Datuk, Yang Dihormati Yang Disegani

Reporter : Vincent Hakim Roosadhy

indosiar.com, Solok - Inilah Nagari Sulit Air. Sebuah kampung di  
Solok, Sumatera Barat. Seperti masyarakat Minang kebanyakan, kaum di  
Nagari inipun masih kental memegang adat.

Nama Sulit Air, dari beberapa hikayat yang beredar, konon diberikan  
oleh Datuk Mulo Nan Kawi, yang berasal dari Tanah Pariangan Padang  
Panjang. Datuk Mulo, bersama istrinya, Puti Anggo Ati, beserta para  
pengikutnya, ketika itu tengah melakukan perjalanan mencari tempat  
permukiman baru.

Hingga akhirnya tiba di sebuah daerah, yang kemudian diberi nama  
Sulit Air. Nama ini, sesuai dengan kondisi daerahnya yang memang  
sulit mendapatkan air. Lokasinya yang berada di ketinggian yang  
berbatu-batu, membuat air di Nagari ini begitu berharga. Jadilah  
daerah ini bernama Sulit Air.

Nagari Sulit Air, kini dihuni oleh empat suku besar. Limo Singkek,  
Limo Panjang, Piliang dan Simabua. Dari empat suku besar inilah  
terdapat sedikitnya 116 datuk.

Di ranah Minang, pada umumnya, datuk merupakan gelar yang melekat  
secara turun-temurun, kepada pribadi tokoh adat masyarakat. Seorang  
datuk adalah tokoh masyarakat, yang sangat dihormati dan disegani.  
Seorang datuk yang juga adalah penghulu, merupakan tokoh panutan yang  
selalu menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat.

Gelar datuk di Nagari Sulit Air, juga diberikan kepada seseorang yang  
dianggap telah berbakti dan banyak berjasa bagi masyarakatnya. Gelar  
datuk ini biasa disebut dengan datuk kehormatan. Untuk memilih dan  
menentukan seseorang pantas menyandang gelar datuk kehormatan ini,  
bukan perkara mudah. Paling tidak dibutuhkan waktu 3 bulan untuk  
memutuskannya.

Kaum telah bersepakat. Sang calon datuk kehormatan telah ditentukan.  
Gelar Datuk Bandaharo Sutan Nan Kayo, telah disiapkan. Waktu  
penobatanpun putus sudah. Laiknya sebagai tokoh dan pemimpin besar,  
sang calon penerima gelar datuk kehormatan, disambut secara meriah  
oleh para datuk dan masyarakat. Sang penerima gelar diarak memasuki  
gerbang Nagari.

Makan sirih menjadi semacam ritual wajib, bagi seorang tamu terhormat  
yang telah diterima dalam sebuah keluarga besar. Tak terkecuali bagi  
penerima gelar datuk kehormatan Datuk Bandaharo Sutan Nan Kayo. Makan  
sirih merupakan simbol, ucapan selamat datang.

Upacara pelantikan datuk kehormatan, akan berlangsung tiga hari tiga  
malam berturut-turut. Sebelum seluruh acara tradisi dimulai, sang  
calon penerima gelar datuk kehormatan, ditempatkan dalam rumah adat  
gadang dengan upacara perarakan.
Hari pertama dimulai. Sang penerima gelar, diarak ke rumah gadang 20  
ruang. Rumah gadang 20 ruang menjadi pusat acara seremonial,  
pelantikan datuk kehormatan. Rumah gadang 20 ruang merupakan rumah  
terbesar, dengan 20 ruangan di dalamnya. Rumah yang telah berdiri  
puluhan tahun ini, konon merupakan rumah adat Limo Panjang terbesar.

Menjelang hari puncak acara pengukuhan gelar datuk kehormatan  
Bandaharo Sutan Nan Kayo, para datuk yang diwakili para wakil datuk  
dari masing-masing suku terbesar di Nagari Sulit Air, menjalankan  
upacara mengisi adat, atau mangisi adek.
Mengisi adat adalah semacam sidang internal para tokoh adat Limo  
Panjang, di mana sang calon penerima gelar mempunyai darah keturunan.  
Sidang ini berkaitan dengan pemberian gelar anak kemenakan. Yaitu  
gelar setelah menikah, sebagai simbol kedewasaan. Gelar Sutan  
Mangkuto diberikan untuk gelar anak kemenakan.

Berbalas pantun menjadi bagian penting, dalam acara mengisi adat.  
Berbalas pantun dilakukan oleh beberapa orang wakil datuk, dari empat  
suku terbesar. Isinya berkaitan dengan persembahan dan minta restu  
atau izin, menjelang pengukuhan gelar. Biasanya masing-masing wakil  
datuk melontarkan sebuah pantun, yang kemudian dibalas oleh wakil  
datuk yang lain. Acara mengisi adat diakhiri dengan santap bersama,  
sebagai sarana kebersamaan dan persaudaraan.

Setelah menerima pengakuan sebagai anak kemenakan Limo Panjang, sang  
datuk menjalani upacara sirih atau siriah kaduik. Yakni pergi ke  
rumah anak dara, si pengantin wanita atau anak daro. Siriah kaduik  
merupakan acara peminangan. Hal ini dilakukan karena sang pengantin  
wanita, bukan berasal dari suku dan adat istiadat yang sama. Upacara  
sirih juga merupakan simbol pengakuan bagi anak daro, untuk masuk  
dalam keluarga besar suku adat Limo Panjang.

Bagi masyarakat Sulit Air, seperangkat sirih merupakan komponen  
penting dalam setiap kehidupan adat. Sirih, kapur, pinang, gambir dan  
tembakau, adalah simbol penerimaan keakraban. Di rumah adat anak  
daro, seperangkat sirih Datuk Bandaharo Sutan Nan Kayo diterima  
secara adat. Dan sang datuk pun disandingkan dengan mempelai anak daro.

Hari yang dinantikan tiba. Pengukuhan gelar datuk kehormatan  
Bandaharo Sutan Nan Kayo, dilakukan pada malam hari ini. Semua tamu  
terhormat, keluarga, para pejabat, para tetua adat, dan para datuk  
nagari, hadir memenuhi rumah gadang duo puluah ruang. Mereka menjadi  
saksi.

Gelar, dengan lambang pakaian datuk pun, resmi dikenakan Datuk  
Bandaharo Sutan Nan Kayo. Sejak saat itulah, gelar kehormatan Datuk  
Bandaharo Sutan Nan Kayo sah disandang. Malam pun menjadi lebih  
tenang menunggu esok hari, saat perarakan Datuk Bandaharo Sutan Nan  
Kayo keliling desa.
Matahari masih bergelantung rendah di timur, ketika arak-arakan  
keluarga Datuk Bandaharo Sutan Nan Kayo dan para pengantarnya,  
berkeliling nagari. Sang datuk mengenakan baju kebesaran dari suku  
Piliang datuk nan besar.

Maarak sirieh godang atau 100 bungo sirieh, masing-masing bungo  
sirieh dengan empat juadah, keliling nagari mengantar rombongan sang  
Datuk Bandaharo Sutan Nan Kayo. Dalam tradisi Nagari Sulit Air, acara  
berkeliling nagari ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sang datuk,  
kepada masyarakat luas.

Gelar datuk kehormatan bersifat pribadi, dan tidak melekat secara  
turun-temurun. Seperti halnya ketika menjelang penentuan sosok  
penerima gelar datuk, segala sesuatunya dipertimbangkan melalui  
semacam dewan datuk, demikian pula jika sang datuk melakukan  
perbuatan tak terpuji. Maka dewan datuk akan membicarakannya secara  
internal, di dalam dewan datuk.

Untuk itulah, pepatah, lebih mudah merebut daripada mempertahankan,  
kelihatannya juga berlaku di sini. Menjaga gelar datuk kehormatan,  
adalah segalanya buat seorang datuk yang telah dilantik. Ia tidak  
hanya membawa pribadinya, namun juga kaum yang telah memberi amanat  
kepadanya.
Baik buruk perilaku Datuk Bandaharo Sutan Nan Kayo, adalah cermin  
baik buruknya masyarakat Nagari Sulit Air. Tak mudah menjadi datuk.(Idh)

5/14/2003




--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke