menerus, sebab secara potensial
wilayah  Pasaman  memiliki  potensi  alam  yang cukup banyak, terutama
sumber daya alam,” tukas mantan Kapolres Padangpanjang ini.

Wilayah  Pasaman  Barat  berada  dalam  kawasan  HL lindung, bahkan 82
persen  dari  jumlah  luas wilayahnya terkategori HL. Berakibat, lahan
olahan   masyarakat   makin   terbatas.   “Tak   salah  kiranya  warga
berlomba-lomba  mencatatkan  namanya  ke  petugas  BPS Pasaman, karena
ingin  mendapatkan  kupon  kartu  penerima  dana  kompensasi Bantuan,”
ulasnya.

Langkah  maju  dilakukan  Pemkab  Agam, melalui dinas sosial disiapkan
data awal. Intinya, angka-angka riil kantong-kantong kemiskinan. Pasca
pendataan,  Dinsos  meng-update  data jumlah KK miskin dan kemungkinan
solusi yang akan digulirkan pemerintah.

Bupati  Agam  Aristo Munandar mengakui program pengentasan kemiskinan,
program  mendesak  dan  menjadi  prioritas  mulai  tahun  ini. Bahkan,
pihaknya  sudah  memilih  tiga  nagari  sebagai program utama penanggu
langan  kemiskinan  dengan  pola  tertentu.  Ketiga nagari itu menjadi
pilot project pengentasan kemiskinan.

Diakui Aristo, beragam kendala dihadapi dalam pelaksanaan project yang
melibatkan  berbagai  komponen ini. “Realisasi program ini belum fokus
terhadap  akar permasalahan, karena minimnya informasi dan terbatasnya
kemampuan masyarakat,” akui Aristo.

Pemkab  Pasaman  Barat  pun,  tak mau ketinggalan. Bupati Pasbar Drs H
Syahiran  MM tengah berjuang mengentaskan kemiskinan dengan melibatkan
stake  holders  yang ada. Walaupun berat, ditargetkan tahun 2010 angka
kemiskinan  mampu  ditekan  menjadi  0  Persen.  “Semua jajajan Pemkab
Pasbar  perlu  menyikapinya  secara  arif  dan  bijaksana  pengentasan
kemiskinan ini,” ajaknya.

* Keterpasungan Menjamah Si Miskin 

Cerita  duka  ketidakmampuan  masyarakat  seakan  tidak  pernah habis,
termasuk  di  kabupaten  Limapuluhkota.  Tercatat  jumlah penduduk itu
mencapai  23%.  Beragam  akar  persoalan  yang mengiringi bertambahnya
penduduk  miskin  ini.  Tak  hanya akibat terbatasnya akses memperoleh
pendidikan,  juga  akibat  kebijakan  pemerintah  yang kurang berpihak
kepada masyarakat.

Terbukti  besarnya  alokasi  anggaran  aparatur  dalam APBD, ketimbang
persentase  yang  diterima  masyarakat.  Ditambah lambannya penanganan
kantor dan dinas terkait untuk mengatasinya, berakibat jumlah penduduk
miskin semakin bertambah.

Sistem  kompensasi  Bahan  Bakar  Minyak  (BBM)  melalui Bantuan Tunai
Lansung  (BLT),  juga  membuat  sebagian  masyarakat lebih suka didata
selaku penduduk miskin ketimbang menjadi orang mampu. Setiap pendataan
masyarakat   miskin   dalam  setiap  tahapan  BLT,  selalu  menyajikan
pertambahan  jumlah  keluarga  miskin  di kabupaten ini. Fenomena yang
pernah  disuarakan  Iwan  fals, ketimpangan yang terjadi di masyarakat
semakin tinggi.

Sementara  sebagian  kalangan,  terutama  yang  mempunyai  pangkat dan
jabatan,  menikmati  harta kekayaannya dan berlibur ke luar daerah. Di
salahsatu  sudut  Nagari  Mahek,  lebih  20  orang masyarakat terpaksa
dipasung    keluarganya.    Lagi-lagi    akibat    ketidaktahuan   dan
ketidakmampuan  mereka  dalam  mengatasi penyakit stress yang dialami.
Sempat  tak  mendapat perhatian daerah, akhirnya kepedihan warga Mahek
itu  di-blow  up  sejumlah  media  massa  cetak dan elektronik bersama
Lembaga  Swadaya  Masyarakat.  Ujung-ujugnya  Pemkab pun tersentuh, 50
persen  warga  yang  terpasung  dikirim  ke  rumah sakit jiwa. Lantas,
apakah itu sebuah solusi?

Agaknya pertanyaan mengantung itu dijawab juga Pemkab dengan membentuk
tim  terpadu,  terdiri perwakilan Dinas Sosial, dinas kesehatan, BPKD,
PMN,  Bappeda  dan  pihak  terkait lainnya. Kepala kantor Dinas Sosial
Limapuluh   Kota   Chairul   BA  menegaskan,  jika  kendalanya  akibat
kemiskinan, Pemkab segera membantunya.

Di  antara  masyarakat  Limapuluh Kota yang terkena pasungan di Mahek,
Yosi  (23), Siska (23), Leli (35), Nilat (50), Libat (56), Rizal (25).
Terhadap  pasien  ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota
Indra Zafri APT mengaku pengobatan sudah dilakukan.

Namun  akibat ketidakmampun, tak seluruhnya yang dapat dibawa ke Rumah
Sakit  Jiwa (RSJ). Berdasarkan hasil temuan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM)  LP3 SDM Sumbar, tercatat 20 orang warga Limapuluh Kota dipasung
keluarganya,  karena  tidak mempunyai biaya berobat. “Pemasungan sudah
berlangsung  lama,”ucap  ketua LSM LP3 SDM Sumbar, Ir Sevindrajuta MS.
Pemasungan  paling  lama  tercatat  sekitar  35 tahun. Suami yang kena
pasung  itu  telah  meninggal. Awal pemasungan yang bersangkutan dalam
keadaan  hamil, shingga melahirkan dalam pasungan.Anak dari pemasungan
tadi,  akhirnya  dipelihara tetangganya. Setelah berumur 11 tahun anak
tersebut,  akhirnya  tak  kuat  menyanksikan ibunya dipasung, anak itu
stress dan dipasung juga..(tandri eka putra)

“Anak  gadis  ini,  telah  lumpuh  dalam  pasungan,” ucap Sevindrajuta
sambil  menunjuk  wajah  seorang  gadis  yang  kakinya  dihimpit kayu.
Seharusnya,  Sevindrajuta  Pemkab  Limapuluh Kota secara arif membantu
biaya pengobatan keluarga tidak mampu itu.

* Menakar Angan yang Kian Melayang 

Harapan  masyarakat  Pasaman  Barat  terbebas  dari jeratan kemiskinan
berkepanjangan,  masih  sekedar  mimpi  indah  yang  tak  jelas  kapan
terwujud.  Bahkan,  menelusuri  kantong-kantong  kemiskinan  di daerah
sentra  perkebunan  besar  ini  tidaklah sulit. Umumnya penduduk tidak
mempunyai  mata pencaharian yang tetap. Mereka masih sangat tergantung
dengan pembinaan serius dari pemerintah dan mengharapkan bantuan modal
usaha.  Upaya  ini  dilakukan  untuk menguak lembah keterisoliran yang
membelenggu mereka.

Lihat  saja  di Jorong Sikilang Kenagarian Sungai Aua Kecamatan Sungai
Aua  Kabupaten  Pasaman  Barat  (Pasbar) berpenduduk sekitar 3000 Jiwa
dari  750  Kepala  Keluarga  (KK),  kondisi  kehidupan  mereka semakin
memprihatinkan.  Apalagi  setelah  ke datangan dua Perusahaan Terbatas
(PT)  terbesar di perbatasan jorong setempat, yakni PT Akro dan PT PHP
II.

Masyarakat tidak bisa lagi berternak kerbau dan lainnya. Pasalnya, air
sungai  yang biasanya difungsikan untuk berbagai keperluan, tidak bisa
lagi  difungsikan.  Disinyalir  masyarakat  setempat  tercemar limbah.
Sedangkan  laut  yang  terhampar  luas  di  bibir  pemukiman  penduduk
setempat, tidak bisa dihandalkan sebagai mata pencaharian. Akibat alat
tangkap  yang  digunakan masih tradisional. Berbekal sampan dayung dan
jaringnya hanya sedalam 2 Meter.

Begitu pun infrastruktur di daerah itu jalan hitam melewati perkebunan
Akro  sejauh  25 Km dan kalau ingin bepergian ke Pusat Kecamatan harus
menempuh  perjalanan  sekitar  50  Km.  Bila warga ingin berpergian ke
Simpang  Empat,  terpaksa  membayar ongkos ojek atau naik mobil “prah”
dengan  membayar  ongkos  Rp70  Ribu.  Derita yang sama juga dirasakan
Jorong   Sikabau   Nagari   Koto  Balingka  Kecamatan  Koto  Balingka.
Kemiskinan  di  daerah  ini selalu bertambah setiap tahunnya di Jorong
setempat hingga mencapai 50 persen.

Bagi  mereka  punya  mata  pencaharian yang tetap masih sebatas mimpi.
Walaupun  potensi  laut terhampar luas di halaman rumah mereka, begitu
juga keberadaan perkebunan besar di perbatasan kampung itu. Jorong ini
dihuni  sekitar 325 KK atau 1560 jiwa. Umumnya masyarakat hidup dengan
melalut dan bertani seadanya.

Lain  lagi  yang  dirasakan  7  Jorong  Terpencil  di  Nagari  Batahan
Kecamatan  Ranah  Batahan yang tempatnya persis di perbatasan Sumatera
Barat   dengan  Sumatera  Utara.  Mereka  masih  bermimpi  pembangunan
menyentuh  nagarinya.  Angka angka kemiskinan kian meruncing di daerah
ini, setelah kenaikan harga BBM.

Nagari  Batahan  berjarak  sekitar  340  km  dari Kota Padang Ibu Kota
Sumatera  Barat,  atau  sekitar  60  km dari Simpang Empat. Nagari ini
mengandung  potensi alam yang sangat besar. Bijih besi, timah, tembaga
adalah  potensi  alam  yang  masih  belum terjamah. Sedangkan komoditi
pertaniannya,  seperti  karet,  coklat,  kulit manis (casiavera) sudah
menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar.

Di   Kanagarian  ini,  terdapat  tujuh  jorong  yang  termasuk  sarang
kemiskinan  di  Pasbar. Yakni, Jorong Silayang Julu, Tanjung Larangan,
Tamiang  Julu,  Tamiang  Tengah,  Sigantang,  Sawah  Mudiak dan Jorong
Paraman  Sawah. Ketujuh jorong ini dihuni sekitar 4500 jiwa. Kehidupan
sehari-hari  mereka  tergantung pada cuaca. Bila cuaca panas kehidupan
bisa  berjalan  sebagaimana  biasa,  namun  bila cuaca hujan kehidupan
mereka tertekan hingga amburadul.

Tak  satu  pun  usaha yang bisa dikerjakan secara sempurna, bila hujan
telah  mengguyur  ke-7 jorong ini, sebab jalan tanah yang mereka pakai
akan  berobah  menjadi  kubangan  kerbau. Bila musim hujan, warga juga
tidak  bisa  menjalankan  profesinya  untuk memotong karet, sebab akan
berdampak fatal bagi pertumbuhan tanaman karet mereka itu.

Masyarakat  ini  memang  sudah bosan hidup dengan wajah kemiskinan dan
ketertinggalan  yang  selalu melilit kehidupan mereka. Namun bagaimana
pun  giatnya masyarakat berusaha lepas dari belenggu itu, keadaan yang
memilukan  hatinya  itu, namun tidak akan berhasil bila tidak mendapat
perhatian penuh pemerintah.

Tak  ada  kata  lagi,  mereka  memang  ingin  terlepas  dari  belenggu
kemiskinan  itu.  Masa  depan  cerah  yang  terpancar di pelupuk wajah
generasi  muda  di jorong itu, selalu mereka impikan. Pembangunan demi
pembanguan  juga  masih  sebatas  angan.  Akankah  menjadi kenyataan ?
Pertanyaan  itulah yang selalu di sampaikan masyarakat tersebut kepada
bupati  dan wakil bupati Pasbar, bila mengunjungi masyarakat yang haus
kebangkitan itu.

* Semangat yang Takkan pernah pudar 

Secercah  harapan  dan  semangat  terlukis di wajah seorang lelaki tua
dengan  kulit  mengerut  dan rambut yang sudah memutih, sibuk menyusun
barang  ronsokan,  yang  akan  dijual  kepada  seorang  penadah,  demi
menghidupi  ke  empat  orang  anaknya.Memasuki  sebuah  gubuk reot dan
kumal,  terlihat tumpukan barang bekas dan didalamnya terlihat seorang
lalaki tua tampa memperhatikan keadaan sekelilinya, sibuk mengumpulkan
dan menyusun barang bekas yang telah dikumpulkanya. Tangannya yang tak
sekekar  dulu, dimana sudah mengeriput bak kulit pembalut tulang masih
mampu mengayunkan palu, membenahi barang bekas yang akan dijualnya.

Adalah   Basarudin  (70)  seorang  keluarga  miskin  di  Kota  Padang,
keseharianya  bekerja  sebagai  pengumpul  barang bekas atau bisa juga
disebut  sebagai  pemulung.  Kendatipun pisik tidak memungkinkan untuk
bekerja  berat,  akan  tetapi  karena  tuntutan  ekonomi  yang semakin
menghimpit  membuatnya  mampu  menjalankan  pekerjaan yang cukup berat
tersebut.  Keadaan  tersebut  makin diperparah Pascakenaikan harga BBM
awal   Oktober   lalu   yang   merubah  sendi-sendi  kehidupan  sosial
masyarakat.

Masyarakat  yang  sangat  menderita  terhadap  melambungnya  harga BBM
tersebut, adalah masyarakat yang tingkat perekonomian menengah kebawah
(Gakin).  Salah  satu  Gakin yang sangat menderita oleh kenaikan harga
BBM  tersebut  lelaki  tua  yang  tinggal  di  kawasan  RT  05/ RW 01,
Kelurahan Seberang Palinggam ini.

Basarudin  yang  dijumpai  koran  ini, menjelaskan dengan melambungnya
seluruh  harga  kebutuhan,  ia tetap bertahan bekerja untuk menghidupi
kelima orang anak wanitanya.

“Dengan  penghasilan  yang  hanya  Rp  10  ribu  perhari,  saya  tetap
menyekolahkan  empat orang anaknya. Untuk saya dibantu oleh istri yang
bekerja sebagai tukang cuci pakaian dan itupun penghasilannya hanya RP
5  ribu perhari. Kadang untuk makan sehari-hari saja tidak cukup, tapi
itu  bukan  alasan  bagi  saya  untuk berhenti bekerja. Untuk menutupi
kekurangan   tersebut   terpaksa   ia   harus  pandai-pandai  membantu
tetangganya yang mampu,” tuturnya

Ia  juga  menjelaskan  bahwa  biaya  sekolah  anaknya  tidak begitu ia
pikirkan,  karena  beberapa  orang  dari  mereka mendapatkan Beasiswa.
Tanggapan  lelaki  tua yang biasa di panggail ajo dilingkungan rumanya
ini,  perihal  dana  kompensasi  BBM  telah disalurkan kepada keluarga
miskin Rp 100 ribu perbulan, tidak begitu membantu.

“Dana  yang hanya Rp 100 ribu perbulan itu, hanya habis untuk membayar
hutang  di  kedai.  Uang senilai itu untuk beli rokok saja tidak cukup
kalau kita rata-ratakan per hari hanya Rp 3300. walaupun demikian kita
tetap  berterima  kasih  kepada  pemerintah yang telah menyalurkandana
tersebut,  tapi kalau boleh jujur dana tersebut tidak sebanding dengan
nelambungnya harga kebutuhan akibat kenaikan harga BBM,” tegas Ajo.

Begitu  banyak  keluarga  miskin  yang  yang menderita akibat kenaikan
harga  BBM tersebut, Pemerintah harus mencarikan arternatif lain untuk
mengurangi  penderitaan rakyat miskin, yang dibutuhkan masyarakat saat
ini bukan uang tetapi lapangan pekerjaan. (Tim Padek)


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke