Assalamualaikum w.w.
   
  Saya menghargai kegigihan Ananda dalam menjernihkan sejarah Minangkabau 
ini.Rasanya masih banyak yang harus kita lakukan agar kita dan keturunan kita 
tak lagi hidup dalam alam dongeng belaka. 
   
  Langkah pertama sudah dimulai oleh Drs MD Mansur DKK untuk menulis buku 
'Sejarah Minangkabau' pertama  pada tahun 1970, yang dirangsang oleh terbitnya 
buku Ir Mangaraja Onggang Parlindungan "Pongkinangongolan Sinambela gelar 
Tuanku Rao'. Bagi para dunsanak yang berminat, copy yang masih utuk dari buku 
Tuanku Rao ini ada pada Bung Asrmardi Arbi.
   
  Mungkin baik jika nanti Ananda sudah selesai Spama, kita adakan semacam 
'focus group discussion' di Gebu Minang. Setujukan Ananda ?
   
  Wassalam,
  Saafroedin Bahar (69 th +1 hari, sesudah ini akan saya tulis: 70th)

Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Dunsanak ysh,
Membaca uraian di bawah, sedikit saya tergerak untuk berpendapat sebagai 
berikut :

Sampai saat ini saya masih mencari tahu tentang ekspedisi Pamalayu, yang dalam 
beberapa catatan disebutkan berlangsung sejak tahun 1275 hingga 1292. Hingga 
saat ini dalam keyakinan saya masih menolak sejumlah dalil yang mengatakan 
bahwa Pamalayu adalah upaya Singhasari untuk menaklukkan Melayu (Sumatera). 
Dengan sejumlah alasan:
- Pada masa itu konflik internal masih sangat kental di Jawa (Singhasari), juga 
adanya desakan Syailendra (Sriwijaya) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dalam 
kondisi demikian, sangat tidak mungkin dilakukan langkah-langkah eksternal.
- Singhasari (Jawa) bagaimanapun juga tidak memiliki reputasi di laut, dan 
konon pula mengerahkan armada untuk menaklukkan Sriwijaya hingga Melayu. Pola 
Jawa pada masa itu sangat inland atau kontinental.
- Bila teori hubungan ekternal bisa dipegang sebagai acuan kemajuan peradaban, 
sebenarnya justru Sumatera (Sriwijaya dan Melayu) yang saat itu sangat terbuka 
adalah lebih maju dari Jawa. Bila mengamati perjalanan Sriwijaya dari awal 
hingga akhir, kerajaan ini sangat kuat karena adanya dukungan Tiongkok yang 
sangat intens. Sehingga tiada suatu alasan bagi Singhasari untuk menaklukkan 
Sumatera khususnya Sriwijaya.

Satu sudut pandang saya yang lain adalah, sebenarnya dinamika yang terjadi pada 
saat itu lebih terletak karena perbedaan agama (Hindu dan Budha). Pergeseran 
Hindu dari Jawa bagian barat hingga menuju ke timur atau hingga ke wilayah 
selatan, dan katakanlah pada masa itu Singhasari merupakan polarisasi Hindu 
terbesar yang ada di Jawa.

Di Sumatera, walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa dengan munculnya 
Sriwijaya maka akan menenggelamkan Melayu, tidak sepenuhnya benar. Karena kuasa 
kerajaan adalah kuasa keilahiatan yang mengakar, sehingga tidak mungkin Melayu 
(Hindu) hilang begitu saja karena munculnya Sriwijaya (Budha). Dalam catatan 
seorang pengelana Cina (namanya?) pada abad ke-7 disebutkan, sebelum 
berkali-kali mendatangi Sriwijaya, dia berkesempatan untuk belajar di Melayu 
beberapa saat. Saya memahami hal ini sebagai adanya kekuatan setara di Sumatera 
pada saat itu namun satu sama lain saling menjaga. Walaupun disebutkan sering 
ada konflik di “perbatasan”, namun tidak pernah terbukti adanya perang terbuka. 
Salah satu alasan dalam hal ini adalah karena orientasi yang berbeda antara 
Melayu (agraris) dan Sriwijaya (maritim), sehingga yang satu berorientasi 
upland dan yang lain lowland. Namun perang dingin tentulah ada.

Sriwijaya cenderung ekspansi ke seberang lautan (talokrasi). Walaupun candi 
besar dibangun di Jawa Tengah, namun pusat kekuasaan tetap berada di sekitar 
Palembang saat ini. Kedigjayaan di laut hingga mencapai wilayah semenanjung dan 
seputaran Laut Cina Selatan. Hingga akhirnya bergeser sama sekali ketika 
terjadinya penyerbuan Colamandala pada akhir abad 14.

Dengan demikian bila dapat dipahami konstelasi politik pada masa itu (1275), 
desakan dinasti Syailendra ke arah timur telah membuat Kertanegara (Singhasari) 
menjadi sangat kuatir. Sekutu terdekat secara ideologi (Hindu) hanyalah Melayu, 
hingga dilakukanlah ekspedisi Pamalayu itu. Saya malah lebih meyakini bahwa 
ekspedisi ini sebenarnya adalah ‘permintaan bantuan’ secara militer ke Melayu. 
Dan hal ini dipenuhi, hingga diyakini dikirimnya secara bergelombang 
pasukan-pasukan Melayu ke wilayah ini, termasuk diangkatnya Raden Wijaya 
(Melayu) sebagai komandan garnizun Kutaraja. Beberapa pembuktian tentang hal 
ini coba akan saya ulas kemudian.

Salah satu kepandaian Sriwijaya yang tercatat dalam sejarah adalah kemampuannya 
dalam berdiplomasi. Entah ada urusan apa pada tahun 1293 terjadi penyerangan 
Tiongkok ke Singhasari. Saya coba memahami bahwa hal ini tentunya atas bujukan 
Sriwijaya, karena Sriwijaya tidak ingin bentrok secara langsung utamanya dengan 
Melayu.

Bagi saya cukup aneh ketika adanya pendudukan Jayakatwang dan penyerangan 
Tiongkok di Singhasari, Raden Wijaya dan pasukannya justru menghindar ke luar 
kota, mengingat posisinya adalah sebagai ‘komandan garnizun’. Mungkin dapat 
dipahami sikap itu sebagai:
- Raden Wijaya tidak ingin terlibat dalam ‘konflik internal’, dan fungsinya 
semata adalah menjaga dinasti Hindu.
- Raden Wijaya tidak ingin konflik dengan Tiongkok, dan juga membuat langkah 
punishment untuk Jayakatwang. 
Langkah berikutnya adalah memang Raden Wijaya menegakkan supremasi Hindu dengan 
mengalahkan Tiongkok.

Dengan berdirinya Majapahit, selanjutnya kekuatan Melayu telah beralih ke Jawa.

Sementara waktu demikian dulu. Wassalam.

-datuk endang


abp malin bandaro wrote:
Adalah seorang penguasa ditanah Jawa Prabu Sri Kertanegara yang sangat ambisius 
untuk melakukan ekspansi dan pengaruhnya di Nusantara ini, setelah berhasil 
menguasai Bali dan sebagian Nusa Tenggara, perhatian kini ditumpahkan ke barat 
terutama Tanah Melayu dipedalaman Swarna Dwipa Sumatera

Cita2 ini diwujudkan dengan mengirim sebuah ekspedisi namun sayang belum 
kesampaian, Jayakatwang sang bupati Kediri melakukan kudeta hingga sang prabu 
tewas bersimbah darah namun seorang keponakan beliau Raden Wijaya yang juga 
menantunya bersama beberapa putrinya berhasil meloloskan diri dan ditampung 
oleh Ariya Wiraraja sang Bupati Madura 

Jayakatwang tidak lama menikmati istana hasil kudetanya, serbuan bala tentara 
Tartar kiriman Kaisar Khubilai Khan (cucu Djengis Khan) dari Tanah Besar 
Tiongkok yang semula dimaksudkan menghukum Kertanegara yang telah menghina dan 
melukai utusan sang kaisar beberapa waktu lalu memporak porandakan istana dan 
Jayakatwang finished ditangan Raden Wijaya yang memanfaatkan situasi membonceng 
pasukan Tartar ini

Pasukan Mongol yang lagi suka cita merayakan kemenangan ini diserang pasukan 
Raden Wijaya, dalam setengah mabok ditambah lagi nggak minat meladeni serbuan 
tiba2 ini toh tugas dari kaisar udah selesai terus aja mengundurkan diri 
kekapal and say good bye ….. tinggallah Raden Wijaya yang kemudian 
mendeklarasikan diri sebagai Prabu Sri Kertarajasa Jhaya Wardhana didesa Tarik 
yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Mojopahit 

Jauh sebelum Minangkabau bernama Minangkabau, ketika negeri ini masih bernama 
Tanah Malayu, sampailah rombongan dari Jawa yang dipimpin Panglima Ksatryia 
Mahesa Kebho Anabrang dengan sandi Pamalayu menghadap Raja Melayu Sri Tribhuana 
Mauliwarma Dhewa di Istana Darmasraya (sekarang kabupaten Darmasraya hasil 
pemekaran dari Kabupaten Sawah Lunto Sijunjuang Sumatera Barat / cikal bakal 
Kerajaan Melayu Pagaruyung) yang diutus oleh Prabu Sri Kertanegara dari 
Kerajaan Singosari Jawa Timur

Hampir bersamaan dengan selesainya prahara dikampung halaman ditanah Jhowo sono 
tahun 1292 Panglima Ksatryia Mahesa Kebho Anabrang kembali ke Mabes namun dia 
bingung melihat kondisi politik dinegerinya saat itu, induk semangnya Sang 
Prabu Kertanagara telah tiada, satu hal yang melipus kemasgulan hatinya adalah 
kabar baik bahwa Raden Wijaya yang ia kenal baik sebagai kemenakan dan juga 
menantu induk semangnya itu masih ada, kesanalah langkahnya diarahkan dan 
sekaligus menyampaikan bingkisan dari “Tanah Sabrang” 2 gadis belia jelita 
“Dara Petak” dan “Dara Jingga” putri kesayangan Raja Tanah Melayu dari Istana 
Darmasraya yang dijadikan tumbal politik tingkat tinggi dengan sang Raja Jawa 
Prabu Kertanegara

Ibaraik mandapek durian runtuah, indak dapek bakilah lai, Raden Wijaya yang 
baru saja “mengamankan” ketiga anak mamak lainnya, dengan amat suka cita 
menerima kedua Putri Melayu tersebut, ondeh mujua bana raso’e nyeh …….

Dari ke empat putri Kertanegara, Raden Wijaya tidak mendapat seorang putrapun, 
namun dari Dara Petak yang bergelar Sri Inderasywari, nak rang Sijunjuang 
Lanseknyo manih ini, beliau dikaruniai seorang putra yang diberi nama Raden 
Kala Gemet

Ketika Raden Wijaya mangkat 1309 Raden Kala Gemet langsung menggantikan posisi 
ayahnya sebagai anak laki2 satu2nya dengan gelar Sang Prabu Jhayanegara 
Wirandagophala, sebuah ambisi upaya dan jerih payah sang Ibunda Dara Petak Sri 
Inderasywari yang mulus dan tercatat dalam sejarah Nusantara sebagai “Anak 
Bangsa Melayoe Minangkabau Pertama” bernasib mujur menjadi Maha Raja Diraja 
Kerajaan Mojopahit, tidaklah berlebihan kiranya kita sebagai “Anak Bangsa 
Melayu Minangkabau” berbangga hati dan mengambil ibrah / pelajaran dari sejarah 
masa lalu ini 

So,…. gimana dengan Dara Jingga yang lebih memilih pulkam ka Sijunjuang 
kepangkuan Ranah Bundo di Istano Darmasraya dan terlebih setelah sang putri 
menyadari dirinya, “sssst…eeeehh, ghaawatt niiihh, ….gue kok nggak mens lagi 
yaaa ……..”?

Jangan ke-mana2, setelah yang satu ini ……

Wasalam
armanbaharpiliang54 
yangkemarenberhilangtahun 


---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2¢/min or less.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Next-gen email? Have it all with the  all-new Yahoo! Mail Beta.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke