Rabu, 13-September-2006, 01:33:01.
   
   
  Padang, Padek—Lembaga kepolisian terus mengembangkan pola pengamanan dengan 
pendekatan yang bersentuhan dengan adat dan budaya setempat. Upaya ini tak 
terlepas dari begitu besarnya peranan lembaga adat di daerah dalam menjaga 
keamanan masyarakat. 
        Dalam kaitan itu, Sekretaris Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau 
(LKAAM) Sumbar, H M Sayuti diundang Kapolri sebagai utusan dari tokoh adat 
Sumbar. Bersama dia, juga diundang semua perwakilan tokoh adat dari seluruh 
Indonesia. 

Menurut Sayuti yang juga Anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Partai Golkar itu, 
pada pertemuan dengan Kapolri Jenderal Sutanto, dia akan mengusulkan bagaimana 
pola pengamanan dan adat Minang di Sumbar. 

“Menurut adat Minang, pengamanan dalam menjadi tugas dubalang. Secara 
administrasi negara, ia akan tetap aparat pemerintah, tetapi di dalam adat 
secara otomatis (eks officio), ia berada di bagian dubalang bersama panghulu, 
malin, manti,” ujar putra Dharmasraya ini, kepada Padang Ekspres, kemarin. 

Sayuti yang berangkat atas persetujuan Kapolda, bersama Kapolres Solok tersebut 
akan mengikuti pertemuan selama dua hari, mulai Rabu (12/9). 

Dia berharap, setelah pertemuan dengan Kapolri, bisa segera memilih salah satu 
daerah di Sumbar sebagai pilot project pengamanan dengan pendekatan adat Minang 
ini. Masuknya aparat kepolisian menjadi tokoh adat ini, kata Syauti, sangat 
berperan sebagai tindakan preventif terhadap pelanggaran hukum. 

Tidak semua polisi yang bertugas di Sumbar berasal dari Minangkabau, apakah ini 
bertentangan dengan adat Minangkabau? Menurut Syauti, walaupun bukan berasal 
dari Minangkabau, tapi bila polisi itu bertuga di Sumbar otomatis dia akan 
menjadi anak kemenakan. “Secara hukum nama jabatannya secara langsung tergabung 
langsung dalam hal adat,” jelasnya. 

Polisi wanita juga diharapkan nantinya menyesuaikan pola kehidupan perempuan 
minang. “Ini bisa ‘connect’ dengan adat Minangkabau dan Perda Nagari nantinya,” 
tegas dosen UBH ini. Oleh karenanya, polisi masa depan mesti bisa menjadi tokoh 
masyarakat yang bergabung dalam urang ampek jiniah, penghulu, manti, malin dan 
dubalang. 

Ke depannya menurut M Sayuti wibawa polisi dan ninik mamak harus ditegakkan. 
“Kalau ada kasus yang masih bisa diselesaikan secara adat, diharapkan polisi 
bisa menyerahkan ke penghulunya. Penghulu nantinya akan melaporkan ke 
kepolisian,” jelasnya. 

Pilot project penerapan hal tersebut ternyata telah dilakukan di Bekasi. Di 
daerah tersebut, peran kepolisian diterapkan juga secara adat. “Menurut 
informasi disana, sudah ada ronda atau pamswakarsa yang melibatkan masyarakat,” 
jelasnya. (abk) 
    
                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2¢/min or less.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke