Masalah menetes air mato iko, ambo refresh saketek apo yg pernah ambo tulis 
dulu di milis iko juo.
   
  Kenapa Pak Faisal Loebis, senior fotografer kito yg ibunya Koto Gadang dan 
kolektor kamera milyaran ini sampai hampir tiap bulan meluangkan waktunya 
hunting foto ke Sumbar dan meninggalkan bisnis dan keluarganya di Jkt? Itu 
persis seperti yg disampaikan Kanda Idris Talu ini. Ketika pertama kali kita (4 
orang fotografer) sampai dan menikmati keindahan alam Maninjau dari Ambun Pagi, 
tiba2 beliau berbalik kearah saya. Ternyata beliau MENANGIS. Dan langsung 
menepuk-nepuk bahu saya: "Thanks Nofrins, kamu sudah mengajak saya PULANG...!! 
You know me kan? Belahan dunia mana yg belum saya injak? Tetapi kenapa sesuatu 
yg SANGAT INDAH dan sebetulnya sangat dekat dg AKAR saya kok bisa terlewati 
begitu saja selama 56 thn...??".
   
  Sekembalinya kita siangnya ke Novotel di Bkt, beliau telepon Ibunya di Jkt yg 
sdh 86 thn dan tidak bisa bepergian lagi. Ternyata, Ibu kandung beliau pun 
meledak tangisnya mendengar cerita tsb. Sejak itu, Januari 2006, karya-karya 
foto beliau ttg Sumbar di WS.com dan juga diposting di website2 komunitas 
fotografi dalam dan luar negeri adalah bentuk bakti dan sumbangsih beliau 
terhadap Ibu kandungnya tercinta...!! 
   
  Bagaimana dengan kita...??
   
  Salam,
  Nofrins

Idris Talu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Assalamualaikum, wr wb,

Saya amat bersetuju dengan Add Mulyadi bahawa kita tidak patuik pesimistik 
dalam hal ini. Sebagai anak perantau Minang di Malaysia, senantiasa 
memperingatkan kepada anak Minang yang saya temui di Malaysia supaya kembalilah 
maliek kampuang halaman - kampuang asal niniek-mamak kita yang indah permai.

Saya tekankan kepada semua anak Minang di Malaysia - bila berada di Ranah, 
pasti menetes air mata anda maliek keindahan yang telah ditinggalkan oleh rang 
gaek kita. Di Nagari Sembilan sahaja terdapat hampir dua (2) juta perantau 
Minang. Jika dua juta ini pulang berbelanja di Ranah, minima seorang berbelanja 
sekitar Rp2.5 juta, coba hitung bara jumlah uang yang masuk ke Ranah?

Saya juga amat setuju dengan usulan dari Mak Lembang Alam. Keindahan alam di 
Maninjau, rumah Almarhum Buya Hamka, rumah Bung Hatta di Bukik Tinggi, Lambah 
Harau yang indah menawan, Ambon Pagi yang hening selalu, Kelok 44 yang 
mendebarkan, kacang salai di Matur Mudik, kopi jahe di Tabek Patah , makan 
siang di Pondok Flora di tengah sawah atau menikmati keropok melinjo di 
Pariaman dan banyak lagi merupakan tarikan kepada turis baik anak perantau 
Minang mahu pun bukan Minang dari Malaysia. Cadangan dari Mak Lembang Alam amat 
menarik jika dapat dilaksanakan.

Sama-samalah kita berusaha supaya turis berduyun-duyun datang ke Ranah untuk 
menghidupkan keperiwasatawan disamping menambah kantung keuangan nagari Sumbar..

Wassalam,

Idris Ismail Talu (55)
Malaysia.


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke