Assalamualaikum wr.wb.
   
  Ada  2 hal yang perlu kita lihat dalam pemberian gelar kepada urang non Minang
   
  1. Sikap keterbukaan suku Minangkabau terhadap dunia luaa, di mana adat 
Minang sendiri menurut kaba/tambo adalah bawaan dari putra raja Persia Iskandar 
Zulkarnain (non Minang) atau Alexander The Great turun ke ranah pariangan. 
  Yang jelas, urang awak memang lebih memihak pada versi ini. Ceritanya, Raja 
Iskandar berlayar dengan ketiga putranya, Sri Maharaja Diraja, Sri Maharaja 
Alif dan Sri Maharaja Dipang. Karena bertengkar memperebutkan mahkota, ketiga 
pangeran ini terpecah-belah. Sri Maharaja Alif meneruskan pelayaran ke barat 
dan berkuasa sampai ke Perancis dan Inggris. Sri Maharaja Dipang beralih ke 
timur untuk menguasai Cina dan Jepang. Sedangkan Sri Maharaja Diraja berlabuh 
di kaki Gunung Merapi dan menetap di sebuah tempat bernama Galundi Nan Baselo.

Waktu berselang, Galundi Nan Baselo kemudian dipimpin oleh keturunan Sri 
Maharaja Diraja, yaitu Suri Dirajo. Alkisah, suatu hari datanglah seorang raja 
dari tanah Hindu, Sang Sapurba. Raja ini bergelar 'Rusa Emas' karena mahkota 
ernasnya yang bercabang-cabang. Beliau lalu menikahi adik Sw-i Dirajo bernama 
Indo Julito. Karena beragama Hindu, dia juga mendirikan tempat ibadah yang 
sampai saat ini masih bernama Pariangan, yang artinya per-Hyang-an atau tempat 
menyembah Hyang. Nama Galundi Nan Baselo akhirnya tergantikan dengan Pariangan.

  Jadi yang menjadi adat dalah bawaan dari dunia luar., BUKAN diciptakan oleh 
ASLI URANG MINANG sendiri. Tidak ada urang minang asli dari sebelum Masehi. 
  Kalau mau mengatakan adat minang atau gala adat minang hanyo untuak urang 
minang, ini adalah bentuk chauvinisme sempit.
  Orang mInang sendiri bukanlah asli Minang, mungkin juga ada dari Champa 
Kamboja, atau turunan dari orang-orang Jawa Majapahit atau dari Hidramaut.
   
  Jangan berpikir sempit dengan pemberian gelar kepada urang non Minang.
   
  2. Siklus berulang terus. Kalau urang meinang berasal dari luar  dan urang 
minang memberikan gelar ke luar, itu adalah hukum alam, hukum keseimbangan. 
Malah Gelar yang diberikan ke urang luar masih sangat sedikit. Seharusnya gelar 
bisa diberikan kepada para Syekh di Timur Tengah, Malaysia dsb.
   
  Jadi cobalah untuk berpikir "lapang" atau memiliki "mentalitas 
kelimparuahan." Bukankah Agama mengajarkan : semakin banyak engkau memberi, 
semakin banyak engkau menerima. Kenyataan urang Minang kini saketek maagiah, 
indak banyak manarimo, sahinggo iduik indak barubah-rubah. Saya tidak melihat 
kemajuan yang berarti dari kehidupan urang Minang sejak 30 tahun yang lalu. 
Kalau pun individu ada yang sukses itu juga karena faktor pendidikan dan 
lapangan kerja. Tapi dalam pola pikir masih sesempit "tempurung". Tak ada yang 
berubah secara mendasar.
   
  
dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Ketek Banamo, Gadang Bagala 
Oleh: Ivan Adila 


Tersiarlah kabar bahwa Presiden SBY akan menerima gelar adat. Gelar Yang 
Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam itu diberikan oleh Lembaga Kerapatan Adat 
Alam Minangkabau (LKAAM). Pemberian gelar adat untuk orang di luar Minangkabau 
bukanlah gejala baru. Di tahun 1965 pernah ada rencana memberikan gelar adat 
Bundo Kandung Agung kepada Hartini Soekarno, yang saat itu menjadi ibu negara. 
Rencana itu berubah setelah A.A.Navis berhasil meyakinkan pihak militer bahwa 
gelar yang berasal dari tokoh mitos itu tidak layak disandang oleh ibu negara. 
Maka kemudian, Hartini diberi gelar Ibu Kandung, dianugerahkan di Bukittinggi. 
Sejak beberapa tahun terakhir, gelar adat telah diberikan kepada Yusril Ihza 
Mahendra, Taufiq Kiemas, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Surya Paloh dan Anwar 
Nasution. 

Begitu pentingkah gelar adat Minangkabau bagi pejabat dan pengu&shy;saha di 
negeri ini? Ataukah di antara orang Minang merasa penting benar memberi gelar 
terhadap seseorang dari suku lain? 

Bagi lelaki Minangkabau, gelar adat adalah sebuah kemestian. Pepatah adat 
mereka mengatakan, ketek banamo, gadang bagala (kecil punya nama, setelah 
dewasa diberi gelar). 

Setiap lelaki yang sudah menikah tentu diberi gelar adat, yang diumumkan dalam 
sebuah acara sederhana saat perhelatan kawin. Pemberian gelar itu merupakan 
pengakuan bahwa mereka kini telah menjadi lelaki dewasa, yang akan 
diikutsertakan dan diakui hak suaranya dalam musyawarah kaum. Jika kini SBY 
baru akan diberi gelar, apakah itu artinya orang Minang menganggap beliau belum 
dewasa? Bukankah beliau sudah punya istri, punya anak dan dikenal sebagai 
pemimpin yang elegan? 
Dari sudut pandang adat, tak secuil pun alasan yang bisa dihi&shy;dangkan untuk 
menjelaskan alasan pemberian gelar itu. Warisan adat itu hanya sako 
(immaterial) dan pusako (material). Kalau kemudian ada pula yang namanya gelar 
sangsako, pastilah itu kato kemudian, kato bacari. Helah untuk mencari 
pembenaran. Karena itu, kita harus mencari penjelasannya dari sudut pandang 
lain. 
Pemberian gelar adat untuk pejabat ini hanyalah lanjutan belaka dari gejala 
yang terjadi sejak tahun 1980-an. 

Pada masa itu, gelar adat hampir-hampir menjadi jimat yang menja&shy;min 
jabatan seseorang. Seorang pejabat merasa belum aman jika belum menyandang 
gelar adat. Karena itu banyak pejabat yang memburu gelar adat, terutama gelar 
datuk. Syukurlah jika mereka punya tunas tempat tumbuh. 

Peresmian gelar tinggal mencari hari baik saja. Hari baik itu adalah masa 
menjelang Pemilu atau Pilkada. Bagi yang tidak punya tunas tempat tumbuh, ada 
calo gelar yang akan melakukan tugas untuk mereka. Ranji kaum diusai dan 
diungkai, dicocok-cocokkan, bahkan dibelokkan agar gelar itu bisa diperoleh. 

Anehkah itu? Tentu saja tidak. Sejak zaman pra-sejarah kaum aristokrat selalu 
mengaitkan diri dan turunan mereka dengan sesuatu yang hebat. 
Raja-raja Eropa mengaitkan silsilah mereka dengan Dewa Zeus. Di Nusantara ada 
raja yang lahir dari buih ludah sapi jantan, meni&shy;kah dengan penguasa 
samudera, atau berkat kekeramatannya ia hamil tanpa suami. Berbagai mitos 
dibuat untuk meyakinkan masyarakat tentang keluarbiasaan itu. Tujuannya jelas, 
melanggengkan kekua&shy;saan. Itulah yang kemudian melahirkan sikap feodalistis 
di kalan&shy;gan aristokrat. 
Di antara ciri utama sikap kaum feodal adalah pandangan bahwa pejabat yang 
berada di lingkaran pusat kekuasaan adalah seorang atasan dengan nilai 
kebangsawanan dan kekuasaan yang lebih tinggi daripada mereka yang berada di 
daerah. Sebagai bawahan, pejabat daerah akan melakukan berbagai hal untuk 
menyenangkan hati dan mengajuk perhatian atasannya. 

Dengan semua itu mereka mengharapkan berkah dan hadiah dari atasannya. Jika 
pejabat pusat datang ke daerah, maka kalangkabu&shy;tlah para pejabat daerah 
menyiapkan acara penyambutan dan pelaya&shy;nan. Pemberian gelar rupanya salah 
satu modus efektif untuk itu. Tentu saja, hanya Tuhan dan kelompok feodal 
daerah sajalah yang tahu bentuk dan banyaknya udang di balik gelar itu. 

Sikap feodal lahir dari rasa rendah diri. Rendah diri karena kita orang daerah, 
karena kita orang miskin, karena anak kemenakan kita dihantam marasmus, karena 
kita tak mampu mendanai pembangu&shy;nan daerah sendiri. Pokoknya 
berkekurangan. Bagi orang rendah diri, berderet alasan lain mudah dicari. 
Tampaknya rasa rendah diri itu kini dipelihara, dipupuk baik-baik, kemudian 
dipalang&shy;gakkan kepada orang banyak. 
Telah lupakah Tuan, bahwa negeri ini telah menyumbangkan banyak pejuang, 
pemikir, seniman, wartawan, ulama dan sastrawan untuk membangun bangsa ini 
sejak dulu? Kenapa Tuan tak ingat bahwa negeri ini dulu berani bergolak untuk 
mengoreksi pusat kekuasaan yang salah arah. Negeri ini jugalah yang melahirkan 
M. Hatta, founding father Indonesia. Kini ia menjadi negeri yang ngeri 
memandang pusat kekuasaan. 

Alangkah lebih berharga dan bermanfaat jika biaya perhelatan pemberian gelar 
yang —tentulah cukup besar dan dihabiskan dalam sehari-dua— itu dikumpulkan. 
Dari uang itu kita memberi makan rakyat yang kekurangan gizi, membina anak 
jalanan yang makin banyak, melengkapi buku perpustakaan sekolah dan mesjid, 
memban&shy;gun laboratorium sekolah, atau mengembangkan perekonomian rakyat. 
Sehingga beberapa tahun ke depan orang Minang kembali bangkit menyumbangkan 
prestasi mereka pada bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan. Sumbangan yang 
jauh lebih berharga dan berman&shy;faat daripada sekadar gelar adat. o * 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================


                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2¢/min or less.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke